
Daya imajinasi memungkinkan kita untuk mereka-reka rupa seseorang yang belum pernah kita temui secara fisik. Makanya kita punya gambaran sosok sahabat pena yang kita kenal didunia maya. Saya sering mengalami hal itu. Orang yang pertama kali bertemu dengan kita mengatakan;”Oh, ini ya orangnya?”. Kejadian itu terulang lagi pada saat pertemuan pertama. “Kirain mas itu badannya tinggi dan besar, soalnya suaranya mantap sich di telepon....” Demikian kata teman begitu melihat bahwa sebenarnya kita ini pendek dan kecil. Tinggi 165 cm, berat 75 kg. Kita tidak keberatan menyebut diri sebagai orang yang ‘pendek dan kecil’. Karena kedua kosa kata itu bukanlah kebalikan dari ‘panjang dan besar’. Jadi, ya santai saja…;)
Meski demikian, kita tidak bisa benar-benar lepas dari dikotomi panjang dan pendek. Besar dan kecil. Dalam konteks umur, misalnya; kita selalu mendoakan agar orang yang sedang berulang tahun itu dianugerahi umur panjang. Kita juga selalu ingin menjadi orang besar, dan tidak ingin menjadi orang kecil. Jadi, mau tidak mau memang harus diakui jika kita ini lebih menyukai yang panjang dan besar, daripada yang pendek dan kecil. Bagi Kita yang tertarik untuk menemani belajar cara mendapatkan yang panjang dan besar, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:
1. Menerima kenyataan bahwa segalanya sudah dijatah.
Hidup dan mati kita. Jodoh dan rezeki kita. Nasib kita. Semuanya sudah tertulis dalam buku besar diharibaan Tuhan. Hal itu sama sekali tidak berarti Tuhan pilih kasih dan otoriter dalam menentukan semuanya, melainkan semakin menegaskan bahwa Tuhan sudah mengetahui apa yang akan terjadi dalam hidup kita sebelum kita sendiri mengalaminya. Tuhan sudah tahu kapan dan bagaimana cara kita akan mati, sehingga Dia sudah mencatatkan dalam buku itu. Jadi, sudahlah tidak perlu terlalu pusing apakah umur kita akan panjang atau pendek karena dalam konteks umur, size doesn’t matter. Yang menjadikannya ‘matter’ adalah apa yang kita lakukan dalam mengisi jatah umur yang kita miliki itu. Mau diisi dengan tindakan yang baik dan produktif atau dengan keburukan dan kesia-siaan belaka.
2. Panjangkanlah ‘umur manfaat’ Kita, bukan ‘umur fisik’.
Bukan hanya di dalam novel-novel fiksi kita bisa melihat betapa manusia mabuk dengan umur panjang. Dalam dunia nyata pun demikian. Padahal, kita melihat fakta bahwa diantara manusia yang umurnya panjang itu banyak yang secara mental kembali lagi kepada keadaan semasa mereka masih kecil. Sebaliknya, banyak orang yang sudah meninggal namun hasil karyanya masih digunakan oleh banyak orang. Temuan-temuannya masih terus digunakan. Ajaran-ajarannya masih tetap ditaati. Kalimat-kalimat penuh hikmahnya masih tetap diingat. Bukankah mereka inilah yang secara hakekat memiliki umur yang panjang? Bahkan kita sendiri sering menyebut nama seseorang yang sudah meninggal sejak berabad-abad lamanya, bukan? Mungkinkan nama kita masih disebut oleh orang-orang yang hidup 500 tahun dari sekarang?
3. Besarkanlah nilai manfaat diri Kita bukan ukuran tubuh Kita.
Kita memiliki sebuah amplop berisi ratusan juta rupiah. Itu adalah uang berlebih kita setelah dikurangi alokasi untuk kebutuhan hidup layak dan keperluan lainnya. Kita punya dua pilihan untuk menggunakan uang itu. Pertama, pergi ke dokter bedah platik, maka kita akan awet muda. Uang itu cukup untuk melakukan perawatan seumur hidup. Kedua, pergi ke panti asuhan lalu kita meletakkan amplop itu didepan pintu dengan pesan “Untuk Merenovasi Atap Panti Yang Bocor”. Jika kita mengambil pilihan kedua, maka saya menjamin bahwa kita akan berhasil membuat nilai hidup kita jauh lebih besar tanpa harus membeli BH baru dengan nomor yang lebih besar dengan merek Mbelionda BHne dari luar negeri.
4. Berusaha untuk mendapatkan yang besar dan panjang.
Kata orang, hanya ada dua kemungkinan mengapa seseorang sangat setia pada pameo ‘size doesn’t matter’, yaitu; size miliknya minimalis atau sedang berpura-pura puas dengan yang minimalis itu. Saya tidak tahu benar apa tidaknya. Tapi jika dipikir-pikir; kalau kita bisa mendapatkan yang panjang dan besar, mengapa harus terus mendekap yang pendek dan kecil? Bayangkan jika kita bisa memiliki umur panjang hingga 110 tahun. Jika kita mencapai akil baligh pada usia 10 tahun maka itu artinya kita bisa memupuk amal dan kebajikan selama 100 tahun. Bukankah umur panjang dan besarnya nilai pahala yang kita kumpulkan itu bisa menjadi bekal yang sangat banyak untuk mendapatkan karunia Tuhan? Masalahnya, kita tidak tahu sampai umur berapa kita beroleh hidup? Makanya hanya satu hal saja yang bisa kita lakukan, yaitu; memperbanyak amal baik. Jika bisa dengan uang, maka lakukan dengan uang. Jika hanya bisa dengan kata-kata bijak, maka lakukan dengan saling menasihati dalam kebaikan. Jika hanya bisa dengan perilaku baik, maka berperilaku baik yang tidak merugikan orang lainpun sudah menjadi amal saleh. Dengan begitu kita beroleh pahala besar.
5. Mengoptimalkan yang pendek dan kecil. Semuanya ada ukurannya.
Termasuk diri kita sendiri. Kalau memang DNA atau gennya pendek dan kecil mau diubah menjadi sepanjang dan sebesar apa lagi? Sudahlah terima saja. Anak ke-14 orang lain bisa jadi umurnya sangat pendek. Dia sudah meninggal saat berada dalam kandungan ibundanya pada usia kehamilan 12 minggu saja. Sedih pasti. Tapi lebih banyak bahagianya. Kita yakin bahwa sang jabang bayi telah kembali keharibaan ilahi dalam keadaan suci. Kita yang terlanjur akil baligh ini tidak bisa kembali dalam keadaan suci seperti bayi. Tetapi, kita patut mensyukuri anugerah umur ini meskipun seandainya umur kita pendek. Kita ikuti saja meskipun takdir kita kecil, yang berarti kita memang hanya cocok untuk yang kecil-kecil. Sungguh tidak pas jika kita yang memiliki gen kecil ini melakukan dosa-dosa besar. Tahu dirilah sedikit jika mau melakukan dosa besar. Orang-orang yang punya ukuran pendek dan kecil mah cocoknya mengisi umur yang pendek itu dengan amal-amal yang banyak, meskipun hanya bisa melakukan hal-hal yang kecil.
Size doesn’t matter. Bisa iya, bisa juga tidak. Selama kita bersedia untuk menerima diri sendiri dengan ikhlas, maka panjang atau pendeknya umur kita tidak akan menjadi kekhawatiran. Semoga saja dalam panjang atau pendeknya umur itu, Tuhan memperkenankan kita untuk mengumpulkan bekal hidup dan pahala dalam jumlah besar dan menjauhi dosa-dosa hingga sekecil-kecilnya.
Orang besar itu beruntung, karena dengan kebesarannya dia bisa berkontribusi kepada orang-orang kecil. Orang kecil itu beruntung, karena dengan kekecilannya itu dia memberi tempat kepada orang-orang besar untuk menyalurkan jalan amalnya....;)
0 comments:
Post a Comment