LATAR BELAKANG
Topik Gender bukan lagi merupakan hal yang baru bagi kalangan feminis, peneliti, akademisi, organisasi kemasyarakatan, pejabat pemerintahan maupun kalangan umum lainnya di masyarakat. Berbagai studi telah dilakukan untuk melihat hubungan yang kompleks antara Gender dengan isu-isu penting seperti politik, pendidikan, kesehatan, pengelolaan sumber daya alam, dan lain sebagainya. Berbagai institusi dan lembaga baik dari sektor formal pemerintahan, LSM, lembaga penelitian, dan lain sebagainya beramai-ramai mengadakan training, kampanye, penelitian, survei dan berbagai program kegiatan lainnya yang berkaitan dengan Gender.
Pertanyaannya adalah sejauh mana inisiatif-inisiatif tersebut efektif mendukung upaya penguatan kapasitas perempuan di akar rumput? Apakah posisi dan peran Gender dalam masyarakat mengindikasikan adanya perubahan? Bagaimana posisi perempuan di dalam keluarga? Apakah perempuan mulai ikut terlibat secara aktif dalam proses pengambilan keputusan di institusi atau lembaga lokal?
Kebanyakan dari kita sering menolak kenyataan bahwa ‘penerima manfaat program’, yaitu perempuan-perempuan yang bergabung dalam kelompok yang difasilitasi (kelompok dampingan), selama ini masih berada pada tataran ‘objek’ penelitian, kelompok ‘sasaran’ atau pengikut setia dari kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan. Hal ini seringkali terjadi karena program dan kegiatan yang ditawarkan (atau dipaksakan) pada kelompok dampingan tersebut lebih banyak diinisiasi oleh pihak luar, bukan berdasarkan ide yang digali dari komunitas itu sendiri). Dengan demikian, kelompok perempuan hanya mengikuti apa yang sudah tertulis dalam agenda si pemberi ide, tanpa mempunyai peluang untuk berpikir apakah kegiatan tersebut sesuai atau bertentangan dengan kepentingan mereka atau malah membuat masalah dengan kondisi lokal yang ada di sekitar mereka. Sayangnya, jika program kegiatan tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan, kita serta merta ‘menghakimi’ bahwa program tersebut gagal, komunitas lokal tidak co-operative dalam berproses, kondisi lokal tidak mendukung atau bahkan menyalahkan fasilitator yang tidak bisa ‘mendorong’ kelompok dampingannya untuk berkembang sesuai dengan tujuan program.
Pernahkah terpikir oleh kita bahwa mungkin ‘kegagalan’ dalam berproses tersebut kemungkinan adalah bentuk keberhasilan sistem lokal? Atau bahkan kegagalan tersebut memunculkan ide-ide brilliant di dalam komunitas yang luput dari perhatian kita?
Pelatihan ini tidak mendiskusikan apa yang benar atau salah dalam perspektif Gender menurut pandangan lokal dan dunia luar. Gender dipandang sebagai opsi terbuka, yang bisa sangat berbeda perspektif dan implementasinya tergantung dari kondisi dan realitas lokal yang ada di lapangan.
Saya secara pribadi mengucapkan banyak terima kasih kepada fasilitator dan pelatih serta semua rekan peserta bersama dengan banyaknya rekan yang tidak dapat disebutkan namanya, dalam pelatihan Gender yang jerih payah dan partisipasinya dalam kegiatan ini telah memberikan inspirasi bagi saya untuk menuangkan ide dan pemikiran dalam lembaran-lembaran ini.
Pada akhirnya, semoga lembaran ini dapat membantu praktisi dan fasilitator di lapangan untuk mengenal lebih jauh mengenai Gender dari segi praktis, terlepas dari perdebatan mengenai konsep, teori dan definisi, sehingga dapat membantu kelompok dampingannya mengenali aspek-aspek ketimpangan Gender yang ada di lingkungan sekitarnya.
Topik Gender bukan lagi merupakan hal yang baru bagi kalangan feminis, peneliti, akademisi, organisasi kemasyarakatan, pejabat pemerintahan maupun kalangan umum lainnya di masyarakat. Berbagai studi telah dilakukan untuk melihat hubungan yang kompleks antara Gender dengan isu-isu penting seperti politik, pendidikan, kesehatan, pengelolaan sumber daya alam, dan lain sebagainya. Berbagai institusi dan lembaga baik dari sektor formal pemerintahan, LSM, lembaga penelitian, dan lain sebagainya beramai-ramai mengadakan training, kampanye, penelitian, survei dan berbagai program kegiatan lainnya yang berkaitan dengan Gender.
Pertanyaannya adalah sejauh mana inisiatif-inisiatif tersebut efektif mendukung upaya penguatan kapasitas perempuan di akar rumput? Apakah posisi dan peran Gender dalam masyarakat mengindikasikan adanya perubahan? Bagaimana posisi perempuan di dalam keluarga? Apakah perempuan mulai ikut terlibat secara aktif dalam proses pengambilan keputusan di institusi atau lembaga lokal?
Kebanyakan dari kita sering menolak kenyataan bahwa ‘penerima manfaat program’, yaitu perempuan-perempuan yang bergabung dalam kelompok yang difasilitasi (kelompok dampingan), selama ini masih berada pada tataran ‘objek’ penelitian, kelompok ‘sasaran’ atau pengikut setia dari kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan. Hal ini seringkali terjadi karena program dan kegiatan yang ditawarkan (atau dipaksakan) pada kelompok dampingan tersebut lebih banyak diinisiasi oleh pihak luar, bukan berdasarkan ide yang digali dari komunitas itu sendiri). Dengan demikian, kelompok perempuan hanya mengikuti apa yang sudah tertulis dalam agenda si pemberi ide, tanpa mempunyai peluang untuk berpikir apakah kegiatan tersebut sesuai atau bertentangan dengan kepentingan mereka atau malah membuat masalah dengan kondisi lokal yang ada di sekitar mereka. Sayangnya, jika program kegiatan tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan, kita serta merta ‘menghakimi’ bahwa program tersebut gagal, komunitas lokal tidak co-operative dalam berproses, kondisi lokal tidak mendukung atau bahkan menyalahkan fasilitator yang tidak bisa ‘mendorong’ kelompok dampingannya untuk berkembang sesuai dengan tujuan program.
Pernahkah terpikir oleh kita bahwa mungkin ‘kegagalan’ dalam berproses tersebut kemungkinan adalah bentuk keberhasilan sistem lokal? Atau bahkan kegagalan tersebut memunculkan ide-ide brilliant di dalam komunitas yang luput dari perhatian kita?
Pelatihan ini tidak mendiskusikan apa yang benar atau salah dalam perspektif Gender menurut pandangan lokal dan dunia luar. Gender dipandang sebagai opsi terbuka, yang bisa sangat berbeda perspektif dan implementasinya tergantung dari kondisi dan realitas lokal yang ada di lapangan.
Saya secara pribadi mengucapkan banyak terima kasih kepada fasilitator dan pelatih serta semua rekan peserta bersama dengan banyaknya rekan yang tidak dapat disebutkan namanya, dalam pelatihan Gender yang jerih payah dan partisipasinya dalam kegiatan ini telah memberikan inspirasi bagi saya untuk menuangkan ide dan pemikiran dalam lembaran-lembaran ini.
Pada akhirnya, semoga lembaran ini dapat membantu praktisi dan fasilitator di lapangan untuk mengenal lebih jauh mengenai Gender dari segi praktis, terlepas dari perdebatan mengenai konsep, teori dan definisi, sehingga dapat membantu kelompok dampingannya mengenali aspek-aspek ketimpangan Gender yang ada di lingkungan sekitarnya.










