Awas Spammer sekarang menggunakan Injection Message.....

Kemarin, secara tiba-tiba, saya dapat info dari teman yang isinya:
"thanks om **** (kalimat terakhir kaya lagune bang haji oma marama...)"

Setelah saya buka message pagi ini, lho koq banyak sekali message keluar yang isinya:
Dicoba ya kita buktikan insya Allah.

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمInnaka la minal mursalin a'la siratim mustaQim tanzilal azizir rahim Litunzira qaumamma unzira aba uhum fahum ghafilun.Tolongkirim potongan ayat dari surat yasin ini minimal 13 orang Insya Allah 2jam kemudian kamu akan mendengar kabar baik & mendapat kebahgiaan,demi Allah dan jangan dihapus sebelum disebar ya Kita berbagi doa kesesama muslim({}) = 2jam sudah aku laksanakan ternyata rizki datangسُبْحَانَ اللّهُSampaikan walau hanya satu ayat...................



Telusur, punya telusur, bagaimana message ini bisa masuk dan keluar ke message rekan-rekan lain, ternyata ada spammer yang inject ke HP dan push message ke contact yang ada; Cuma untungnya tidak semua contact dia inject, memang sebagian besar contact dari FB; Lumayan canggih juga pengirimnya. Untung saya ada balasan message dari rekan, kalo enggak, nggak terdeteksi ini spammer;

Mungkin bagi kita pengguna mobile phone,ada atau bahkan sudah sangat sering mendapatkan Broadcast Message (BM) atau isi sms yang isinya berbau mitos atau sesuatu yang tidak sepantasnya dipercaya oleh masyarakat modern saat ini.

Dan baru saja saya menjadi korban, cuman kali ini lebih canggih. Sebenarnya isi BM seperti ini sudah lama sekali tapi masih terus saja banyak slimers yang masih percaya akan kebodohan ini, dan pakai injection lagi.

Pantesan Indonesia susah maju. Kebanyakan orang (muslim) mau gampangnya aja sih. Tinggal komat kamit, cuap-cuap, dukunisme, ga jelas ga ngerti apa juga isinya, tiba-tiba criiinnnggg dapet kabar baik dan mendapat kebahagiaan. Yang lebih parahnya, bagaimana bisa sudah diketahui hasilnya terlebih dahulu sedangkan pesannya baru saja dikirim....

Yang jadi penasaran, injection spammer ini koq bisa ya; *saatnya mencari penangkalnya, kalo enggak bisa de del duel....*


Buat rekan-2, saya tidak tahu siapa yang sudah terkirimi, saya minta maaf ya; kali ini HP nya kecolongan, kirim message, mungkin bisa jadi lewat SMS atau YM atau FB, karena saya pakai aplikasi all in one dengan piedjin di HP yang akses semua message;



*Lain kali akan lebih hati-hati*
Sorry....;)



Betapa Sakitnya Ditolak...... :((


Beri tahu saya jika di dunia ini ada orang yang tidak pernah mendapatkan penolakan. Saya yakin jika setiap orang pernah ditolak.
Ketika menyatakan cinta.
Saat melamar pekerjaan.
Atau mungkin sewaktu mengajukan proposal penjualan.


Dalam menyampaikan penolakan, perilaku orang juga bermacam-macam.
Ada yang menolak dengan lembut, ada juga yang melakukannya secara kasar.
Ada yang berbicara sopan, ada pula yang menghardik bahkan mengumpat-umpat.
Ada yang sambil tetap menjaga perasaan, dan tentunya ada juga yang sekalian menyakiti hati.

Kita tidak bisa menuntut orang lain untuk menolak dengan cara yang kita sukai. Tetapi kita bisa melatih diri untuk menyikapi penolakan yang kita alami secara positif.
Seseorang yang menyikapi penolakan secara negatif pasti hatinya terasa sakit.
Dia bisa tenggelam dalam kekecewaan berkepanjangan sehingga seluruh sisa hidupnya ikut terpengaruh.
Sedangkan orang yang mampu menyikapi penolakan secara positif akan bisa mendamaikan suasana hatinya, menentramkan perasaannya, terus tersenyum, dan yang terlebih penting lagi; sanggup menjalani sisa hidupnya dengan tidak kurang indahnya.

Belajar menyikapi penolakan secara positif, saya ajak kita untuk memulainya dari sekarang dengan menerapkan hal-hal berikut ini:



1. Fahamilah bahwa penolakan tidak berarti KITA buruk.
Setiap penolakan selalu menghasilkan ganjalan di dalam hati.
Tetapi jika orang lain menolak kita, boleh jadi hal itu karena mereka mengira kita terlalu baik untuk diterima.

Jika kualifikasi kita terlalu tinggi untuk suatu posisi yang ditawarkan misalnya, kita pun tidak akan mendapatkan jabatan itu.
Dengan pengalaman dan kemampuan yang sangat banyak serta salary history terakhirnya, seseorang pernah ditolak langsung saat melamar pekerjaan, dengan alasan "maaf, gaji anda sudah level manager, kami tidak membutuhkan anda". Padahal kita sudah menunggu berhari-hari dan interview berjam-jam untuk ditolak.
Seseorang juga bisa menolak cinta kita hanya karena dia menilai kita terlalu baik bagi dirinya.
Dia menginginkan kita mendapatkan pasangan hidup yang lebih baik. Penolakan juga bisa terjadi karena orang lain menilai kita ‘belum’ saatnya diterima. Akan ada ‘saat yang tepat’ baginya untuk menerima kehadiran kita.

Setelah berjuang melawan pesaing kanan dan kiri, mati-matian dibelain, bahkan tenaga, fikiran serta modal uang juga tercurahkan buatnya selama berbulan-bulan, terakhir, kita hanya mendapat kata, "Sorry, You Are Not My Type....."


Jika kita ditolak, janganlah terlalu bersedih hati, karena penolakan tidak selalu berarti kita buruk.



2. Ingatlah selalu bahwa bumi ini sangatlah luas.
Kita sering terlalu lama membenamkan diri dalam rasa kecewa terhadap penolakan yang baru saja dialami.
Harapan seolah sirna begitu saja karena penolakan itu.
Padahal, di luar sana ada begitu banyak kesempatan.
Jika ditolak saat melamar pekerjaan, bukankah didunia ini begitu banyak perusahaan hebat yang memberikan peluang karir yang juga tidak kalah menggiurkannya?

Jika yang menolak itu pujaan hati kita; kenyataannya banyak sekali wanita yang lebih cantik dan lebih memahami kita.
Atau lelaki yang lebih sabar dan lebih pengertian dari orang yang menolak kita.

Sungguh, dunia ini sangatlah luas.
Mengingat betapa banyaknya kesempatan yang ditawarkan oleh dunia, membuat hati kita yakin bahwa selalu ada harapan untuk mendapatkan yang lebih baik dari orang-orang yang telah menolak kita.



3. Introspeksilah terhadap kemungkinan perlunya memperbaiki diri.
Tetap berbesar hati memang sangat penting. Namun, mawas diri juga tidak kalah pentingnya. Penolakan yang kita terima bisa jadi merupakan isyarat agar kita melakukan introspeksi diri.

Jujur kepada diri sendiri, sangat menentukan keberhasilan proses perenungan kita. Dengan kejujuran itu, kita akan menemukan apa saja yang harus diperbaiki, dan apa saja yang layak dipertahankan. Ketika kita berhasil memperbaiki kekurangan diri, maka kita akan tampil sebagai pribadi yang mumpuni.

Orang yang dulu menolak kita, mungkin akan bertemu lagi dengan kita beberapa tahun kemudian. Saat pertemuan itu terjadi, dalam hati dia berkata;”Orang ini sudah berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya !!! ”



4. Berlatihlah untuk meningkatkan kemampuan adaptasi kita.
Keterampilan teknis atau kemampuan kita dalam melakukan sesuatu bisa jadi bukanlah alasan terjadinya penolakan.
Mungkin sikap kaku kita.
Mungkin juga karena kita belum berhasil memperlihatkan kemampuan menyesuaikan diri dengan budaya, gaya, dan pola mereka.

Memang tidak adil jika mereka menilai kita tanpa memberi cukup waktu untuk menunjukkan kemampuan adaptasi kita.

Namun, begitulah kenyataan hidup yang harus kita hadapi. Mereka menilai kita, sedangkan kita tidak memiliki kesempatan untuk melakukan pembelaan. Itu berlaku nyaris dimana saja, sehingga berlatih untuk menyesuaikan diri dan adaptasi kita bisa menjadi cara yang efektif. Kecuali jika kita sudah tidak lagi menginginkannya; beradaptasi dengan gaya mereka bukanlah gagasan yang buruk untuk dicoba.



5. Yakinlah Tuhan memiliki rencana lain yang lebih baik untuk kita.
Setelah berjuang secara maksimal dan bersungguh-sungguh, namun kita masih ditolak juga; mengapa harus bersedih hati?
Memang, penolakan itu bisa menjatuhkan mental kita.
Penolakan juga menghempaskan harapan-harapan kita.
Tapi, bukankah kita tidak tahu persis mana yang ‘benar-benar’ baik dan mana yang ‘kelihatannya’ saja baik untuk kita?
Tidak ada yang mengetahui segala sesuatu melebihi yang Tuhan ketahui tentangnya.
Ketika kita mengkombinasikan usaha maksimal dengan kepasrahan kepada Tuhan, maka Dia akan menunjukkan hal terbaik bagi kita.
Tuhan tidak akan membiarkan kita diterima untuk sesuatu yang bukan hal terbaik bagi kita.
Dia akan membiarkan kita ditolak, lalu mengarahkan kita kepada hal lain yang lebih baik dimataNya.



Penolakan dan penerimaan itu seperti sebuah kesetimbangan.
Ketika penolakan datang, maka penerimaan mengiringinya dari arah yang lain.
Kita hanya perlu menemukan letaknya penerimaan itu saja.
Dan tugas itu akan jauh lebih mudah lagi jika kita sering berkonsultasi dengan Sang Maha Mengetahui.


Beruntunglah orang yang bisa berdamai dengan penolakan. Hatinya tetap tenteram meski didera oleh penolakan yang menyakitkan.


Good Bless U....;)




Error: "Terminal server yet not ready, please retry attempt a bit later"


Permasalahan:
Ketika mencoba untuk menghubungkan perangkat akses seri-L ke host vSpace ke jaringan, terjadi koneksi gagal dan muncul error "server Terminal belum siap, coba lagi mencoba kemudian": *Error: "Terminal server yet not ready, please retry attempt a bit later"*

Solusi:
Jika kita mengalami gejala di atas, kita dapat mencoba solusi berikut, dalam urutan yang ditunjukkan:

1. Memodifikasi SessionImageSize untuk Lingkungan Multi-user
Penyebabnya:
Kartu video nVidia dapat menyebabkan masalah ini ketika host mencoba membuat sesi bagi para penggunanya.

Solution:
Tambahkan key berikut ke host:
[HKEY_LOCAL_MACHINE\SYSTEM\CurrentControlSet\Control\Session Manager\MemoryManagement]
“SessionImageSize”=dword:00000020

dimana 00000020 adalah hex untuk 32

2. Perbaikan Perangkat Lunak vSpace
Dalam beberapa kasus (seperti infeksi virus atau instalasi perangkat lunak yang rusak) mungkin perlu dilakukan sepenuhnya untuk menghapus dan menginstal ulang perangkat lunak vspace NComputing menggunakan versi terbaru.

Dokumen ini akan menjelaskan langkah-langkahnya melalui setiap fase dari penghapusan perangkat lunak dan proses instalasi ulang.

Gejala:
Panduan ini telah dikonfirmasi sebagai solusi mungkin untuk gejala berikut:

Error: "One or more files are missing or corrupted"
Kesalahan: "Satu atau lebih file yang hilang atau rusak"

Error: "A previous version of vSpace is present on this system..."
Kesalahan: "Sebuah versi sebelumnya vspace hadir pada sistem ini ..."

Uninstall Software
Perangkat lunak vspace dapat dihapus melalui Add/Remove Programs pada Control Panel Windows. Jika diminta untuk membatalkan registrasi nomor seri, abaikan peringatan ini dan lanjutkan proses uninstall.

Setelah uninstall selesai, reboot sistem.

Pembersihan berkas
Setelah uninstall selesai dan sistem telah reboot, buka My Computer dan hapus file dan folder berikut:
C: \ Windows \ 07110250.bin
Nomor terakhir di dalam nama file ini mungkin dapat bervariasi.

C: \ Windows \ System32 \ oemebios.bin
X-series vspace akan memiliki file "oemxbios.bin" sebagai gantinya.
Jangan menghapus file lain dengan nama yang HAMPIR mirip, karena ini adalah inti sistem file Windows.

C: \ Program Files \ Common Files \ NComputer \
Hapus folder dan file dalamnya.

Reinstall vspace
Dianjurkan agar kita menginstal ulang vSpace dengan versi terbaru yang tersedia (klik di sini), yang dapat diperoleh dari http://ncomputing.com/downloads. Cukup download dan menjalankan installer yang sesuai dengan seri produk kita dan sistem operasinya.

Setelah installer selesai, silahkan mendaftarkan perangkat lunak vspace sesegera mungkin. Proses pendaftaran cepat dan mudah, dan diperlukan untuk melakukan pembaruan perangkat lunak. Untuk memulai proses pendaftaran klik Start > All Programs > vSpace NComputing > vSpace Registration dan ikuti langkah-langkah dalam wizard.

Untuk Perangkat L-seri :
Setelah menyelesaikan pendaftaran, lakukan cek ke setiap perangkat akses dan upgrade firmware melalui Options > Setup > Update dalam BIOS dari perangkat.

Password untuk update firmware adalah "updateme".

Setelah memperbarui perangkat telah selesai (dan hanya jika ia meminta kita), matikan daya perangkat dan lalu nyalakan lagi. Ini akan menguncinya ke dalam versi terbaru dari firmware, memastikan kompatibilitas dengan perangkat lunak terbaru.

Jika masalah tetap belum terjawab, silahkan hubungi Dukungan Teknis NComputing untuk bantuan lebih lanjut: http://ncomputing.com/techsupport

*Telah dicoba dan berhasil diterapkan sampai saat ini tidak ada masalah. Cerdas dan efektif serta efisien adalah asset yang berharga selain waktu dan harta*

Terima kasih banyak buat bantuan rekan-rekan Jakarta:
Mr. R. G. M. Masinambow
Ketapang Indah Complex Block A1/8,
Jl.K.H.Zainul Arifin No.1
Jakarta 11140, Indonesia
+62 21 633 8821/39

GBU...;)




ONLINE SHOPPING, BELANJA ONLINE, AMANKAH ?

Ada rekan bertanya kepada saya, "Bos, kalau kita belanja dengan internet bagaimana caranya ? Aman tidak, soalnya kan pakai transfer uang lewat ATM atau kadang pakai CC atau bagaimana enaknya... Gimana donk, barangnya lagi bagus nich......?".

Baiklah, mari kita bahas satu-satu.

Pengertian belanja online
Belanja online merupakan proses pembelian barang/jasa oleh konsumen ke penjual real-time, tanpa pelayan dan melalui Internet. Toko virtual ini mengubah paradigm proses membeli produk/jasa dibatasi oleh tembok, pengecer atau mall. Proses tanpa batasan ini dinamakan belanja online Business-to-Consumer (B2C). Ketika pebisnis membeli dari pebisnis yang lain dinamakan belanja online Business-to-Business (B2B). Keduanya adalah bentuk e-commerce (electronic commerce). Diawali tahun 1990-an, Tim Berners-Lee dengan WWW server pertamanya, membuka penggunaannya secara komersial dan dipergunakan sebagai sistem online toko pizza, Pizza Hut. Tahun 1994, Netscape memperkenalkan enkripsi data SSL transfer online, agar belanja lebih aman. Tahun 1995, Amazon meluncurkan situs belanja online, dilanjutkan dengan eBay di tahun 1996.


Karakter Toko Online
Toko online, tersedia selama 24 jam sehari, memiliki lebih banyak konsumen yang mengakses lewat internet kapan dan di mana pun, lebih banyak menghemat BBM dan waktu. Toko online menjelaskan produk yang dijual dengan baik, melalui teks, foto dan file multimedia. Mereka juga menyediakan informasi produk, prosedur keselamatan, saran, dan cara penggunaannya, fasilitas untuk berkomentar, me-ranking itemnya, akses meninjau situs lain, fasilitas real-time menjawab pertanyaan pelanggan, sehingga mempercepat mendapat kata sepakat pembelian dari berbagai vendor pemilik toko online.

Toko Online selalu meningkatkan kinerjanya dengan menganalisa pengunjungnya sehingga mereka tahu bahwa kita ada, bagaimana dan mengapa kita datang, di mana kita melihat dan mencari produknya, melihat apa yang kita beli, dan bagian apa yang kita tidak suka, serta mengapa kita pergi tanpa membeli. Berdasarkan informasi itu, mereka mengoptimalkan diri untuk memenuhi kebutuhan pengunjungnya agar lebih baik, misalnya dengan fasilitas search box, reviews of products, personalized recommendations, dan lain-lain.

Konsumen lebih memperhatikan aspek kemudahan mendapatkan barang dan metode pembayarannya. Konsumen hanya perlu menghubungi retailer-nya, menunggu kiriman dari pos. Biasanya pengiriman dalam jumlah kecil, jauh lebih mahal dari pengiriman lebih besar, bahkan ada yang menawarkan pengiriman gratis pada pesanan yang cukup besar. Konsumen juga dapat beralih antar pemasok dan vendor tanpa mengganggu proses belanja seperti belanja konvensional.

Konsumen juga tidak perlu terganggu dengan adanya keributan suara orang belanja, musik latar, kemacetan, trolley, tempat parkir, pelayan yang tidak ramah, AC yang sangat dingin, bau menyengat, kamera di lemari ganti, dan banyak lagi.

Berikut ini adalah contoh sites toko online:
www.glodokshop.com
www.rumahoutlet.com
www.egrosir.com
www.bungarawabelong.com
plasabatik.com
www.topgolf-store.com
www.etalaseku.com
www.tanahabang.com
facebook.com

Bijaksana dalam Membeli di Toko Online
Selain menawarkan keuntungan, belanja online juga memiliki resiko sehingga kita harus mempertimbangkan:
  1. Komputer atau telepon genggam kita harus memiliki antivirus, update perlindungan spy-ware, anti phishing, anti pharming dan fire-wall,
  2. Jika anak-anak kita boleh belanja online, beritahukan semua hal tentangnya baik keuntungan maupun kerugiannya,
  3. Professionalism situs tercermin dari dicantumkannya nomor telepon, alamat, e-messenger, e-mail, atau komentar orang-orang terhadap reputasi baik tidaknya toko online, jika tidak ada, patut diragukan,
  4. Memastikan posting konsumen tidak dibagikan dengan orang lain tanpa persetujuan, terutama data KTP, No. Rekening Bank, yang tidak berhubungan dengan proses pembelian,
  5. Adanya kebijakan tentang pengembalian yang adil dan wajar,
  6. Dicantumkannya, jika ada, semua biaya yang tersembunyi, termasuk diskon, biaya kirim, karena mungkin barang yang sama memiliki harga yang berbeda dengan toko conventional, sehingga kita perlu cek lagi,
  7. Adanya jaminan atau asuransi pengiriman produk, jika hilang atau rusak,
  8. Lebih aman jika membayar dengan account paypal, namun jika menggunakan kartu kredit, pastikan URL situs memiliki tanda secure (https) serta situsnya benar-benar dikrekomendasikan oleh banyak pihak, atau jika menggunakan transfer via ATM bank, dan bukan kartu debit pastikan keamanan transfernya offline, bukan lewat web,
  9. Menyimpan dokumen transaksi, bukti pembayaran dan bukti pengiriman barang jika ada claim dan yang berkaitan dengan tuntutan pidana nantinya,
  10. Membersihkan data caches komputer/ponsel, jika kita menggunakan milik orang lain.

Saat ini, lebih dari separuh pengguna internet Indonesia dan di luar negeri, telah melakukan pembelian online. Jika kita termasuk yang melakukannya, pastikan kita mengetahui jaminan keamanan berbelanja. Belanja online memang memudahkan dan menghemat waktu, menghemat biaya dibandingkan belanja tradisional, jadi kalau ada yang lebih mudah dan dapat dipermudah mengapa harus mencari yang sulit. Nah, bayangkan kalau seandainya Jakarta semuanya online, pasti tidak ada kemacetan.....:_)

Selamat berbelanja....;)





Pemanfaatan Hutan Mangrove sebagai Pencegah Tsunami dan Menciptakan Lapangan Kerja

Salah satu bagian terpenting dari kondisi geografis Indonesia sebagai wilayah kepulauan adalah wilayah pantai dan pesisir dengan garis pantai sepanjang 81.000 km. Wilayah pantai dan pesisir memiliki arti yang strategis karena merupakan wilayah interaksi/peralihan (interface) antara ekosistem darat dan laut yang memiliki sifat dan ciri yang unik, dan mengandung produksi biologi cukup besar serta jasa lingkungan lainnya. Kekayaan sumber daya yang dimiliki wilayah tersebut menimbulkan daya tarik bagi berbagai pihak untuk memanfaatkan secara langsung atau untuk meregulasi pemanfaatannya karena secara sektoral memberikan sumbangan yang besar dalam kegiatan ekonomi misalnya pertambangan, perikanan, kehutanan, industri, pariwisata dan lain-lain.

Wilayah pesisir merupakan ekosistem transisi yang dipengaruhi daratan dan lautan, yang mencakup beberapa ekosistem, salah satunya adalah ekosistem hutan mangrove. Hutan mangrove merupakan ekosistem utama pendukung kehidupan penting di wilayah pesisir dan kelautan. Selain mempunyai fungsi ekologis sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, tempat pemijahan dan asuhan (nursery ground) berbagai macam biota, penahan abrasi pantai, amukan angin taufan dan tsunami, penyerap limbah, pencegah interusi air laut, hutan mangrove juga mempunyai fungsi ekonomis yang tinggi seperti sebagai penyedia kayu, obat-obatan, alat dan teknik penangkapan ikan.

Hutan mangrove sebagai salah satu ekosistem wilayah pesisir dan lautan yang sangat potensial bagi kesejahteraan masyarakat baik dari segi ekonomi, sosial dan lingkungan hidup, namun sudah semakin kritis ketersediaannya. Di beberapa daerah wilayah pesisir di Indonesia sudah terlihat adanya degradasi dari hutan mangrove akibat penebangan hutan mangrove yang melampaui batas kelestariannya. Hutan mangrove telah dirubah menjadi berbagai kegiatan pembangunan seperti perluasan areal pertanian, pengembangan budidaya pertambakan, pembangunan dermaga dan lain sebagainya. Hal seperti ini terutama terdapat di Aceh, Sumatera, Riau, pantai utara Jawa, Sulawesi Selatan, Bali, dan Kalimantan Timur. Kegiatan pembangunan tidak perlu merusak ekosistem pantai dan hutan mangrovenya, asalkan mengikuti penataan yang rasional, yaitu dengan memperhatikan segi-segi fungsi ekosistem pesisir dan lautan dengan menata sempadan pantai dan jalur hijau dan mengkonservasi jalur hijau hutan mangrove untuk perlindungan pantai, pelestarian siklus hidup biota perairan pantai (ikan dan udang, kerang, penyu), terumbu karang, rumput laut, serta mencegah intrusi air laut. Salah satunya model pendekatan pengelolaan sumberdaya alam termasuk didalamnya adalah sumberdaya hutan mangrove adalah pendekatan pengelolaan yang berbasis masyarakat.

Selama ini, kebijakan pengelolaan sumberdaya alam dikontrol kuat oleh negara yang pengelolaannya selalu didelegasikan kepada pengusaha besar, jarang kepada rakyat kecil. Pemerintah sepertinya kurangpercaya bahwa rakyat mampu mengelola sumberdaya alam yang ada di lingkungannya.

Berdasarkan hal di atas, maka pertanyaannya adalah bagaimana pemulihan mangrove berdasarkan pendekatan kepada masyarakat yang berada di kawasan ekosistem mengrove ini dapat berjalan dengan baik dengan atau tanpa bantuan Pemerintan Pusat dan/atau Daerah.

Mangrove berasal dari kata mangal yang menunjukkan komunitas suatu tumbuhan. Di Suriname, kata mangro pada mulanya merupakan kata yang umum dipakai untuk jenis Rhizophora mangle. Di Portugal, kata mangue digunakan untuk menunjukkan suatu individu pohon dan kata mangal untuk komunitas pohon tersebut. Di Perancis, padanan yang digunakan untuk mangrove adalah kata menglier. Kata mangrove juga untuk individu tumbuhan dan mangal untuk komunitasnya. Di lain pihak, kata mangrove juga baik untuk tumbuhan maupun komunitasnya, dan kata mangrove merupakan istilah umum untuk pohon yang hidup di daerah yang berlumpur, basah dan terletak di perairan pasang surut daerah tropis. Meskipun terdapat perbedaan dalam penggunaan kata, pada umumnya tidak perlu dikacaukan dalam penggunaan kontekstual dari kata-kata tersebut.



Beberapa ahli mengemukakan definisi hutan mangrove, hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di daerah pantai, biasanya terdapat di daerah teluk dan di muara sungai yang dicirikan oleh: (1) tidak terpengaruh iklim; (2) dipengaruhi pasang surut; (3) tanah tergenang air laut; (4) tanah rendah pantai; (5) hutan tidak mempunyai struktur tajuk; (6) jenis-jenis pohonnya biasanya terdiri atas api-api (Avicenia Sp), pedada (Sonneratia), bakau (Rhizophora Sp), lacang (Bruguiera Sp), nyirih (Xylocarpus Sp), nipah (Nypa Sp) dan lain-lain.

Mangrove adalah suatu komunitas tumbuhan atau suatu individu jenis tumbuhan yang membentuk komunitas tersebut di daerah pasang surut. Hutan mangrove adalah tipe hutan yang secara alami dipengaruhi oleh pasang surut air laut, tergenang pada saat pasang naik dan bebas dari genangan pada saat pasang rendah. Ekosistem mangrove adalah suatu sistem yang terdiri atas lingkungan biotik dan abiotik yang saling berinteraksi di dalam suatu habitat mangrove. “Mangrove” adalah vegetasi hutan yang tumbuh di antara garis pasang surut.

Hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa species pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin.

Hutan mangrove disebut juga “Coastal Woodland” (hutan pantai) atau “Tidal Forest” (hutan surut)/hutan bakau, yang merupakan formasi tumbuhan litoral yang karakteristiknya terdapat di daerah tropika.

Fungsi ekosistem mangrove mencakup: fungsi fisik; menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dari erosi laut (abrasi) dan intrusi air laut; dan mengolah bahan limbah. Fungsi biologis ; tempat pembenihan ikan, udang, tempat pemijahan beberapa biota air; tempat bersarangnya burung; habitat alami bagi berbagai jenis biota. Fungsi ekonomi sebagai sumber bahan bakar (arang kayu bakar), pertambakan, tempat pembuatan garam, dan bahan bangunan.

Ekosistem mangrove, baik secara sendiri maupun secara bersama dengan ekosistem padang lamun dan terumbu karang berperan penting dalam stabilisasi suatu ekosistem pesisir, baik secara fisik maupun secara biologis, disamping itu, ekosistem mangrove merupakan sumber plasma nutfah yang cukup tinggi (misal, mangrove di Indonesia terdiri atas 157 jenis tumbuhan tingkat tinggi dan rendah, 118 jenis fauna laut dan berbagai jenis fauna darat. Ekosistem mangrove juga merupakan perlindungan pantai secara alami untuk mengurangi resiko terhadap bahaya tsunami. Hasil penelitian yang dilakukan di Teluk Grajagan, Banyuwangi, Jawa Timur, menunjukkan bahwa dengan adanya ekosistem mangrove telah terjadi reduksi tinggi gelombang sebesar 0,7340, dan perubahan energi gelombang sebesar (E) = 19635.26 joule.

Karena karakter pohon mangrove yang khas, ekosistem mangrove berfungsi sebagai peredam gelombang dan badai, pelindung abrasi, penahan lumpur, dan perangkap sedimen. Disamping itu, ekosistem mangrove juga merupakan penghasil detritus dan merupakan daerah asuhan (nursery ground), daerah untuk mencari makan (feeding ground), serta daerah pemijahan (spawning ground) bagi berbagai jenis ikan, udang, dan biota laut lainnya. Juga sebagai pemasok larva ikan, udang, dan sebagai tempat pariwisata. Hasil dari hutan mangrove dapat berupa kayu, bahan bangunan, chip, kayu bakar, arang kulit kayu yang menghasilkan tanin (zat penyamak) dan lain-lain termasuk hasil-hasil produk dari ekosistem hutan mangrove, berupa :
  1. Bahan bakar; kayu bakar, arang dan alkohol.
  2. Bahan bangunan; balok perancah, bangunan, jembatan, balok rel kereta api, pembuatan kapal, tonggak dan atap rumah. Tikar bahkan pagar pun menggunakan jenis yang berasal dari hutan mangrove.
  3. Makanan; obat-obatan dan minuman, gula alkohol, asam cuka, obat- obatan.
  4. Perikanan; tiang-tiang untuk perangkap ikan, pelampung jaring, pengeringan ikan, bahan penyamak jaring dan lantai.
  5. Pertanian, makanan ternak, pupuk dsb.
  6. Produksi kertas; berbagai macam kertas
Hutan mangrove merupakan sumber daya alam daerah tropis yang mempunyai manfaat ganda baik dari aspek sosial ekonomi maupun ekologi. Besarnya peranan ekosistem hutan mangrove bagi kehidupan dapat diketahui dari banyaknya jenis hewan baik yang hidup di perairan, di atas lahan maupun di tajuk- tajuk pohon mangrove atau manusia yang bergantung pada hutan mangrove tersebut. Manfaat ekonomis diantaranya terdiri atas hasil berupa kayu (kayu bakar, arang, kayu konstruksi) dan hasil bukan kayu (hasil hutan ikutan dan pariwisata). Manfaat ekologis, yang terdiri atas berbagai fungsi lindungan baik bagi lingkungan ekosistem daratan dan lautan maupun habitat berbagai jenis fauna, diantaranya :
  1. Sebagai proteksi dari abrasi/erosi, gelombang atau angin kencang
  2. Pengendali intrusi air laut
  3. Habitat berbagai jenis fauna
  4. Sebagai tempat mencari makan, memijah dan berkembang biak berbagai jenis ikan dan udang
  5. Pembangun lahan melalui proses sedimentasi
  6. Pengontrol penyakit malaria
  7. Memelihara kualitas air (meredukasi polutan, pencemar air)
  8. Penyerap CO2 dan penghasil O2 yang relatif tinggi disbanding tipe hutan lain.

Lebih lanjut Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur, menyatakan bahwa ekosistem hutan mangrove mempunyai peranan dan fungsi penting yang dapat mendukung kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung, adalah sebagai berikut
1. Fungsi ekologis ekosistem hutan mangrove menjamin terpeliharanya:
  • Lingkungan fisik, yaitu perlindungan pantai terhadap pengikisan oleh ombak dan angin, pengendapan sedimen, pencegahan dan pengendalian intrusi air laut ke wilayah daratan serta pengendalian dampak pencemaran air laut.
  • Lingkungan biota, yaitu sebagai tempat berkembang biak dan berlindung biota perairan seperti ikan, udang, moluska dan berbagai jenis reptil serta jenis-jenis burung serta mamalia. c. Lingkungan hidup daerah di sekitar lokasi (khususnya iklim makro).
2. Fungsi Sosial dan ekonomis, yaitu sebagai:
  • Sumber mata pencaharian dan produksi berbagai jenis hasil hutan dan hasil hutan ikutannya.
  • Tempat rekreasi atau wisata alam.
  • Obyek pendidikan, latihan dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Secara garis besar ekosistem hutan mangrove mempunyai dua fungsi utama, yaitu fungsi ekologis dan fungsi sosial ekonomi. Fungsi ekologis ekosistem hutan adalah sebagai berikut :
  1. Dalam ekosistem hutan mangrove terjadi mekanisme hubungan antara ekosistem mangrove dengan jenis-jenis ekosistem lainnya seperti padang lamun dan terumbu karang.
  2. Dengan sistem perakaran yang kokoh ekosistem hutan mangrove mempunyai kemampuan meredam gelombang, menahan lumpur dan melindungi pantai dari abrasi, gelombang pasang dan taufan.
  3. Sebagai pengendalian banjir, hutan mangrove yang banyak tumbuh di daerah estuaria juga dapat berfungsi untuk mengurangi bencana banjir.
  4. Hutan mangrove dapat berfungsi sebagai penyerap bahan pencemar (environmental service), khususnya bahan-bahan organic.
  5. Sebagai penghasil bahan organik yang merupakan mata rantai utama dalam jaring-jaring makanan di ekosistem pesisir, serasah mangrove yang gugur dan jatuh ke dalam air akan menjadi substrat yang baik bagi bakteri dan sekaligus berfungsi membantu proses pembentukan daun-daun tersebut menjadi detritus. Selanjutnya detritus menjadi bahan makanan bagi hewan pemakan seperti : cacing, udang-udang kecil dan akhirnya hewan-hewan ini akan menjadi makanan larva ikan, udang, kepiting dan hewan lainnya.
  6. Merupakan daerah asuhan (nursery ground) hewan-hewan muda (juvenile stage) yang akan bertumbuh kembang menjadi hewan-hewan dewasa dan juga merupakan daerah pemijahan (spawning ground) beberapa perairan seperti udang, ikan dan kerang-kerangan.
Luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai 75% dari total mangrove di Asia Tenggara, atau sekitar 27% dari luas mangrove di dunia. Kekhasan ekosistem mangrove Indonesia adalah memiliki keragaman jenis yang tertinggi di dunia. Sebaran mangrove di Indonesia terutama di wilayah pesisir Sumatera, Kalimantan dan Papua. Luas penyebaran mangrove terus mengalami penurunan dari 4,25 juta hektar pada tahun 1982 menjadi sekitar 3,24 juta hektar pada tahun 1987, dan tersisa seluas 2,50 juta hektar pada tahun 1993. Kecenderungan penurunan tersebut mengindikasikan bahwa terjadi degradasi hutan mangrove yang cukup nyata, yaitu sekitar 200 ribu hektar/tahun. Hal tersebut disebabkan oleh kegiatan konversi menjadi lahan tambak, penebangan liar dan sebagainya. Indonesia memiliki vegetasi hutan mangrove yang keragaman jenis yang tinggi. Jumlah jenis yang tercatat mencapai 202 jenis yang terdiri dari 89 jenis pohon, 5 jenis palem, 19 jenis liana, 44 jenis epifit, dan 1 jenis sikas. Terdapat sekitar 47 jenis vegetasi yang spesifik hutan mangrove.

Dalam hutan mangrove, paling tidak terdapat salah satu jenis tumbuhan mangrove sejati, yang termasuk ke dalam empat famili: Rhizoporaceae (Rhizophora, Bruguiera, dan Ceriops), Sonneratiaceae (Sonneratia), Avicenniaceae (Avicennia), dan Meliaceae (Xylocarpus). Pohon mangrove sanggup beradaptasi terhadap kadar oksigen yang rendah, terhadap salinitas yang tinggi, serta terhadap tanah yang kurang stabil dan pasang surut. Ekosistem mangrove terdiri dari hutan atau vegetasi mangrove yang merupakan komunitas pantai tropis. Secara umum, karakteristik habitat hutan mangrove tumbuh pada daerah intertidal yang jenis tanahnya berlumpur, berlempung, dan/atau berpasir.

Daerah habitat mangrove tergenang air laut secara berkala, setiap hari, atau pada saat pasang purnama. Frekuensi genangan menentukan komposisi vegetasi hutan mangrove. Hutan mangrove menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat serta terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat. Habitat hutan mangrove memiliki air bersalinitas payau (2-22 bagian per mil) hingga asin (mencapai 38 bagian permil). Hutan mangrove banyak ditemukan di pantai-pantai teluk yang dangkal, estuaria, dan daerah pantai yang terlindung.

Seperti kita ketahui, hutan mangrove merupakan tipe ekosistem peralihan darat dan laut yang mempunyai multi fungsi, yaitu selain sebagai sumberdaya potensial bagi kesejahteraan masyarakat dari segi ekonomi, sosial juga merupakan pelindung pantai dari hempasan ombak. Oleh karena itu dalam usaha pengembangan ekonomi kawasan mangrove seperti pembangkit tenaga listrik, lokasi rekreasi, pemukiman dan sarana perhubungan serta pengembangan pertanian pangan, perkebunan, perikanan dan kehutanan harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan kelestarian sumber daya wilayah pesisir. Pertumbuhan penduduk yang pesat menyebabkan tuntutan untuk mendayagunakan sumberdaya mangrove terus meningkat.
Secara garis besar ada dua faktor penyebab kerusakan hutan mangrove, yaitu :
1. Faktor manusia
yang merupakan faktor dominan penyebab kerusakan hutan mangrove dalam hal pemanfaatan lahan yang berlebihan.
2. Faktor alam, seperti : banjir, kekeringan dan hama penyakit, yang merupakan faktor penyebab yang relatif kecil .
Faktor-faktor yang mendorong aktivitas manusia untuk memanfaatkan hutan mangrove dalam rangka mencukupi kebutuhannya sehingga berakibat rusaknya hutan, antara lain :
a. Keinginan untuk membuat pertambakan dengan lahan yang terbuka dengan harapan ekonomis dan menguntungkan, karena mudah dan murah.
b. Kebutuhan kayu bakar yang sangat mendesak untuk rumah tangga, karena tidak ada pohon lain di sekitarnya yang bisa ditebang.
c. Rendahnya pengetahuan masyarakat akan berbagai fungsi hutan mangrove.
d. Adanya kesenjangan sosial antara petani tambak tradisional dengan pengusaha tambak modern, sehingga terjadi proses jual beli lahan yang sudah tidak rasional. Tekanan pada ekosistem mangrove yang berasal dari dalam, disebabkan karena pertumbuhan penduduk dan yang dari luar sistem karena reklamasi lahan dan eksploitasi mangrove yang makin meningkat telah menyebabkan perusakan menyeluruh atau sampai tingkat-tingkat kerusakan yang berbeda-beda. Dibeberapa tempat ekosistem mangrove telah diubah sama sekali menjadi ekosistem lain. Terdapat ancaman yang semakin besar terhadap daerah mangrove yang belum diganggu dan terjadi degradasi lebih lanjut dari daerah yang mengalami tekanan baik oleh sebab alami maupun oleh perbuatan manusia.

Kerusakan ekosistem mangrove dapat disebabkan oleh berbagai hal, antara lain :
1. Kurang dipahaminya kegunaan ekosistem mangrove.
2. Tekanan ekonomi masyarakat miskin yang bertempat tinggal dekat atau sebagai bagian dari ekosistem mangrove.
3. Karena pertimbangan ekonomi lebih dominan daripada pertimbangan lingkungan hidup.

Beberapa permasalahan yang terdapat di kawasan hutan mangrove yang berkaitan dengan upaya kelestarian fungsinya adalah :
1. Pemanfaatan Ganda Yang Tidak Terkendali Pemanfaatan ganda antar berbagai sektor dan Penggunaan sumberdaya yang berlebihan telah menyebabkan terjadi pengikisan pantai oleh air laut. Sesuai dengan fungsi hutan mangrove sebagai penahan ombak. Di beberapa daerah kawasan pantai hutan mangrove sudah banyak yang hilang sehingga lahan pantai terkikis oleh ombak. Di wilayah Teluk Jakarta pemanfaatan yang ada sekarang saling berkompetisi, seperti perluasan areal pelabuhan, industri, transportasi laut, permukiman dan kehutanan. Demikian juga di Bali, khususnya di kawasan hutan mangrove Suwung, pembangunan landasan udara Ngurah Rai Bali menyebabkan pantai Kuta terabrasi. Pemanfaatan demikian yang kurang menguntungkan ditinjau dari aspek keseimbangan lingkungan, karena dapat menyebabkan kerusakan dan pencemaran lingkungan wilayah pesisir. Disamping itu, pengelolaan hutan mangrove belum berkembang, baik dalam hal silvikultur, sumberdaya manusia, kelembagaan, perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasannya. Akibatnya banyak terjadi perusakan hutan mangrove seperti penebangan yang tidak terkendali, sehingga pemanfaatannya melampaui kemampuan sumberdaya alam untuk meregenerasi.
2. Permasalahan Tanah Timbul Akibat Sedimentasi Yang Berkelanjutan
Di daerah muara sungai banyak dijumpai tanah timbul karena endapan lumpur yang terus-menerus terbawa dari daerah hulu sungai. Permasalahan utama yang muncul adalah tentang status tanah timbul tersebut. Karena lokasinya umumnya berdekatan dengan lahan kehutanan, maka sering terjadi status penguasaannya langsung menjadi kawasan hutan, walaupun oleh masyarakat setempat dimanfaatkan untuk kepentingan mereka, tanpa mengindahkan status tanahnya. Hal ini sering menimbulkan konflik penguasaan. Contoh : kasus kawasan di Segara Anakan, dan kawasan Pantura Jawa, kawasan Sulawesi Selatan dan lain-lain.
3. Konversi Hutan Mangrove,
Hampir semua bentuk pemanfaatan lahan di wilayah pesisir berasal dari konversi hutan mangrove. Hutan mangrove sepanjang pantai utara Jawa, Bali Selatan dan Sulawesi Selatan bagian barat telah dikonversi menjadi kawasan permukiman, tambak, kawasan industri, pelabuhan, lading garam dan lain-lain. Kebanyakan konversi hutan mangrove menjadi bentuk pemanfaatan lain belum banyak ditata berdasarkan kemampuan dan peruntukan pembangunan, sehingga menimbulkan kondisi yang kurang menguntungkan dilihat dari manfaat regional dan nasional. Oleh karena itu pemanfaatan hutan mangrove yang tersisa atau upaya rehabilitasinya harus sesuai dengan potensi dan rencana pemanfaatan yang lainnya dengan mempertimbangkan kelestarian ekosistem, manfaat ekonomi dan penguasaan teknologi.
4. Permasalahan Sosial Ekonomi
Meningkatkannya pertumbuhan penduduk dan laju pembangunan di wilayah pesisir, khususnya Jawa, Bali, Sulawesi dan Lampung menyebabkan timbulnya ketidak seimbangan antara permintaan kebutuhan hidup, kesempatan dengan persediaan sumber daya alam pesisir yang ada . Upaya pengembangan pertanian intensif (coastal agriculture), dan kegiatan serta kesempatan yang berorientasi kelautan masih terbatas dikembangkan. Di pantai utara Jawa, hampir semua hutan mangrove telah habis dirombak menjadi kawasan pemukiman, perhotelan, tambak dan sawah yang berorientasi kepada ekosistem daratan. Pemanfaatan sumber daya alam wilayah pesisir mestinya tidak hanya terbatas pada hutan mangrove atau tambak saja tapi juga eksploitasi terumbu karang yang telah melampaui batas, sehingga sulit dapat pulih kembali. Hal ini terjadi di Bali Selatan, pantai utara Jawa Tengah.
5. Permasalahan Kelembagaan dan Pengaturan Hukum Kawasan Pesisir dan Lautan
Sering terjadi tumpang tindih, konflik dan ketidakjelasan kewenangan antara instansi sektoral pusat dan daerah. Hal tersebut menyebabkan simpang siur tanggung jawab dan prosedur perizinan untuk kegiatan pembangunan pesisir dan lautan. Contahnya seperti pembukaan lahan di kawasan pesisir, usaha penggalian pasir laut, reklamasi, penangkapan ikan dan pengambilan terumbu karang dan lain-lain. Akibat tersebut menyebabkan terus meningkatnya perusakan ekosistem kawasan pesisir dan lautan khususnya kawasan hutan mangrove.
6. Permasalahan Informasi Kawasan Pesisir Keberadaan data dan informasi serta ilmu pengetahuan teknologi yang berkaitan dengan tipologi ekosisitem pesisir Keanekaragaman hayati, lingkungan sosial budaya, peluang ekonomi dan peran serta keluarga, sumber daya hutan mangrove masih terbatas sehingga belum dapat mendukung penataan ruang kawasan pesisir, pembinaan dalam pemanfaatan secara lestari, perlindungan kawasan serta rehabilitasinya.



Ekosistem mangrove yang rusak dapat dipulihkan dengan cara restorasi/rehabilitasi. Restorasi dipahami sebagai usaha mengembalikan kondisi lingkungan kepada kondisi semula secara alami. Campur tangan manusia diusahakan sekecil mungkin terutama dalam memaksakan keinginan untuk menumbuhkan jenis mangrove tertentu menurut yang dipahami/diingini manusia. Dengan demikian, usaha restorasi semestinya mengandung makna memberi jalan/peluang kepada alam untuk mengatur/memulihkan dirinya sendiri. Kita manusia pelaku mencoba membuka jalan dan peluang serta mempercepat proses pemulihan terutama karena dalam beberapa kondisi, kegiatan restorasi secara fisik akan lebih murah dibanding kita memaksakan usaha penanaman mangrove secara langsung. Restorasi perlu dipertimbangkan ketika suatu sistem telah berubah dalam tingkat tertentu sehingga tidak dapat lagi memperbaiki atau memperbaharui diri secara alami. Dalam kondisi seperti ini, ekositem homeastatis telah berhenti secara permanen dan proses normal untuk suksesi tahap kedua atau perbaikan secara alami setelah kerusakan terhambat oleh berbagai sebab. Secara umum, semua habitat bakau dapat memperbaiki kondisinya secara alami dalam waktu 15 - 20 tahun jika:
(1) kondisi normal hidrologi tidak terganggu, dan;
(2) ketersediaan biji dan bibit serta jaraknya tidak terganggu atau terhalangi.


Jika kondisi hidrologi adalah normal atau mendekati normal tetapi biji bakau tidak dapat mendekati daerah restorasi, maka dapat direstorasi dengan cara penanaman. Oleh karena itu habitat bakau dapat diperbaiki tanpa penanaman, maka rencana restorasi harus terlebih dahulu melihat potensi aliran air laut yang terhalangi atau tekanan-tekanan lain yang mungkin menghambat perkembangan bakau. Terdapat tiga parameter lingkungan yang menentukan kelangsungan hidup dan pertumbuhan mangrove, yaitu:
(1) suplai air tawar dan salinitas, dimana ketersediaan air tawar dan konsentrasi kadar garam (salinitas) mengendalikan efisiensi metabolik dari ekosistem hutan mangrove. Ketersediaan air tawar tergantung pada
(a) frekuensi dan volume air dari system sungai dan irigasi dari darat,
(b) frekuensi dan volume air pertukaran pasang surut, dan;
(c) tingkat evaporasi ke atmosfer.

(2) Pasokan nutrien: pasokan nutrient bagi ekosistem mangrove ditentukan oleh berbagai proses yang saling terkait, meliputi input dari ion-ion mineral an-organik dan bahan organik serta pendaurulangan nutrien. Secara internal melalui jaringan-jaringan makanan berbasis detritus (detrital food web).

Pendekatan teknis yang dilakukan dalam kegiatan Perhutanan Sosial adalah dengan sistem silvofishery. Sistem ini merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah yang cukup efektif dan ekonomis. Aspek keuntungan yang diperoleh dengan model silvofishery ini antara lain dapat meningkatkan lapangan kerja (aspek sosial), dapat mengatasi masalah pangan dan energi (aspek ekonomi) serta kestabilan iklim mikro dan konservasi tanah (aspek ekologi).Pola ini dipandang sebagai pola pendekatan teknis yang dianggap cukup baik, karena selain petani dapat memanfaatkan lahan untuk kegiatan pemeliharaan ikan, pihak Perum Perhutani secara tidak langsung menjalin hubungan kerja sama yang saling menguntungkan. Pola silvofishery yang digunakan adalah pola komplangan (Gambar 1) dan empang parit (Gambar 2).

Perhutanan Sosial yang dilakukan oleh Perum Perhutani merupakan program pembangunan, pemeliharaan dan pengamanan hutan dengan cara mengikutsertakan masyarakat dalam pengelolaan hutan. Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan fungsi- fungsi hutan secara optimal, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan sekaligus perbaikan lingkungan dan kelestariannya yang pelaksanaannya terbatas dikawasan hutan. Berdasarkan pengertian tersebut diharapkan Perhutanan Sosial dapat memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan tekanan sosial budaya penduduk di sekitar hutan yang berakibat turunnya produktivitas lahan dan fungsihutan maupun kualitas lingkungan biofisik di sekitarnya.

Surat Keputusan Direksi Perum Perhutani No. 60.2/Kpts/DIR/1988 merupakan Pedoman Pelaksanaan Perhutanan Sosial. Penggarap empang dianggap sebagai mitra sejajar dalam pembangunan hutan atas dasar saling menguntungkan. Perhutanan Sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan pola agroforestry. Agroforestry merupakan suatu alternatif yang cukup efektif dalam upaya untuk menyatukan kepentingan antara kehutanan dengan masyarakat sekitar hutan, khususnya Kelompok Tani Hutan sehingga terjalin hubungan mitra pembangunan yang harmonis yang saling menguntungkan.

Dalam system agroforestry, penggunaan lahan pada dasarnya dititikberatkan pada salah satu usaha tanaman pangan, peternakan atau kehutanan. Jika tanaman kehutanan dikombinasikan dengan pertambakan ikan atau udang disebut silvofishery. Tujuan kegiatan Perhutanan Sosial di hutan mangrove ini sama halnya dengan di kawasan hutan produksi, yaitu : untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan memelihara ekosistem hutan mangrove. Hal ini dilakukan dengan dua macam pendekatan, yaitu pendekatan teknis dan non teknis.

Gambar 1. Pola Komplangan

1. Pendekatan Teknis
Keterangan :
a. pintu air 2 buah (pintu masuk dan keluar)
b. tanggul pemisah
c. areal bertegakan hutan dengan pasang surut bebas
d. empang pemeliharaan ikan

Keuntungan
- cahaya matahari yang menyinarinya cukup baik
- dapat diterapkan budidaya semi intensif
- perkembangan hutan dan ikan tidak saling menghambat

Hambatan :
- membutuhkan biaya investasi untuk pembuatan empang

Gambar 2 Pola empang parit

Keterangan :
a. pintu air untuk pemeliharaan ikan
b. saluran air pasang surut bebas untuk hutan
c. empang tempat pemeliharaan ikan lebar maksimum 5 meter
d. areal tegakan hutan dengan pasang surut bebas
e. tanggul

Keuntungan :
- cahaya matahari yang menyinari cukup baik
- biaya penyempurnaan empang parit dapat dilaksanakan secara bertahap setiap pemeliharaan

Hambatan :
- pemeliharaan ikan kurang terintegrasi
- lebar parit terbatas sehingga cahaya matahari yang menyinari tidak cukup banyak

2. Pendekatan Non Teknis
Dalam melaksanakan pendekatan non teknis ini perlu dibentuk suatu organisasi penggarap kawasan hutan ialah “Kelompok Tani Hutan” (KTH), dimana para petani penggarap membangun hutan mangrove bersama-sama dengan kelompoknya dan membentuk program kerja yang akan di laksanakannya. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas, perlu adanya pembentukan organisasi dan tanggung jawab masing-masing seksi dari kelompok tani hutan. KTH ini perlu pula dilengkapi dengan koperasi sebagai wadah penyediaan sarana produksi pertanian atau sarana pengolahan hasil. Untuk mempermudah pembinaan petani empang parit, para petani dikelompokkan dalam wadah Kelompok Tani Hutan (KTH) dan diberikan penyuluhan secara intensif. Tugas dari Kelompok Tani Hutan (KTH) antara lain :
1. Melaksanakan tanaman hutan disetiap lokasi garapan masing-masing.
2. Ikut menerbitkan pemukiman/perambah dalam kawasan hutan mangrove
3. Gotong royong memperbaiki saluran air yang dangkal untuk memperlancar pasang surut air laut dan aliran sungai
4. Secara rutin mengadakan pertemuan untuk membahas permasalahan yang dihadapi, diantaranya cara budidaya ikan, udang, kepiting dikawasan hutan mangrove.
5. Disamping itu melakukan usaha koperasi simpan pinjam, pelayanan saprodi, pemasaran hasil ikan dan pengembangan pengolahan ikan. Produksi ikan dari silvofishery seluruhnya menjadi hak penggarap anggota KTH.


Usaha pemulihan ekosistem mangrove di beberapa daerah, baik di pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, maupun Irian Jaya telah sering kita lihat. Upaya ini biasanya berupa proyek yang berasal dari Departemen Kehutanan ataupun dari Pemerintah daerah setempat. Namun hasil yang diperoleh relatif tidak sesuai dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan oleh pemerintah. Padahal dalam pelaksanaannya tersedia biaya yang cukup besar, tersedia tenaga ahli, tersedia bibit yang cukup, pengawasan cukup memadai, dan berbagai fasilitas penunjang yang lainnya. Mengapa hasilnya kurang memuaskan? Salah satu penyebabnya adalah kurangnya peran serta masyarakat dalam ikut terlibat upaya pengembangan wilayah, khususnya rehabilitasi hutan mangrove; dan masyarakat masih cenderung dijadikan obyek, bukan subyek dalam upaya pembangunan.

Dalam pelaksanaan pemulihan ekosistem mangrove yang telah terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini dilakukan atas perintah dari atas. Seperti suatu kebiasaan dalam suatu proyek apapun yang namanya rencana itu senantiasa datangnya dari atas; sedangkan bawahan (masyarakat) sebagai ujung tombak pelaksana proyek hanya sekedar melaksanakan perintah atau dengan istilah populer dengan pendekatan top-down.

Pelaksanaan proyek semacam ini tentu saja kurang memberdayakan potensi masyarakat, padahal idealnya masyarakat tersebutlah yang harus berperan aktif dalam upaya pemulihan ekosistem mangrove tersebut, sedangkan pemerintah hanyalah sebagai penyedia dana, pengontrol, dan fasilitator berbagai kegiatan yang terkait. Akibatnya setelah selesai proyek tersebut, yaitu saat dana telah habis tentu saja pelaksana proyek tersebut juga merasa sudah habis pula tanggung jawabnya.

Di sisi lain masyarakat tidak merasa ikut memiliki (sense of belonging tidak tumbuh) hutan mangrove tersebut. Begitu pula, seandainya hutan mangrove tersebut telah menjadi besar, maka masyarakat merasa sudah tidak ada lagi yang mengawasinya, sehingga mereka dapat mengambil atau memotong hutan mangrove tersebut secara bebas. Masyarakat beranggapan bahwa hutan mangrove tersebut adalah milik pemerintah dan bukan milik mereka, sehingga jika masyarakat membutuhkan mereka tinggal mengambil tanpa merasa diawasi oleh pemerintah atau pelaksana proyek. Begitulah pengertian yang ada pada benak masyarakat pesisir yang dekat dengan hutan mangrove yang telah mereka rehabilitasi. Seyogyanya upaya pemulihan ekosistem mangrove adalah atas biaya pemerintah, sedangkan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi keberhasilan dan pemanfaatannya secara berkelanjutan semuanya dipercayakan kepada masyarakat.

Dalam pelaksanaannya kegiatan tersebut dapat juga melibatkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bersama perangkat desa, pemimpin umat, dan lain-lain. Masyarakat pesisir secara keseluruhan perlu mendapat pengertian bahwa hutan mangrove yang akan mereka rehabilitasi akan menjadi milik masyarakat dan untuk masyarakat, khususnya yang berada di daerah pesisir. Dengan demikian semua proses rehabilitasi atau reboisasi hutan mangrove yang dimulai dari proses penanaman, perawatan, penyulaman tersebut dilakukan oleh masyarakat. Melalui mekanisme ini, masyarakat tidak merasa dianggap sebagai “kuli”, melainkan ikut memiliki hutan mangrove tersebut, karena mereka merasa ikut merencanakan penanaman dan lain-lain.

Masyarakat merasa mempunyai andil dalam upaya rehabilitasi hutan mangrove tersebut, sehingga status mereka akan berubah, yaitu bukan sebagai kuli lagi melainkan ikut memilikinya. Dari sini akan tergambar andaikata ada sekelompok orang yang bukan anggota masyarakat yang ikut menaman hutan mangrove tersebut ingin memotong sebatang tumbuhan mangrove saja, maka mereka tentu akan ramai- ramai mencegah atau mengingatkan bahwa mereka menebang pohon tanpa ijin. Ini merupakan salah satu contoh kasus kecil dalam perusakan hutan mangrove yang telah dihijaukan, kemudian dirusak oleh anggota masyarakat lainnya yang bukan anggota kelompoknya. Pelaksanaan rehabilitasi hutan mangrove dengan penekanan pada pemberdayaan masyarakat setempat ini biasa dikenal dengan istilah pendekatan bottom- up.

Gambar: Pendekatan Buttom-up

Hasil dari kegiatan dengan pendekatan bottom up ini akan menjadikan masyarakat enggan untuk merusak hutan mangrove yang telah mereka tanam, sekalipun tidak ada yang mengawasinya; karena masyarakat sadar bahwa kayu yang mereka potong tersebut sebenarnya adalah milik mereka bersama. Tugas pemerintah hanyalah memberikan pengarahan secara umum dalam pemanfaatan hutan mangrove secara berkelanjutan, sebab tanpa arahan yang jelas nantinya akan terjadi konflik kepentingan dalam pengelolaan dalam jangka panjang.



Dari sini nampak bahwa pendekatan bottom up relatif lebih baik jika dibandingkan dengan pendekatan top down dalam pelaksanan pemulihan ekosistem, selain itu “pemerintah atau pemilik modal” tidak terlalu berat melakukannya, karena masyarakat dapat berlaku aktif pada proses pelaksanaan pemulihan tersebut, dan pada masyarakat pesisir akan timbul rasa ikut memiliki terhadap hutan mangrove yang telah berhasil mereka hijaukan. Dengan demikian pelaksanaan suatu proyek dengan pendekatan bottom up atau menumbuhkan adanya partisipasi dari anggota masyarakat ini juga sekaligus merupakan proses pendidikan pada masyarakat secara tidak langsung.

























Membuat Sebuah System Di Unit Kerja (Saat Ini)

Ijinkan saya melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang system kerja di perusahaan kita. Memang ada perbedaan arti dari istilah ‘system’ dalam terminologi teknik, biology, dan management. Tetapi dalam pengelolaan perusahaan atau unit kerja, menggunakan sudut pandang management tentunya jauh lebih relevan. Komputer itu hanyalah salah satu alat untuk meningkatkan efisiensi dan utilisasi system yang kita rancang. Dan sebagai alat, komputer bukanlah segalanya. Jadi, janganlah terlalu berkecil hati jika perusahaan kita belum memiliki ‘system yang terkomputerisasi’. Tentu bagus jika sanggup menyediakan ‘alat’ itu. Tetapi jikapun belum; kita masih bisa membangun ‘system’ yang handal di unit kerja kita .
Kita sudah tahu tentang pentingnya (1) memahami proses bisnis atau alur kerja yang berlaku di unit kerja kita saat ini dan (2) menentukan alur kerja yang diperlukan. Dengan membandingkan temuan pada kedua langkah itu kita akan menemukan ‘gap’ atau selisihnya. Selisih itu bisa besar, bisa kecil bergantung kepada cakupan system yang sudah ada itu terhadap tuntutan kerja. Jika system itu benar-benar ‘belum ada’ berarti gapnya 100%. Bagi kita yang tertarik untuk belajar membuat system di unit kerjanya masing-masing, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:


1. Kumpulkan informasi yang diperlukan.
Sangat penting untuk memperoleh informasi secara internal dalam unit kerja kita agar bisa memastikan system yang kita bangun nanti benar-benar sesuai dengan kebutuhan kerja mereka. Namun, informasi eksternal pun tidak kalah pentingnya. Informasi eksternal dari unit kerja yang lain mungkin hanya digunakan untuk benchmark, tetapi pemahaman kita terhadap system yang berlaku di level korporasi sangat berarti untuk memastikan bahwa system yang kita buat sejalan dengan system yang lebih besar.


2. Buatlah draft system kerja yang hendak kita terapkan.
Sebagai unit Manager atau Supervisor kita tidak bisa menunggu orang lain membuatkan suatu system kerja yang dibutuhkan oleh unit kerja kita . Jadi, mulailah membuat draftnya dengan berbekal pemahaman kita terhadap proses bisnis, kebutuhan aktual dan informasi internal-external yang kita peroleh. Mungkin tidak sempurna, namun itu merupakan langkah yang sangat menentukan apakah unit kerja kita akan memiliki system yang baik atau tidak. Jika kita diam saja, belum tentu seratus tahun lagi ada orang yang peduli. Jadi, buatlah draftnya sekarang juga.


3. Diskusikan draft awal kita dengan orang-orang yang berkepentingan.
kita tentu mengharapkan agar semua orang dalam unit kerja kita bekerja sesuai dengan system yang kita buat. Maka sangat penting bagi kita untuk mendengarkan pandangan mereka. Tidak semua anak buah kita harus diminta pendapatnya. Pilihlah mereka yang selalu kritis namun positif dan konstruktif. Mereka yang pasif, sinis, dan selalu bersikap negatif hanya akan menghambat pembuatan system kita . Selain bawahan, kita juga patut meminta pandangan dari atasan karena system kita erat kaitannya dengan kinerja atasan. Rekan sejawat kita di unit kerja yang lain juga bisa diminta pendapatnya, terutama mereka yang mempunyai keterkaitan kinerja.


4. Uji cobalah system baru kita dan revisi lagi sesuai hasil evaluasi.
Uji coba memberi kita peluang untuk memeriksa kembali apakah system yang kita bangun itu benar-benar handal atau tidak. Ini memperkecil resiko yang bisa ditimbulkan dari kesalahan yang mungkin terjadi. Jauh lebih baik melakukan revisi pada saat uji coba daripada membongkar ulang setelah system itu diterapkan secara keseluruhan. Pada tahap ini juga kita bisa menemukan hal-hal yang tidak dijelaskan didalam text book. Faktanya, perhitungan diatas kertas tidak selalu cocok dengan kenyataan di lapangan. Bergantung kompleksitas system kita , uji coba bisa dilakukan selama beberapa hari hingga beberapa bulan.


5. Latihlah semua orang dalam unit kerja kita .
Salah satu penyebab utama kegagalan penerapan system di banyak perusahaan adalah kurangnya keterampilan karyawan dalam menggunakannya. Tidak peduli sehebat dan sekeren apapun system yang kita bangun, jika orang-orang dalam unit kerja kita tidak mengerti dan tidak terampil untuk menerapkannya; pasti akan menjadi sia-sia saja. Sudah banyak system yang terbengkalai, padahal dibuat dengan biaya yang sangat mahal. Janganlah ikut menambah jumlahnya dengan system kita yang menganggur. Jadi, latihlah mereka sampai benar-benar terampil menjalankannya.


Jika kita mempunyai budget yang cukup untuk membuat otomasi system baru kita itu dengan seperangkat komputer, silakan kita lakukan. Jika budget kita terbatas, maka kita bisa menggunakan program sederhana semisal microsoft excel atau microsoft access. Jika untuk itu pun belum memungkinkan, maka kita bisa menerapkan system baru kita secara manual saja. Ingatlah, bahwa ‘system kerja’ kita adalah nyawanya, sedangkan system komputer hanyalah alat penunjangnya. Memang bagus jika kita bisa memiliki keduanya. Tetapi jika harus memilih salah satunya; maka lupakanlah system komputer, dan berfokuslah kepada system kerjanya.
Tidak ada yang lebih berkepentingan terhadap kehandalan system di unit kerja kita selain diri kita sendiri.
God Bless Us.....;)




Terminal Joyoboyo Surabaya, Lebih Dekat....

Terminal Joyoboyo ini terletak di sebelah Surabaya Selatan. Terminal Joyoboyo merupakan terminal tipe B dengan luas lahan 11.134 m2 , dimana melayani angkutan Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP), dan angkutan kota. Jaringan trayek angkutan kota yang dilayani Terminal Joyoboyo ini yakni bus kota, dan angkutan kota (lyn).


Sekarang ini kendaraan umum AKDP yang masuk Joyoboyo hanya bus jurusan Surabaya-Mojokerto saja. Hanya dari Mojokerto saja yang masih eksis di terminal itu. UNIT pelaksana teknis daerah (UPTD) terminal di Surabaya ditangani Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya. Ada pembagian terminal menurut tipe. Yaitu tipe A, B, dan C. Masing-masing memiliki kapasitas dan fungsi. Selain tipe itu tidak bisa disebut terminal, tetapi lebih tepatnya pangkalan. Data di Dishub Kota Surabaya menerangkan, tipe A adalah terminal paling besar. Di Surabaya ada dua terminal tipe A, yakni Terminal Purabaya dan Osowilangun. Sedangkan tipe B adalah terminal sedang, seperti Terminal Joyoboyo.

Di sekitar Terminal Joyoboyo, tepat nya di sebelah kiri Terminal Joyoboyo terdapat 1 tempat wisata, yakni Kebun Binatang Surabaya ( KBS ). Bila anda mau brkunjung ke KBS, Anda bisa berjalan kaki dalam wktu 15 menit saja untuk sampai di loket KBS. Bila Anda capek, Anda bisa naik angkutan umum atau Bus. Yakni naik Bus Mini warna Hijau. Atau juga bisa naik angkutan umum jurusan Sidoarjo – Surabaya yang berwarna kuning.



Nama: Terminal Joyoboyo
Tipe: B
Alamat: Jl. Joyoboyo, Sawunggaling
Telp: 031 5678957
Layanan: AKDP – Dalam Kota
Fasilitas: Shelter/Ruang Tunggu, Kios, Mushola, Toilet, Kantin, area parkir
Luas Lahan: 10.000 m2
Diperoleh: Tahun 1969
Status Tanah:Tanah Negara SK Walikota No. 243 / K tanggal 8 April 1969
Fungsi: Sebagai Terminal Angkutan Kota dan Bis Kota


Info lebih lanjut dapat menghubungi:
Dinas Perhubungan - Pemerintah Kota Surabaya
Jl. Dukuh Menanggal No.1. Surabaya - I N D O N E S I A
TLP. (031) 8295332, 8295324, FAX. 8288315
info@dishubsurabaya.org






Antara Lidah, Perkataan, Dan Perbuatan


Berbicara.
Sungguh sebuah kosa kata yang sederhana.
Setiap hari kita mengucapkan kata-kata, sehingga sama sekali tidak ada hal yang menarik untuk dibahas.
Tetapi, mengapa ada orang yang dibayar hingga puluhan juta rupiah untuk berbicara selama satu atau dua jam saja?
Ada orang yang dicintai karena perkataan-perkataannya.
Dan ada orang yang dibenci karena ucapan-ucapannya.
Oleh sebab itu, kesederhanaan dibalik makna ‘berbicara’ pastilah memiliki keistimewaan yang layak untuk kita renungkan.
Berbicara bukanlah sekedar keterampilan memainkan lidah untuk berkomunikasi dengan orang lain. Melainkan juga menjadi salah satu sarana untuk menyampaikan gagasan, bertukar pikiran, juga mempengaruhi orang lain. Bagi kita yang tertarik untuk belajar berbicara secara efektif, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:


1. Berbicaralah yang baik, atau diam saja.
Sungguh beruntung orang-orang yang dapat menjaga lidahnya untuk tetap diam, daripada mereka yang rajin mengucapkan perkataan yang tidak memiliki manfaat apa-apa. Resiko tertinggi orang yang diam adalah ‘disebut orang pasif’. Sedangkan resiko terrendah bagi orang yang banyak bicara adalah disebut ‘orang yang banyak omong’. Manfaat terbesar bagi orang yang diam adalah ‘tidak dibenci oleh orang lain’. Sedangkan manfaat terbesar bagi orang yang berbicara adalah; ‘pahala yang mengalir atas kata-katanya yang baik’. Maka berbicaralah yang baik-baik karena pahala kebaikannya sangat besar. Atau kalau tidak bisa mengucapkan perkataan yang baik, maka sebaiknya ya diam saja.


2. Selaraskanlah antara perkataan dengan perbuatan.
Perhatikan orang-orang yang tidak selaras antara perkataannya dengan perbuatannya. Betapa banyak contoh orang seperti itu dihadapan kita . Dan kita tahu betul bahwa orang lain sudah tidak lagi mempercayai mereka. Ketika seseorang mengatakan pesan-pesan kebaikan kepada orang lain, namun dirinya sendiri berperilaku sebaliknya; maka orang tidak lagi mempercayai kata-katanya. Karena ketidakselarasan menyebabkan hilangnya kepercayaan. Jagalah keselarasan antara perkataan dan perbuatan, maka kita akan mendapatkan kepercayaan dari orang-orang disekitar kita .


3. Gunakanlah perkataan untuk mengajari diri sendiri.
Orang-orang yang terlalu banyak berbicara – saya, misalnya – memiliki kecendrungan untuk mengajari atau mengajak orang lain melalui perkataan yang yang diucapkannya. Sayangnya sering lupa untuk mengajari diri sendiri. “Jujurlah!” katanya. Tetapi dia sendiri tidak jujur. Ini menandakan bahwa dia gagal mengajari dirinya sendiri. Motivasi saya saat mengatakan sesuatu adalah mengajari diri sendiri. Ternyata sangat berat untuk belajar sendirian, makanya saya membagi pelajaran bersama orang-orang yang saya cintai. Itulah sebabnya sambil mengajari diri sendiri, saya berbagi pelajaran itu dengan kita .


4. Tebuslah perkataan dengan pendengaran.
Ada ruginya juga memposisikan diri sebagai orang yang paling banyak berbicara. Kita sering tidak sempat mendengar perkataan orang lain. Boleh jadi perkataan kita bukanlah hal terbaik dalam satu urusan tertentu. Namun karena kita tidak bersedia mendengarkan perkataan orang lain; maka kita kehilangan pelajaran berharga. Sungguh beruntunglah orang yang selain berbicara, dia juga bersedia mendengar. Selain ilmunya bisa memberi manfaat kepada orang lain, dia sendiri bisa menarik manfaat dari pelajaran yang ditebarkan oleh orang lain.


5. Yakinlah jika setiap perkataan harus dipertanggungjawabkan.
Kita sering mengira bahwa kata-kata yang keluar dari mulut kita akan menguap begitu saja. Kenyataannya perkataan yang kita ucapkan beberapa tahun lalu, masih diingat oleh orang lain. Sungguh beruntung jika kata-kata itu baik. Namun sungguh rugi kita jika kata-kata itu buruk. Setiap kata yang baik, menghasilkan pahala yang baik. Namun, setiap perkataan buruk pasti akan dibalas dengan imbalan yang juga buruk. Bahkan, guru spiritual saya mengatakan; “Betapa besarnya murka Tuhan kepada orang yang mengatakan sesuatu yang bertolak belakang dengan perbuatannya.” Maka yakinlah, setiap perkataan harus dipertanggungjawabkan.

Keterampilan berbicara bukanlah monopoli mereka yang berprofesi sebagai pembicara publik. Setiap orang patut memiliki keterampilan berbicara yang baik.

Satu hal yang perlu diingat adalah; berbicara tidak selalu berarti mengucapkan sesuatu dengan lidah kita. Melainkan juga menunjukkan tindakan nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Mungkin kita bisa berbicara dengan nyaring, namun perbuatan kita berbicara lebih nyaring dari kata-kata yang diolah oleh lidah kita.


Keterampilan berbicara akan semakin efektif jika diimbangi dengan kesediaan untuk mendengar pelajaran-pelajaran berharga dari orang lain.


Good Bless Us....;)