Menebus Kesalahan Yang Tidak Termaafkan


Tidak ada manusia yang luput dari dosa. Ada dosa besar, ada pula dosa kecil. Dosa yang disengaja dan dosa-dosa yang tidak disengaja. Dosa yang disadari, maupun dosa-dosa yang kita belum menyadarinya hingga saat ini. Manusia memang gudangnya dosa, sehingga pantaslah jika Tuhan menyediakan kesempatan untuk saling memaafkan.

Tetapi bagaimana jika dosa Kita itu terlalu besar untuk dimaafkan?
Bagaimana seandainya Kita tidak mendapatkan kata ‘maaf’ dari orang yang telah Kita sakiti?
Apakah Kita sanggup untuk hidup dibawah bayang-bayang dosa itu?

Hmmm, tulisan ini terisnpirasi karena sebuah kasus. Saat negeri penuh dengan pejabat banci yang tidak jujur dan melukai hati nurani rakyat, saat mereka ngotot ingin dipilih sebagai pejabat atau anggota dewan dan kemudian setelah terpilih dengan sengaja mereka gusur rumah rakyat, melindas lahan kehidupan anak dan isterinya, membunuh karakternya sehingga menjadi pembelot, komunis atau teroris, sementara harga melambung tinggi tak terbeli, pemimpin negeri dengan seenaknya meneken perjanjian utang bejibun untuk memperkaya diri sendiri dan memberikan utang yang berlimpah untuk generasi muda negerinya dengan bangga berkata,"Ini untuk kalian...." dan kemudian di arus bawah..... ada gejolak.

Remeh sebenarnya masalah ini. Si Paijo dipecat oleh Si Paimo. Paimo pemilik bisnis tidak suka dengan Paijo yang secara lahiriah "bergambar" dan secara kinerja, pernah merusakkan serta menghilangkan barang milik usahanya. Tanpa ada peringatan sebelumnya, terlanjur emosi, Paijo dipecat. Paijo merasa dia tidak bersalah dan ingin tahu salahnya agar dapat diperbaiki ke depan. Paijo sudah mantep kerja disitu sehingga memboyong anak dan isterinya kontrak dekat kantor, tapi nasib berkata lain....

Akhirnya, Paijo tidak dapat menerima kondisi ini. Dia pun protes, melalui SMS ke rekannya, pasang wall dan comment di jejaring sosial web serta email. Dia tetap sakit hati. Bagaimana dengan Paimo? Saya rasa kita sudah tahu jawabannya. Keduanya sama-sama tersakiti. Kenapa? Karena komunikasi yang tidak tepat dan mengambil jalan pintas sesaat, yang dapat merugikan semuanya. Bisa jadi itu ujian Tuhan yang nantinya akan menguntungkan Paimo dengan mendidik dan memberi kesempatan pada Paijo. Paijo setelah kejadian akan menjadi lebih baik daripada sebelum kejadian. Namun, terlambat....

Beberapa teman mencoba meluruskan dan memberikan keteguhan hati bagi kedua pihak, namun yang terjadi malah mereka dimusuhi dan dianggap tidak sependapat, termasuk saya. Yach, memang.... memberikan yang terbaik buat rekan, ternyata sambutannya belum tentu dapat diterima dengan baik, bahkan mungkin menyakitkan dan menjadikannya salah paham....

Namun, percaya kepada kehidupan setelah kematian mengandung banyak konsekuensi. Salah satunya adalah pertanggungjawaban yang berat atas dosa-dosa semasa hidup yang belum dimaafkan. Ketika orang yang kita dzalimi itu tidak mau memberi maaf, kita benar-benar berada dalam masalah besar. Bagi kita yang tertarik untuk belajar menebus kesalahan-kesalahan yang tidak termaafkan, saya akan mengajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:

  1. Memohon maaf bukan untuk ketenangan diri kita sendiri. Ada orang yang meminta maaf hanya untuk menenangkan dirinya sendiri;”Hati saya gelisah karena dia belum memaafkan.” Setelah meminta maaf, dia bilang;“Ah, legaaaa… sudah dimaafkan nih…”. Kita hanya mementingkan perasaan hati kita, bukan perasaan hati orang yang sudah kita dzalimi; jika demikian. Dosa kita tidak akan benar-benar terhapuskan jika ketika meminta maaf, kita hanya ingin ‘bebas dari perasaan bersalah’. Mohon maaflah dengan kesungguhan dan ketulusan, bukan sekedar keinginan untuk memuaskan diri sendiri lagi.
  2. Tebuslah dosa itu dengan amal saleh dan perbuatan baik. Seseorang mungkin tidak bisa memaafkan kita karena kesalahan yang telah kita buat begitu menyakitkan baginya. Tetapi, jika dia melihat kita menjadi orang yang berperilaku baik, mengisi hari-hari dengan amal saleh serta tindakan-tindakan yang bermanfaat bagi banyak orang. Maka dia akan tahu jika kita telah benar-benar bertaubat. Mungkin kata ‘maaf’ yang kita rindukan tidak pernah terucapkan dari bibirnya. Tetapi, nuraninya akan mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa kita sudah benar-benar insyaf.
  3. Gunakan dosa masa lalu untuk menjaga sisa hidup kita. Sudah menjadi sifat manusia untuk melakukan dosa – begitu sadar segera meminta maaf – dan setelah dimaafkan lalu melakukannya lagi bahkan menambahnya dengan dosa-dosa baru lainnya. Beruntunglah orang-orang yang selalu teringat kepada dosanya yang belum termaafkan. Penyesalan dapat membantunya untuk menjauhi dosa-dosa lain sehingga dia bisa menjaga sisa hidupnya. Sungguh beruntunglah dia yang berhasil menjaga kesucian di sisa umurnya. Karena dengan begitu, dia bisa meninggal dalam keadaan menjadi pribadi yang baik. Meninggal seperti itulah yang disebut Husnul Khatimah, atau Akhir Kehidupan Yang Baik.
  4. Fokus kepada makna atas sisa hidup kita. Dosa yang tidak dimaafkan tetaplah menjadi tanggungjawab masing-masing pelakunya. Jika seseorang bersikukuh tidak memaafkan dosa kita, maka dosa itu tetap melekat didalam diri kita. Menyedihkan dan menakutkan memang. Tetapi, jika kita terus terpuruk dengan hilangnya kata maaf itu, maka kita akan menyia-nyiakan sisa hidup kita. Berbesar hatilah untuk menerima semua resiko, konsekuensi dan siksaan atas dosa dimasa lalu yang tidak termaafkan itu. Lalu fokuskan seluruh diri kita lahir dan batin, untuk mengisi sisa hidup hanya dengan tindakan-tindakan yang menghasilkan pahala.
  5. Memohon kepada Tuhan untuk melembutkan hatinya. Hati setiap orang itu bukanlah miliknya sendiri, karena Tuhan adalah pemilik sejatinya. Tuhanlah yang berkuasa untuk memberikan cahaya kedalamnya, atau membenamkannya dalam kegelapan. Tuhanlah yang melembutkan hati, atau membiarkannya keras membatu. Tuhan memberi ilham, lalu terserah manusianya apakah mau menerima cahaya Tuhan atau tidak. kita tidak bisa melembutkan hati orang lain. Namun Tuhan kuasa untuk melakukannya. Maka memohonlah kepada Sang Pelembut Hati. Karena hanya Dia yang bisa melakukannya.
Penyesalan itu sangat menyiksa diri, menguras energy, dan membangkitkan gundah gulana di dalam hati. Tetapi, penyesalah bisa menjadi berkah agar kita terhindar dari perbuatan-perbuatan buruk yang lainnya. Dosa dimasa lalu, tidak bisa terhapuskan. Maka janganlah kita biarkan diri ini menambah dosa yang sudah ada. Cukuplah sudah perbendaharaan dosa-dosa kita. Dan ini adalah saatnya bagi kita untuk mengisi hidup dengan makna yang diinginkan oleh Tuhan ketika Dia menciptakan kita.

Beruntunglah orang yang menyadari bahwa dosa-dosanya belum termaafkan. Dengan kesadaran itu, dia bisa berusaha agar tidak pernah lagi terjerumus kepada dosa-dosa yang lainnya.



0 comments:

Post a Comment