
Hari itu, Selasa pagi, saya baru diberitahu oleh staff bahwa telepon kantor bermasalah, fax tidak dapat jalan, dan terpaksa harus di-share, kadang dial tone tidak ada, telepon hanya terdengar suara dengung atau bahkan noise (kemeresek/ kresek kresek/ seks seks seks), bahkan kadang sambung sebentar dan putus tanpa sebab serta masalahnya ternyata sudah hampir beberapa minggu kemarin. Saya menanyakan kepada staff, kenapa belum konfirmasi ke TELKOM, katanya (red: TELKOM) yang bermasalah bukan dari jaringannya tetapi internal kami, maksudnya PABX-nya, sehingga tidak pernah ada petugas yang datang untuk cek kondisi di lapangan. Kebetulan kami memang ada PABX. Biasanya, ciri-ciri kabel yang jelek, suara sering kresek-kresek artinya ada bad contact, suara lemah (kecil) artinya kabel terlalu jauh, suara yang bercampur dengan suara telepon lain artinya terjadi crosslink dan sebagainya bisa jadi dari TELKOM-nya, karena di Indonesia, TELKOM yang notabene adalah pemonopoli kabel telepon, sudah menggelar layanan bermacam-macam, tapi jangan harapkan bagus, kalau kabelnya sendiri sudah jelek, terutama di daerah pinggiran, pedesaan dan pedalaman. Akhirnya saya harus turun tangan, karena dari beberapa line keluar yang dapat keluar hanya satu line saja, sehingga menimbulkan antrian panjang di internal kami.
Jaringan internal telepon saya periksa satu-satu, kalau memang PABX-nya yang bermasalah pastinya penggunaan telepon antar ruangan bermasalah. Ternyata tidak, semua jaringan internal dalam kondisi yang baik dan tidak ada keluhan maupun masalah yang terjadi sebagaimana TELKOM.
Baiklah, langkah kedua, untuk memastikan yang bermasalah adalah jaringan keluar, maka saya harus memeriksa jaringan TELKOM yang keluar dari installasi utama ke jaringan mereka. Pertama kali kita siapkan multimeter dan pesawat telepon. Multimeter digunakan untuk mencari polarities di konektor dan line telepon. Selanjutnya kita siapkan telepon satu unit untuk menguji:

Gambar di atas adalah gambar modifikasi, dimana 2 kabel UTP untuk voice telepon kita sambungkan dengan jepit buaya, sebagaimana gambar:

Dimana warna kabel merah adalah kabel positif (+) dan warna kabel hijau (hitam) adalah kabel negatif (-).
Berikutnya, jika telepon unit untuk tester sudah disiapkan, maka box keluaran jaringan TELKOM kita coba cek, apakah PABX dan TELOM line-nya berfungsi atau tidak, sebagaimana gambar:

Pada gambar tersebut kabel merah dan biru sebelah kiri adalah kabel dari PABX, dimana biru untuk (+) dan merah untuk (-). Sedangkan kabel yang berwarna putih dan hitam adalah milik TELKOM, yang merupakan kabel voice dimana kabel yang berwarna hitam adalah (-) dan putih adalah (+)
Kemudian sambungan (kabel milik TELKOM) dalam terminal akhir tersebut kita lepas dan dihubungkan ke telepon tester unit, dimana (-) dengan (-) dan (+) dengan (+) dan dilakukan testing.

Baru setelah ada indikasi bahwa ternyata sambungan keluar tidak benar, terbukti dari telepon tester juga bermasalah dalam melakukan koneksi, berarti dapat dipastikan untuk kedua kalinya lagi, PABX nya normal dan jaringan TELKOM-nya bermasalah.
Langkah ketiga, untuk memastikan, kita menghubungi pihak pemasang PABX untuk melakukan cek, dan hal ini tentunya memakan waktu dan biaya. Sambil menunggu kedatangan mereka, kita mempersiapkan dokumen berita acara pemeriksaan yang nantinya ditandatangani teknisi PABX-nya, dengan tidak menceritakan bahwa kita telah memeriksa jaringan keseluruhan sebelumnya (aksi bego dulu). Setelah mereka datang, kita ceritakan masalahnya dan kepada mereka, kita minta tolong agar dilakukan cek jaringan internal, apakah ada masalah, serta jaringan keluar juga. Jika ada masalah, kita mintakan juga solusinya. Semuanya tertulis di dokumen, jangan lupa, dan siapkan ongkos periksa sekitar seratus ribu rupiah atau sepuluh dollar Amerika. Akhirnya, dokumentasi pun telah mereka isi, dengan menerangkan jaringan PABX dalam kondisi normal. Kemungkinan besar masalahnya adalah jaringan keluar pada TELKOM. Baiklah, selanjutnya kita tinggal menghubungi TELKOM.
Langkah keempat adalah menelepon 147. Telepon ini sangat menyusahkan dan berbelit untuk laporan gangguan, dengan menggunakan menu pilihan tekan sini dan tekan sana, akhirnya salah tekan dan pulsa pun melayang (saat itu menggunakan PONSEL, karena telepon kantor bermasalah, ingat kan). Begitu kita salah tekan dan salah kamar, maka kita diminta keluar (hang-up) dan menghubungi 147 lagi (busyeet). Siapa yang bikin program seperti ini, buang-buang biaya dech.
Langkah kelima, kita potong 147, dan kita telepon 108 untuk meminta nomer TELKOM cabang wilayah kecamatan dimana kita pasang, misalnya Kecamatan Gantung. Nantinya kita akan mendapatkan nomer TELKOM kecamatan tersebut, tentunya dengan bahasa yang cantik dan bumbu rayuan.
Langkah keenam, menghubungi nomer yang diberikan petugas 108, dan dengan gaya bego plus rayuan manis, kita minta tolong sama mereka untuk cek, tentunya kita juga bilang, bahwa PABX nya sudah di cek oleh petugas disertai berita acara. Alhasil, mereka mau untuk datang cek. Dan benar, lima belas menit kemudian ada dua orang petugas yang datang untuk cek.

Langkah ketujuh, petugas yang datang, kita ceritakan masalahnya dan kita bantu serta dukung agar masalah segera kelar, jangan lupa siapkan amplop isi uang ala kadarnya (dikasih jika masalahnya selesai sambil tanya nomer HP nya juga) serta makanan kecil dan minuman biar mereka semangat. Ternyata benar, ada masalah di sambungan dan kabel ke terminal akhir, karena beberapa kawatnya sudah tua, teroksidasi, dan sudah tidak layak lagi sebenarnya. Namun menurut tutur petugasnya, “Maaf”, karena pihak TELKOM tidak punya dana untuk mengganti dengan yang baru dan yang lebih baik kecuali menambalnya. Agaknya mirip dengan kasus penggantian rel kereta milik Belanda, sambungan pipa air bersih dan gorong-gorong bawah tanah, semuanya tidak pernah diganti baru, dengan alasan yang sama. Namanya juga perusahaan negara, ya kinerjanya begitu, standar, tidak lebih baik, minatnya pajak dan tagihan yang naik.
Akhirnya setelah adegan betul membetulkan:

Gambar: “Petugas menelepon kantor pusat, karena dia juga bingung, katanya”

Gambar: “Petugas juga cek jaringan sambungan terminal luar, padahal tadi sudah kita cek, hasilnya sama.”

Gambar: “Tidak puas dengan hasil di terminal, petugas panjat tiang utama TELKOM di jaringan utamanya”
Bagaimana pun, kita harus berterima kasih pada petugas di lapangan yang dengan semangatnya panas membara (siang bolong) dan beberapa orang di kantor, TELKOM kecamatan dan 108 yang membantu. Jangan lupa amplopnya diberikan untuk ucapan terima kasih karena pekerjaannya selesai dengan baik. Selanjutnya kita catat nomer HP dua orang tersebut, sehingga kalau ada masalah tinggal telepon mereka atau orang yang di kantor tadi, daripada ke 147 yang belibet.
Jadi intinya, gangguan sekecil apa pun, periksa dulu sebelum complain….;)
0 comments:
Post a Comment