
Saya memahami bahwa setiap karyawan berkewajiban untuk tunduk kepada Job Description (JobDesc) yang sudah ditentukan oleh perusahaan. Bukan hanya di perusahaan yang sudah memiliki JobDesc. Bahkan perusahaan yang belum punya pun berlomba mempekerjakan konsultan HRD untuk membuat JobDesc. Nasihat terbaik saya kepada kita soal ini adalah;”Pahamilah dokumen JobDesc kita, lalu segeralah lupakan dia!” Lho, mengapa harus melupakan JobDesc itu?
Selama bekerja sebagai seorang profesional di beberapa perusahaan dan lembaga non profit, saya telah menangani berbagai macam posisi. Selama itu pula saya langsung melupakan JobDesc jabatan saya sesaat setelah saya memahaminya. Tetapi, saya perlu sampaikan bahwa justru dengan cara seperti itu saya mendapatkan karir yang relatif lebih baik dibandingkan rata-rata orang lain yang memulai karir seperti saya. Itulah sebabnya, mengapa saya sangat percaya diri untuk menyampaikan nasihat itu kepada kita semua. Untuk membantu kita memahaminya, ijinkan saya menjelaskan 5 fakta tidak terbantahkan tentang JobDesc.
Berikut ini uraiannya.
1. JobDesc itu dibuat dalam ukuran rata-rata.
Setiap JobDesc dibuat untuk mengakomodasi aspek-aspek pekerjaan yang harus ditangani oleh seseorang yang memegang jabatan tertentu. Tidak peduli siapa orang yang memegang jabatan itu, maka dia harus memenuhi tuntutan JobDesc itu. Supaya semua pemegang jabatan mampu memenuhinya, maka JobDesc harus dibuat sedemikian rupa sehingga semua orang dapat memenuhinya. Artinya, JobDesc dibangun dengan standard rata-rata manusia. Percayakah jika saya katakan bahwa kita adalah seorang pribadi unggul yang melebihi rata-rata manusia? Jika kita percaya, maka kita harus bekerja melampaui JobDesc itu; karena dia dibuat sekedar untuk mewakili manusia rata-rata.
2. JobDesc menjebak Kita dalam standard yang rendah.
Segala sesuatu yang dibuat dengan ukuran rata-rata selalu memiliki standar yang rendah. Itu sudah pasti bagi mereka yang memiliki standard tinggi. Sekarang coba perhatikan, bagaimana akhir kehidupan orang-orang yang bermain dengan standar yang rendah? Pencapaian dalam hidupnya juga rendah, bukan? Saya tidak yakin jika kita hanya ingin membuat pencapaian yang rendah dalam hidup kita. Jadi, lupakan JobDesc kita yang berstandard rendah itu, dan berusahalah untuk melampauinya.
3. JobDesc meninabobokan Kita dalam kata ‘selesai’.
Coba perhatikan, setiap kali kita berhasil menyelesaikan semua tugas yang tertera dalam JobDesc. KIta mengatakan kepada diri sendiri dan atasan Kita; “Saya sudah selesai, Pak.” Lalu kita benar-benar selesai. Padahal, kita memiliki kapasitas diri yang masih belum terdayagunakan. Semua kapasitas tinggi itu tidak dipakai karena kita merasa semuanya sudah selesai. Jadi, segeralah lupakan JobDesc kita, karena secara pelan-pelan dia membunuh potensi diri kita.
4. Kita berambisi untuk meraih karir yang lebih tinggi.
Setiap jabatan yang lebih tinggi, pasti tuntutan JobDescnya juga lebih tinggi. Agar kita dinilai layak menduduki jabatan tinggi, maka kita harus terlebih dahulu menunjukkan bahwa kita memang mampu menangani tugas dan tanggungjawab yang lebih tinggi. Jika kita terus menerus bermain dalam JobDesc sekarang yang rendah itu, maka kita tidak akan mampu menunjukkan kemampuan kita yang sesungguhnya. Maka akan sangat sulit bagi kita untuk mendapatkan karir yang lebih tinggi. Sebaliknya, jika kita lupakan JobDesc kita dengan melampui kinerja yang dituntutnya, maka akan sangat mudah untuk melihat bahwa kita pantasnya bukan di posisi itu, melainkan di tempat yang lebih tinggi.
5. JobDesc sudah sejak lama ditinggalkan para pesaing tangguh.
Tahukah kita mengapa ada orang-orang yang sedemikian cepatnya melesat dalam jalur cepat perjalanan karir mereka? Benar! Karena para pesaing tangguh itu sudah sejak lama meninggalkan JobDesc mereka dan melaju dengan standard pribadi mereka yang sangat tinggi. Ketika kebanyakan orang bermain dalam kubik kecil ruang kerja mereka, para pesaing tangguh itu menerapkan standard kelas dunia. Makanya, tidak heran jika mereka sangat sulit untuk dikejar kebanyakan orang.
Menjadi professional yang unggul itu bukan berarti menjadi seseorang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Kita pribadi pun melakukan banyak kesalahan. Sampai hari ini, kesalahan demi kesalahan kita buat; lalu belajar dari kesalahan itu. Selama proses itu berlangsung terus, maka kita yakin jika dari hari ke hari; kita meningkatkan patokan standard yang kita tetapkan.
Mereka yang bekerja sekedar untuk memenuhi tuntutan Job Desc belaka, hanya akan sampai kepada pencapaian rata-rata tanpa keunggulan apa-apa.
hoooh kang....wah apik tenan tentang jobdis...mungkin ada yang lain yang perlu di share kan kang...aku tunggu ya. athok
ReplyDelete