PELATIHAN “GENDER” DI KANTOR JAKARTA 2013





LATAR BELAKANG

Topik Gender bukan lagi merupakan hal yang baru bagi kalangan feminis, peneliti,  akademisi,  organisasi  kemasyarakatan,  pejabat  pemerintahan maupun  kalangan  umum  lainnya  di masyarakat.  Berbagai  studi  telah dilakukan untuk melihat hubungan yang kompleks antara Gender dengan isu-isu  penting  seperti  politik,  pendidikan,  kesehatan,  pengelolaan sumber daya  alam, dan  lain  sebagainya. Berbagai  institusi dan  lembaga baik dari sektor formal pemerintahan, LSM, lembaga penelitian, dan lain sebagainya beramai-ramai mengadakan  training, kampanye, penelitian, survei  dan  berbagai  program  kegiatan  lainnya  yang  berkaitan  dengan Gender.

Pertanyaannya  adalah  sejauh  mana  inisiatif-inisiatif  tersebut  efektif mendukung  upaya  penguatan  kapasitas  perempuan  di  akar  rumput? Apakah  posisi  dan  peran  Gender  dalam  masyarakat  mengindikasikan adanya  perubahan?  Bagaimana  posisi  perempuan  di  dalam  keluarga? Apakah  perempuan  mulai  ikut  terlibat  secara  aktif  dalam  proses pengambilan keputusan di institusi atau lembaga lokal?

Kebanyakan  dari  kita  sering  menolak  kenyataan  bahwa  ‘penerima manfaat program’, yaitu perempuan-perempuan yang bergabung dalam kelompok  yang  difasilitasi  (kelompok  dampingan),  selama  ini  masih berada pada tataran ‘objek’ penelitian, kelompok  ‘sasaran’ atau pengikut setia  dari  kegiatan-kegiatan  yang  berkaitan  dengan  pemberdayaan perempuan. Hal ini seringkali terjadi karena program dan kegiatan yang ditawarkan (atau dipaksakan) pada kelompok dampingan tersebut lebih banyak diinisiasi oleh pihak luar, bukan berdasarkan ide yang digali dari komunitas itu sendiri). Dengan demikian, kelompok perempuan hanya mengikuti apa yang  sudah  tertulis dalam agenda  si pemberi  ide,  tanpa mempunyai  peluang  untuk  berpikir  apakah  kegiatan  tersebut  sesuai atau  bertentangan  dengan  kepentingan mereka  atau malah membuat masalah  dengan  kondisi  lokal  yang  ada  di  sekitar mereka.  Sayangnya, jika program kegiatan tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan, kita serta merta ‘menghakimi’ bahwa program tersebut gagal, komunitas lokal tidak co-operative dalam berproses, kondisi lokal tidak mendukung atau  bahkan menyalahkan  fasilitator  yang  tidak  bisa  ‘mendorong’  kelompok dampingannya  untuk  berkembang  sesuai  dengan  tujuan  program.

Pernahkah terpikir oleh kita bahwa mungkin ‘kegagalan’ dalam berproses tersebut  kemungkinan  adalah  bentuk  keberhasilan  sistem  lokal?  Atau bahkan  kegagalan  tersebut  memunculkan  ide-ide  brilliant  di  dalam komunitas yang luput dari perhatian kita?

Pelatihan ini tidak mendiskusikan apa yang benar atau salah dalam perspektif Gender menurut pandangan lokal dan dunia luar. Gender dipandang sebagai opsi terbuka, yang bisa sangat berbeda perspektif dan implementasinya tergantung dari kondisi dan realitas lokal yang ada di lapangan.

Saya secara pribadi mengucapkan banyak terima kasih kepada fasilitator dan pelatih serta semua rekan peserta bersama dengan banyaknya rekan yang tidak dapat disebutkan namanya, dalam pelatihan Gender yang  jerih payah dan partisipasinya dalam kegiatan ini  telah memberikan  inspirasi bagi  saya untuk menuangkan ide dan pemikiran dalam lembaran-lembaran ini.

Pada akhirnya, semoga lembaran ini dapat membantu praktisi dan fasilitator di  lapangan  untuk  mengenal  lebih  jauh  mengenai  Gender  dari  segi praktis,  terlepas  dari  perdebatan mengenai  konsep,  teori  dan  definisi, sehingga dapat membantu kelompok dampingannya mengenali  aspek-aspek ketimpangan Gender yang ada di lingkungan sekitarnya.