Kegagalan: Bangsa yang tidak pernah mau belajar dan preventive !?


Topik Aphir Pekan kali ini, seperti minggu2 sebelumnya mendikusikan hal-hal ”from greater view” dari berbagai masalah yang kita temukan sehari-hari.

Idenya dapat datang dari mana saja, misal group BBM atau obrolan pulang kerja di Starbuck Setiabudi atau diskusi serius diruang kuliah. Tetapi tak perlu terlalu akademis atau serius, cukup yang ringan, populer dan mudah dicerna...(paradoks memang, greater view tapi mudah dicerna)....

Tulisan dibawah, saya copaskan dari koran Bisnis Indonesia sangat2 menarik. Intinya sih bahwa bangsa dan negara ini selalu ketinggalan...dan selalu cuma jadi pasar. Ketika orang lain begitu hebat menyelenggarakan acara perkawinan (yang ditonton 2 milyar orang live atau tidak), sampai diplomat-diplomat negara lain yang smart, bukan pada politik antar negera justru pada politik dagang.....bahkan kepiawaian pemerintahan negara membuat peluang. Kita (industri kita) terseok2 mengahadap ACFTA...sedangkan China dan Singapura mendapatkan advantage yang luar biasa.

Banyak hal penyebabnya, mulai leadership, culture, behavior...you name it, we have that problem. Lucunya we know the problem, we know how to solve it…tapi kenapa kita tidak pernah bisa mengerjakannya dengan baik?

Bangsa ini bangsa yang pintar sebenarnya. Sering sekali anak-anak dan adik-adik kita, yang SMP dan SMA di Binjai, Papua, Surabaya dan Bali menjadi juara olimpiade Fisika, Kimia, Robotik dimana-mana diseluruh dunia…kurang pintar apa kita? Banyak MBA dan PhD lulusan universitas bergengsi didunia berseliweran di Universitas dan birokasi kita. Tetapi apakah kepandaian, kepintaran (dan pengalaman) itu bisa dishare, diakses, diolah, diberdayakan, ditingkatkan sehingga bermanfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia?

Sering pula kita membaca bahwa orang Indonesia ini paling jago membuat konsep…tetapi ketika implementasi, selalu terjadi gap. Selain itu implementasi yang sudah baik selalu tidak bisa continue. Pejabat lama tidak meninggalkan apapun kepada pejabat baru, sehingga pejabat baru memulai dari nol? Knapa..knapa…”knapa” yang akan semakin panjang .....

Bangsa kita memiliki sejarah yang panjang. Seharusnya banyak hal dapat dipelajari...justru itulah ketika banyak hal yang dapat dipelajari, tetapi tidak berhasil menjadi wisdom untuk kemasalahan banyak orang, yang patut kita pertanyakan....seorang Profesor disekolah binsis ternama, pernah bilang, akar masalahnya terletak pada belum dewasanya masyarakat kita. Ketidakdewasaan yang memerlukan seorang pemimpin yang ”ing ngarso sung tulodo”, kepemimpinan transaksional (pursues a cost benefit, economic exchange to met subordinates current material and psychic needs in return for “contracted” services rendered by the subordinate …. Bass) alias ”carrot and stick” type of leadership...

Sedangkan ketidakmampuan kita belajar karena social knowledge management kita yang lemah. Tentu ada argument, bagaimana mau menegakkan knowledge management jika urusan perut saja masih bermasalah?

Wah kalo gitu urutan analisis saya diatas keliru.....mestinya akar masalah bangsa ini terletak pada kemiskinan dan lapangan pekerjaan. Tugas pemerintah (dan rakyat) menekan kemiskinan dan menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak mungkin. Kalo gitu kita bisa paham, kenapa Pemerintah ngotot dengan subsidi BBM, karena jika dikurangi atau dicabut, kemiskinan akan bertambah....as simple as that....

Sedangkan mengenai penambahan lapangan kerja, saya kok belum melihat....saat ini nampaknya pemerintah hanya mengejar target pertumbuhan ....yang berbeda dg dulu ketika 1% ekonomi tumbuh maka 1 juta lapangan kerja terbuka...sedangkan saat ini !% ekonomi tumbuh paling2 hanya 600 ribu orang ......

Kembali ke teori saya diatas bahwa ini masalah Leadership....dia yang seharusnya punya view....ngak usah muluk2 dalam mengendalikan negara ini semasa masih banyak rakyat miskin dan tidak punya pekerjaan yang layak

Sebagai catatan tambahan: ”kemiskinan” harus menggunakan indikator yang layak ya...bukannya pakai ”indikator” ala Indonesia yang cuma dihitung dari pendapatan 8000 perak perhari ...sama juga yang disebut punya pekerjaan adalah punya pekerjaan yang layak bukannya dihitung cuma rata-rata 2 jam sehari dalam seminggu terakhir...yang artinya pengemis dan pengamen jalanan barangkali tidak termasuk orang miskin dan tidak termasuk pengangguran.

Anda tentu tahu, setelah meninggalnya Lady Di, istri Pangeran Charles, yang begitu sohor sebagai anggota kerajaan Inggris pada abad lalu, kini Kerajaan Inggris kembali menggelar pesta pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton, perempuan biasa yang kini menjadi buah bibir di Inggris.

Ketika ingin tahu seberapa populer nama itu, hanya dalam 0,04 detik, mesin pencari Google mem berikan 190.000.000 hasil ketika saya mencoba mengetik nama “William Kate”, sekitar pukul 20.00 WIB tadi malam. Ya, tentu si empunya nama William dan Kate begitu banyak, sehingga besar kemungkinan hasil pencarian itu bias.

Maka saya mencoba mengetik de ngan lebih spesifik, yakni “pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton”, hanya dalam 0,08 detik Google memberi hasil 639.000. Artinya, pesta pernikahan yang disebut Royal Wedding itu memang banyak dibincangkan orang dan “menjadi berita”.

Televisi BBC menyiarkan pesta itu ke seluruh penjuru dunia, dan sedikitnya setengah juta warga Inggris memenuhi area pesta. Perkiraan kasar menyebutkan sekitar 2 miliar penonton televisi di seluruh dunia menyaksikan pesta pernikahan paling akbar pada awal abad ini.

Anda boleh berdecak dengan rangkaian peranti pesta serba mewah, termasuk rangkaian mobil kerajaan serba hitam serta kuda-kuda gagah yang benar-benar “real black”, yang membuat teman saya terkagum-kagum.

Tentu, informasi itu dapat kita nikmati berkat kemajuan teknologi yang dahsyat akhir-akhir ini, memungkinkan setiap peristiwa dapat direkam dan disiarkan secara “real time”. Ini adalah istilah yang kerap dipakai untuk mengatakan bahwa kejadian kapan saja dan di mana saja dapat disaksikan seketika tanpa jeda waktu dan sekat bukit, gunung, benua maupun samudra.

Mediumnya pun banyak sekali, mulai dari radio, televisi, hingga Internet yang saat ini sudah sedemikian pesat dalam menyajikan peristiwa bergerak secara seketika.

Bahkan kini menjadi kekhawatiran, peristiwa di kamar tidur Anda pun dapat dilihat dari kamar tidur tetangga sebelah yang sedang mengakses kecanggihan teknologi yang dikembangkan Google melalui Google Earth.

Kekhawatiran itu mulai muncul, lantaran teknologi yang dikembangkan Google begitu cepat bermodifikasi bahkan dengan fitur street view yang sangat detail.

Tetapi nggak usah khawatir berlebihan. Pasalnya, kekhawatiran malah membuat Anda ketakutan dan tak dapat menjalani hidup dengan tenang. Yang pasti, setiap teknologi selalu membawa manfaat, meskipun tentu tidak sedikit pula akibat negatif yang mungkin dihasil kan.

Bagi Anda pengguna gadget yang dilengkapi fitur online atau aplikasi messenger, tentu seringkali men da patkan kiriman gambar maupun video apa pun, mulai dari yang ber sifat jenaka, inspiratif hingga gambar atau video porno, entah yang asli, setengah asli atau bahkan modifikasi maupun rekayasa. Jangan-jangan kita malah “frigid” alias tidak ngaruh, karena saking seringnya mendapatkan gambar-gambar yang mampir ke peranti Anda itu.

Bagi yang mampu melihat dari sisi lain, perkembangan teknologi telah menciptakan peluang bisnis baru. Siapa nyangka, sebelum berkembang teknologi Internet seperti saat ini, jagoan teknologi semacam Bill Gates, pemilik Microsoft, atau Steve Jobs, arsitek Apple, dapat mengeruk duit besar dari jualan aplikasi murah yang bisa diunduh berbayar dari perangkat komputer kita?

Bahkan komputer pun sudah mengalami evolusi dari komputer desktop atau komputer jinjing (laptop) ke komputer tablet seperti iPad, hingga telepon pintar macam BlackBerry, Iphone, Samsung, dan Nokia, untuk sekadar menyebut beberapa merek.

Meski banyak yang mengeluh komputer tablet iPad tak mampu mengerjakan proses komputasi multitasking, toh kekayaan Mr Job semakin tambun berkat inovasinya sebagai the first mover itu. Pengekor iPad seperti Samsung Galaxy Pad, maupun BlackBerry PlayBook, tetap saja menjadi yang kedua.

Kolega Budiono Darsono, pendiri Detikcom, sering menyebut istilah multitasking sebenarnya terdengar gagah saja, padahal maksudnya tak lain dan tak bukan pengganti kata “serabutan”. Gambarannya begini: jika Anda pengguna komputer desktop, akan mudah mengoperasikan bermacam aplikasi secara bersamaan tanpa harus menghentikan salah satu aplikasi yang sedang berjalan. Itu artinya, komputer meja, atau laptop, bisa bekerja serbutan. Sebaliknya, komputer tablet tertentu termasuk iPad tak mampu menjalankan fungsi itu, karena harus menu tup satu aplikasi untuk mengoperasikan aplikasi lainnya.

Maka, saya jadi tertarik untuk menganalogikan fungsi serabutan itu dengan situasi dunia saat ini, termasuk hubungan antar negara dan strategi negara-negara ketika menghadapi dinamika ekonomi global yang begitu berubah dalam dekade terakhir ini.

Contohnya adalah begitu banyak nya kesepakatan perdagangan bebas yang dijalin antarnegara maupun antarkawasan dan antara negara dengan kawasan. Saya sengaja meng ambil contoh ini, berhubung negeri kita tengah menerima tamu kehormatan Perdana Menteri China Wen Jiabao. Kunjungan yang sarat momentum, setelah setahun lebih kesepakatan perdagangan bebas Asean dan China diterapkan.

Apalagi, China menjadi negara yang begitu dominan dalam perekonomian Asia dan dunia saat ini. Mengapa China unggul? Tentu itu pertanyaan yang kerap masuk ke telinga saya. “Strategi multitasking.” Itu jawaban untuk sekadar menebak saja.

Anda tentu sulit membayangkan China mampu bersaing secara global dengan beban penduduk yang begitu besar, jika tidak memiliki strategi yang pintar. Anda tentu tahu, betapa gigihnya Beijing menentang Washington untuk sebuah tekanan terha dap perubahan kebijakan domestik, misalnya soal mata uang yuan, yang bagi pemerintah lain seperti Jakarta akan mudah menyerah begitu saja ketika Amerika berbicara?

Sebaliknya, apakah Anda pernah membayangkan, China akan membeli Standar Nasional Indonesia untuk memuluskan barang-barangnya masuk Indonesia?

Negara lain, termasuk negara kita, mungkin akan selalu mengatakan kita perlu perbaiki daya saing, dan atau renegosiasi tarif, agar mampu penetrasi pasar dan sekaligus bertahan dengan tarif yang lebih besar untuk mengurangi daya saing (setidaknya dari sisi harga) produk negara
lain.

Tak pernah kita pikirkan, bagaimana mampu memasuki pasar negara lain dengan memanfaatkan instrumen perdagangan atau proteksi nontarif yang disiapkan negara lain. Dan, China melakukan itu dengan pintar ketika membeli ratusan SNI kita! Dalam sepakbola, China dengan tim yang bahu membahu dan “serabutan” berusaha merangsek masuk ke jantung pertahanan lawan ketika harus men cetak gol, bukan sekadar bermain bertahan.

Singapura contoh lainnya lagi. Meski sudah tergabung dengan Asean dalam kerangka ACFTA, ternyata Singapura justru menjalin kesepakatan FTA sendiri dengan China. Dan Negeri Singa punya cara yang pintar pula dalam memaksa pejabat kementeriannya menjalankan tugas multitasking itu.

Contohnya adalah pos kementerian luar negeri. Pola yang dilakukan Singapura, pejabat kementerian luar negeri terlebih dahulu menjabat kementerian teknis lainnya, termasuk kementerian perdagangan internasional, agar mampu bekerja “serabutan” ketika menjadi menteri luar negeri.

Jelasnya, diplomasi internasional yang dijalankan Singapura melalui kementerian luar negerinya bukanlah diplomasi politik, melainkan diplomasi ekonomi, bahkan diplomasi bisnis dan diplomasi dagang. Dahsyat, bukan?

Maka tak heran jika negeri sekecil itu menjadi salah satu pengekspor besar di dunia, karena banyak komoditas ekspor yang sebenarnya berasal dari Indonesia (dan barangkali China).

Kita, akhir-akhir ini, tampaknya harus mengakui belum punya kebiasaan bekerja “multitasking” semacam itu. Kalau tidak narrow minded atau berpikiran sempit, kita lebih suka bersikap “konsisten” alias kacamata kuda.

Maka jangan salahkan China kalau kita kalah. Salahkan kita sendiri yang kurang melihat berbagai peluang dan kemungkinan, untuk bisa menang. Padahal, diplomasi dagang bukan semata urusan menang dan kalah, melainkan lebih luas lagi: urusan untung dan rugi.

Nah, sekarang, bagaimana dengan anda; Masihkah kita akan memilih pejabat negeri yang tidak bisa multitasking dan memakan uang rakyat tanpa mengedepankan kehidupan bangsanya? Masihkah kita berkaca mata kuda dan takut akan perubahan? Apakah memang kita bangsa yang tidak pernah belajar? It's your choice !

0 comments:

Post a Comment