Showing posts with label portofolio diri. Show all posts
Showing posts with label portofolio diri. Show all posts

Employee Engagement? Kenapa harus meningkat ?

Employee Engagement (EE) bukanlah masalah yang hangat dibicarakan hanya di Negara berkembang seperti Indonesia saja. Perusahaan-perusahaan di Negara paling maju sekalipun menghadapi masalah yang sangat pelik untuk diselesaikan ini. Banyak yang masih secara keliru mengira bahwa para karyawan bisa diikat oleh gaji tinggi. Padahal, hanya mereka yang tidak mampu mendapatkan pekerjaan di tempat lain saja yang masih rela melakukan apapun demi gajinya. Mereka yang memiliki daya jual dan daya juang tinggi pasti akan hengkang juga. Sungguh, ini bukan semata-mata soal uang. Jadi apa dong penyebab utamanya?


Penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor paling utama yang menyebabkan rendahnya tingkat EE ternyata adalah atasannya. Jadi, jika Kita memiliki masalah serius dengan rendahnya EE dikalangan anak buah Kita, maka sudah waktunya untuk bercermin sambil bertanya; “Apakah saya sudah menjadi atasan yang baik bagi para bawahan saya?” Bagi Kita yang tertarik untuk menemani saya mamahami peran atasan dalam meningkatkan Employee Engagement, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:


  1. Memahami kebutuhan dan keinginan karyawan. Ada bedanya antara kebutuhan dengan keinginan. Memahami keduanya membantu atasan untuk menentukan mana yang layak untuk diperjuangkan atau diberikan kepada bawahan, dan mana yang tidak perlu terlalu dihiraukan. Kebutuhan mengacu kepada apa yang pantas mereka dapatkan berkaitan dengan hubungan kerja, sedangkan keinginan berkaitan dengan tuntutan-tuntutan yang belum tentu patut untuk mereka dapatkan. Segala sesuatu yang pantas mereka peroleh itulah yang wajib hukumnya untuk diperjuangkan oleh seorang atasan. Harapan karyawan itu beragam macam sehingga tidak mungkin seluruhnya bisa dipenuhi. Memahami antara kebutuhan dan keinginan mereka membantu atasan untuk melakukan penyaringan sehingga lebih efektif dalam menggunakan sumberdaya. Jadi sebaiknya kita perlu turun ke bawah dan lebih erat dengan bawahan kita, sehingga keinginan dan kebutuhan mereka, akan segera dapat kita colect. Adalah menjadi pandangan yang sangat keliru jika atasan tidak boleh dekat dengan bawahan agar kharismanya tidak pudar. Adalah hal yang salah juga jika salah satu Pembantu Direktur Perguruan Tinggi melarang dosen-dosennya dekat dengan mahasiswanya. Kita perlu mencontoh kepemimpinan Presiden Soekarno yang dekat dengan rakyatnya, bahkan Presiden Soeharto juga melakukan hal yang sama sehingga tahu persis apa yang dia bisa lakukan demi kepentingan bersama agar kebutuhan dan keinginan bawahannya terwujud. Kita boleh mencontohnya, bukan begitu?!
  2. Bersedia mendengarkan masukan dan keluhan bawahan. Tidak semua masukan dari bawahan relevan dan bisa diimplementasikan. Juga tidak semua keluhan bawahan bersifat objektif dan berada dalam kewenangan atasan. Tetapi, kesediaan seorang atasan untuk mendengarkan memberikan sinyal positif terhadap kepercayaan bawahan. Mereka bisa merasakan bahwa di kantornya masih ada kesempatan untuk menyalurkan aspirasi. Tersumbatnya saluran penampung aspirasi sering menyebabkan hilangnya kepercayaan bawahan. Dalam jangka panjang hal ini bisa berubah menjadi gejolak yang sulit untuk diredam. Bahkan sekalipun atasan tidak sanggup untuk memenuhinya, bawahan mendapatkan kepuasan ketika suaranya didengar oleh atasan. Saluran aspirasi tersebut dapat dilakukan dengan banyak cara, bisa dengan menggunakan email yang diberikan langsung dari atasan ke bawahan jika ingin mengungkapkan aspirasinya, atau kotak saran, atau bahkan dengan mengadakan rapat-rapat kecil yang tidak formal, bisa pada saat makan siang, gathering, dan sebagainya, intinya, dengarkan semua aspirasi dengan berbagai cara, dan ingatlah siapa yang berbicara, karena dia adalah aset berharga institusi untuk lebih maju dan sukses.
  3. Menjaga ketulusan hati dalam hubungan dengan bawahan. Saya meyakini bahwa ketulusan adalah kunci terpenting dalam membangun sebuah hubungan. Khususnya antara atasan dan bawahan. Hubungan yang didasari oleh ketulusan tidak sekedar diukur dari keramahan, sebab atasan yang berkarakter keras bukanlah tipe orang yang bisa dipaksa untuk berubah wajah menjadi ramah dan murah senyum. Sebaliknya, bawahan yang kurang supel juga tidak bisa dipaksa untuk hay-hay-hey-hey dengan atasannya. Ketulusan hubungan mengijinkan bawahan untuk mengkritik atasannya, dan memberi keleluasaan bagi atasan untuk menegur bawahannya yang kurang baik. Selama ada ketulusan itu, seseorang tidak harus mengubah kepribadian untuk memastikan bahwa hubungannya dengan rekan di kantor tetap sehat. Sehingga kita dapat pastikan, jika kita tulus memperhatikan bawahan kita, maka bawahan kita akan peduli dengan kita juga.
  4. Memenuhi kebutuhan pengembangan bawahan. Seperti halnya kita, para bawahan membutuhkan kesempatan untuk berkembang. Begitu banyak karyawan yang tidak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya. Salah satu penyebabnya adalah karena atasannya keliru mengira bahwa pengembangan karyawan itu harus selalu berupa kenaikan jabatan. Bukan. Berkembang bisa berarti mendapatkan pengalaman baru, makanya menugaskan bawahan untuk bergabung dengan proyek yang melibatkan departemen lain bisa sangat membantu. Berkembang juga bisa berarti meningkatnya pengetahuan. Untuk hal ini juga tidak harus selalu mahal, karena dengan kreativitasnya seorang atasan bisa melakukan sesuatu yang bisa menambah pengetahuan bawahan dengan biaya yang sangat rendah. Mengirimi mereka artikel-artikel yang berkualitas tinggi misalnya. Banyak cara untuk mengembangkan potensi bawahan, jadi tidak harus dengan menaikkan posisi jabatan, karena bisa jadi posisi jabatan yang dinaikkan namun potensinya malah akan merosot, tidak peduli dengan bawahannya juga bahkan bersikap acuh terhadap kita pula. Untuk itu kita dapat melakukan yang terbaik buat bawahan dengan cara bukan menaikkan posisi atau jabatannya, tetapi membuat mereka lebih senang dengan kita dan dirinya sendiri.
  5. Memberi kesempatan karyawan untuk mencurahkan seluruh kemampuannya. Jika kita memiliki kemampuan yang sangat tinggi namun perusahaan tempat kita bekerja tidak dapat memberikan cukup ruang bagi kita untuk menggunakan seluruh kemampuan kita, maka kita akan meninggalkan perusahaan itu. Sebab, kita tahu kalau terus tinggal di perusahaan itu akan menyebabkan kemampuan kita mengecil bahkan menghilang seperti kaki ular yang mengalami proses rudimenter. Atau kita akan menjadi seperti ikan besar yang berada di kolam yang sangat kecil. Begitu pula dengan bawahan kita yang pintar dan berkemampuan tinggi. Maka tidak ada kompromi bagi kita selain memberinya kesempatan untuk mencurahkan segenap kemampuannya. Bawahan tangguh seperti ini tidak terlalu pusing dengan uang. Mereka pusing karena terlalu banyak membiarkan kapasitas dirinya menganggur. Bahkan, mereka yang lebih pintar akan meninggalkan jabatan dan posisinya sebagai pegawai negara, yang notabenenya, hanya tinggal menunggu gajian saja per tanggal satu, tanpa peduli, apakah dia meningkat atau tidak, ke sesuatu yang lebih baik, meskipun tidak harus menjabat dan bukan pegawai negara, sehingga kehidupannya akan menjadi lebih tenang, lebih baik bahkan dia lebih bahagia dengan pekerjaannya saat ini.


Jika kita seorang atasan yang memiliki anak buah, maka kita adalah orang pertama yang bertanggungjawab terhadap Employee Engagement. Tidak ada bawahan yang betah tinggal dan bekerja dengan atasan yang tidak berusaha maksimal untuk membuat mereka kerasan di kantor. Boleh jadi masih banyak karyawan yang tetap tinggal bersama kita, tetapi kita kehilangan orang-orang terbaiknya. Karena mereka yang tinggal di tempat yang tidak menyenangkan mungkin saja sedang menunggu peluang ditempat lain yang lebih baik. Jadi, inilah saatnya bagi setiap atasan untuk benar-benar memikirkan dan memberikan perhatian pada upaya-upaya mewujudkan Employee Engagement.


Seorang atasan itu seperti lem yang berfungsi untuk merekatkan antara bawahannya dengan perusahaan yang memberinya tanggungjawab kepemimpinan. Jadi berlakukanlah diri kita sebaik-baiknya....;)




Betapa Sakitnya Ditolak...... :((


Beri tahu saya jika di dunia ini ada orang yang tidak pernah mendapatkan penolakan. Saya yakin jika setiap orang pernah ditolak.
Ketika menyatakan cinta.
Saat melamar pekerjaan.
Atau mungkin sewaktu mengajukan proposal penjualan.


Dalam menyampaikan penolakan, perilaku orang juga bermacam-macam.
Ada yang menolak dengan lembut, ada juga yang melakukannya secara kasar.
Ada yang berbicara sopan, ada pula yang menghardik bahkan mengumpat-umpat.
Ada yang sambil tetap menjaga perasaan, dan tentunya ada juga yang sekalian menyakiti hati.

Kita tidak bisa menuntut orang lain untuk menolak dengan cara yang kita sukai. Tetapi kita bisa melatih diri untuk menyikapi penolakan yang kita alami secara positif.
Seseorang yang menyikapi penolakan secara negatif pasti hatinya terasa sakit.
Dia bisa tenggelam dalam kekecewaan berkepanjangan sehingga seluruh sisa hidupnya ikut terpengaruh.
Sedangkan orang yang mampu menyikapi penolakan secara positif akan bisa mendamaikan suasana hatinya, menentramkan perasaannya, terus tersenyum, dan yang terlebih penting lagi; sanggup menjalani sisa hidupnya dengan tidak kurang indahnya.

Belajar menyikapi penolakan secara positif, saya ajak kita untuk memulainya dari sekarang dengan menerapkan hal-hal berikut ini:



1. Fahamilah bahwa penolakan tidak berarti KITA buruk.
Setiap penolakan selalu menghasilkan ganjalan di dalam hati.
Tetapi jika orang lain menolak kita, boleh jadi hal itu karena mereka mengira kita terlalu baik untuk diterima.

Jika kualifikasi kita terlalu tinggi untuk suatu posisi yang ditawarkan misalnya, kita pun tidak akan mendapatkan jabatan itu.
Dengan pengalaman dan kemampuan yang sangat banyak serta salary history terakhirnya, seseorang pernah ditolak langsung saat melamar pekerjaan, dengan alasan "maaf, gaji anda sudah level manager, kami tidak membutuhkan anda". Padahal kita sudah menunggu berhari-hari dan interview berjam-jam untuk ditolak.
Seseorang juga bisa menolak cinta kita hanya karena dia menilai kita terlalu baik bagi dirinya.
Dia menginginkan kita mendapatkan pasangan hidup yang lebih baik. Penolakan juga bisa terjadi karena orang lain menilai kita ‘belum’ saatnya diterima. Akan ada ‘saat yang tepat’ baginya untuk menerima kehadiran kita.

Setelah berjuang melawan pesaing kanan dan kiri, mati-matian dibelain, bahkan tenaga, fikiran serta modal uang juga tercurahkan buatnya selama berbulan-bulan, terakhir, kita hanya mendapat kata, "Sorry, You Are Not My Type....."


Jika kita ditolak, janganlah terlalu bersedih hati, karena penolakan tidak selalu berarti kita buruk.



2. Ingatlah selalu bahwa bumi ini sangatlah luas.
Kita sering terlalu lama membenamkan diri dalam rasa kecewa terhadap penolakan yang baru saja dialami.
Harapan seolah sirna begitu saja karena penolakan itu.
Padahal, di luar sana ada begitu banyak kesempatan.
Jika ditolak saat melamar pekerjaan, bukankah didunia ini begitu banyak perusahaan hebat yang memberikan peluang karir yang juga tidak kalah menggiurkannya?

Jika yang menolak itu pujaan hati kita; kenyataannya banyak sekali wanita yang lebih cantik dan lebih memahami kita.
Atau lelaki yang lebih sabar dan lebih pengertian dari orang yang menolak kita.

Sungguh, dunia ini sangatlah luas.
Mengingat betapa banyaknya kesempatan yang ditawarkan oleh dunia, membuat hati kita yakin bahwa selalu ada harapan untuk mendapatkan yang lebih baik dari orang-orang yang telah menolak kita.



3. Introspeksilah terhadap kemungkinan perlunya memperbaiki diri.
Tetap berbesar hati memang sangat penting. Namun, mawas diri juga tidak kalah pentingnya. Penolakan yang kita terima bisa jadi merupakan isyarat agar kita melakukan introspeksi diri.

Jujur kepada diri sendiri, sangat menentukan keberhasilan proses perenungan kita. Dengan kejujuran itu, kita akan menemukan apa saja yang harus diperbaiki, dan apa saja yang layak dipertahankan. Ketika kita berhasil memperbaiki kekurangan diri, maka kita akan tampil sebagai pribadi yang mumpuni.

Orang yang dulu menolak kita, mungkin akan bertemu lagi dengan kita beberapa tahun kemudian. Saat pertemuan itu terjadi, dalam hati dia berkata;”Orang ini sudah berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya !!! ”



4. Berlatihlah untuk meningkatkan kemampuan adaptasi kita.
Keterampilan teknis atau kemampuan kita dalam melakukan sesuatu bisa jadi bukanlah alasan terjadinya penolakan.
Mungkin sikap kaku kita.
Mungkin juga karena kita belum berhasil memperlihatkan kemampuan menyesuaikan diri dengan budaya, gaya, dan pola mereka.

Memang tidak adil jika mereka menilai kita tanpa memberi cukup waktu untuk menunjukkan kemampuan adaptasi kita.

Namun, begitulah kenyataan hidup yang harus kita hadapi. Mereka menilai kita, sedangkan kita tidak memiliki kesempatan untuk melakukan pembelaan. Itu berlaku nyaris dimana saja, sehingga berlatih untuk menyesuaikan diri dan adaptasi kita bisa menjadi cara yang efektif. Kecuali jika kita sudah tidak lagi menginginkannya; beradaptasi dengan gaya mereka bukanlah gagasan yang buruk untuk dicoba.



5. Yakinlah Tuhan memiliki rencana lain yang lebih baik untuk kita.
Setelah berjuang secara maksimal dan bersungguh-sungguh, namun kita masih ditolak juga; mengapa harus bersedih hati?
Memang, penolakan itu bisa menjatuhkan mental kita.
Penolakan juga menghempaskan harapan-harapan kita.
Tapi, bukankah kita tidak tahu persis mana yang ‘benar-benar’ baik dan mana yang ‘kelihatannya’ saja baik untuk kita?
Tidak ada yang mengetahui segala sesuatu melebihi yang Tuhan ketahui tentangnya.
Ketika kita mengkombinasikan usaha maksimal dengan kepasrahan kepada Tuhan, maka Dia akan menunjukkan hal terbaik bagi kita.
Tuhan tidak akan membiarkan kita diterima untuk sesuatu yang bukan hal terbaik bagi kita.
Dia akan membiarkan kita ditolak, lalu mengarahkan kita kepada hal lain yang lebih baik dimataNya.



Penolakan dan penerimaan itu seperti sebuah kesetimbangan.
Ketika penolakan datang, maka penerimaan mengiringinya dari arah yang lain.
Kita hanya perlu menemukan letaknya penerimaan itu saja.
Dan tugas itu akan jauh lebih mudah lagi jika kita sering berkonsultasi dengan Sang Maha Mengetahui.


Beruntunglah orang yang bisa berdamai dengan penolakan. Hatinya tetap tenteram meski didera oleh penolakan yang menyakitkan.


Good Bless U....;)




Membuat Sebuah System Di Unit Kerja (Saat Ini)

Ijinkan saya melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang system kerja di perusahaan kita. Memang ada perbedaan arti dari istilah ‘system’ dalam terminologi teknik, biology, dan management. Tetapi dalam pengelolaan perusahaan atau unit kerja, menggunakan sudut pandang management tentunya jauh lebih relevan. Komputer itu hanyalah salah satu alat untuk meningkatkan efisiensi dan utilisasi system yang kita rancang. Dan sebagai alat, komputer bukanlah segalanya. Jadi, janganlah terlalu berkecil hati jika perusahaan kita belum memiliki ‘system yang terkomputerisasi’. Tentu bagus jika sanggup menyediakan ‘alat’ itu. Tetapi jikapun belum; kita masih bisa membangun ‘system’ yang handal di unit kerja kita .
Kita sudah tahu tentang pentingnya (1) memahami proses bisnis atau alur kerja yang berlaku di unit kerja kita saat ini dan (2) menentukan alur kerja yang diperlukan. Dengan membandingkan temuan pada kedua langkah itu kita akan menemukan ‘gap’ atau selisihnya. Selisih itu bisa besar, bisa kecil bergantung kepada cakupan system yang sudah ada itu terhadap tuntutan kerja. Jika system itu benar-benar ‘belum ada’ berarti gapnya 100%. Bagi kita yang tertarik untuk belajar membuat system di unit kerjanya masing-masing, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:


1. Kumpulkan informasi yang diperlukan.
Sangat penting untuk memperoleh informasi secara internal dalam unit kerja kita agar bisa memastikan system yang kita bangun nanti benar-benar sesuai dengan kebutuhan kerja mereka. Namun, informasi eksternal pun tidak kalah pentingnya. Informasi eksternal dari unit kerja yang lain mungkin hanya digunakan untuk benchmark, tetapi pemahaman kita terhadap system yang berlaku di level korporasi sangat berarti untuk memastikan bahwa system yang kita buat sejalan dengan system yang lebih besar.


2. Buatlah draft system kerja yang hendak kita terapkan.
Sebagai unit Manager atau Supervisor kita tidak bisa menunggu orang lain membuatkan suatu system kerja yang dibutuhkan oleh unit kerja kita . Jadi, mulailah membuat draftnya dengan berbekal pemahaman kita terhadap proses bisnis, kebutuhan aktual dan informasi internal-external yang kita peroleh. Mungkin tidak sempurna, namun itu merupakan langkah yang sangat menentukan apakah unit kerja kita akan memiliki system yang baik atau tidak. Jika kita diam saja, belum tentu seratus tahun lagi ada orang yang peduli. Jadi, buatlah draftnya sekarang juga.


3. Diskusikan draft awal kita dengan orang-orang yang berkepentingan.
kita tentu mengharapkan agar semua orang dalam unit kerja kita bekerja sesuai dengan system yang kita buat. Maka sangat penting bagi kita untuk mendengarkan pandangan mereka. Tidak semua anak buah kita harus diminta pendapatnya. Pilihlah mereka yang selalu kritis namun positif dan konstruktif. Mereka yang pasif, sinis, dan selalu bersikap negatif hanya akan menghambat pembuatan system kita . Selain bawahan, kita juga patut meminta pandangan dari atasan karena system kita erat kaitannya dengan kinerja atasan. Rekan sejawat kita di unit kerja yang lain juga bisa diminta pendapatnya, terutama mereka yang mempunyai keterkaitan kinerja.


4. Uji cobalah system baru kita dan revisi lagi sesuai hasil evaluasi.
Uji coba memberi kita peluang untuk memeriksa kembali apakah system yang kita bangun itu benar-benar handal atau tidak. Ini memperkecil resiko yang bisa ditimbulkan dari kesalahan yang mungkin terjadi. Jauh lebih baik melakukan revisi pada saat uji coba daripada membongkar ulang setelah system itu diterapkan secara keseluruhan. Pada tahap ini juga kita bisa menemukan hal-hal yang tidak dijelaskan didalam text book. Faktanya, perhitungan diatas kertas tidak selalu cocok dengan kenyataan di lapangan. Bergantung kompleksitas system kita , uji coba bisa dilakukan selama beberapa hari hingga beberapa bulan.


5. Latihlah semua orang dalam unit kerja kita .
Salah satu penyebab utama kegagalan penerapan system di banyak perusahaan adalah kurangnya keterampilan karyawan dalam menggunakannya. Tidak peduli sehebat dan sekeren apapun system yang kita bangun, jika orang-orang dalam unit kerja kita tidak mengerti dan tidak terampil untuk menerapkannya; pasti akan menjadi sia-sia saja. Sudah banyak system yang terbengkalai, padahal dibuat dengan biaya yang sangat mahal. Janganlah ikut menambah jumlahnya dengan system kita yang menganggur. Jadi, latihlah mereka sampai benar-benar terampil menjalankannya.


Jika kita mempunyai budget yang cukup untuk membuat otomasi system baru kita itu dengan seperangkat komputer, silakan kita lakukan. Jika budget kita terbatas, maka kita bisa menggunakan program sederhana semisal microsoft excel atau microsoft access. Jika untuk itu pun belum memungkinkan, maka kita bisa menerapkan system baru kita secara manual saja. Ingatlah, bahwa ‘system kerja’ kita adalah nyawanya, sedangkan system komputer hanyalah alat penunjangnya. Memang bagus jika kita bisa memiliki keduanya. Tetapi jika harus memilih salah satunya; maka lupakanlah system komputer, dan berfokuslah kepada system kerjanya.
Tidak ada yang lebih berkepentingan terhadap kehandalan system di unit kerja kita selain diri kita sendiri.
God Bless Us.....;)




How to merge two chart types in Excel (2007)

"Justin" wrote in message:
I have created a column chart and now I want to plot an x-y scatter chart on top of it, but I do not know how to have both of those plot styles in one chart.

OK, lets see...
A combination chart is a chart that combines two or more chart types in a single chart -- for example, a chart that has a line series and a column series. When you choose the Custom Types tab in the first step of the Chart Wizard, you'll find the following combination charts listed:
  • Column - Area
  • Line - Column
Many users think that these are the only two combination charts that are possible. In fact, you have a great deal of flexibility in creating combination charts. They key is understanding how the Chart - Chart Type command works. When you select this command, it works in either of two ways:

If a series is selected in the chart, the chart type that you choose applies only to the selected series.

Or...

If anything other than a series is selected, the chart type that you choose applies to all series in the chart.

Now, Let's Try....
With the right helpful hints, it turns out that making this kind of chart isn’t too tough. First, I’ll walk through the two major steps (changing series chart types, and adding an axis) and then I’ll describe how to put the finishing touches on this chart.

STEP 1: So that we’re on the same page, I’m starting with the following simple data set:


I could also format this as a table by simply clicking “Format as Table” on the Home tab of the ribbon and choosing any of the styles. By setting up a table, I can more easily read the data, and I can also do more advanced things like filtering the data (more on this in the Tables section of the Excel blog). I’ve included what the table might look like below, but for simplicity’s sake, I’ll carry through the rest of the example without the table formatting.

Combining Different Chart Types
The first step in building a chart with more than one type is to actually set up a chart with just one type. Here, I want a chart with columns and lines, but I’ll start with a regular column chart. (Note: It actually doesn’t matter which chart type you start with, but if you’re working with a lot of series, I’d pick the chart type which applies to the majority of your series – it’ll mean less work for you later).

STEP 2: Select the data you entered in STEP 1. Go to the “Insert” tab on the ribbon and insert a column chart (as shown below).


Now we have a column chart with two series, both charted on the same axis. This is all of our data, but it is not displayed in a meaningful way. Because of the difference in scale between transactions and units sold, we can barely even see the units sold series:


The next big step is changing the chart type of the “Total Transactions” series into a line.

STEP 3: Select a series. We want to select the series we’d like to change to a different type – in this case it’s the “Total Transactions” series.

Selecting the series: You can select a data series in one of many ways. I’ll outline the two most common here. Note: This is where most people trip up, so pay careful attention to select a series rather than the whole chart or an individual data point.

Option 1: Click on the series in the chart.
Note: Don’t click on the legend text “Total Transactions”. Rather, click on one of the red bars in the chart. You should now see that series highlighted as follows (note the little blue circles on the red columns):


Option 2: Click on either the Chart Format tab or the Chart Layout tab of the Ribbon.
Note: these tabs only appear when you have the chart selected. So if you don’t see them, click your chart to select it.
At the leftmost part of the ribbon on either of these tabs, there’s a section called “Current Selection”. In “Current Selection” there’s a dropdown menu. At this point, it probably says “Chart Area”.



Click this dropdown menu and select the series you would like to change – in this case, choose Series “Total Transactions ($)”.



STEP 4: Change the selected series’ chart type.
First, get to the “Design” tab on the ribbon. If you followed Option 1 above, you’re already there. If you followed option two, you’re either on the Chart Layout or Chart Format tab, so you’ll need to click the “Design” tab. Then click the left-most option on the ribbon “Change Chart Type”.


Bring up the Chart Type Picker. Select the new type you’d like. In this case, select the Line chart and hit “OK”.


Now we’ve created a chart with two types (column and line). In fact, you can combine far more than two types by repeating the process with another series, and selecting a different type from the chart type picker.

Adding a Secondary Axis
Our chart is still difficult to analyze, because the scale of the Transactions is much larger than the scale of the Units Sold. As a result, we can barely read the Units Sold series and can’t gain any useful insight from the virtually indistinguishable columns. The Total Transactions should be moved to a secondary axis, allowing the series to be scaled differently.

STEP 5: Select the data series you wish to place on the secondary axis.
In this case it’s the “Total Transactions” series.

Do this exactly as you did in STEP 3.

STEP 6: Navigate to the Format or Layout tab if you’re not already there.
If you chose Option 2 in selecting the data series, you’re already there.

Now, in the “Current Selection” section at the far left, make sure the dropdown selection reads “Series ‘Total Transactions’” and then click “Format Selection” (right below the dropdown).


STEP 7: Clicking Format Selection with the series selected will bring up the Formatting dialog.
It will open to the Series Options tab with Primary Axis selected. Click the “Secondary Axis” radio button and then click “Close”.


You’ve now successfully added a second axis to your chart.

Finishing Formatting Touches
The following things are just finishing touches for your combination chart.

STEP 8: Move the legend to the bottom.
Click the Chart Layout tab on the ribbon. Then click “Legend” in the middle of the ribbon. Choose “Show Legend at Bottom”.


STEP 9: Change secondary axis labels to display dollar signs.
Right-click the axis label and select “Format Axis”.

Then click the Number tab at the left-hand side of the dialog that has just opened up (the Format Axis dialog). Then click “Currency” from the Category list. If you don’t like a decimal place and subsequent zeros, remove the two rightmost zeros and the decimal place from the “Format Code”. Then click “Add”. Finally, click “Close”.


STEP 10: Add axis titles.
Go to the Layout tab on the ribbon and choose “Axis Titles”. From the dropdown, choose “Primary Vertical Axis”. Then choose whichever one you’d like – in this case I’d choose “Rotated Title”. Type in the title you’d like. Do the same for the Secondary Vertical Axis.



STEP 11: Add a chart title.
Navigate to the Layout tab on the ribbon. Click “Chart Title” towards the left-hand side. Choose whichever title you’d like (I’ve chosen “Above Chart” for mine). Input your title.
Finally, you finish with the following combination chart:


By repeating the steps above with more series and different types, you can make even more complex charts.

Or we can do other way, just like Jon Peltier, Microsoft Excel MVP, says in short:
"Add the data for the second series. I like to copy the range, select the chart, and use Paste Special to add the data as a new series. Right click the new series, which was added as a column type, select the Chart Type item from the pop up menu, and in the dialog, select the chart type you want to change the series to. "

Note:
Not all chart types can be used in a combination chart. For example, Excel does not allow any of the 3-D chart types to be used in a combination chart.

The figure below carries this concept to the extreme. This combination chart displays five series, and each series uses a different chart type. This chart, of course, is provided for demonstration purposes only. I can't think of any situation that would warrant such a confusing chart!

Good Luck*)



Apakah Anda Lembek dan Tidak Memiliki Daya Saing ???


Persaingan ada di mana-mana, termasuk di kantor. Para staf bersaing untuk dipromosi menjadi supervisor, para supervisor bersaing untuk menjadi manager, dan para manager bersaing meraih kursi direktur. Cita-cita, ambisi, dan tekad yang membara berseliweran dimana-mana. Salah? Bergantung bagaimana cara bersaingnya. Jika persaingan itu diwarnai oleh sikap dan tindakan yang tidak berkehormatan, maka dampaknya sangat buruk. Tetapi jika persaingan itu dilakukan secara sehat, maka efeknya sangat konstruktif.

Kita hanya akan bisa bersaing secara sehat jika berfokus kepada pembentukan kompetensi, sehingga setiap orang saling berlomba menunjukkan kemampuannya dalam berkontribusi. Untuk Kita, saya ingin menghadiahkan 5 cara yang sangat efektif dalam menghadapi persaingan di kantor, sehingga kompetensi Kita meningkat, dan kontribusi Kita juga bertambah. Berikut ini adalah uraiannya.
  1. Yakini jika disana ada kesempatan yang sama. Banyak orang yang menganggap perusahaan, managemen dan atasannya tidak adil dan pilih kasih. Promosi hanya didasari oleh rasa suka atau tidak suka. Yakinlah bahwa di perusahaan tempat Kita bekerja berlaku azas kesempatan yang sama. Bagaimana jika di kantor Kita benar-benar tidak terdapat kesetaraan kesempatan itu? Jangan terus menumpang hidup disitu dong. Juallah diri Kita ke perusahaan yang menganut prinsip ‘Equal Employment Opportunity’. Apakah ada perusahaan seperti itu? Tentu saja.
  2. Perlihatkan kapasitas diri Kita. Cara paling ampuh untuk dipromosi adalah dengan menunjukkan bahwa kapasitas diri Kita memang tinggi sekali sehinga sudah selayaknya mendapatkan tanggungjawab yang lebih besar. Jangan menunggu dipromosi jadi Manager dulu untuk menunjukkan Kita mampu menjadi seorang manager. Tunjukkan bahwa Kita mampu bekerja sekualitas Direktur, sebelum Kita menjadi direktur. Jika Kita bisa begitu, maka jabatan itu tidak akan lari kemana-mana; pasti Kita duluan yang mendapatkan kesempatan. Kitalah yang kemudian menentukan, mau mengambil kesempatan itu atau tidak.
  3. Bangun hubungan yang sehat dengan atasan dan orang lain. Banyak orang yang kemampuan teknisnya sangat tinggi namun tidak bisa dipromosi karena tidak memiliki people skill yang memadai. Ingatlah bahwa promosi bukan sekedar urusan teknis sehingga hanya mengandalkan faktor teknis saja sering membuat orang kecewa. Jadi, belajarlah membangun hubungan yang baik dengan orang-orang di kantor, karena itu adalah salah satu faktor yang sangat penting bagi karir Kita.
  4. Lapang dada jika kolega Kita yang dipilih. Proses seleksi promosi itu nyaris seperti sebuah pertandingan. Ada kalah, ada menang. Ada gagal, ada berhasil. Banyak orang yang mau bertanding tapi tidak mau menerima kekalahan. Ketika orang lain yang dipromosi, mereka mutung lalu membuat masalah. Sungguh, sikap seperti itu hanya merugikan dirinya sendiri. Jika Kita berani mengikuti proses seleksi promosi, siapkan mental untuk menang atau kalah. Jika menang Kita siap mengemban tugas. Jika kalah juga Kita siap untuk menerimanya dengan lapang dada.
  5. Tetaplah berpikir dan bersikap positif. Pikiran dan sikap positif memberikan dampak positif bagi diri sendiri dan orang lain. Kita akan tetap sehat, dan terus berkembang. Seperti magnet, kedua hal positif itu juga menarik respon positif dari lingkungan atau orang-orang disekitar Kita. Sebaliknya, jika Kita memenuhi diri dengan pikiran dan sikap negatif, maka Kita sendiri yang rugi. Orang lain pun tidak akan menaruh simpati sama sekali, sehingga Kita akan semakin dijauhi. Jadi, berpikir dan bersikaplah secara positif.
Hasil dari sebuah persaingan bukanlah akhir dari perjalanan karir Kita.

Jika Kita memenangkan persaingan itu, maka Kita harus menunjukkan bahwa memang Kita pantas mendapatkan promosi itu.

Jika tidak, maka Kita akan diremehkan. Jika Kita kalah bersaing? Perjalanan masih panjang, jadi tenang saja. Siapkan diri untuk fase persaingan berikutnya.

Orang-orang yang berfokus kepada kualitas pribadi tidak mudah terpengaruh oleh keadaan di luar dirinya. Dipromosi atau tidak, dia terus saja menempa diri.


Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow on Twitter @irwantoko ;)



Yang Diharapkan Oleh Bawahan Dari Atasannya !!!



Menjadi seorang atasan adalah impian setiap karyawan. Tentu karena itu identik dengan jabatan yang lebih tinggi, pendapatan yang lebih banyak, dan kebanggaan yang lebih besar. Makanya setiap orang berlomba-lomba untuk menjadi atasan. Lantas apabila sudah menjadi atasan, apakah semuanya selesai sampai disana?

Kita, tentu ingin menjadi atasan yang memiliki kebanggaan. Apa gunanya menjadi atasan jika disepelekan oleh bawahan, atau hanya sekedar menjadi boneka yang tidak memiliki karisma.

Menjadi atasan bukan sekedar soal kedudukan, penghasilan, atau kebanggaan. Menjadi atasan adalah soal memimpin secara de facto dan memberi pengaruh positif kepada unit kerja yang kita pimpin.


Untuk bisa memenuhi fungsi itu, maka seorang atasan harus memahami apa yang diharapkan oleh bawahannya. Saya merangkum 5 hal yang diharapkan oleh bawahan dari atasannya sebagai berikut.
  • Keteladanan. Tidak ada perintah yang lebih ampuh dari keteladanan. Dengan keteladanan bahkan seorang atasan tidak perlu berkata-kata lagi untuk mendorong anak buahnya melakukan sesuatu. Sebaliknya, tanpa keteladanan; perintah kita hanya akan diikuti dengan gerutuan bawahan. Misalnya, Kita berkata; ‘Jangan datang terlambat ke kantor!”. Jika kita sendiri sering terlambat, maka bawahan kita hanya akan menganggap perintah kita sebagai lelucon belaka. Namun, jika kita sendiri tepat waktu, maka bawahan kita akan belajar untuk berdisiplin. Misalnya, memperpanjang libur atau cuti boleh, asal sesuai dengan kinerja yang dipenuhi dan pelayanan terhadap klient (massa) tidak diabaikan, terutama yang katanya abdi negara.

  • Bersikap adil. Setiap orang sangat ingin diperlakukan secara adil. Dengan keadilan, maka atasan memberi teguran atau sanksi yang pantas kepada bawahan yang berbuat kesalahan, dan memberi pujian atau reward yang patut kepada mereka yang telah menunjukkan kesungguhan. Keputusan dibuat bukan berdasarkan kedekatan atau hubungan primordial belaka, melainkan karena kompetensi, profesionalisme, dan kontribusi masing-masing. Meskipun ada saja bawahan yang mungkin tidak puas, tetapi kepada atasan yang adil; mereka tetap menaruh respek yang tinggi. Gaji tinggi pun akan diberikan namun kredibilitas dan kinerjanya harus sesuai, jika tidak gajinya harus di-Nol-kan, apalagi cuman NATO (Not Action Talk Only) atau NASO (Not Action Sleep Only).

  • Penilaian yang objektif. Atasan memiliki kekuasaan untuk memberikan penilaian. Setidak-tidaknya, sekali dalam setahun melalui performance appraisal process. Dalam keseharian, penilaian juga dilakukan terhadap kualitas kerja dan kedisiplinan bawahan. Hampir tidak ada kontrol terhadap kualitas penilaian atasan, sehingga faktor subyektivitas kadang-kadang mempengaruhi penilaian. Tetaplah bersikap objektif, karena dengan sikap objektif itu kita bisa memberikan penilaian yang benar-benar fair dan dapat dipertanggungjawabkan. Bawahan kita juga akan belajar untuk semakin memperbaiki perilaku dan kinerjanya, karena mereka tahu bahwa faktor kedekatan atau basa-basi tidak akan bisa mempengaruhi penilaian kita.

  • Memberi kesempatan untuk berkembang. Seperti halnya kita yang menginginkan perkembangan karir dan pendapatan, bawahan kita juga sama. Para bawahan sangat mengharapkan atasan yang senantiasa bersedia untuk memberi ruang kepada perkembangan pribadinya. Apakah kita melakukannya dengan mengirimkan mereka pada sebuah pelatihan, memanggilkan trainer dari luar, atau boleh jadi sekedar membangun lingkungan kondusif yang memungkinkan terjadinya pertukaran ilmu, pengetahuan, dan keterampilan sesama mereka. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan, bahkan tanpa biaya sekalipun. Namun, kesempatan yang diberikan sebaiknya juga dikontrol, misalnya, apakah free wifi dan tabletPC yang gratis diakses untuk kebutuhan mesum saat sidang pariporno?!

  • Memperhatikan masa depannya. Pertanyaan yang selalu ada dalam benak setiap bawahan adalah; akan menjadi seperti apakah masa depan saya? Sebagian dari mereka bahkan berdebar-debar dengan status kontraknya, apakah akan diperpanjang atau tidak. Sebagai atasan, kita bertanggungjawab untuk memastikan bahwa masa depan mereka akan baik-baik saja. Ajaklah mereka untuk berkontribusi semaksimal mungkin, agar semakin memudahkan kita dalam memperjuangkan nasib mereka. Dengan demikian; Anda mendapatkan komitmen kinerja bawahan, sedangkan bawahan mendapatkan komitmen dari Anda untuk berupaya semaksimal mungkin memperhatikan masa depan karir mereka.


Tidak ada atasan yang sempurna. Namun, ada diantara atasan yang benar-benar menggunakan kedudukannya untuk menyokong kebutuhan dan harapan-harapan bawahannya. Meskipun tidak mungkin untuk memuaskan semua orang, tetapi selama kita mampu memenuhi ke-5 harapan diatas, yakinlah; kita bisa menjadi atasan yang layak untuk dibanggakan.

Menjadi atasan itu adalah amanah kepemimpinan. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.


Me: LAMAT/HIS at HSP Pasuruan District, East Java 2009 -2010

Suatu saat saya pernah ditanya, "Berapa lama untuk mengcover sebuah project yang membutuhkan keterlibatan masyarakat dan/atau institusi daerah dalam satu kabupaten/kota dengan seluruh kecamatan dan desa tercover di dalamnya? Dua tahun atau lima tahun?"

Menurut pengalaman saya, ya saya jawab," Kalau sepengetahuan saya, tiga sampai enam bulan saja sudah cukup. Caranya, saya sudah menemukan formulanya yang tepat, dan kenyataan juga sudah membuktikan. Salah satunya di ..... sini.....'

"Apa itu?"

"Ini adalah pekerjaan 6 bulan, covered kabupaten dengan 23 institusi (Puskesmas) terkait di dalamnya beserta semua kelurahan/desa serta dusun di dalam desa atau RT/RW, semuanya tercover dalam waktu kurang dari 6 bulan. Tidak perlu bercerita, ini..."

"Whaooo.....! Let's see"

If the video does not play, please refer to this link to see what is WOW :)
Please click here: https://www.youtube.com/watch?v=nNv56dJfdKI

LAMAT, HIS, HSP, Pasuruan District, East Java 2009 - 2010