
Employee Engagement (EE) bukanlah masalah yang hangat dibicarakan hanya di Negara berkembang seperti Indonesia saja. Perusahaan-perusahaan di Negara paling maju sekalipun menghadapi masalah yang sangat pelik untuk diselesaikan ini. Banyak yang masih secara keliru mengira bahwa para karyawan bisa diikat oleh gaji tinggi. Padahal, hanya mereka yang tidak mampu mendapatkan pekerjaan di tempat lain saja yang masih rela melakukan apapun demi gajinya. Mereka yang memiliki daya jual dan daya juang tinggi pasti akan hengkang juga. Sungguh, ini bukan semata-mata soal uang. Jadi apa dong penyebab utamanya?
Penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor paling utama yang menyebabkan rendahnya tingkat EE ternyata adalah atasannya. Jadi, jika Kita memiliki masalah serius dengan rendahnya EE dikalangan anak buah Kita, maka sudah waktunya untuk bercermin sambil bertanya; “Apakah saya sudah menjadi atasan yang baik bagi para bawahan saya?” Bagi Kita yang tertarik untuk menemani saya mamahami peran atasan dalam meningkatkan Employee Engagement, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:
- Memahami kebutuhan dan keinginan karyawan. Ada bedanya antara kebutuhan dengan keinginan. Memahami keduanya membantu atasan untuk menentukan mana yang layak untuk diperjuangkan atau diberikan kepada bawahan, dan mana yang tidak perlu terlalu dihiraukan. Kebutuhan mengacu kepada apa yang pantas mereka dapatkan berkaitan dengan hubungan kerja, sedangkan keinginan berkaitan dengan tuntutan-tuntutan yang belum tentu patut untuk mereka dapatkan. Segala sesuatu yang pantas mereka peroleh itulah yang wajib hukumnya untuk diperjuangkan oleh seorang atasan. Harapan karyawan itu beragam macam sehingga tidak mungkin seluruhnya bisa dipenuhi. Memahami antara kebutuhan dan keinginan mereka membantu atasan untuk melakukan penyaringan sehingga lebih efektif dalam menggunakan sumberdaya. Jadi sebaiknya kita perlu turun ke bawah dan lebih erat dengan bawahan kita, sehingga keinginan dan kebutuhan mereka, akan segera dapat kita colect. Adalah menjadi pandangan yang sangat keliru jika atasan tidak boleh dekat dengan bawahan agar kharismanya tidak pudar. Adalah hal yang salah juga jika salah satu Pembantu Direktur Perguruan Tinggi melarang dosen-dosennya dekat dengan mahasiswanya. Kita perlu mencontoh kepemimpinan Presiden Soekarno yang dekat dengan rakyatnya, bahkan Presiden Soeharto juga melakukan hal yang sama sehingga tahu persis apa yang dia bisa lakukan demi kepentingan bersama agar kebutuhan dan keinginan bawahannya terwujud. Kita boleh mencontohnya, bukan begitu?!
- Bersedia mendengarkan masukan dan keluhan bawahan. Tidak semua masukan dari bawahan relevan dan bisa diimplementasikan. Juga tidak semua keluhan bawahan bersifat objektif dan berada dalam kewenangan atasan. Tetapi, kesediaan seorang atasan untuk mendengarkan memberikan sinyal positif terhadap kepercayaan bawahan. Mereka bisa merasakan bahwa di kantornya masih ada kesempatan untuk menyalurkan aspirasi. Tersumbatnya saluran penampung aspirasi sering menyebabkan hilangnya kepercayaan bawahan. Dalam jangka panjang hal ini bisa berubah menjadi gejolak yang sulit untuk diredam. Bahkan sekalipun atasan tidak sanggup untuk memenuhinya, bawahan mendapatkan kepuasan ketika suaranya didengar oleh atasan. Saluran aspirasi tersebut dapat dilakukan dengan banyak cara, bisa dengan menggunakan email yang diberikan langsung dari atasan ke bawahan jika ingin mengungkapkan aspirasinya, atau kotak saran, atau bahkan dengan mengadakan rapat-rapat kecil yang tidak formal, bisa pada saat makan siang, gathering, dan sebagainya, intinya, dengarkan semua aspirasi dengan berbagai cara, dan ingatlah siapa yang berbicara, karena dia adalah aset berharga institusi untuk lebih maju dan sukses.
- Menjaga ketulusan hati dalam hubungan dengan bawahan. Saya meyakini bahwa ketulusan adalah kunci terpenting dalam membangun sebuah hubungan. Khususnya antara atasan dan bawahan. Hubungan yang didasari oleh ketulusan tidak sekedar diukur dari keramahan, sebab atasan yang berkarakter keras bukanlah tipe orang yang bisa dipaksa untuk berubah wajah menjadi ramah dan murah senyum. Sebaliknya, bawahan yang kurang supel juga tidak bisa dipaksa untuk hay-hay-hey-hey dengan atasannya. Ketulusan hubungan mengijinkan bawahan untuk mengkritik atasannya, dan memberi keleluasaan bagi atasan untuk menegur bawahannya yang kurang baik. Selama ada ketulusan itu, seseorang tidak harus mengubah kepribadian untuk memastikan bahwa hubungannya dengan rekan di kantor tetap sehat. Sehingga kita dapat pastikan, jika kita tulus memperhatikan bawahan kita, maka bawahan kita akan peduli dengan kita juga.
- Memenuhi kebutuhan pengembangan bawahan. Seperti halnya kita, para bawahan membutuhkan kesempatan untuk berkembang. Begitu banyak karyawan yang tidak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya. Salah satu penyebabnya adalah karena atasannya keliru mengira bahwa pengembangan karyawan itu harus selalu berupa kenaikan jabatan. Bukan. Berkembang bisa berarti mendapatkan pengalaman baru, makanya menugaskan bawahan untuk bergabung dengan proyek yang melibatkan departemen lain bisa sangat membantu. Berkembang juga bisa berarti meningkatnya pengetahuan. Untuk hal ini juga tidak harus selalu mahal, karena dengan kreativitasnya seorang atasan bisa melakukan sesuatu yang bisa menambah pengetahuan bawahan dengan biaya yang sangat rendah. Mengirimi mereka artikel-artikel yang berkualitas tinggi misalnya. Banyak cara untuk mengembangkan potensi bawahan, jadi tidak harus dengan menaikkan posisi jabatan, karena bisa jadi posisi jabatan yang dinaikkan namun potensinya malah akan merosot, tidak peduli dengan bawahannya juga bahkan bersikap acuh terhadap kita pula. Untuk itu kita dapat melakukan yang terbaik buat bawahan dengan cara bukan menaikkan posisi atau jabatannya, tetapi membuat mereka lebih senang dengan kita dan dirinya sendiri.
- Memberi kesempatan karyawan untuk mencurahkan seluruh kemampuannya. Jika kita memiliki kemampuan yang sangat tinggi namun perusahaan tempat kita bekerja tidak dapat memberikan cukup ruang bagi kita untuk menggunakan seluruh kemampuan kita, maka kita akan meninggalkan perusahaan itu. Sebab, kita tahu kalau terus tinggal di perusahaan itu akan menyebabkan kemampuan kita mengecil bahkan menghilang seperti kaki ular yang mengalami proses rudimenter. Atau kita akan menjadi seperti ikan besar yang berada di kolam yang sangat kecil. Begitu pula dengan bawahan kita yang pintar dan berkemampuan tinggi. Maka tidak ada kompromi bagi kita selain memberinya kesempatan untuk mencurahkan segenap kemampuannya. Bawahan tangguh seperti ini tidak terlalu pusing dengan uang. Mereka pusing karena terlalu banyak membiarkan kapasitas dirinya menganggur. Bahkan, mereka yang lebih pintar akan meninggalkan jabatan dan posisinya sebagai pegawai negara, yang notabenenya, hanya tinggal menunggu gajian saja per tanggal satu, tanpa peduli, apakah dia meningkat atau tidak, ke sesuatu yang lebih baik, meskipun tidak harus menjabat dan bukan pegawai negara, sehingga kehidupannya akan menjadi lebih tenang, lebih baik bahkan dia lebih bahagia dengan pekerjaannya saat ini.
Jika kita seorang atasan yang memiliki anak buah, maka kita adalah orang pertama yang bertanggungjawab terhadap Employee Engagement. Tidak ada bawahan yang betah tinggal dan bekerja dengan atasan yang tidak berusaha maksimal untuk membuat mereka kerasan di kantor. Boleh jadi masih banyak karyawan yang tetap tinggal bersama kita, tetapi kita kehilangan orang-orang terbaiknya. Karena mereka yang tinggal di tempat yang tidak menyenangkan mungkin saja sedang menunggu peluang ditempat lain yang lebih baik. Jadi, inilah saatnya bagi setiap atasan untuk benar-benar memikirkan dan memberikan perhatian pada upaya-upaya mewujudkan Employee Engagement.
Seorang atasan itu seperti lem yang berfungsi untuk merekatkan antara bawahannya dengan perusahaan yang memberinya tanggungjawab kepemimpinan. Jadi berlakukanlah diri kita sebaik-baiknya....;)
0 comments:
Post a Comment