Tuhan itu Tidak Ada !!


Ilmuwan nyentrik Stephen Hawking yang terkenal karena pernyataan pro dan kontranya mengklaim surga hanyalah dongeng dan tak pernah ada. Seperti apa?

Hawking menyebutkan, pada dasarnya surga dan kehidupan setelah kematian merupakan karangan bohong dari orang-orang yang sebenarnya takut mati. Merujuk ilmu pasti yang dimilikinya, Hawking menyatakan, otak berhenti bekerja ketika mati.

“Otak seperti komputer, komputer berhenti jika komponennya rusak,” ujarnya.

"Tak ada surga atau kehidupan setelah kematian bagi komputer-komputer rusak itu, lanjutnya. Surga hanyalah cerita bohong orang yang takut kegelapan," lanjutnya lagi.

Hawking menyakan, hal ini makin memperkuat teorinya mengenai semesta dibuat tanpa campur tangan Tuhan. Menurutnya seperti dikutip Guardian, alam semesta sudah ada sejak dulu dan berjalan dengan sendirinya.

Sebelumnya, Hawking sangat yakin, di masa depan, manusia bisa dengan mudah pergi dari masa lalu ke masa depan atau sebaliknya menggunakan mesin waktu yang akan segera tercipta.

Baiklah...

Mari kita lihat:

Pertama

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini.

PROFESOR :"Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".

"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi.

"Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab,
"Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.

Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Apakah kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab,
"Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja gelap itu ada."

Mahasiswa itu menjawab,
"Sekali lagi anda salah, Pak.Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak."

"Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna."

"Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab,
"Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,
"Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan."

"Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam.

Dan mahasiswa itu adalah.......Albert Einstein.




Jadi, meniadakan kehadiran tuhan akan menimbulkan kejahatan, dekatkanlah diri kita dengan tuhan..untuk jauh dari kejahatan.

Kedua:
Memepertanyakan keberadaan surga ataupun neraka sama halnya mempertanyakan eksistensi Tuhan. karena dalam hal ini tuhan-lah yg menciptakan dua tempat tersebut.. berikut ada sebuah hikayat..

ada seorg ulama ditantang oleh seorg atheis untuk menjawab eksistensi Tuhan.
si atheis berkata kepada ulama “Sy tdk percaya adanya tuhan! alam raya ini tercipta dengan hukumnya sendiri..hanya org-org gila saja yg percaya kalau alam raya sebesar ini ada yg menciptakan... kita adakan debat terbuka untuk menjelasakan kepada semua org mana diantara pendapat kita yg paling benar”..

ulama menyetujui tantangan dari atheis ini. kemudian mereka menentukan tempat dan waktunya..



hari yg ditentukan untuk mengadakan debat terbuka tentang eksistensi Tuhan telah datang.. dengan persiapan yg sangat yakin si atheis telah dulu datang di tempat yg telah ditentukan.. namun si atheis ini dibuat kesal oleh ulama karena hampir satu jam lebih dari waktu yg telah ditentukan sang ulama belum juga datang..

si atheis berkata kepada para audience “lihat! Seorg yg mempercayai adanya Tuhan tdk konsisten kepada janjinya?! mungkin dia menyerah dan yakin kalau Tuhan memang tdk ada! Makanya dia tdk berani datang!”..

hampir beberapa saat lagi debat dibatalkan karena sang ulama belum juga datang, akhirnya dia terlihat datang menghadiri debat terbuka itu.. si atheis menegur denga suara dikeraskan agar terdengar juga kepada para audience..

atheis : “wah-wah…bagaimana anda ini? bukanya anda seorg yg percaya adanya tuhan, kenapa anda tdk konsisten sama janji anda? bukanya anda percaya akan ada tuhan yg menghukum org-org yg tdk tepat janji? atau anda berniat membatalkan debat ini karena anda sendiri mulai ragu terhadap keyakinan anda?”

ulama : “mohon maaf sy datang terlambat.. sy tdk berniat membatalkan debat ini.. sy tadi terlambat karena sy mendapat halangan dijalan..”

sang ulama menjelaskan sebab keterlambatanya.. “tadi sewaktu sy mau melewati sebuah jembatan tiba2 air sungai meluap, terus menyeret jembatan yg mau sy lewati.. sy bingung harus lewat jalan mana lagi? karena jalan ini satu2nya yg sy tau.. tapi untug saja di saat sy bingung harus melakukan apa? tiba2 dikejauhan sy melihat pohon besar roboh kesungai karena tanahnya terkikis arus.. lalu setiba dihadapan sy pohon itu tiba2 bergerak-gerak merubah dirinya menjadi sebuah perahu yg lengkap keadaanya.. bahkan ada nahkodanya.. akhirnya sy menaiki perahu itu untuk menyebrang sungai..”

belum selesai ulama menjelaskan, atheis menimpali sambil tertawa terbahak bahak..
atheis : “hahahaa…cukup,cukup.. tdk usah diteruskan kekonyolan anda.. sepertinya anda sudah mulai gila.. sy dan para audience di sini masih waras.. anda pikir kami akan peracaya cerita anda tadi? sepertinya sy salah org untuk mengajak anda berdebat dalam masalah ini, karena sy pikir anda sudah gila!.. mana mungkin ada sebuah pohon roboh terseret arus sungai, lalu tiba2 didepan anda pohon itu berubah menjadi sebuah perahu bahkan ada nahkodanya pula, lalu menyeberangkan anda dari sungai?!”..

atheis lalu bertanya kepada para audience..
atheis : “bagaimana, apa masih pantas debat ini dilanjutakan? atau ada yg bisa menjadi lawan debat sy yg menjelaskan eksistensi?”
audience tdk ada yg menjawab..lalu ulama tadi berkata kepada atheis..

ulama : “sebenarnya aneh sekali jika sampai sekarang anda masih tdk percaya adanya tuhan.. bukankah anda tdk percaya dengan cerita sy bahwa sebongkah pohon dapat merubah bentuk menjadi perahu dan terdapat nahkoda didalamnya? dan menganggap sy org yg tdk waras?.. lalu bagaimana anda bisa percaya bahwa alam semesta ini.. dengan segala isinya tercipta karena alam ini bisa membuat dirinya sendiri tanpa ada yg menciptakan?..apa bukan berarti anda lebih tdk waras dari sy?..”

si atheis diam tdk bisa berkata apa2 lagi...akhirnya debat yg akan diperkirakan menjadi debat panjang bersejarah membahas eksistensi tuhan..berakhir dalam beberapa dialog saja..

Nah, sekarang.... Bagaimana dengan Anda....?!





Yang Diharapkan Oleh Bawahan Dari Atasannya !!!



Menjadi seorang atasan adalah impian setiap karyawan. Tentu karena itu identik dengan jabatan yang lebih tinggi, pendapatan yang lebih banyak, dan kebanggaan yang lebih besar. Makanya setiap orang berlomba-lomba untuk menjadi atasan. Lantas apabila sudah menjadi atasan, apakah semuanya selesai sampai disana?

Kita, tentu ingin menjadi atasan yang memiliki kebanggaan. Apa gunanya menjadi atasan jika disepelekan oleh bawahan, atau hanya sekedar menjadi boneka yang tidak memiliki karisma.

Menjadi atasan bukan sekedar soal kedudukan, penghasilan, atau kebanggaan. Menjadi atasan adalah soal memimpin secara de facto dan memberi pengaruh positif kepada unit kerja yang kita pimpin.


Untuk bisa memenuhi fungsi itu, maka seorang atasan harus memahami apa yang diharapkan oleh bawahannya. Saya merangkum 5 hal yang diharapkan oleh bawahan dari atasannya sebagai berikut.
  • Keteladanan. Tidak ada perintah yang lebih ampuh dari keteladanan. Dengan keteladanan bahkan seorang atasan tidak perlu berkata-kata lagi untuk mendorong anak buahnya melakukan sesuatu. Sebaliknya, tanpa keteladanan; perintah kita hanya akan diikuti dengan gerutuan bawahan. Misalnya, Kita berkata; ‘Jangan datang terlambat ke kantor!”. Jika kita sendiri sering terlambat, maka bawahan kita hanya akan menganggap perintah kita sebagai lelucon belaka. Namun, jika kita sendiri tepat waktu, maka bawahan kita akan belajar untuk berdisiplin. Misalnya, memperpanjang libur atau cuti boleh, asal sesuai dengan kinerja yang dipenuhi dan pelayanan terhadap klient (massa) tidak diabaikan, terutama yang katanya abdi negara.

  • Bersikap adil. Setiap orang sangat ingin diperlakukan secara adil. Dengan keadilan, maka atasan memberi teguran atau sanksi yang pantas kepada bawahan yang berbuat kesalahan, dan memberi pujian atau reward yang patut kepada mereka yang telah menunjukkan kesungguhan. Keputusan dibuat bukan berdasarkan kedekatan atau hubungan primordial belaka, melainkan karena kompetensi, profesionalisme, dan kontribusi masing-masing. Meskipun ada saja bawahan yang mungkin tidak puas, tetapi kepada atasan yang adil; mereka tetap menaruh respek yang tinggi. Gaji tinggi pun akan diberikan namun kredibilitas dan kinerjanya harus sesuai, jika tidak gajinya harus di-Nol-kan, apalagi cuman NATO (Not Action Talk Only) atau NASO (Not Action Sleep Only).

  • Penilaian yang objektif. Atasan memiliki kekuasaan untuk memberikan penilaian. Setidak-tidaknya, sekali dalam setahun melalui performance appraisal process. Dalam keseharian, penilaian juga dilakukan terhadap kualitas kerja dan kedisiplinan bawahan. Hampir tidak ada kontrol terhadap kualitas penilaian atasan, sehingga faktor subyektivitas kadang-kadang mempengaruhi penilaian. Tetaplah bersikap objektif, karena dengan sikap objektif itu kita bisa memberikan penilaian yang benar-benar fair dan dapat dipertanggungjawabkan. Bawahan kita juga akan belajar untuk semakin memperbaiki perilaku dan kinerjanya, karena mereka tahu bahwa faktor kedekatan atau basa-basi tidak akan bisa mempengaruhi penilaian kita.

  • Memberi kesempatan untuk berkembang. Seperti halnya kita yang menginginkan perkembangan karir dan pendapatan, bawahan kita juga sama. Para bawahan sangat mengharapkan atasan yang senantiasa bersedia untuk memberi ruang kepada perkembangan pribadinya. Apakah kita melakukannya dengan mengirimkan mereka pada sebuah pelatihan, memanggilkan trainer dari luar, atau boleh jadi sekedar membangun lingkungan kondusif yang memungkinkan terjadinya pertukaran ilmu, pengetahuan, dan keterampilan sesama mereka. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan, bahkan tanpa biaya sekalipun. Namun, kesempatan yang diberikan sebaiknya juga dikontrol, misalnya, apakah free wifi dan tabletPC yang gratis diakses untuk kebutuhan mesum saat sidang pariporno?!

  • Memperhatikan masa depannya. Pertanyaan yang selalu ada dalam benak setiap bawahan adalah; akan menjadi seperti apakah masa depan saya? Sebagian dari mereka bahkan berdebar-debar dengan status kontraknya, apakah akan diperpanjang atau tidak. Sebagai atasan, kita bertanggungjawab untuk memastikan bahwa masa depan mereka akan baik-baik saja. Ajaklah mereka untuk berkontribusi semaksimal mungkin, agar semakin memudahkan kita dalam memperjuangkan nasib mereka. Dengan demikian; Anda mendapatkan komitmen kinerja bawahan, sedangkan bawahan mendapatkan komitmen dari Anda untuk berupaya semaksimal mungkin memperhatikan masa depan karir mereka.


Tidak ada atasan yang sempurna. Namun, ada diantara atasan yang benar-benar menggunakan kedudukannya untuk menyokong kebutuhan dan harapan-harapan bawahannya. Meskipun tidak mungkin untuk memuaskan semua orang, tetapi selama kita mampu memenuhi ke-5 harapan diatas, yakinlah; kita bisa menjadi atasan yang layak untuk dibanggakan.

Menjadi atasan itu adalah amanah kepemimpinan. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.


Anda Pilih Benar Satu: Time Management Atau Self Management ?!

Mana yang lebih penting menurut pendapat Anda:
Mengelola Waktu atau Mengelola Diri
?

Di sekolah-sekolah management terkemuka, Time Management dibahas dalam modul khusus. Tetapi, adakah kurikulum sekolah tingkat dunia yang memiliki modul Self Management?

Hal ini menandakan jika kita lebih memperhatikan teknik-teknik Mengelola Waktu daripada Mengelola Diri. Itulah sebabnya mengapa meski sudah belajar banyak, kita tidak pernah berhenti mengeluhkan tentang waktu.
Firman Tuhan menyatakan bahwa kualitas waktu seseorang sangat ditentukan oleh kualitas dirinya sendiri. Bukan sebaliknya.

Meskipun seseorang memiliki waktu yang banyak, “Jika dia tidak beriman”, demikian firman Tuhan, “Maka manusia berada dalam kerugian”. Bahkan iman pun belum cukup. Jika dia tidak melakukan amal saleh, maka dia juga rugi.

Artinya, bukan Mengelola Waktu yang paling menentukan hidup seseorang, melainkan ‘Mengelola Diri’. Hal ini berlaku di kantor, di rumah, dan dimana saja. Mengapa demikian? Inilah 5 faktor penentunya.
  1. Waktu Anda besifat netral, sedangkan diri Anda bersifat sentral. Tidak ada mahluk yang lebih adil daripada waktu. Jumlah waktu yang Anda dapatkan sama persis seperti yang orang lain dapatkan, bukan? Diri Andalah yang menjadi titik sentral paling menentukan apakah waktu Anda berharga atau sia-sia. Anda boleh berleha-leha, atau bekerja keras. Anda boleh mengerjakan aktivitas yang bermanfaat, atau berkutat dengan kesia-siaan. Tinggal Anda tentukan sendiri; apa yang menjadi prioritas utama dalam hidup Anda. Sekedar permainan dan senda gurau? Atau memupuk amal, perbuatan, dan kegiatan produktif yang memberi makna kepada hidup Anda?
  2. Waktu Anda terbatas, sedangkan kapasitas diri Anda belum ketahuan batasnya. “Aku tak punya waktu!” begitu orang biasa mengeluhkan. Padahal semua orang juga tahu jika dia punya 24 jam sehari. Anehnya lagi; dia membuang-buang waktu yang terbatas itu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Tetapi, apakah Anda sudah mengetahui dimana batas kapasitas diri Anda? Setahu saya, belum ada orang yang mampu mengenali batas maksimal potensi dirinya. Jika Anda berkutat dengan waktu, maka pasti ada banyak keterbatasan. Tetapi jika bersedia belajar mengoptimalkan potensi diri, maka Anda tidak akan pernah kekurangan bahan bakar untuk terus menghasilkan karya terbaik dalam hidup.
  3. Kualitas pekerjaan Anda, bukan berapa lama Anda mengerjakannya. Coba perhatikan, berapa lama Anda mengerjakan tugas-tugas Anda di kantor. Banyak orang yang bekerja sedemikian lamanya, namun produktivitasnya tetap saja rendah. Mengapa bisa begitu? Karena masih banyak orang yang mengira bahwa semakin lama mengerjakannya, semakin terlihat bagus konditenya. Makanya banyak orang yang berlama-lama di kantor namun tidak jelas apa yang dikerjakannya. Berfokuslah kepada kualitas kerja Anda, maka dalam 8 jam yang Anda habiskan dikantor, Anda bisa menghasilkan lebih banyak karya nyata. Itulah prinsip fundamental produktivitas kerja.
  4. Manfaat pekerjaan Anda, bukan jumlah waktu yang Anda berikan. Pernahkah Anda mengukur nilai manfaat dari setiap aktivitas Anda? Banyak orang yang meluangkan waktu begitu banyak untuk hal-hal yang sia-sia, dan menunda-nunda hal-hal yang sangat penting. Ini bukanlah soal memenuhi kesenangan, melainkan soal prioritas hidup. Apakah Anda akan memprioritaskan aktivitas yang memberi manfaat kepada orang banyak atau mendahulukan ego belaka. Sudah saatnya untuk benar-benar menyadari bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dipenuhi oleh kesia-siaan. Sedangkan setelah kehidupan ini berakhir, ada sebuah sidang pertanggungjawaban.
  5. Perpanjangan jumlah amal Anda, bukan perpanjangan waktu. Waktu tidak pernah bisa diperpanjang, termasuk dalam pertandingan sepak bola sekalipun. Tetapi Anda bisa memperpanjang jumlah amal dengan cara menggunakan waktu untuk saling menasihati dalam melakukan kebaikan dan mengurangi keburukan. Ketika seseorang berbuat baik sesuai dengan ajakan Anda, maka pahalanya mengalir terus. Ketika dia berhenti berbuat keburukan seperti yang Anda nasihatkan, maka pahalanya juga terus Anda dapatkan; bahkan sekalipun Anda sudah meninggal. Waktu tidak bisa diperpanjang. Tetapi amal baik setiap umat manusia, bisa menjadi investasi abadi.

Mari berhenti mengeluhkan tentang terbatasnya waktu. Karena berapapun waktu yang kita miliki tidak akan pernah kita anggap cukup.

Mulailah ‘Mengelola Diri’ dengan berfokus kepada ‘apa yang kita lakukan’ dalam waktu yang serba terbatas ini. Karena tindakan kita dalam mengisi waktu itulah yang akan menentukan apakah kita memiliki daya saing yang tinggi atau tidak? Karena setiap tindakan kita menentukan apakah di akhirat kelak kita akan memiliki limpahan waktu untuk bersenang-senang. Atau terlalu banyak waktu untuk menanggung kemarahan Tuhan.
Demi waktu. Sesunggugnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Dan saling menasihati dalam kebenaran. Dan saling mengajak kepada kesabaran.

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.

Sakura Yooo.........

...Sakura yooo....

Sakura ga kokoro ni nokoru no wa,
Hito hada ni niteiru
Momoiro no seidato
minna shitteiru.....

Sakura no inochi ga itoshii no wa,
Wazuka de chiriochiru....
Hakanasa no seidato
Minna shitteiru.....

Sakura o dareka to mitai no wa,
Kono hana no yasashisa o
Wakachitai seidato
Minna shitteiru....

Sakura yo.....
Sakihokore, aozora o seni shite sakihokore....

Sakura yo....
Sakihokore, hoshizora ni ukande sakihokore....

Minna de waraeru, utaeru, dakiaeru, ikite ikeru
Kono hana ga saku tabini, kasaneru omoide....

Nanika o ushinau sabishisa, akirameru kanashisa
Demo haru wa kuru rainen mo, sono saki mo, zutto saki mo....

Sakura yo....
Sakihokore, Nihon no mannaka de sakihokore...

Nihon yo sakihokore, sekai no mannaka de sakihokore

Watashi yo sakihokore, Kono michi no...
Mannaka de sakihokore...

****Sakura yooo.......

Minggu, 1 Mei 2011 15:00-17:00
Aula Jakarta Japanese School
Jln. Elang Bintaro Jaya Sektor 9, Perigi Lama, Tangerang
(sebelah makam patriot bangsa / makam para pahlawan)

私たちの大好きな日本が困難の真っただ中にいます。
インドネシア人の学生ができることは、日本に元気になってもらうこと。
この国の明るさを、日本へ届けよう!!
それを合言葉に、インドネシアの学生が作った歌、「桜よ ~大好きな日本へ」を、
500人の学生たちで歌いました。
場所は、少しでも被災された方々の気持ちを感じられるようにと、
ジャカルタにある日本人学校の体育館にしました。

歌の最後を迎えるころには、偶然にも体育館の屋根辺りから
まるで合唱を喜んでくれているように、一羽の鳥の鳴き声が聞こえていました。

Bosen di Kantor ?!


Hore, Hari Baru!
Masuk Kantor Lagi......Teman-teman.....;)

Sudah berapa tahun Anda menangani tugas-tugas dikantor itu? Jika masih baru, mungkin Anda merasa senang dengan pekerjaan itu. Tapi kalau sudah bertahun-tahun, apakah Anda masih merasa senang juga? Bagus jika iya. Tapi jika Anda sudah mulai diserang oleh rasa bosan, maka Anda harus segera mencari jalan keluarnya. Apakah Anda sudah menemukan jalan keluar yang saya maksud?
Bagi saya, kebosanan itu adalah energy untuk berprestasi. Lho, kok bisa begitu? Tentu saja bisa jika tahu caranya sekaligus berkomitmen untuk menerapkannya dalam aktivitas kerja Anda sehari-hari. Tertarik untuk mengetahui caranya? Berikut ini 5 teknik handal untuk menjadikan kebosanan dikantor sebagai daya dorong keberhasilan karir Anda.
  1. Ingatlah bahwa pekerjaan itulah yang menghidupi keluarga Anda. Tanyakan kembali apa tujuan Anda bekerja. Bukankah salah satunya untuk memperoleh nafkah atau penghidupan? Janganlah menunggu kehilangan pekerjaan terlebih dahulu untuk menyadari betapa pentingnya pekerjaan itu. Jika Anda bosan dengan pekerjaan, apakah Anda bosan juga dengan pendapatan yang Anda peroleh darinya? Jika masih membutuhkan pendapatan itu, maka Anda masih membutuhkan pekerjaan itu. Semakin kita mengingat betapa berharganya dia, semakin besar keinginan kita untuk menjaga dan menyelesaikannya sebaik-baiknya.
  2. Konsekuen dengan pilihan Anda. Tidak ada orang yang memaksa Anda untuk menerima pekerjaan ini. Anda boleh menolaknya kapan saja, bukan? Mungkin Anda merasa itu bukan pekerjaan yang Anda idamkan sehingga Anda tidak memiliki ikatan emosional yang mendalam. Silakan selalu mencari pekerjaan idaman itu, tapi sebelum Anda mendapatkannya; Anda tidak memiliki pilihan lain selain berprestasi pada pekerjaan saat ini. Mengapa? Karena tanpa prestasi bukan hanya karir Anda yang tidak berkembang, melainkan juga akan sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan lain yang Anda idamkan itu.
  3. Antusias dalam mengerjakan tugas-tugas Anda. Antusiasme memiliki energy positif sehingga Anda akan senang mengerjakan apapun jika dilakukan dengan antusias. Ciri adanya antusiasme adalah ketika Anda melakukannya dengan tersenyum, mencurahkan energi dan pikiran penuh, serta menyelesaikannya tanpa cela sedikitpun. Begitu Anda melihat hasilnya yang memuaskan, Anda tahu bahwa Anda adalah orang yang hebat dalam menyelesaikan penugasan. Dan sekarang, Anda siap untuk menyelesaikan penugasan lainnya dengan sama antusiasnya.
  4. Berinovasi dalam cara mengerjakan tugas-tugas Anda. Bagi kebanyakan orang rasa bosan dikantor lebih disebabkan karena mereka telah melakukan aktivitas yang itu-itu saja selama bertahun-tahun. Siapa yang tidak akan bosan jika demikian? Maka dari itu, berinovasilah dengan pekerjaan Anda; maka pasti Anda akan menemukan hal baru yang menyenangkan. Gunakan pikiran kreatif, positif, dan produktif Anda untuk menemukan cara yang lebih menyenangkan dalam bekerja. Selain Anda sendiri akan senang, atasan dan teman-teman Anda juga akan memberikan kredit poin positif atas inisiatif Anda.
  5. Mintalah tugas-tugas tambahan kepada Atasan Anda. Jika Anda menggunakan waktu kerja sebaik-baiknya, saya yakin Anda memiliki banyak waktu yang masih tersisa di kantor. Daripada Anda gunakan waktu itu untuk melakukan hal-hal yang tidak jelas, lebih baik Anda datang kepada atasan. Lalu katakan kepadanya; “Pak, tugas saya sudah selesai. Bolehkah saya meminta tugas tambahan?” Selain Anda akan mendapatkan tugas baru yang tidak membosankan, Anda juga akan dinilai secara sangat positif oleh atasan. Percayalah, untungnya banyak buat Anda.
Hingga tarap tertentu kebosanan dikantor itu masih bisa ditolelir. Tetapi, jika kebosanan itu membuat Anda mengabaikan tanggungjawab maka itu sama artinya Anda menyia-nyiakan hidup. Mendingan Anda berhenti bekerja saja. Tapi, itu kan bukan pilihan yang baik? Tetapi, coba lihat kembali ke-5 teknik yang saya jelaskan diatas. Bukankah dengan menerapkan ke-5 teknik itu Anda justru bisa mengubah kebosanan menjadi energy yang positif untuk mengembangkan karir Anda?
Mari Berbagi Semangat!
Membiarkan diri terkurung dalam kebosanan adalah tanda dari sifat kekanak-kanakan. Sedangkan menggunakan kebosanan itu untuk menemukan cara kerja yang lebih menyenangkan merupakan tanda jika kita memiliki keceriaan khas anak-anak.

Nah, apakah anda beraga dewasa berjiwa anak-anak?
Kayak anggota dewan saja.... Kerjanya seminggu sekali, kalo rapat tidur, target cuman dapat 5%, menyalahkan pimpinan dan pendukungnya, masih minta ruang tambahan berlantai 1000, tukang pijat plus plus, laptop, asisten pribadi yang siap memuaskan kapan saja, staf ahli menggibuli orang, tunjangan komunikasi 18juta perbulan, mobil pribadi, gaji naik 98%, dan sakleqh minta dipenuhi, kalo enggak, laporan tahunan nggak di acc....wow, keren....kere munggah bale.... he he he.....;)

****Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.....-0)

Mengembalikan Makna dan Semangat Kartini Sebenarnya


Kulihat ibu Pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intannya terkenang
Hutan, gunung, sawah, lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa.

(Lagu Ibu Pertiwi)

Syair lagu Ibu Pertiwi, apabila diresapi kata-katanya, menyentuh, terutama di hari Kartini. Pasti, ibu Kartini, juga ibu Pertiwi, akan menangis atas ulah anaknya yang tidak hanya bandel, tapi juga bebal. Walaupun setiap 21 April, warga negara Indonesia, khususnya perempuan, selalu merayakan hari Kartini, dari tahun ke tahun, namun sejauh ini, setiap hari Kartini, selalu ada kewajiban untuk memakai pakaian adat tanah air atau kegiatan yang berkaitan dengan kewanitaan. Peringatan hari Kartini pun telah direduksi, dengan parade pakaian adat, dan emansipasi disempitkan pada perluasan peran perempuan melalui dichotomy lelaki dengan melupakan nasib perempuan itu sendiri.

Kartini sangat memperhatikan, tidak hanya emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum, perjuangan perempuan agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum serta perempuan bisa sekolah setinggi-tingginya agar mendapatkan hak yang sama dengan kaum pria. Dalam suratnya kepada Estelle "Stella" Zeehandelaar di Belanda, Kartini menggagas emansipasi seluruh rakyat Indonesia melawan penindasan, semangat emansipasi manusia Indonesia dengan manusia lain tanpa ada penindasan struktural.

Pandangannya kritis terhadap agama, Kartini mempersoalkan mengapa kitab suci hanya dilafalkan dan dihafalkan tanpa mewajibkan dipahami. Ia juga berpandangan bahwa, "... Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu ...”

Perjuangan Kartini, kini membuahkan hasil, perempuan bebas memilih keinginannya, menjadi ibu rumah tangga, perempuan karir, perempuan pelajar, bergelar, perempuan pekerja sekaligus ibu rumah tangga dan sebagainya. Bahkan pemerintah Belanda mensejajarkan Kartini dengan tokoh wanita Anne Frank, Mathilde Wibaut, Rosa Luxemburg, Nilda Pinto dan Isabella Richaards, serta namanya diabadikan sebagai nama jalan, Kartinistraat, salah satu jalan utama Di Utrecht.

Ironisnya, setelah sekian lama, kondisi perempuan saat ini masih jauh dari harapan. Ada yang mandiri seolah bisa hidup tanpa pria, perempuan tidak mau mengandung dan punya anak, melupakan kodratnya sebagai ibu atau isteri, perempuan bangga menjadi budak di negeri orang, menjadi subyek atau obyek tindak kekerasan dan menjadi bahan pelecehan seksual serta diperjualbelikan. Banyak juga perempuan tua renta yang menjadi tulang punggung keluarga, bekerja sebagai kuli panggul, pemulung, pengemis, penjual seks karena tiada keahlian atau kemampuan. Di lingkungan keluarga, pekerjaan, masyarakat, masih banyak ketidakadilan yang diterima oleh perempuan, tidak dapat memanfaatkan haknya dengan baik, atau bahkan lupa pada kewajibannya, yang seharusnya tidak lepas dari tanggung jawab terhadap kodratnya sebagai perempuan di mata Tuhan, keluarga, pekerjaan dan masyarakat serta menjadi panutan yang baik.

Peringatan hari Kartini juga menjadi perenungan apa makna emansipasi terhadap lingkungan. Bencana dan tragedi telah memberi peringatan bahwa selama ini kita tidak sungguh-sungguh peduli, baik pemerintah dan masyarakatnya, berlomba mengekspolitasi atas nama pembangunan, sembarangan dan serakah, tanpa memanfaatkannya dengan arif dan penuh kasih sayang.

Sebagai seorang warga negara yang mencintai negaranya, seharusnya menghargai perjuangan pahlawan bangsanya, Kartini. Bentuk perjuangan yang dilakukan oleh Kartini secara garis besar adalah memperjuangkan keadilan. Keadilan yang mencirikan adanya hukum, dengan tujuan mendapatkan keadilan, kepastian dan ketertiban. Asas persamaan dalam hukum hendaknya dilaksanakan dengan benar, tanpa penyimpangan, misalnya perlakuan hukum terhadap perempuan yang satu dengan perempuan yang lainnya. Contoh, ketika seorang perempuan bernama Nunung Nurbaiti dalam kasus korupsi travel check mengenai pemilihan Gubernur Deputi Bank Indonesia telah dipanggil secara patut sebanyak tiga kali dan tidak memenuhi panggilan karena dikatakan sedang sakit, maka dimaklumi ketidakhadirannya oleh penegak hukum, dan diperbolehkan. Namun, ketika seorang nenek tua renta yang bernama Nenek Inah yang jauh lebih lemah kondisinya, langsung diproses tanpa ada kelonggaran. Apabila kita bandingkan dan telaah, seharusnya Nenek Inah-lah yang mendapat kelonggaran. Ini, potret hukum, persamaan dalam hukum harus diperhatikan kembali, dalam satu gender saja sudah ada ketidaksamaan perlakuan dari penegak hukum. Hal ini seharusnya membuat kita berfikir akan makna dari emansipasi wanita, emansipasi wanita dari kalangan mana yang sebenarnya diakui saat ini.

Semoga makna Kartini di tahun ini dan juga tahun mendatang bukan sekedar memperingati dengan kegiatan-kegiatan, tapi muncul Kartini-Kartini baru yang melegenda seperti Ibu Kartini. Hendaknya juga menjadi perenungan generasi penerus agar mengartikan perjuangan Kartini secara menyeluruh. Sebuah bangsa akan maju jika kualitas perempuan terjamin oleh negara dalam hal kesetaraan, saling menghormati, saling mendukung, dan saling menjaga kebebasan secara manusiawi karena dibalik suksesnya sebuah keluarga, ada seorang perempuan, yang hebat, dan tabah mengemban kepercayaan sebagai seorang isteri, seorang ibu, dan seorang anggota masyarakat yang berkepribadian. Dan situasi kesetaraan yang sedemikian massive dan progressive, jangan sampai membuat perempuan terjangkit syndrome euphoria hingga melupakan dan mengabaikan sentuhan kelembutan, perhatian, dan kasih sayang dalam lingkup domestik. Betapa pun suksesnya perempuan menggapai karir, secara kodrati, kehidupan rumah tangga amat membutuhkan kiprah perempuan sebagai pencerah peradaban, dan diharapkan melahirkan generasi masa depan yang lebih cerdas, santun, dan berakal budi. Perlu disadari bahwa Kartini hanya membuka jalan, selebihnya harus ada upaya serius untuk melanjutkan rintisan jalan Ibu Kartini. Selamat Hari Kartini.

Kegagalan: Bangsa yang tidak pernah mau belajar dan preventive !?


Topik Aphir Pekan kali ini, seperti minggu2 sebelumnya mendikusikan hal-hal ”from greater view” dari berbagai masalah yang kita temukan sehari-hari.

Idenya dapat datang dari mana saja, misal group BBM atau obrolan pulang kerja di Starbuck Setiabudi atau diskusi serius diruang kuliah. Tetapi tak perlu terlalu akademis atau serius, cukup yang ringan, populer dan mudah dicerna...(paradoks memang, greater view tapi mudah dicerna)....

Tulisan dibawah, saya copaskan dari koran Bisnis Indonesia sangat2 menarik. Intinya sih bahwa bangsa dan negara ini selalu ketinggalan...dan selalu cuma jadi pasar. Ketika orang lain begitu hebat menyelenggarakan acara perkawinan (yang ditonton 2 milyar orang live atau tidak), sampai diplomat-diplomat negara lain yang smart, bukan pada politik antar negera justru pada politik dagang.....bahkan kepiawaian pemerintahan negara membuat peluang. Kita (industri kita) terseok2 mengahadap ACFTA...sedangkan China dan Singapura mendapatkan advantage yang luar biasa.

Banyak hal penyebabnya, mulai leadership, culture, behavior...you name it, we have that problem. Lucunya we know the problem, we know how to solve it…tapi kenapa kita tidak pernah bisa mengerjakannya dengan baik?

Bangsa ini bangsa yang pintar sebenarnya. Sering sekali anak-anak dan adik-adik kita, yang SMP dan SMA di Binjai, Papua, Surabaya dan Bali menjadi juara olimpiade Fisika, Kimia, Robotik dimana-mana diseluruh dunia…kurang pintar apa kita? Banyak MBA dan PhD lulusan universitas bergengsi didunia berseliweran di Universitas dan birokasi kita. Tetapi apakah kepandaian, kepintaran (dan pengalaman) itu bisa dishare, diakses, diolah, diberdayakan, ditingkatkan sehingga bermanfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia?

Sering pula kita membaca bahwa orang Indonesia ini paling jago membuat konsep…tetapi ketika implementasi, selalu terjadi gap. Selain itu implementasi yang sudah baik selalu tidak bisa continue. Pejabat lama tidak meninggalkan apapun kepada pejabat baru, sehingga pejabat baru memulai dari nol? Knapa..knapa…”knapa” yang akan semakin panjang .....

Bangsa kita memiliki sejarah yang panjang. Seharusnya banyak hal dapat dipelajari...justru itulah ketika banyak hal yang dapat dipelajari, tetapi tidak berhasil menjadi wisdom untuk kemasalahan banyak orang, yang patut kita pertanyakan....seorang Profesor disekolah binsis ternama, pernah bilang, akar masalahnya terletak pada belum dewasanya masyarakat kita. Ketidakdewasaan yang memerlukan seorang pemimpin yang ”ing ngarso sung tulodo”, kepemimpinan transaksional (pursues a cost benefit, economic exchange to met subordinates current material and psychic needs in return for “contracted” services rendered by the subordinate …. Bass) alias ”carrot and stick” type of leadership...

Sedangkan ketidakmampuan kita belajar karena social knowledge management kita yang lemah. Tentu ada argument, bagaimana mau menegakkan knowledge management jika urusan perut saja masih bermasalah?

Wah kalo gitu urutan analisis saya diatas keliru.....mestinya akar masalah bangsa ini terletak pada kemiskinan dan lapangan pekerjaan. Tugas pemerintah (dan rakyat) menekan kemiskinan dan menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak mungkin. Kalo gitu kita bisa paham, kenapa Pemerintah ngotot dengan subsidi BBM, karena jika dikurangi atau dicabut, kemiskinan akan bertambah....as simple as that....

Sedangkan mengenai penambahan lapangan kerja, saya kok belum melihat....saat ini nampaknya pemerintah hanya mengejar target pertumbuhan ....yang berbeda dg dulu ketika 1% ekonomi tumbuh maka 1 juta lapangan kerja terbuka...sedangkan saat ini !% ekonomi tumbuh paling2 hanya 600 ribu orang ......

Kembali ke teori saya diatas bahwa ini masalah Leadership....dia yang seharusnya punya view....ngak usah muluk2 dalam mengendalikan negara ini semasa masih banyak rakyat miskin dan tidak punya pekerjaan yang layak

Sebagai catatan tambahan: ”kemiskinan” harus menggunakan indikator yang layak ya...bukannya pakai ”indikator” ala Indonesia yang cuma dihitung dari pendapatan 8000 perak perhari ...sama juga yang disebut punya pekerjaan adalah punya pekerjaan yang layak bukannya dihitung cuma rata-rata 2 jam sehari dalam seminggu terakhir...yang artinya pengemis dan pengamen jalanan barangkali tidak termasuk orang miskin dan tidak termasuk pengangguran.

Anda tentu tahu, setelah meninggalnya Lady Di, istri Pangeran Charles, yang begitu sohor sebagai anggota kerajaan Inggris pada abad lalu, kini Kerajaan Inggris kembali menggelar pesta pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton, perempuan biasa yang kini menjadi buah bibir di Inggris.

Ketika ingin tahu seberapa populer nama itu, hanya dalam 0,04 detik, mesin pencari Google mem berikan 190.000.000 hasil ketika saya mencoba mengetik nama “William Kate”, sekitar pukul 20.00 WIB tadi malam. Ya, tentu si empunya nama William dan Kate begitu banyak, sehingga besar kemungkinan hasil pencarian itu bias.

Maka saya mencoba mengetik de ngan lebih spesifik, yakni “pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton”, hanya dalam 0,08 detik Google memberi hasil 639.000. Artinya, pesta pernikahan yang disebut Royal Wedding itu memang banyak dibincangkan orang dan “menjadi berita”.

Televisi BBC menyiarkan pesta itu ke seluruh penjuru dunia, dan sedikitnya setengah juta warga Inggris memenuhi area pesta. Perkiraan kasar menyebutkan sekitar 2 miliar penonton televisi di seluruh dunia menyaksikan pesta pernikahan paling akbar pada awal abad ini.

Anda boleh berdecak dengan rangkaian peranti pesta serba mewah, termasuk rangkaian mobil kerajaan serba hitam serta kuda-kuda gagah yang benar-benar “real black”, yang membuat teman saya terkagum-kagum.

Tentu, informasi itu dapat kita nikmati berkat kemajuan teknologi yang dahsyat akhir-akhir ini, memungkinkan setiap peristiwa dapat direkam dan disiarkan secara “real time”. Ini adalah istilah yang kerap dipakai untuk mengatakan bahwa kejadian kapan saja dan di mana saja dapat disaksikan seketika tanpa jeda waktu dan sekat bukit, gunung, benua maupun samudra.

Mediumnya pun banyak sekali, mulai dari radio, televisi, hingga Internet yang saat ini sudah sedemikian pesat dalam menyajikan peristiwa bergerak secara seketika.

Bahkan kini menjadi kekhawatiran, peristiwa di kamar tidur Anda pun dapat dilihat dari kamar tidur tetangga sebelah yang sedang mengakses kecanggihan teknologi yang dikembangkan Google melalui Google Earth.

Kekhawatiran itu mulai muncul, lantaran teknologi yang dikembangkan Google begitu cepat bermodifikasi bahkan dengan fitur street view yang sangat detail.

Tetapi nggak usah khawatir berlebihan. Pasalnya, kekhawatiran malah membuat Anda ketakutan dan tak dapat menjalani hidup dengan tenang. Yang pasti, setiap teknologi selalu membawa manfaat, meskipun tentu tidak sedikit pula akibat negatif yang mungkin dihasil kan.

Bagi Anda pengguna gadget yang dilengkapi fitur online atau aplikasi messenger, tentu seringkali men da patkan kiriman gambar maupun video apa pun, mulai dari yang ber sifat jenaka, inspiratif hingga gambar atau video porno, entah yang asli, setengah asli atau bahkan modifikasi maupun rekayasa. Jangan-jangan kita malah “frigid” alias tidak ngaruh, karena saking seringnya mendapatkan gambar-gambar yang mampir ke peranti Anda itu.

Bagi yang mampu melihat dari sisi lain, perkembangan teknologi telah menciptakan peluang bisnis baru. Siapa nyangka, sebelum berkembang teknologi Internet seperti saat ini, jagoan teknologi semacam Bill Gates, pemilik Microsoft, atau Steve Jobs, arsitek Apple, dapat mengeruk duit besar dari jualan aplikasi murah yang bisa diunduh berbayar dari perangkat komputer kita?

Bahkan komputer pun sudah mengalami evolusi dari komputer desktop atau komputer jinjing (laptop) ke komputer tablet seperti iPad, hingga telepon pintar macam BlackBerry, Iphone, Samsung, dan Nokia, untuk sekadar menyebut beberapa merek.

Meski banyak yang mengeluh komputer tablet iPad tak mampu mengerjakan proses komputasi multitasking, toh kekayaan Mr Job semakin tambun berkat inovasinya sebagai the first mover itu. Pengekor iPad seperti Samsung Galaxy Pad, maupun BlackBerry PlayBook, tetap saja menjadi yang kedua.

Kolega Budiono Darsono, pendiri Detikcom, sering menyebut istilah multitasking sebenarnya terdengar gagah saja, padahal maksudnya tak lain dan tak bukan pengganti kata “serabutan”. Gambarannya begini: jika Anda pengguna komputer desktop, akan mudah mengoperasikan bermacam aplikasi secara bersamaan tanpa harus menghentikan salah satu aplikasi yang sedang berjalan. Itu artinya, komputer meja, atau laptop, bisa bekerja serbutan. Sebaliknya, komputer tablet tertentu termasuk iPad tak mampu menjalankan fungsi itu, karena harus menu tup satu aplikasi untuk mengoperasikan aplikasi lainnya.

Maka, saya jadi tertarik untuk menganalogikan fungsi serabutan itu dengan situasi dunia saat ini, termasuk hubungan antar negara dan strategi negara-negara ketika menghadapi dinamika ekonomi global yang begitu berubah dalam dekade terakhir ini.

Contohnya adalah begitu banyak nya kesepakatan perdagangan bebas yang dijalin antarnegara maupun antarkawasan dan antara negara dengan kawasan. Saya sengaja meng ambil contoh ini, berhubung negeri kita tengah menerima tamu kehormatan Perdana Menteri China Wen Jiabao. Kunjungan yang sarat momentum, setelah setahun lebih kesepakatan perdagangan bebas Asean dan China diterapkan.

Apalagi, China menjadi negara yang begitu dominan dalam perekonomian Asia dan dunia saat ini. Mengapa China unggul? Tentu itu pertanyaan yang kerap masuk ke telinga saya. “Strategi multitasking.” Itu jawaban untuk sekadar menebak saja.

Anda tentu sulit membayangkan China mampu bersaing secara global dengan beban penduduk yang begitu besar, jika tidak memiliki strategi yang pintar. Anda tentu tahu, betapa gigihnya Beijing menentang Washington untuk sebuah tekanan terha dap perubahan kebijakan domestik, misalnya soal mata uang yuan, yang bagi pemerintah lain seperti Jakarta akan mudah menyerah begitu saja ketika Amerika berbicara?

Sebaliknya, apakah Anda pernah membayangkan, China akan membeli Standar Nasional Indonesia untuk memuluskan barang-barangnya masuk Indonesia?

Negara lain, termasuk negara kita, mungkin akan selalu mengatakan kita perlu perbaiki daya saing, dan atau renegosiasi tarif, agar mampu penetrasi pasar dan sekaligus bertahan dengan tarif yang lebih besar untuk mengurangi daya saing (setidaknya dari sisi harga) produk negara
lain.

Tak pernah kita pikirkan, bagaimana mampu memasuki pasar negara lain dengan memanfaatkan instrumen perdagangan atau proteksi nontarif yang disiapkan negara lain. Dan, China melakukan itu dengan pintar ketika membeli ratusan SNI kita! Dalam sepakbola, China dengan tim yang bahu membahu dan “serabutan” berusaha merangsek masuk ke jantung pertahanan lawan ketika harus men cetak gol, bukan sekadar bermain bertahan.

Singapura contoh lainnya lagi. Meski sudah tergabung dengan Asean dalam kerangka ACFTA, ternyata Singapura justru menjalin kesepakatan FTA sendiri dengan China. Dan Negeri Singa punya cara yang pintar pula dalam memaksa pejabat kementeriannya menjalankan tugas multitasking itu.

Contohnya adalah pos kementerian luar negeri. Pola yang dilakukan Singapura, pejabat kementerian luar negeri terlebih dahulu menjabat kementerian teknis lainnya, termasuk kementerian perdagangan internasional, agar mampu bekerja “serabutan” ketika menjadi menteri luar negeri.

Jelasnya, diplomasi internasional yang dijalankan Singapura melalui kementerian luar negerinya bukanlah diplomasi politik, melainkan diplomasi ekonomi, bahkan diplomasi bisnis dan diplomasi dagang. Dahsyat, bukan?

Maka tak heran jika negeri sekecil itu menjadi salah satu pengekspor besar di dunia, karena banyak komoditas ekspor yang sebenarnya berasal dari Indonesia (dan barangkali China).

Kita, akhir-akhir ini, tampaknya harus mengakui belum punya kebiasaan bekerja “multitasking” semacam itu. Kalau tidak narrow minded atau berpikiran sempit, kita lebih suka bersikap “konsisten” alias kacamata kuda.

Maka jangan salahkan China kalau kita kalah. Salahkan kita sendiri yang kurang melihat berbagai peluang dan kemungkinan, untuk bisa menang. Padahal, diplomasi dagang bukan semata urusan menang dan kalah, melainkan lebih luas lagi: urusan untung dan rugi.

Nah, sekarang, bagaimana dengan anda; Masihkah kita akan memilih pejabat negeri yang tidak bisa multitasking dan memakan uang rakyat tanpa mengedepankan kehidupan bangsanya? Masihkah kita berkaca mata kuda dan takut akan perubahan? Apakah memang kita bangsa yang tidak pernah belajar? It's your choice !

Proses Menuju Kesempurnaan Diri

Sudah Jumat, besok weekend, bagi yang weekend...
Yang Lembur, jalan terus...;)

Katanya, manusia itu mahluk sempurna ya? Apakah kesempurnaan itu sudah kita warisi sejak lahir atau baru sekedar ‘potensi’ untuk sempurna? Faktanya, tidak ada manusia yang langsung hebat begitu dia lahir. Jadi, pastilah kesempurnaan manusia itu harus diperjuangkan. Begantung nilai perjuangannya; ada manusia yang semakin mendekati kesempurnaan diri, dan ada juga yang begitu-begitu saja. Lantas, bagaimana caranya supaya kita bisa semakin dekat kepada kesempurnaan itu?

Kesempurnaan itu dibangun dari elemen-elemen kecil berupa kualitas pribadi kita. Semakin banyak elemen yang bisa kita perbaiki, semakin dekat kita kepada kesempurnaan diri. Saya merangkum 5 cara yang bisa Anda tempuh untuk memperindah elemen-elemen diri itu. Berikut ini ulasannya.

  1. Adu kualitas kerja dengan kualitas diri. Kualitas kerja seseorang mewakili kualitas pribadinya. Cek apakah kualitas kerja Anda sudah sama dengan kualitas pribadi Anda. Jika sudah sama; maka Anda sudah mencapai setengah jalan menuju diri Anda yang sesungguhnya. Setengahnya lagi apa? Belajar lagi sesuatu untuk meningkatkan kualitas diri Anda sedikit lagi. Lalu, adu lagi hasil kerja Anda, dan seterusnya.
  2. Adu jumlah waktu tersia-siakan dengan waktu produktif. Waktu Anda hari ini, berbeda dengan waktu yang sudah berlalu. Sedangkan waktu yang disia-siakan sama sekali tidak meningkatkan nilai diri Anda. Coba periksa kembali, mana yang lebih banyak; waktu produktif Anda atau waktu yang Anda sia-siakan. Pastikan, bahwa waktu yang berharga itu mendukung proses penyempurnaan kapasitas diri Anda.
  3. Adu gengsi dengan mawas diri. Gengsi ditandai dengan keengganan untuk mengakui kelemahan yang kita memiliki. Tersinggung jika ada orang yang menunjukkan kelemahan itu. Membela diri atau mencari pembenaran, meskipun hati kecil mengakuinya. Jika Anda selalu mawas diri, terbuka terhadap kritikan dan masukan, lalu melakukan perbaikan demi perbaikan; maka semakin hari, Anda menjadi semakin baik.
  4. Adu kesombongan dengan kerendahan hati. Orang yang sombong itu tidak mau belajar dari orang lain yang derajatnya dinilai lebih rendah. Sekalipun orang yang dipandang rendah itu memiliki keluasan ilmu dan hikmah, jika Anda sombong tidak bisa mengambil pelajaran apapun. Sebaliknya kerendahan hati menuntun Anda untuk belajar dari siapapun sehingga semakin hari, pengetahuan dan keterampilan Anda menjadi semakin tinggi. Selalu ada peluang untuk meningkatkan kapasitas diri bagi mereka yang rendah hati.
  5. Adu kebatilan dengan ketakwaan. Ingatlah bahwa tujuan akhir dari kehidupan kita adalah kembali kepada Tuhan. Sempurna atau tidaknya seseorang pada akhirnya akan ditentukan oleh penilaian yang Tuhan berikan. Sedangkan dimata Tuhan, manusia itu sama kecuali nilai takwanya. Artinya, seberapa patuh dia kepada perintah Tuhannya. Apakah perintah Tuhan itu? Menghindari perbuatan buruk, dan mengerjakan amal saleh. Jika manusia sudah mampu memenuhi perintah Tuhan itu, maka dia telah berhasil mencapai kesempurnaan dirinya.
Kesempurnaan bukan berarti tidak memiliki kelemahan. Namun, dengan mempraktekkan ke-5 hal diatas, saya yakin kita akan bisa mengimbangi kelemahan yang kita miliki dengan keunggulan yang mumpuni. Dengan begitu, kita akan semakin dekat dengan kesempurnaan insani.

Kesempurnaan manusia adalah proses, bukan keadaan. Makanya, meskipun manusia itu mahluk sempurna, tapi tidak ada manusia yang sempurna.

Nah, tulisan ini ditujukan kepada pejabat, dewan dan semua abdi negara; jadi mawas dirilah, karena kalian digaji dari uang hasil kerja keras rakyat; Ingat-ingat nanti kalo mati, ditanyain.....

Selamat berusaha...;)

Update data dari 2 Tabel yang berbeda


Rekan eri mulyana pernah bertanya: "Kepada rekan2, bagaimana caranya meng-update field dari suatu tabel dengan field dari tabel lain. Saya sudah mencoba dengan perintah SQL, tetapi hasilnya bernilai salah"

Adakalanya kita ingin mengupdate isi suatu field di dalam tabel dengan isi field di tabel lain. Sebenarnya ini tidak terlalu sulit, logikanya sama dengan SELECT menggunakan lebih dari satu tabel.

Pada contoh berikut ini kita mempunyai tabel tabel1 dan tabel tabel2.
Kita akan mengupdate field1 dari tabel1 dengan value field5 dari tabel2 dengan syarat value dari field1 di tabel1 sama dengan value field1 di tabel2. Berikut ini adalah perintahnya :

UPDATE tabel1, tabel2
SET tabel1.field2 = tabel2.field5
WHERE tabel1.field1 = tabel2.field2

Contoh Hasil penggabungan:
select
tbl_prc_permintaandtl.kditem, tbl_prc_item.description,
tbl_prc_permintaandtl.kdunit, tbl_prc_item.kdakhir_sat as itemunit,
tbl_prc_item_unit.singkat
from
tbl_prc_permintaandtl
inner join tbl_prc_item
on tbl_prc_item.kditem = tbl_prc_permintaandtl.kditem
inner join tbl_prc_item_unit
on tbl_prc_item_unit.kdunit = tbl_prc_item.kdakhir_sat


Ini adalah hasil dari SQL update, sebagaimana berikut:
update
tbl_prc_item, tbl_prc_permintaandtl
set
tbl_prc_item.kdakhir_sat = tbl_prc_permintaandtl.kdunit
where
tbl_prc_item.kditem = tbl_prc_permintaandtl.kditem

Tidak sulit kan?

Dari contoh diatas bisa anda kembangkan lagi untuk mengupdate tabel dengan menggunakan lebih dari dua tabel.

Lima Faktor Penghambat Karir

Setiap orang yang hidupnya bergantung kepada gaji adalah seorang buruh; sekalipun pangkatnya direktur utama. Mengapa para direktur tidak ikut-ikutan demonstrasi untuk memperingati tanggal 1 Mei sebagai hari buruh? Karena, orang yang karirnya bagus tidak lagi disebut buruh. Sedangkan mereka yang karirnya buruk, biasanya memang disebut sebagai buruh. Jika Anda seorang karyawan; maka pastikanlah bahwa Anda memang layak untuk tidak menyandang gelar sebagai buruh. Bagaimana caranya?

Sederhana saja; bangunlah karir Anda sampai ke titik dimana Anda layak dihormati dan dihargai tinggi. Agar bisa membangun karir dengan baik, maka Anda harus membuang jauh-jauh mental ‘b-u-r-u-h’. Mengapa demikian? Karena mental b-u-r-u-h itu menyimpan 5 faktor penghambat karir yang sangat mematikan. Apa sajakah kelima faktor itu? Berikut ini uraiannya.

  1. B=Bersembunyi dibalik topeng ‘nasib’. Baik atau buruknya karir seseorang sama sekali tidak ada hubungannya dengan nasib. Perhatikan para pekerja gagal. Mereka menganggap bahwa mandeknya karir dan bayaran mereka sudah menjadi nasib sehingga tidak terdorong untuk menggeliat bangkit dari posisi rendahnya. Walhasil, dari tahun ke tahun tidak ada perbaikan jabatan dan pendapatan signifikan yang mereka dapatkan. Jadilah karyawan yang berani berjuang untuk memperbaiki karir sendiri karena nasib selalu mengikuti ikhtiar yang Anda lakukan.
  2. U=Ulet hanya ketika diawasi oleh atasan. Sudah bukan rahasia lagi jika banyak sekali karyawan yang ulet, gigih, dan giat hanya ketika ada atasannya saja. Tapi saat atasannya tidak ada; mereka berleha-leha atau mengerjakan sesuatu yang tidak produktif pada jam kerja. Para pegawai berdasi pun banyak yang memiliki perilaku seperti ini. Padahal, sikap seperti ini jelas sekali menunjukkan jika mereka tidak layak untuk mendapatkan tanggungjawab yang lebih besar. Jadilah karyawan yang bisa diandalkan, baik ada atau tidaknya atasan; karena kualitas seseorang dinilai dari tanggungjawab pribadinya ketika dia sedang sendirian.
  3. R=Rendah diri. Kita sering keliru menempatkan kerendahan hati dengan sifat rendah diri. Ketika berhadapan dengan senior atau orang yang pendidikannya lebih tinggi, kita merasa kecil sekali. Padahal sebagian besar manager atau direktur pada mulanya adalah orang-orang yang menduduki posisi rendah seperti kebanyakan karyawan lainnya. Sifat rendah diri mengungkung orang dalam kotak inferioritas sehingga kapasitas dirinya tidak terdaya gunakan. Jadilah karyawan yang rendah hati, karena mereka yang rendah hati memiliki kualitas diri yang tinggi, namun tetap bersikap arif, positif dan konstruktif.
  4. U=Unjuk rasa melampaui unjuk prestasi. Unjuk rasa tidak selalu harus turun ke jalan. Protes soal kenaikan gaji adalah contoh nyata unjuk rasa yang sering terjadi di kantor-kantor. Menggunjingkan atasan dan managemen di kantin atau toilet juga merupakan bentuk unjuk rasa yang tidak sehat. Perhatikan para karyawan yang tidak puas dengan kebijakan perusahaan. Mereka berkasak-kusuk sambil mengkorupsi jam kerja. Padahal, itu semakin menunjukkan kualitas buruk mereka. Jadilah karyawan yang rajin unjuk prestasi, karena prestasi membuka peluang untuk mendapatkan kesempatan dan pendapatan yang lebih besar.
  5. H=Hitung-hitungan soal pekerjaan dan imbalan. Banyak sekali karyawan potensial yang akhirnya gagal membangun karirnya hanya karena merasa tidak dibayar dengan pantas. “Kalau gua digaji cuma segini, ngapain mesti kerja keras?’ begitu katanya. Padahal, sikap seperti itu tidak merugikan perusahaan lebih dari kerugian yang dialami oleh orang itu sendiri. Mereka membuang peluang untuk mengkonversi potensi dirinya menjadi karir yang cemerlang. Jadilah karyawan yang berfokus kepada kontribusi yang tinggi, karena bayaran atau imbalan akan mengikutinya kemudian.
Jika Anda mampu membuang mental ‘b-u-r-u-h’ yang sudah dijelaskan diatas, maka Anda tidak akan menjadi buruh rendahan. Sebaliknya, Anda akan menjadi karyawan yang ketika pensiun nanti; memiliki sesuatu yang layak untuk dibanggakan.

Mari Berbagi Semangat!
Setiap orang yang memilih untuk menjadi karyawan harus menentukan; apakah dia ingin menjadi karyawan dengan pencapaian yang layak dibanggakan, atau sekedar menjadi buruh yang direndahkan.