Showing posts with label manajemen. Show all posts
Showing posts with label manajemen. Show all posts

Employee Engagement? Kenapa harus meningkat ?

Employee Engagement (EE) bukanlah masalah yang hangat dibicarakan hanya di Negara berkembang seperti Indonesia saja. Perusahaan-perusahaan di Negara paling maju sekalipun menghadapi masalah yang sangat pelik untuk diselesaikan ini. Banyak yang masih secara keliru mengira bahwa para karyawan bisa diikat oleh gaji tinggi. Padahal, hanya mereka yang tidak mampu mendapatkan pekerjaan di tempat lain saja yang masih rela melakukan apapun demi gajinya. Mereka yang memiliki daya jual dan daya juang tinggi pasti akan hengkang juga. Sungguh, ini bukan semata-mata soal uang. Jadi apa dong penyebab utamanya?


Penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor paling utama yang menyebabkan rendahnya tingkat EE ternyata adalah atasannya. Jadi, jika Kita memiliki masalah serius dengan rendahnya EE dikalangan anak buah Kita, maka sudah waktunya untuk bercermin sambil bertanya; “Apakah saya sudah menjadi atasan yang baik bagi para bawahan saya?” Bagi Kita yang tertarik untuk menemani saya mamahami peran atasan dalam meningkatkan Employee Engagement, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:


  1. Memahami kebutuhan dan keinginan karyawan. Ada bedanya antara kebutuhan dengan keinginan. Memahami keduanya membantu atasan untuk menentukan mana yang layak untuk diperjuangkan atau diberikan kepada bawahan, dan mana yang tidak perlu terlalu dihiraukan. Kebutuhan mengacu kepada apa yang pantas mereka dapatkan berkaitan dengan hubungan kerja, sedangkan keinginan berkaitan dengan tuntutan-tuntutan yang belum tentu patut untuk mereka dapatkan. Segala sesuatu yang pantas mereka peroleh itulah yang wajib hukumnya untuk diperjuangkan oleh seorang atasan. Harapan karyawan itu beragam macam sehingga tidak mungkin seluruhnya bisa dipenuhi. Memahami antara kebutuhan dan keinginan mereka membantu atasan untuk melakukan penyaringan sehingga lebih efektif dalam menggunakan sumberdaya. Jadi sebaiknya kita perlu turun ke bawah dan lebih erat dengan bawahan kita, sehingga keinginan dan kebutuhan mereka, akan segera dapat kita colect. Adalah menjadi pandangan yang sangat keliru jika atasan tidak boleh dekat dengan bawahan agar kharismanya tidak pudar. Adalah hal yang salah juga jika salah satu Pembantu Direktur Perguruan Tinggi melarang dosen-dosennya dekat dengan mahasiswanya. Kita perlu mencontoh kepemimpinan Presiden Soekarno yang dekat dengan rakyatnya, bahkan Presiden Soeharto juga melakukan hal yang sama sehingga tahu persis apa yang dia bisa lakukan demi kepentingan bersama agar kebutuhan dan keinginan bawahannya terwujud. Kita boleh mencontohnya, bukan begitu?!
  2. Bersedia mendengarkan masukan dan keluhan bawahan. Tidak semua masukan dari bawahan relevan dan bisa diimplementasikan. Juga tidak semua keluhan bawahan bersifat objektif dan berada dalam kewenangan atasan. Tetapi, kesediaan seorang atasan untuk mendengarkan memberikan sinyal positif terhadap kepercayaan bawahan. Mereka bisa merasakan bahwa di kantornya masih ada kesempatan untuk menyalurkan aspirasi. Tersumbatnya saluran penampung aspirasi sering menyebabkan hilangnya kepercayaan bawahan. Dalam jangka panjang hal ini bisa berubah menjadi gejolak yang sulit untuk diredam. Bahkan sekalipun atasan tidak sanggup untuk memenuhinya, bawahan mendapatkan kepuasan ketika suaranya didengar oleh atasan. Saluran aspirasi tersebut dapat dilakukan dengan banyak cara, bisa dengan menggunakan email yang diberikan langsung dari atasan ke bawahan jika ingin mengungkapkan aspirasinya, atau kotak saran, atau bahkan dengan mengadakan rapat-rapat kecil yang tidak formal, bisa pada saat makan siang, gathering, dan sebagainya, intinya, dengarkan semua aspirasi dengan berbagai cara, dan ingatlah siapa yang berbicara, karena dia adalah aset berharga institusi untuk lebih maju dan sukses.
  3. Menjaga ketulusan hati dalam hubungan dengan bawahan. Saya meyakini bahwa ketulusan adalah kunci terpenting dalam membangun sebuah hubungan. Khususnya antara atasan dan bawahan. Hubungan yang didasari oleh ketulusan tidak sekedar diukur dari keramahan, sebab atasan yang berkarakter keras bukanlah tipe orang yang bisa dipaksa untuk berubah wajah menjadi ramah dan murah senyum. Sebaliknya, bawahan yang kurang supel juga tidak bisa dipaksa untuk hay-hay-hey-hey dengan atasannya. Ketulusan hubungan mengijinkan bawahan untuk mengkritik atasannya, dan memberi keleluasaan bagi atasan untuk menegur bawahannya yang kurang baik. Selama ada ketulusan itu, seseorang tidak harus mengubah kepribadian untuk memastikan bahwa hubungannya dengan rekan di kantor tetap sehat. Sehingga kita dapat pastikan, jika kita tulus memperhatikan bawahan kita, maka bawahan kita akan peduli dengan kita juga.
  4. Memenuhi kebutuhan pengembangan bawahan. Seperti halnya kita, para bawahan membutuhkan kesempatan untuk berkembang. Begitu banyak karyawan yang tidak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya. Salah satu penyebabnya adalah karena atasannya keliru mengira bahwa pengembangan karyawan itu harus selalu berupa kenaikan jabatan. Bukan. Berkembang bisa berarti mendapatkan pengalaman baru, makanya menugaskan bawahan untuk bergabung dengan proyek yang melibatkan departemen lain bisa sangat membantu. Berkembang juga bisa berarti meningkatnya pengetahuan. Untuk hal ini juga tidak harus selalu mahal, karena dengan kreativitasnya seorang atasan bisa melakukan sesuatu yang bisa menambah pengetahuan bawahan dengan biaya yang sangat rendah. Mengirimi mereka artikel-artikel yang berkualitas tinggi misalnya. Banyak cara untuk mengembangkan potensi bawahan, jadi tidak harus dengan menaikkan posisi jabatan, karena bisa jadi posisi jabatan yang dinaikkan namun potensinya malah akan merosot, tidak peduli dengan bawahannya juga bahkan bersikap acuh terhadap kita pula. Untuk itu kita dapat melakukan yang terbaik buat bawahan dengan cara bukan menaikkan posisi atau jabatannya, tetapi membuat mereka lebih senang dengan kita dan dirinya sendiri.
  5. Memberi kesempatan karyawan untuk mencurahkan seluruh kemampuannya. Jika kita memiliki kemampuan yang sangat tinggi namun perusahaan tempat kita bekerja tidak dapat memberikan cukup ruang bagi kita untuk menggunakan seluruh kemampuan kita, maka kita akan meninggalkan perusahaan itu. Sebab, kita tahu kalau terus tinggal di perusahaan itu akan menyebabkan kemampuan kita mengecil bahkan menghilang seperti kaki ular yang mengalami proses rudimenter. Atau kita akan menjadi seperti ikan besar yang berada di kolam yang sangat kecil. Begitu pula dengan bawahan kita yang pintar dan berkemampuan tinggi. Maka tidak ada kompromi bagi kita selain memberinya kesempatan untuk mencurahkan segenap kemampuannya. Bawahan tangguh seperti ini tidak terlalu pusing dengan uang. Mereka pusing karena terlalu banyak membiarkan kapasitas dirinya menganggur. Bahkan, mereka yang lebih pintar akan meninggalkan jabatan dan posisinya sebagai pegawai negara, yang notabenenya, hanya tinggal menunggu gajian saja per tanggal satu, tanpa peduli, apakah dia meningkat atau tidak, ke sesuatu yang lebih baik, meskipun tidak harus menjabat dan bukan pegawai negara, sehingga kehidupannya akan menjadi lebih tenang, lebih baik bahkan dia lebih bahagia dengan pekerjaannya saat ini.


Jika kita seorang atasan yang memiliki anak buah, maka kita adalah orang pertama yang bertanggungjawab terhadap Employee Engagement. Tidak ada bawahan yang betah tinggal dan bekerja dengan atasan yang tidak berusaha maksimal untuk membuat mereka kerasan di kantor. Boleh jadi masih banyak karyawan yang tetap tinggal bersama kita, tetapi kita kehilangan orang-orang terbaiknya. Karena mereka yang tinggal di tempat yang tidak menyenangkan mungkin saja sedang menunggu peluang ditempat lain yang lebih baik. Jadi, inilah saatnya bagi setiap atasan untuk benar-benar memikirkan dan memberikan perhatian pada upaya-upaya mewujudkan Employee Engagement.


Seorang atasan itu seperti lem yang berfungsi untuk merekatkan antara bawahannya dengan perusahaan yang memberinya tanggungjawab kepemimpinan. Jadi berlakukanlah diri kita sebaik-baiknya....;)




Betapa Sakitnya Ditolak...... :((


Beri tahu saya jika di dunia ini ada orang yang tidak pernah mendapatkan penolakan. Saya yakin jika setiap orang pernah ditolak.
Ketika menyatakan cinta.
Saat melamar pekerjaan.
Atau mungkin sewaktu mengajukan proposal penjualan.


Dalam menyampaikan penolakan, perilaku orang juga bermacam-macam.
Ada yang menolak dengan lembut, ada juga yang melakukannya secara kasar.
Ada yang berbicara sopan, ada pula yang menghardik bahkan mengumpat-umpat.
Ada yang sambil tetap menjaga perasaan, dan tentunya ada juga yang sekalian menyakiti hati.

Kita tidak bisa menuntut orang lain untuk menolak dengan cara yang kita sukai. Tetapi kita bisa melatih diri untuk menyikapi penolakan yang kita alami secara positif.
Seseorang yang menyikapi penolakan secara negatif pasti hatinya terasa sakit.
Dia bisa tenggelam dalam kekecewaan berkepanjangan sehingga seluruh sisa hidupnya ikut terpengaruh.
Sedangkan orang yang mampu menyikapi penolakan secara positif akan bisa mendamaikan suasana hatinya, menentramkan perasaannya, terus tersenyum, dan yang terlebih penting lagi; sanggup menjalani sisa hidupnya dengan tidak kurang indahnya.

Belajar menyikapi penolakan secara positif, saya ajak kita untuk memulainya dari sekarang dengan menerapkan hal-hal berikut ini:



1. Fahamilah bahwa penolakan tidak berarti KITA buruk.
Setiap penolakan selalu menghasilkan ganjalan di dalam hati.
Tetapi jika orang lain menolak kita, boleh jadi hal itu karena mereka mengira kita terlalu baik untuk diterima.

Jika kualifikasi kita terlalu tinggi untuk suatu posisi yang ditawarkan misalnya, kita pun tidak akan mendapatkan jabatan itu.
Dengan pengalaman dan kemampuan yang sangat banyak serta salary history terakhirnya, seseorang pernah ditolak langsung saat melamar pekerjaan, dengan alasan "maaf, gaji anda sudah level manager, kami tidak membutuhkan anda". Padahal kita sudah menunggu berhari-hari dan interview berjam-jam untuk ditolak.
Seseorang juga bisa menolak cinta kita hanya karena dia menilai kita terlalu baik bagi dirinya.
Dia menginginkan kita mendapatkan pasangan hidup yang lebih baik. Penolakan juga bisa terjadi karena orang lain menilai kita ‘belum’ saatnya diterima. Akan ada ‘saat yang tepat’ baginya untuk menerima kehadiran kita.

Setelah berjuang melawan pesaing kanan dan kiri, mati-matian dibelain, bahkan tenaga, fikiran serta modal uang juga tercurahkan buatnya selama berbulan-bulan, terakhir, kita hanya mendapat kata, "Sorry, You Are Not My Type....."


Jika kita ditolak, janganlah terlalu bersedih hati, karena penolakan tidak selalu berarti kita buruk.



2. Ingatlah selalu bahwa bumi ini sangatlah luas.
Kita sering terlalu lama membenamkan diri dalam rasa kecewa terhadap penolakan yang baru saja dialami.
Harapan seolah sirna begitu saja karena penolakan itu.
Padahal, di luar sana ada begitu banyak kesempatan.
Jika ditolak saat melamar pekerjaan, bukankah didunia ini begitu banyak perusahaan hebat yang memberikan peluang karir yang juga tidak kalah menggiurkannya?

Jika yang menolak itu pujaan hati kita; kenyataannya banyak sekali wanita yang lebih cantik dan lebih memahami kita.
Atau lelaki yang lebih sabar dan lebih pengertian dari orang yang menolak kita.

Sungguh, dunia ini sangatlah luas.
Mengingat betapa banyaknya kesempatan yang ditawarkan oleh dunia, membuat hati kita yakin bahwa selalu ada harapan untuk mendapatkan yang lebih baik dari orang-orang yang telah menolak kita.



3. Introspeksilah terhadap kemungkinan perlunya memperbaiki diri.
Tetap berbesar hati memang sangat penting. Namun, mawas diri juga tidak kalah pentingnya. Penolakan yang kita terima bisa jadi merupakan isyarat agar kita melakukan introspeksi diri.

Jujur kepada diri sendiri, sangat menentukan keberhasilan proses perenungan kita. Dengan kejujuran itu, kita akan menemukan apa saja yang harus diperbaiki, dan apa saja yang layak dipertahankan. Ketika kita berhasil memperbaiki kekurangan diri, maka kita akan tampil sebagai pribadi yang mumpuni.

Orang yang dulu menolak kita, mungkin akan bertemu lagi dengan kita beberapa tahun kemudian. Saat pertemuan itu terjadi, dalam hati dia berkata;”Orang ini sudah berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya !!! ”



4. Berlatihlah untuk meningkatkan kemampuan adaptasi kita.
Keterampilan teknis atau kemampuan kita dalam melakukan sesuatu bisa jadi bukanlah alasan terjadinya penolakan.
Mungkin sikap kaku kita.
Mungkin juga karena kita belum berhasil memperlihatkan kemampuan menyesuaikan diri dengan budaya, gaya, dan pola mereka.

Memang tidak adil jika mereka menilai kita tanpa memberi cukup waktu untuk menunjukkan kemampuan adaptasi kita.

Namun, begitulah kenyataan hidup yang harus kita hadapi. Mereka menilai kita, sedangkan kita tidak memiliki kesempatan untuk melakukan pembelaan. Itu berlaku nyaris dimana saja, sehingga berlatih untuk menyesuaikan diri dan adaptasi kita bisa menjadi cara yang efektif. Kecuali jika kita sudah tidak lagi menginginkannya; beradaptasi dengan gaya mereka bukanlah gagasan yang buruk untuk dicoba.



5. Yakinlah Tuhan memiliki rencana lain yang lebih baik untuk kita.
Setelah berjuang secara maksimal dan bersungguh-sungguh, namun kita masih ditolak juga; mengapa harus bersedih hati?
Memang, penolakan itu bisa menjatuhkan mental kita.
Penolakan juga menghempaskan harapan-harapan kita.
Tapi, bukankah kita tidak tahu persis mana yang ‘benar-benar’ baik dan mana yang ‘kelihatannya’ saja baik untuk kita?
Tidak ada yang mengetahui segala sesuatu melebihi yang Tuhan ketahui tentangnya.
Ketika kita mengkombinasikan usaha maksimal dengan kepasrahan kepada Tuhan, maka Dia akan menunjukkan hal terbaik bagi kita.
Tuhan tidak akan membiarkan kita diterima untuk sesuatu yang bukan hal terbaik bagi kita.
Dia akan membiarkan kita ditolak, lalu mengarahkan kita kepada hal lain yang lebih baik dimataNya.



Penolakan dan penerimaan itu seperti sebuah kesetimbangan.
Ketika penolakan datang, maka penerimaan mengiringinya dari arah yang lain.
Kita hanya perlu menemukan letaknya penerimaan itu saja.
Dan tugas itu akan jauh lebih mudah lagi jika kita sering berkonsultasi dengan Sang Maha Mengetahui.


Beruntunglah orang yang bisa berdamai dengan penolakan. Hatinya tetap tenteram meski didera oleh penolakan yang menyakitkan.


Good Bless U....;)




ONLINE SHOPPING, BELANJA ONLINE, AMANKAH ?

Ada rekan bertanya kepada saya, "Bos, kalau kita belanja dengan internet bagaimana caranya ? Aman tidak, soalnya kan pakai transfer uang lewat ATM atau kadang pakai CC atau bagaimana enaknya... Gimana donk, barangnya lagi bagus nich......?".

Baiklah, mari kita bahas satu-satu.

Pengertian belanja online
Belanja online merupakan proses pembelian barang/jasa oleh konsumen ke penjual real-time, tanpa pelayan dan melalui Internet. Toko virtual ini mengubah paradigm proses membeli produk/jasa dibatasi oleh tembok, pengecer atau mall. Proses tanpa batasan ini dinamakan belanja online Business-to-Consumer (B2C). Ketika pebisnis membeli dari pebisnis yang lain dinamakan belanja online Business-to-Business (B2B). Keduanya adalah bentuk e-commerce (electronic commerce). Diawali tahun 1990-an, Tim Berners-Lee dengan WWW server pertamanya, membuka penggunaannya secara komersial dan dipergunakan sebagai sistem online toko pizza, Pizza Hut. Tahun 1994, Netscape memperkenalkan enkripsi data SSL transfer online, agar belanja lebih aman. Tahun 1995, Amazon meluncurkan situs belanja online, dilanjutkan dengan eBay di tahun 1996.


Karakter Toko Online
Toko online, tersedia selama 24 jam sehari, memiliki lebih banyak konsumen yang mengakses lewat internet kapan dan di mana pun, lebih banyak menghemat BBM dan waktu. Toko online menjelaskan produk yang dijual dengan baik, melalui teks, foto dan file multimedia. Mereka juga menyediakan informasi produk, prosedur keselamatan, saran, dan cara penggunaannya, fasilitas untuk berkomentar, me-ranking itemnya, akses meninjau situs lain, fasilitas real-time menjawab pertanyaan pelanggan, sehingga mempercepat mendapat kata sepakat pembelian dari berbagai vendor pemilik toko online.

Toko Online selalu meningkatkan kinerjanya dengan menganalisa pengunjungnya sehingga mereka tahu bahwa kita ada, bagaimana dan mengapa kita datang, di mana kita melihat dan mencari produknya, melihat apa yang kita beli, dan bagian apa yang kita tidak suka, serta mengapa kita pergi tanpa membeli. Berdasarkan informasi itu, mereka mengoptimalkan diri untuk memenuhi kebutuhan pengunjungnya agar lebih baik, misalnya dengan fasilitas search box, reviews of products, personalized recommendations, dan lain-lain.

Konsumen lebih memperhatikan aspek kemudahan mendapatkan barang dan metode pembayarannya. Konsumen hanya perlu menghubungi retailer-nya, menunggu kiriman dari pos. Biasanya pengiriman dalam jumlah kecil, jauh lebih mahal dari pengiriman lebih besar, bahkan ada yang menawarkan pengiriman gratis pada pesanan yang cukup besar. Konsumen juga dapat beralih antar pemasok dan vendor tanpa mengganggu proses belanja seperti belanja konvensional.

Konsumen juga tidak perlu terganggu dengan adanya keributan suara orang belanja, musik latar, kemacetan, trolley, tempat parkir, pelayan yang tidak ramah, AC yang sangat dingin, bau menyengat, kamera di lemari ganti, dan banyak lagi.

Berikut ini adalah contoh sites toko online:
www.glodokshop.com
www.rumahoutlet.com
www.egrosir.com
www.bungarawabelong.com
plasabatik.com
www.topgolf-store.com
www.etalaseku.com
www.tanahabang.com
facebook.com

Bijaksana dalam Membeli di Toko Online
Selain menawarkan keuntungan, belanja online juga memiliki resiko sehingga kita harus mempertimbangkan:
  1. Komputer atau telepon genggam kita harus memiliki antivirus, update perlindungan spy-ware, anti phishing, anti pharming dan fire-wall,
  2. Jika anak-anak kita boleh belanja online, beritahukan semua hal tentangnya baik keuntungan maupun kerugiannya,
  3. Professionalism situs tercermin dari dicantumkannya nomor telepon, alamat, e-messenger, e-mail, atau komentar orang-orang terhadap reputasi baik tidaknya toko online, jika tidak ada, patut diragukan,
  4. Memastikan posting konsumen tidak dibagikan dengan orang lain tanpa persetujuan, terutama data KTP, No. Rekening Bank, yang tidak berhubungan dengan proses pembelian,
  5. Adanya kebijakan tentang pengembalian yang adil dan wajar,
  6. Dicantumkannya, jika ada, semua biaya yang tersembunyi, termasuk diskon, biaya kirim, karena mungkin barang yang sama memiliki harga yang berbeda dengan toko conventional, sehingga kita perlu cek lagi,
  7. Adanya jaminan atau asuransi pengiriman produk, jika hilang atau rusak,
  8. Lebih aman jika membayar dengan account paypal, namun jika menggunakan kartu kredit, pastikan URL situs memiliki tanda secure (https) serta situsnya benar-benar dikrekomendasikan oleh banyak pihak, atau jika menggunakan transfer via ATM bank, dan bukan kartu debit pastikan keamanan transfernya offline, bukan lewat web,
  9. Menyimpan dokumen transaksi, bukti pembayaran dan bukti pengiriman barang jika ada claim dan yang berkaitan dengan tuntutan pidana nantinya,
  10. Membersihkan data caches komputer/ponsel, jika kita menggunakan milik orang lain.

Saat ini, lebih dari separuh pengguna internet Indonesia dan di luar negeri, telah melakukan pembelian online. Jika kita termasuk yang melakukannya, pastikan kita mengetahui jaminan keamanan berbelanja. Belanja online memang memudahkan dan menghemat waktu, menghemat biaya dibandingkan belanja tradisional, jadi kalau ada yang lebih mudah dan dapat dipermudah mengapa harus mencari yang sulit. Nah, bayangkan kalau seandainya Jakarta semuanya online, pasti tidak ada kemacetan.....:_)

Selamat berbelanja....;)





Membuat Sebuah System Di Unit Kerja (Saat Ini)

Ijinkan saya melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang system kerja di perusahaan kita. Memang ada perbedaan arti dari istilah ‘system’ dalam terminologi teknik, biology, dan management. Tetapi dalam pengelolaan perusahaan atau unit kerja, menggunakan sudut pandang management tentunya jauh lebih relevan. Komputer itu hanyalah salah satu alat untuk meningkatkan efisiensi dan utilisasi system yang kita rancang. Dan sebagai alat, komputer bukanlah segalanya. Jadi, janganlah terlalu berkecil hati jika perusahaan kita belum memiliki ‘system yang terkomputerisasi’. Tentu bagus jika sanggup menyediakan ‘alat’ itu. Tetapi jikapun belum; kita masih bisa membangun ‘system’ yang handal di unit kerja kita .
Kita sudah tahu tentang pentingnya (1) memahami proses bisnis atau alur kerja yang berlaku di unit kerja kita saat ini dan (2) menentukan alur kerja yang diperlukan. Dengan membandingkan temuan pada kedua langkah itu kita akan menemukan ‘gap’ atau selisihnya. Selisih itu bisa besar, bisa kecil bergantung kepada cakupan system yang sudah ada itu terhadap tuntutan kerja. Jika system itu benar-benar ‘belum ada’ berarti gapnya 100%. Bagi kita yang tertarik untuk belajar membuat system di unit kerjanya masing-masing, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:


1. Kumpulkan informasi yang diperlukan.
Sangat penting untuk memperoleh informasi secara internal dalam unit kerja kita agar bisa memastikan system yang kita bangun nanti benar-benar sesuai dengan kebutuhan kerja mereka. Namun, informasi eksternal pun tidak kalah pentingnya. Informasi eksternal dari unit kerja yang lain mungkin hanya digunakan untuk benchmark, tetapi pemahaman kita terhadap system yang berlaku di level korporasi sangat berarti untuk memastikan bahwa system yang kita buat sejalan dengan system yang lebih besar.


2. Buatlah draft system kerja yang hendak kita terapkan.
Sebagai unit Manager atau Supervisor kita tidak bisa menunggu orang lain membuatkan suatu system kerja yang dibutuhkan oleh unit kerja kita . Jadi, mulailah membuat draftnya dengan berbekal pemahaman kita terhadap proses bisnis, kebutuhan aktual dan informasi internal-external yang kita peroleh. Mungkin tidak sempurna, namun itu merupakan langkah yang sangat menentukan apakah unit kerja kita akan memiliki system yang baik atau tidak. Jika kita diam saja, belum tentu seratus tahun lagi ada orang yang peduli. Jadi, buatlah draftnya sekarang juga.


3. Diskusikan draft awal kita dengan orang-orang yang berkepentingan.
kita tentu mengharapkan agar semua orang dalam unit kerja kita bekerja sesuai dengan system yang kita buat. Maka sangat penting bagi kita untuk mendengarkan pandangan mereka. Tidak semua anak buah kita harus diminta pendapatnya. Pilihlah mereka yang selalu kritis namun positif dan konstruktif. Mereka yang pasif, sinis, dan selalu bersikap negatif hanya akan menghambat pembuatan system kita . Selain bawahan, kita juga patut meminta pandangan dari atasan karena system kita erat kaitannya dengan kinerja atasan. Rekan sejawat kita di unit kerja yang lain juga bisa diminta pendapatnya, terutama mereka yang mempunyai keterkaitan kinerja.


4. Uji cobalah system baru kita dan revisi lagi sesuai hasil evaluasi.
Uji coba memberi kita peluang untuk memeriksa kembali apakah system yang kita bangun itu benar-benar handal atau tidak. Ini memperkecil resiko yang bisa ditimbulkan dari kesalahan yang mungkin terjadi. Jauh lebih baik melakukan revisi pada saat uji coba daripada membongkar ulang setelah system itu diterapkan secara keseluruhan. Pada tahap ini juga kita bisa menemukan hal-hal yang tidak dijelaskan didalam text book. Faktanya, perhitungan diatas kertas tidak selalu cocok dengan kenyataan di lapangan. Bergantung kompleksitas system kita , uji coba bisa dilakukan selama beberapa hari hingga beberapa bulan.


5. Latihlah semua orang dalam unit kerja kita .
Salah satu penyebab utama kegagalan penerapan system di banyak perusahaan adalah kurangnya keterampilan karyawan dalam menggunakannya. Tidak peduli sehebat dan sekeren apapun system yang kita bangun, jika orang-orang dalam unit kerja kita tidak mengerti dan tidak terampil untuk menerapkannya; pasti akan menjadi sia-sia saja. Sudah banyak system yang terbengkalai, padahal dibuat dengan biaya yang sangat mahal. Janganlah ikut menambah jumlahnya dengan system kita yang menganggur. Jadi, latihlah mereka sampai benar-benar terampil menjalankannya.


Jika kita mempunyai budget yang cukup untuk membuat otomasi system baru kita itu dengan seperangkat komputer, silakan kita lakukan. Jika budget kita terbatas, maka kita bisa menggunakan program sederhana semisal microsoft excel atau microsoft access. Jika untuk itu pun belum memungkinkan, maka kita bisa menerapkan system baru kita secara manual saja. Ingatlah, bahwa ‘system kerja’ kita adalah nyawanya, sedangkan system komputer hanyalah alat penunjangnya. Memang bagus jika kita bisa memiliki keduanya. Tetapi jika harus memilih salah satunya; maka lupakanlah system komputer, dan berfokuslah kepada system kerjanya.
Tidak ada yang lebih berkepentingan terhadap kehandalan system di unit kerja kita selain diri kita sendiri.
God Bless Us.....;)




Apakah Kita pernah merasa dikecewakan oleh orang lain?

Apakah Kita pernah merasa dikecewakan oleh orang lain?
Pasti tidak enak ya, apalagi jika yang mengecewakan itu adalah orang yang kita percayai.
Lalu Menjaga Perasaan Tidak Kecewakan Karena Orang Lain ....?


Orang yang dikira baik ternyata dibelakang tidak seperti yang kita kira.
Pertanyaannya sekarang adalah; apakah kita benar-benar ‘dikecewakan’ ataukah kita hanya ‘merasa’ dikecewakan oleh orang itu?
Jangan-jangan sebenarnya mereka tidak mengecewakan kita, tetapi kitalah yang merespon apa yang mereka lakukan itu sebagai suatu kekecewaan, lho.
Jika Kita pernah kecewa, tentu Kita tahu betapa melelahkannya perasaan itu.
Kebahagiaan kita terrenggut, waktu tidur kita berkurang, air mata kita terkuras.
Perasaan hati kita juga menjadi gundah dan gelisah.

Maka dari itu, jangan terlalu lama membiarkan kekecewaan menguasai diri kita.

Untuk itu, saya ingin mengajak Kita semua untuk sama-sama menyimak 5 hal yang bisa membantu memerdekakan jiwa kita dari kekecewaan. Berikut ini uraiannya:


1. Mengakui bahwa diri kita tidak sempurna.
Apabila orang lain berkomentar negatif tentang diri Kita, atau menggunjingkan kekurangan-kekurangan diri Kita, maka Kitatidak perlu kecewa. Terima saja, meskipun belum tentu yang mereka gunjingkan itu benar. Bersyukurlah jika ada orang yang bersedia menunjukkan ketidaksempurnaan Kita. Jika mereka salah, maka itu akan menjadi tambahan pahala bagi Kita. Tapi jika mereka benar, maka itu merupakan proses penyadaran untuk memperbaiki ketidaksempurnaan yang ada pada diri Kita. Semoga dengan begitu kita bisa terus memperbaiki diri. Meski tidak mudah, Insya Allah ada jalan untuk perbaikan selama kita berusaha.


2. Menyadari bahwa orang lain juga tidak sempurna.
Rasa kecewa sering kali disebabkan oleh penilaian yang terlalu tinggi kepada seseorang. “Kalau orang lain yang melakukannya aku masih bisa ngerti. Tapi, kok bisa-bisanya sih dia melakukan itu?” Begitu kan kita sering berkata saat kecewa? Siapapun dia hanyalah manusia biasa yang bisa berbuat salah atau dosa. Jika kita tidak sempurna, dia juga sama. Jadi sudah, relakan saja. Dia hanyalah manusia biasa yang tidak sempurna. Wajar jika dia melakukan sesuatu yang mengecewakan. Tidak usah diperpanjang karena kita sudah tahu betapa tidak sempurnanya dia.


3. Menerima kenyataan bahwa lidah tidak selalu sejalan dengan hati.
Banyak orang yang kecewa kepada orang lain karena dia mengira bahwa apa yang dikatakan orang itu pastinya sama dengan apa yang ada dalam hatinya. Padahal, tidak semua orang mengucapkan kata-kata yang sejalan dengan isi hatinya. Jika Kita sudah menyadari hal itu, maka Kita tidak akan terlalu kecewa saat mendapati perilaku seseorang yang bertolak belakang dengan ucapannya. Kita juga tidak akan terlalu kecewa kalau ada yang memuji Kita didepan, tetapi menjelek-jelekkan Kita dibelakang. Jika ada yang menjanjikan sesuatu kepada Kita tapi tidak kunjung diwujudkan; Kita juga tidak akan kecewa. Mengapa? Karena Kita sudah tahu bahwa lidah tidak selalu sejalan dengan hati. Jadi, tidak perlu heran. Enjoy aja….


4. Ingatlah bahwa Kita adalah pengendali diri Kita sendiri.
Jika orang lain berusaha mengecewakan Kita, tetapi Kita sendiri tidak merasa kecewa; kira-kira dia berhasil membuat Kita kecewa atau tidak? Jelas sekali ya, bahwa yang menentukan apakah kita kecewa atau tidak itu bukan perlakuan orang lain kepada kita. Melainkan sikap yang kita ambil sendiri. Jika ada orang yang berusaha mengecewakan kita, biarkan saja. Sebab selama kita memilih tidak kecewa, maka kita akan baik-baik saja. Bersyukurlah karena Tuhan telah memberi kita kekuatan untuk mengambil kendali kepada diri kita sendiri. Selama Kita memegang kendali itu, tidak seorang pun bisa menjatuhkan jiwa Kita.



5. Meyakini bahwa segala sesuatunya tertera dalam catatan Tuhan.
Selama Kita masih punya keyakinan kepada Tuhan, percaya deh semuanya akan baik-baik saja. Perkataan orang yang menjatuhkan Kita. Perbuatan orang yang merugikan Kita. Fitnahan, gunjingan, dan berita yang mengada-ada tercatat lengkap dalam buku yang dipegang terus oleh malaikat di kiri dan kanan. Kita tidak perlu ambil pusing soal semua itu, apalagi harus membalas dendam. Percayalah, bahwa Gusti Allah ora sare. Tuhan tidak pernah lengah.


Sudahlah, tidak usah kecewa lagi.
Sayang energy kita terbuang percuma.
Mendingan berserah diri saja kepada yang Maha Kuasa dengan keikhlasan dalam menerimanya.
Siapa tahu dengan begitu kita semakin disayang oleh Tuhan.


Jangan terlalu terpukau oleh tulisan dan perkataan saya.
Jika Kita tahu siapa kita yang sebenarnya, mungkin Kita pun akan merasa kecewa juga.


Good Bless Us....;)

Gangguan Telepon, TELKOM apa PABX ?! Selesaikan masalah dengan bijak.....

Hari itu, Selasa pagi, saya baru diberitahu oleh staff bahwa telepon kantor bermasalah, fax tidak dapat jalan, dan terpaksa harus di-share, kadang dial tone tidak ada, telepon hanya terdengar suara dengung atau bahkan noise (kemeresek/ kresek kresek/ seks seks seks), bahkan kadang sambung sebentar dan putus tanpa sebab serta masalahnya ternyata sudah hampir beberapa minggu kemarin. Saya menanyakan kepada staff, kenapa belum konfirmasi ke TELKOM, katanya (red: TELKOM) yang bermasalah bukan dari jaringannya tetapi internal kami, maksudnya PABX-nya, sehingga tidak pernah ada petugas yang datang untuk cek kondisi di lapangan. Kebetulan kami memang ada PABX. Biasanya, ciri-ciri kabel yang jelek, suara sering kresek-kresek artinya ada bad contact, suara lemah (kecil) artinya kabel terlalu jauh, suara yang bercampur dengan suara telepon lain artinya terjadi crosslink dan sebagainya bisa jadi dari TELKOM-nya, karena di Indonesia, TELKOM yang notabene adalah pemonopoli kabel telepon, sudah menggelar layanan bermacam-macam, tapi jangan harapkan bagus, kalau kabelnya sendiri sudah jelek, terutama di daerah pinggiran, pedesaan dan pedalaman. Akhirnya saya harus turun tangan, karena dari beberapa line keluar yang dapat keluar hanya satu line saja, sehingga menimbulkan antrian panjang di internal kami.

Jaringan internal telepon saya periksa satu-satu, kalau memang PABX-nya yang bermasalah pastinya penggunaan telepon antar ruangan bermasalah. Ternyata tidak, semua jaringan internal dalam kondisi yang baik dan tidak ada keluhan maupun masalah yang terjadi sebagaimana TELKOM.

Baiklah, langkah kedua, untuk memastikan yang bermasalah adalah jaringan keluar, maka saya harus memeriksa jaringan TELKOM yang keluar dari installasi utama ke jaringan mereka. Pertama kali kita siapkan multimeter dan pesawat telepon. Multimeter digunakan untuk mencari polarities di konektor dan line telepon. Selanjutnya kita siapkan telepon satu unit untuk menguji:

Gambar di atas adalah gambar modifikasi, dimana 2 kabel UTP untuk voice telepon kita sambungkan dengan jepit buaya, sebagaimana gambar:

Dimana warna kabel merah adalah kabel positif (+) dan warna kabel hijau (hitam) adalah kabel negatif (-).

Berikutnya, jika telepon unit untuk tester sudah disiapkan, maka box keluaran jaringan TELKOM kita coba cek, apakah PABX dan TELOM line-nya berfungsi atau tidak, sebagaimana gambar:

Pada gambar tersebut kabel merah dan biru sebelah kiri adalah kabel dari PABX, dimana biru untuk (+) dan merah untuk (-). Sedangkan kabel yang berwarna putih dan hitam adalah milik TELKOM, yang merupakan kabel voice dimana kabel yang berwarna hitam adalah (-) dan putih adalah (+)

Kemudian sambungan (kabel milik TELKOM) dalam terminal akhir tersebut kita lepas dan dihubungkan ke telepon tester unit, dimana (-) dengan (-) dan (+) dengan (+) dan dilakukan testing.

Baru setelah ada indikasi bahwa ternyata sambungan keluar tidak benar, terbukti dari telepon tester juga bermasalah dalam melakukan koneksi, berarti dapat dipastikan untuk kedua kalinya lagi, PABX nya normal dan jaringan TELKOM-nya bermasalah.

Langkah ketiga, untuk memastikan, kita menghubungi pihak pemasang PABX untuk melakukan cek, dan hal ini tentunya memakan waktu dan biaya. Sambil menunggu kedatangan mereka, kita mempersiapkan dokumen berita acara pemeriksaan yang nantinya ditandatangani teknisi PABX-nya, dengan tidak menceritakan bahwa kita telah memeriksa jaringan keseluruhan sebelumnya (aksi bego dulu). Setelah mereka datang, kita ceritakan masalahnya dan kepada mereka, kita minta tolong agar dilakukan cek jaringan internal, apakah ada masalah, serta jaringan keluar juga. Jika ada masalah, kita mintakan juga solusinya. Semuanya tertulis di dokumen, jangan lupa, dan siapkan ongkos periksa sekitar seratus ribu rupiah atau sepuluh dollar Amerika. Akhirnya, dokumentasi pun telah mereka isi, dengan menerangkan jaringan PABX dalam kondisi normal. Kemungkinan besar masalahnya adalah jaringan keluar pada TELKOM. Baiklah, selanjutnya kita tinggal menghubungi TELKOM.

Langkah keempat adalah menelepon 147. Telepon ini sangat menyusahkan dan berbelit untuk laporan gangguan, dengan menggunakan menu pilihan tekan sini dan tekan sana, akhirnya salah tekan dan pulsa pun melayang (saat itu menggunakan PONSEL, karena telepon kantor bermasalah, ingat kan). Begitu kita salah tekan dan salah kamar, maka kita diminta keluar (hang-up) dan menghubungi 147 lagi (busyeet). Siapa yang bikin program seperti ini, buang-buang biaya dech.

Langkah kelima, kita potong 147, dan kita telepon 108 untuk meminta nomer TELKOM cabang wilayah kecamatan dimana kita pasang, misalnya Kecamatan Gantung. Nantinya kita akan mendapatkan nomer TELKOM kecamatan tersebut, tentunya dengan bahasa yang cantik dan bumbu rayuan.

Langkah keenam, menghubungi nomer yang diberikan petugas 108, dan dengan gaya bego plus rayuan manis, kita minta tolong sama mereka untuk cek, tentunya kita juga bilang, bahwa PABX nya sudah di cek oleh petugas disertai berita acara. Alhasil, mereka mau untuk datang cek. Dan benar, lima belas menit kemudian ada dua orang petugas yang datang untuk cek.

Langkah ketujuh, petugas yang datang, kita ceritakan masalahnya dan kita bantu serta dukung agar masalah segera kelar, jangan lupa siapkan amplop isi uang ala kadarnya (dikasih jika masalahnya selesai sambil tanya nomer HP nya juga) serta makanan kecil dan minuman biar mereka semangat. Ternyata benar, ada masalah di sambungan dan kabel ke terminal akhir, karena beberapa kawatnya sudah tua, teroksidasi, dan sudah tidak layak lagi sebenarnya. Namun menurut tutur petugasnya, “Maaf”, karena pihak TELKOM tidak punya dana untuk mengganti dengan yang baru dan yang lebih baik kecuali menambalnya. Agaknya mirip dengan kasus penggantian rel kereta milik Belanda, sambungan pipa air bersih dan gorong-gorong bawah tanah, semuanya tidak pernah diganti baru, dengan alasan yang sama. Namanya juga perusahaan negara, ya kinerjanya begitu, standar, tidak lebih baik, minatnya pajak dan tagihan yang naik.

Akhirnya setelah adegan betul membetulkan:

Gambar: “Petugas menelepon kantor pusat, karena dia juga bingung, katanya”

Gambar: “Petugas juga cek jaringan sambungan terminal luar, padahal tadi sudah kita cek, hasilnya sama.”

Gambar: “Tidak puas dengan hasil di terminal, petugas panjat tiang utama TELKOM di jaringan utamanya”

Bagaimana pun, kita harus berterima kasih pada petugas di lapangan yang dengan semangatnya panas membara (siang bolong) dan beberapa orang di kantor, TELKOM kecamatan dan 108 yang membantu. Jangan lupa amplopnya diberikan untuk ucapan terima kasih karena pekerjaannya selesai dengan baik. Selanjutnya kita catat nomer HP dua orang tersebut, sehingga kalau ada masalah tinggal telepon mereka atau orang yang di kantor tadi, daripada ke 147 yang belibet.

Jadi intinya, gangguan sekecil apa pun, periksa dulu sebelum complain….;)





Apakah Anda Lembek dan Tidak Memiliki Daya Saing ???


Persaingan ada di mana-mana, termasuk di kantor. Para staf bersaing untuk dipromosi menjadi supervisor, para supervisor bersaing untuk menjadi manager, dan para manager bersaing meraih kursi direktur. Cita-cita, ambisi, dan tekad yang membara berseliweran dimana-mana. Salah? Bergantung bagaimana cara bersaingnya. Jika persaingan itu diwarnai oleh sikap dan tindakan yang tidak berkehormatan, maka dampaknya sangat buruk. Tetapi jika persaingan itu dilakukan secara sehat, maka efeknya sangat konstruktif.

Kita hanya akan bisa bersaing secara sehat jika berfokus kepada pembentukan kompetensi, sehingga setiap orang saling berlomba menunjukkan kemampuannya dalam berkontribusi. Untuk Kita, saya ingin menghadiahkan 5 cara yang sangat efektif dalam menghadapi persaingan di kantor, sehingga kompetensi Kita meningkat, dan kontribusi Kita juga bertambah. Berikut ini adalah uraiannya.
  1. Yakini jika disana ada kesempatan yang sama. Banyak orang yang menganggap perusahaan, managemen dan atasannya tidak adil dan pilih kasih. Promosi hanya didasari oleh rasa suka atau tidak suka. Yakinlah bahwa di perusahaan tempat Kita bekerja berlaku azas kesempatan yang sama. Bagaimana jika di kantor Kita benar-benar tidak terdapat kesetaraan kesempatan itu? Jangan terus menumpang hidup disitu dong. Juallah diri Kita ke perusahaan yang menganut prinsip ‘Equal Employment Opportunity’. Apakah ada perusahaan seperti itu? Tentu saja.
  2. Perlihatkan kapasitas diri Kita. Cara paling ampuh untuk dipromosi adalah dengan menunjukkan bahwa kapasitas diri Kita memang tinggi sekali sehinga sudah selayaknya mendapatkan tanggungjawab yang lebih besar. Jangan menunggu dipromosi jadi Manager dulu untuk menunjukkan Kita mampu menjadi seorang manager. Tunjukkan bahwa Kita mampu bekerja sekualitas Direktur, sebelum Kita menjadi direktur. Jika Kita bisa begitu, maka jabatan itu tidak akan lari kemana-mana; pasti Kita duluan yang mendapatkan kesempatan. Kitalah yang kemudian menentukan, mau mengambil kesempatan itu atau tidak.
  3. Bangun hubungan yang sehat dengan atasan dan orang lain. Banyak orang yang kemampuan teknisnya sangat tinggi namun tidak bisa dipromosi karena tidak memiliki people skill yang memadai. Ingatlah bahwa promosi bukan sekedar urusan teknis sehingga hanya mengandalkan faktor teknis saja sering membuat orang kecewa. Jadi, belajarlah membangun hubungan yang baik dengan orang-orang di kantor, karena itu adalah salah satu faktor yang sangat penting bagi karir Kita.
  4. Lapang dada jika kolega Kita yang dipilih. Proses seleksi promosi itu nyaris seperti sebuah pertandingan. Ada kalah, ada menang. Ada gagal, ada berhasil. Banyak orang yang mau bertanding tapi tidak mau menerima kekalahan. Ketika orang lain yang dipromosi, mereka mutung lalu membuat masalah. Sungguh, sikap seperti itu hanya merugikan dirinya sendiri. Jika Kita berani mengikuti proses seleksi promosi, siapkan mental untuk menang atau kalah. Jika menang Kita siap mengemban tugas. Jika kalah juga Kita siap untuk menerimanya dengan lapang dada.
  5. Tetaplah berpikir dan bersikap positif. Pikiran dan sikap positif memberikan dampak positif bagi diri sendiri dan orang lain. Kita akan tetap sehat, dan terus berkembang. Seperti magnet, kedua hal positif itu juga menarik respon positif dari lingkungan atau orang-orang disekitar Kita. Sebaliknya, jika Kita memenuhi diri dengan pikiran dan sikap negatif, maka Kita sendiri yang rugi. Orang lain pun tidak akan menaruh simpati sama sekali, sehingga Kita akan semakin dijauhi. Jadi, berpikir dan bersikaplah secara positif.
Hasil dari sebuah persaingan bukanlah akhir dari perjalanan karir Kita.

Jika Kita memenangkan persaingan itu, maka Kita harus menunjukkan bahwa memang Kita pantas mendapatkan promosi itu.

Jika tidak, maka Kita akan diremehkan. Jika Kita kalah bersaing? Perjalanan masih panjang, jadi tenang saja. Siapkan diri untuk fase persaingan berikutnya.

Orang-orang yang berfokus kepada kualitas pribadi tidak mudah terpengaruh oleh keadaan di luar dirinya. Dipromosi atau tidak, dia terus saja menempa diri.


Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow on Twitter @irwantoko ;)



Lebih dekat dengan GIS



Geographic Information System (GIS) adalah sistem yang men-capture, mengecek, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisa, dan menampilkan data yang secara spatial mereferensikan kepada kondisi bumi. Teknologi GIS mengintegrasikan operasi-operasi umum database, seperti query dan analisa statistik, dengan kemampuan visualisasi dan analisa yang unik yang dimiliki oleh pemetaan. Kemampuan inilah yang membedakan GIS dengan Sistem Informasi lainnya yang membuatnya menjadi berguna untuk berbagai kalangan untuk menjelaskan kejadian, merencanakan strategi, dan memprediksi apa yang akan terjadi.

Data realita di permukaan bumi akan dipetakan ke dalam beberapa layer dengan setiap layernya merupakan representasi kumpulan benda (feature) yang mempunyai kesamaan, contohnya layer jalan, layer bangunan, dan layer customer. Layer-layer ini kemudian disatukan dengan disesuaikan urutannya.

Setiap data pada setiap layer dapat dicari, seperti halnya melakukan query terhadap database, untuk kemudian dilihat letaknya dalam keseluruhan peta.

Kemampuan ini memungkinkan seseorang untuk mencari dimana letak suatu daerah, benda, atau lainnya di permukaan bumi. Fungsi ini dapat digunakan seperti untuk mencari lokasi rumah, mencari rute jalan, mencari tempat-tempat penting dan lainnya yang ada di peta.

Orang dapat pula melihat pola-pola yang mungkin akan muncul dengan melihat penyebaran letak-letak feature, misalnya sekolah, pelanggan, daerah miskin dan sebagainya.

Orang sering memetakan kuantitas, yaitu sesuatu yang berhubungan dengan jumlah, seperti dimana yang paling banyak atau dimana yang paling sedikit. Dengan melihat penyebaran kuantitas tersebut dapat mencari tempat-tempat yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan dan digunakan untuk pengambilan keputusan, ataupun juga untuk mencari hubungan dari masing-masing tempat tersebut.

Pemetaan ini akan lebih memudahkan pengamatan terhadap data statistik dibanding database biasa. Sebagai contoh, sebuah perusahaan pakaian anak yang akan menyebarkan brosurnya akan terbantu dengan mengetahui daerah-daerah mana yang punya banyak keluarga dengan anak kecil dan mempunyai pendapatan yang tinggi. GIS juga dapat memetakan jumlah penderita cancer misalnya, di teluk Cod, yang direlasikan dengan penggunaan lahan. Pemetaan ini digunakan untuk menganalisa apakah penggunaan pestisida dan bahan kimia lainnya berpengaruh terhadap kasus-kasus kanker yang terjadi.

Sewaktu orang melihat konsentasi dari penyebaran lokasi dari feature-feature, di wilayah yang mengandung banyak feature mungkin akan mendapat kesulitan untuk melihat wilayah mana yang mempunyai konsentrasi lebih tinggi dari wilayah lainnya. Peta kerapatan dapat mengubah bentuk konsentrasi kedalam unit-unit yang lebih mudah untuk dipahami dan seragam, misal membagi dalam kotak-kotak selebar 10 km2, dengan menggunakan perbedaan warna untuk menandai tiap-tiap kelas kerapatan.

Pemetaan kerapatan sangat berguna untuk data-data yang berjumlah besar seperti sensus atau data statistik daerah. Dalam data sensus seperti gambar 3 misalnya, sebuah unit sensus yang mempunyai jumlah keluarga diatas 40 diberi warna hijau, 30-40 hijau muda dan seterusnya. Dengan cara ini orang akan lebih mudah melihat daerah mana yang kepadatan penduduknya tinggi dan mana yang kepadatan penduduknya rendah.

Dengan memasukkan variabel waktu, GIS dapat dibuat untuk peta historikal. Histori ini dapat
digunakan untuk memprediksi keadaan yang akan datang dan dapat pula digunakan untuk evaluasi kebijaksanaan. Pemetaan jalur yang dilalui badai, misalnya, dapat digunakan untuk memprediksi kemana nantinya arah badai tersebut.

Seorang manajer pemasaran dapat melihat perbandingan peta penjualan sebelum dan sesudah dilakukannya promosi untuk melihat efektivitas dari promosinya.

GIS digunakan juga untuk memonitor apa yang terjadi dan keputusan apa yang akan diambil dengan memetakan apa yang ada pada suatu area dan apa yang ada diluar area. Sebagai contohnya adalah peta sekolah, jalan, sirene dan lainnya dalam jarak radius 10 mil dari pembangkit listrik tenaga nuklir Palo Verde. Peta ini digunakan untuk dasar rencana apabila terjadi keadaan darurat. Adakalanya perlu untuk menentukan daerah yang diluar kriteria, misalnya untuk menentukan lokasi pabrik dilakukan di daerah dalam radius lebih dari 1 km.



Pada sebuah aplikasi GIS, terdapat beberapa fasilitas yang merupakan standar untuk melengkapi peta yang tampil di layar monitor. antara lain :
  1. Legenda
    Legenda (legend) adalah keterangan tentang obyek-obyek yang ada di peta, seperti warna hijau adalah hutan, garis merah adalah jalan, simbol buku adalah universitas, dan sebagianya.
  2. Skala
    Skala adalah keterangan perbandingan ukuran di layar dengan ukuran sebenarnya.
  3. Zoom in / out
    Peta di layar dapat diperbesar dengan zoom in dan diperkecil dengan zoom out.
  4. Pan
    Dengan fasilitas pan peta dapat digeser-geser untuk melihat daerah yang dikehendaki.
  5. Searching
    Fasilitas ini digunakan untuk mencari dimana letak suatu feature. Bisa dilakukan dengan meng-inputkan nama atau keterangan dari feature tersebut.
  6. Pengukuran
    Fasilitas ini dapat mengukur jarak antar titik, jarak rute, atau luas suatu wilayah secara interaktif data nama jalan tersebut, tipe jalan, desa-desa yang menjadi ujung jalan, dan jalan-jalan lain yang berhubungan dengan jalan itu.
  7. Link
    Selain informasi dari database, GIS memungkinkan pula meghubungkan data feature pada peta dengan data dalam bentuk lain seperti gambar, video, ataupun web. Misalnya, adalah contoh link dari peta tentang probolingo yang jika di klik di bagian gunung Bromo akan memunculkan video, gambar-gambar, dan web tentang gunung Bromo.

Aplikasi GIS dapat memvisualkan secara 2 dimensi ataupun 3 dimensi dan dapat berjalan di desktop ataupun di web.

Pemanfaatan dan pembangunan lahan yang dimiliki oleh pemerintah daerah perlu dilakukan dengan penuh pertimbangan dari berbagai segi. Wilayah pembangunan di kota biasanya dibagi menjadi daerah pemukiman, industri, perdagangan, perkantoran, fasilitas umum dan jalur hijau. GIS dapat membantu pembuatan perencanaan masing-masing wilayah tersebut dan hasilnya dapat digunakan sebagai acuan untuk pembagunan utilitas-utilitas yang diperlukan.

Lokasi dari utilitas-utilitas yang akan dibangun didaerah perkotaan (urban) perlu dipertimbangkan agar efektif dan tidak melanggar kriteria-kriteria tertentu yang bisa menyebabkan ketidakselarasan. Contohnya pembangunan tempat sampah. Kriteria-kriteria yang bisa dijadikan parameter antara lain: diluar area pemukiman, berada dalam radius 10 meter dari genangan air, berjarak 5 meter dari jalan raya, dan sebagainya. D

Dengan kemampuan GIS yang bisa memetakan apa yang ada diluar dan didalam suatu area, kriteria-kriteria ini nanti akan digabungkan sehingga memunculkan irisan daerah yang tidak sesuai, agak sesuai, dan sangat sesuai dengan seluruh kriteria.

Untuk pembangunan pos polisi peta penyebaran penduduk, histori kecelakaan dan pelanggaran lalu-lintas, histori kejahatan dan perampokan, peta penyebaran pertokoan dan bank, bisa dijadikan dasar penentuan lokasi. Contoh lain misalnya lokasi pompa air untuk menyedot air sewaktu banjir, lokasi pembangunan pabrik, pasar, fasilitas-fasilitas umum, lokasi jaringan-jaringan listrik, telpon, air dan saluran pembuangan.

Setelah lokasi yang sesuai didapatkan, desain pembangunan utilitas tersebut dapat digabungkan dengan GIS untuk mendapatkan perspektif yang lebih riil.

Didaerah pedesaan (rural) manajemen tataguna lahan lebih banyak mengarah ke sektor pertanian. Dengan terpetakannya curah hujan, iklim, kondisi tanah, ketinggian, dan keadaan alam, akan membantu penentuan lokasi tanaman , pupuk yang dipakai, dan bagaimana proses pengolahan lahannya. Pembangunan saluran irigasi agar dapat merata dan minimal biayanya dapat dibantu dengan peta sawah ladang, peta pemukiman penduduk, ketinggian masing-masing tempat dan peta kondisi tanah. Penentuan lokasi gudang dan pemasaran hasil pertanian juga dapat terbantu dengan memanfaatkan peta produksi pangan, penyebaran konsumen, dan peta jaringan transportasi.



Sebelum aplikasi GIS digunakan untuk pembantu pengambilan keputusan, tugas dari daerah terlebih dahulu memasukkan informasi sebanyak-banyaknya tentang kondisi dan potensi daerahnya. Data-data yang perlu disiapkan antara lain data peta, data statistik daerah, dan. Data peta dapat menggunakan data yang sudah ada yang disediakan oleh Bakosurtanal atau instansi lain. Jika data belum ada atau ingin membuat data yang lebih baru, daerah bisa membuat peta baru berdasar foto satelit atau foto udara. Sedangkan data statistik diambil dari sensus, data daerah dalam angka, dan hasil pendataan lainnya.









eGovernance, Knowledge Management and eLearning



Modern ICT offers a whole range of opportunities and, at the same, imposes all kind of challenges to be faced by professional communities such as the surveyors. This relates especially to areas such e-Governance, Knowledge Management, and e-Learning. These areas interact and respond mutually. Developments move fast and it is not easy to catch up. The focus of this joint commission workshop is therefore very timely.

Governance refers to the manner in which power is exercised by governments in managing a country’s social, economic, and spatial recourses. It simply means: the process of decision-making and the process by which decisions are implemented. This indicates that government is just one of the actors in governance. The concept of governance includes formal as well as informal actors involved in decision-making and implementation of decisions made, and the formal and informal structures that have been set in place to arrive at and implement the decision.

Good governance is a qualitative term or an ideal which may be difficult to achieve. The term includes a number of characteristics e.g. as identified in the UN-Habitat Global Campaign on Urban Governance. The characteristics or norms are as follows (adapted from UN-Habitat, 2002):

  1. Sustainability: balancing social, economic and environmental needs while being responsive to the present and future needs of society.
  2. Subsidiarity: allocation of authority at the closest appropriate level consistent with efficient and cost-effective services
  3. Equity of access: Women and men must participate as equals in all decision making, priority setting, and resource allocation processes
  4. Efficiency: Public services and local economic development must be financially sound and cost-effective.
  5. Transparency and Accountability: Decisions taken and their enforcement follows rules and regulations. Information must be freely available and directly accessible.
  6. Civic Engagement and Citizenship: Citizens must be empowered to participate effectively in decision-making processes.
  7. Security: All stakeholders must strive for prevention of crime and disasters. Security also implies freedom from persecution, forced evictions and provision of land tenure security.
Once the adjective “good” is added, a normative debate begins. Different people, organizations, and government authorities will define “good governance” according to their own experience and interests. E.g. it may be argued that issues such as rule of law, responsiveness, and consensus orientation should be added to list above. The term good governance can also be viewed in several contexts such as corporate, institutional, national,and local governance. In any case, almost all kind of government includes a spatial component. In other words: Good governance and sustainable development is not attainable without sound land administration or – more broadly – sound land management.

Land management is the process by which the resources of land are put into good effect (UN-ECE 1996). Land management encompasses all activities associated with the management of land and natural resources that are required to achieve sustainable development. The concept of land includes properties and natural resources and thereby encompasses the total natural and build environment. Land administration is an area dealing with rights, restrictions and responsibilities in land. This relates to the interaction of the three areas of land tenure, land value and land use. By including land development these four areas are called the Land Administration Functions. These functions are based on policies determining the overall objectives and they are managed on the basis of appropriate land information infrastructures providing complete and up to date in formation on the natural and built environment. This all sits within a country/state context of institutional arrangements that may change over time.



Fig. 1. The Land Management Paradigm


triple bottom line of economic, social and environmental sustainability – through public participation and informed and accountable government decision-making in relation to theLand management in developed economies should facilitate sustainable development – the built and natural environments. The interface between the land administration infrastructure and professions and the public will increasingly be serviced by information communication technologies designed to implement e-government and e-citizenship. These processes will be used to link systems and information to people who would then be involved in delivering sustainable development at the local level. E-citizenship is mobilisation of society to engage in planning, use and allocation of resources, using technology to facilitate participatory democracy. E-government involves a government putting government information and processes on-line, and using digital systems to assist public access. E-governance is e-democracy – helping to govern society through the use of the Web.

Since 1990, land administration in modern democracies emerged from a technical focus aiming at serving professionals, institutions, and governments to a wider scope of serving citizens and businesses. This requires an understanding of how spatial enabling works.

On one standard, spatial enabling is just one form of interoperability (capacity for a computer to identify “where” something is). It is, however, far more energetic and offers opportunities for visualisation, scalability, and user functionality. The capacity of computers to place information in on-screen maps and to allow users to make their own enquires has raised the profile of spatial enablement. Thousands of new applications of this technology (mobile phones, vehicle tracking, digital cameras, and intelligent systems in asset management) are developing annually. These rely on the underpinning of spatial information i. information in cadastre, land administration, and large scale topographic maps. The benefits of spatial enablement of the core cadastral layer are (Wallace et. Al. 2006):

  1. Maintenance and sharing of the core information layer – once created it is used many times – already used in thousands of applications
  2. Attachment of information to images of parcel and property configurations
  3. Accurate identification about the place or location of one activity in relation to other places in ways that are understandable by ordinary and non-technical people
  4. Capacity of businesses and citizens to understand, interrogate and manipulate information in the computer
  5. Inclusion of layers of geo-referenced information in the computer systems, despite their distinct sources, systems and owners, and achieve interoperability between the layers
  6. Integration of government information systems and provision of seamless information to institutions and government
  7. Incorporation of a spatial and relative information into maps permitting the location of that information to be realised and visualised
  8. Ultimately managing information through spatially enabled systems, rather than databases.
Spatial enablement offers land administration a revolution equivalent to the conversion of paper files to digital systems of twenty years ago. However this is not the end of the story – researchers, practitioners, big business and government are now seeing the huge potential from linking “location” or the “where” to most activities, polices and strategies, just over the horizon. Companies like Google and Microsoft are actively negotiating to gain access to the world’s large scale built and natural environmental data bases.

The Land administration function of land registration and tenure, valuation and taxation, planning and regulation, and development, are the institutional core of modern economies. These functions will, however, undergo changes as they adapt to the new policies of sustainable development, demand driven processes, acceleration in take-up of spatially enabled systems, and the historical and cultural realities. How a particular jurisdiction responds will depend on the understanding of the vision be its leaders.


Fig. 2. A Land Management Vision


The idea is that spatial enabling of land administration systems managing tenure, valuation, planning, and development will allow the information generated by these activities to be much more useful.

Firstly, the achievement of sustainable development goals will be easier to evaluate since adaptability and useability of modern spatial systems will encourage much more information to be collected and made available. For governments, building a suitable land policy framework will be assisted by better information chains. Secondly, the services available to private and public sectors and to community organisations should commensurably improve.

Ideally these processes are dual: with modern information and communication technology, the engagement of users in design of suitable services, and the adaptability of new applications should increase and mutually influence. The global initiatives are the starting point, but in a national case, modifications to suit the particular context will be built. The new land administration systems of the future will be local, regional and global in their capacity.

The concept of Knowledge Management is about optimizing the use of the basic asset of any organisation namely knowledge. Knowledge Management is basically an integrated approach to managing the information assets of an organisation/enterprise. These information assets may include databases, documents, policies, procedures, or just knowledge stored in the individual’s heads. (Markus, 2005). Knowledge Management, this way, is just common sense. However, in reality, the state of knowing or having access to the right knowledge at the right time is a real and important business advantage.

Knowledge management in e-Government
Knowledge management is about organising and sharing of knowledge just like spatial information management is about organising and sharing of spatial data. This is of course a simplification since knowledge management is a broader concept. However, in relation to e-Government knowledge management is then basically about designing and implementing suitable spatial data infrastructures or, more particularly, it is about designing and implementing a suitable IT-architecture for organising spatial information that can improve the communication between administrative systems and also establish more reliable data due to the use the original data instead of copies. In here, such governmental guidelines for service-oriented architecture e-government are recently adopted.


Fig. 3. The concept for service-oriented IT-architecture.


The key elements are: (i) Flexibility and accessibility which facilitates decision-making at all levels, (ii) Quality, authenticity and actuality due to direct access for reading and updating in the basic databases, and (iii) Standardisation through homogeneously selection of communications and exchange standards such as XML etc. This is currently being applied in the area of land administration through close cooperation between the agencies and stakeholders involved.

Knowledge management in e-Learning
The School of Surveying and Planning must established a system of on-line management of the study environment. This means that all information and communication is managed through the web. Home pages and email addresses are available at all levels including each student, each group of students, and each semester.

To improve implementation of IT in all aspects of the learning environment the School has established a Spatial Data Library to serve the educational process. The Spatial Data Library contains all relevant spatial data (registers and maps) within the region of Indonesian regions. The students project work, this way, is based on the actual data and the work is undertaken at the same level of IT as in professional practice. The library also enables the lecturing to be on-line when teaching theories and applications. A full-time librarian is responsible for maintaining the data sets and for developing relevant applications.

The School must has also established a one-year Master course in Geographic Information Management. The course was developed in co-operation with the surveying industry and the Indonesian Association of Chartered Surveyors. The course is offered as a one-year part time study lasting for two years, and it is organised as distance learning using an electronic classroom for teaching and communication. Researchers from other regions in the world such as University of Melbourne and ESRI in California can be lecturing on-line in this course. The course combines lecture courses (distance learning) with supervised project work (distance communication) based on professional problems identified by the practitioners within their respective employment areas. The students take part in four weekend seminars organised each year on campus to have introductory classroom lecture courses and to discuss and develop their project work. In general, the concept provides an innovative interaction between university and industry and it provides valuable feed-back to be integrated in the full time graduate program. These experiences in knowledge management are further developed in the concept of Learning Lab Geomatics that is presented in more details below.

EVOLUTION OF E-LEARNING CONCEPTS
Developments in the communication technology have had a huge effect on the learning environments at universities all over the world. From focusing on the local learning environment and its available learning tools, the universities are now facing a situation, where the students just under their fingertips – and with the same speed as their own thinking and capacity for formulating questions – have access to the pool of knowledge throughout the world. Consequently, not only the role of the professor is changing, but also the whole university institution and the principles of learning in relation to both methodology and pedagogy. The role of the universities will have to be reengineered based on this new paradigm of knowledge sharing.

The surveying community around the world is a combination of academia and practice. The profile of the community is changing rapidly due to the global drivers such technology development and globalization. For the two partners – the academic world and the world of professional practice – one possible way forward is to foster a cross-functional and cross-sectoral collaboration through setting up virtual learning organizations and facilities which can benefit both partners. Learning Lab Geomatics can be seen as such an organization

Learning Lab Geomatics
Learning Lab Geomatics is a strategy for implementing the concept of e-Learning in area of educating surveyors. The strategy includes a number of elements such as reengineering the learning process through web-based lecture materials; pedagogical innovation in the learning process; and internationalization of the total study environment.

The learning environment could be based on a project-organized approach. “Project-organized” means that the curriculum is taught through project work assisted by lecture courses instead of teaching theoretical courses assisted by practical labs. The learning process will be improved to reflect the opportunities provided through the modern information and communication technology. Lecture course material will be designed and prepared in hypertext and made available on the web as a basis for more intensive preparation and self-studies to be undertaken by the students. Traditional classroom lecturing will increasingly be replaced by web based self-studies followed by tutorials. The student’s project work will be developed on web-sites and the resulting final report will be made available as a source of knowledge to be used by incoming students. The outcome of the learning process will be improved by not only enhancing the competence of the graduates but also by improving the accessibility to knowledge.

The changing role of the universities should include that the lecture course materials, research results, and professional journals be made available on the web and packed in way tailored for use in different areas of professional practice. The graduates will then have access to the newest knowledge throughout their professional life.

Educational Innovation
Learning Lab Geomatics is designed to provide a new and flexible learning environment based on knowledge management. It is, however, not fully implemented. The concept will, in turn, provide educational innovation through a more focused self-learning perspective, and it aims to provide an efficient interaction between education, research and professional practice at national as well as international level.


Fig. 4. The Professional Competence Model.


When the lecture material is available on the web in a special designed version it will be possible to change the performance of the lecture courses in an innovative way. More time may be allocated to self-studies based on the web-based material, and sessions of traditional lecturing may be replaced by seminar discussions to facilitate the learning process. This should encourage the students to take responsibility for their own learning. The lecture material should also be peer reviewed and achieve a status comparable to journal articles.

On-campus courses and distant learning courses will be integrated even if the delivery may be shaped in different ways. Existing lecture courses should always be available on the Web. Existing knowledge and research results should also be available, and packed in a way tailored for use in different areas of professional practice. All graduates will then have access to the newest knowledge throughout their professional life.


FINAL REMARKS
Information and communication technologies are essential but the developments in this area are difficult to cope with in government, businesses, and at the universities. ICT developments provide huge opportunities but also threats in terms of demands for keeping up.

The three areas of e-Governance, Knowledge Management, and e-Learning are interdependent and constitute the key challenge of the future: “the e-Future Challenge”. Schools should develop ways and means to face this challenge.

REFERENCES
  1. Enemark, S., Williamson, I., and Wallace, J.(2005): Building Modern Land Administration Systems in Developed Economies. Journal of Spatial Science, Perth, Australia, Vol. 50, No. 2, December 2005, pp 51-68.
  2. Markus, B. (2005): Learning Pyramids. Proceedings of FIG Working Weeks, Cairo, Egypt, 16-21 April 2005.
  3. Wallace, J., Williamson, I.; Enemark, S., (2006): Building a National Vision for Soatially Enabled Land Administration in Australia. In: Sustainability and Land Administration Systems. Proceedings of the Expert Group Meeting, Melbourne, Australia, 9-11 November 2005, pp 237- 250..
  4. Williamson, I.; Enemark, S., Wallace, J. eds. (2006): Sustainability and Land Administration Systems. Proceedings of the Expert Group Meeting, Melbourne, 9-11 November 2005, 253 p.

So, When RI 1 accomplish this mission and develop a better country from now ?
We will heard you soon....

**Thank You**