Dukung Replikasi KP Ibu melalui mKPI (mobile KP Ibu)



Masih teringat dalam ingatan kita bahwa hampir berhari-hari dalam dua bulan Januari dan Februari di awal tahun 2014, ibu kota negara tercinta ini diguyur hujan deras, sehingga di layar TV kita pun ditutupi dengan berita tentang “Banjir Ibu kota Jakarta”. Tidak hanya ibu kota yang terkena bencana tapi juga daerah lainnya, seperti air bah di Menado, letusan Gunung Sinabung, letusan Gunung Kelud, dan banyak lagi di tahun 2014 ini maupun sebelumnya. Sebagai warga yang tidak terkena bencana tentunya kita tidak tahu pasti keadaan dan perasaan mereka yang membutuhkan pertolongan, kecuali kita hanya bisa berdoa dan membantu segenap daya dan upaya.



Menengok dalam keadaan tersebut, mari kita lihat dan rasakan di bencana banjir tahun ini di ibu kota, bagaimana perjuangan seorang ibu yang sedang dalam keadaan mengandung, dalam keadaan hamil, dan sebagian ibu yang memiliki bayi baru lahir atau bayi yang sedang disusui atau bahkan juga balita yang masih dalam taraf perlindungan orang tuanya.



Kami, bersama dengan ibu Yustini, ketua RW, Ibu Sri dan ibu Neneng, kader kesehatan, membantu kami diperkenalkan dengan seseorang yang ada di dalam posko bencana. Posko ini disediakan karena bencana banjir yang masih meluap di wilayahnya, yaitu di salah satu kelurahan yang ada di DKI Jakarta.



Posko ini dibangun dengan menempati sebuah gudang yang semi-permanen, dan kemudian diubah menjadi tempat perlindungan sementara bagi korban bencana banjir setempat. Bangunan dengan kondisi ala kadarnya, permukaan beton yang masih kasar serta berdebu, dan tidak adanya listrik serta tidak memiliki sekat partisi di antaranya.

Sekitar lebih dari seratus orang pengungsi, bersama-sama berada di dalam posko tersebut dengan beralaskan tidur di atas terpal bekas yang kotor, di ruangan yang pengap dan banyak nyamuk. Kurangnya bantuan darurat yang tidak maksimal membuat para ibu dan anak-anak serta bayi tidak mempunyai pilihan lain, selain untuk makan dan tidur bersama-sama dalam kondisi yang kurang bersih.



Di sinilah kami diperkenalkan dengan ibu Khoriyah, yaitu seorang ibu yang terpaksa pindah tempat setelah melahirkan dan rumahnya tenggelam oleh banjir.



Ibu Khoriyah dan bayinya saat ini tinggal di tempat posko perlindungan bencana banjir. Ibu Khoriyah menyampaikan kisahnya kepada kami, bahwa dua hari setelah dia melahirkan bayinya di puskesmas, ibu Khoriyah dan bayinya diperbolehkan pulang ke rumah. Namun saat sampai di rumah dalam beberapa jam kemudian, ibu Khoriyah dan bayi mungilnya harus terpaksa serta merta dievakuasi ke posko pengungsian bencana banjir yang berada di salah satu gudang setempat. Ibu Khoriyah, menempati salah satu ruang yang kecil di lorong gudang saat dia menyampaikan hal ini kepada kami.
 


Dalam perkembangan merawat bayinya, Ibu Sri adalah salah satu orang yang membantunya, memberi dukungan dan cara yang terbaik dalam mengatasi tantangan saat menyusui bayinya. Ibu Sri mendorong ibu Khoriyah untuk terus menyusui, terlebih di bawah ancaman risiko diare yang datang bersamaan dengan bencana banjir serta hujan yang terus melanda setiap saat.
 


Kami juga menemui, berjumpa dan berbicara banyak bersama dengan lebih dari 40 orang ibu tentang merawat dan memberi makan bayi mereka dalam situasi darurat. Kami berusaha untuk menghibur dan melakukan kegiatan yang menyenangkan hati ibu-ibu ini dengan bersama-sama menyanyikan lagu "ASI Sudah Tentu":

5    5   3    1    3    2
Pa  yu da ra    be sar

3    4   6   5     4   3
Pa  yu da ra    ke cil

5   5      3     1     3   2
Ti dak   ber ma   sa lah

7      6  5       4  3    2  1
Ten tu nya    A da   A SI


3    5       3     5      5     6       6       6    6
Hi  sap,  Hi sap,   Hi sap    yang    da lam

3    5       3     5      5     6       6       6    6
Hi  sap,  Hi sap,   Hi sap    yang    da lam

3    5       3     5      5     6       6       6    6
Hi  sap,  Hi sap,   Hi sap    yang    da lam…

1  7     5    6     7     1
A SI   pas  ti   k’lu ar…..


Kami juga mendiskusikan hal-hal tentang menyusui, meminta ibu-ibu menggambarkan bagaimana kondisi sebelum dan pada saat ini, apakah masih menyusui anak mereka atau tidak. Kami tidak menyangka, betapa bahagianya kami pada saat melihat sebagian besar senyum ibu-ibu ini dengan bangga serta mengangkat tangan mereka “Ya, Saya menyusui….!”.



Kami juga membicarakan tentang cara mengelola tekanan dan emosi terutama dalam kondisi darurat saat ini yang terkadang dapat membuat menyusui menjadi lebih sulit, kami meminta ibu-ibu ini apakah mereka mengalami perubahan pola menyusui mereka dari sebelum dan nantinya sesudah bencana banjir berlalu. Kami sangat bangga ketika semua ibu serempak bersama-sama mengatakan bahwa menyusui masih akan terus berjalan dengan lebih baik.

Kami juga berdiskusi dan berbagi tentang perjuangan serta kesedihan yang mereka alami. Meskipun mereka terkadang berjuang sendiri tanpa dukungan keluarga dan suami, mereka memahami betapa banyak hal yang lebih sulit bagi seorang ibu seperti Khoriyah, yang memimpikan dapat beristirahat di rumah yang nyaman, makan makanan yang sehat di lingkungan yang bersih, tenang dan sehat.

Sebagai kelompok ibu, para ibu ini berjanji satu sama lain bahwa mereka akan selalu mendukung satu sama lain, sebagaimana Khoriyah dengan bayi mungilnya yang belum memiliki nama berjuang untuk selalu menyusui dengan ASI. Bersama-sama mereka akan mendukung satu sama lain untuk tetap menyusui, apa pun kondisinya.

Dan kunjungan kami pun diakhiri dengan janji serta dukungan dari kelompok inspirasi perempuan untuk sesama ibu, juga ibu Khoriyah. Kami meninggalkan mereka dengan pesan penting, yaitu dorongan untuk tetap berbagi perasaan mereka satu sama lain, berbagi pengalaman satu sama lain, terus membangun semangat satu sama lain, memotivasi satu sama lain untuk tetap positif dan bercerita yang bahagia, serta yang paling penting adalah, kita belajar untuk bersyukur terhadap segala sesuatu yang kita masih memiliki, bahkan dalam menghadapi bencana, para ibu-ibu ini begitu tegar dan kuat, masih memiliki dukungan dan persahabatan satu sama lain yang luar biasa.



Pesan kunci dari cerita di atas adalah bahwa dukungan terhadap ibu hamil dan/atau yang menyusui bayinya dengan Air Susu Ibu (ASI) adalah sangat penting demi kesehatan keduanya dan terhindar dari kanker serta penyakit lainnya. ASI adalah makanan bayi yang diciptakan oleh Tuhan melalui seorang Ibu dan tidak mengalami pengolahan serta pengawetan bahan kimia dari pabrik, sehingga berstandar emas dan menjadi langkah awal pemenuhan hak-hak anak. Ada 10 hak anak yaitu:
1.       Hak untuk hidup dan mendapat makanan,
2.       Hak untuk sehat,
3.       Hak untuk tumbuh kembang,
4.       Hak untuk mendapat perlindungan,
5.       Hak mendapat pendidikan,
6.       Hak untuk berpartisipasi,
7.       Hak untuk bermain,
8.       Hak persamaan (gender),
9.       Hak untuk nama dan kebangsaan, dan;
10.   Hak untuk berekreasi.



Hak untuk hidup dan mendapat makanan, adalah dimana bayi berhak mendapat makanan yang terbaik yaitu ASI sebagai makanan bayi berstandar emas, tanpa ada makanan pengganti lainnya, termasuk susu pabrik (sufor – susu formula, susu kaleng, susu kotak, dan susu buatan lainnya), air minum, bahkan bubur, pisang atau pun makanan lainnya.

Makanan berstandar emas dimulai dari:
1.       Inisiasi Menyusu Dini (IMD),
2.       Pemberian ASI eksklusif (dari bayi berusia 0 hingga 6 bulan),
3.       MP-ASI (Makanan Pendamping ASI) setelah bayi 6 bulan, dan;
4.       ASI sampai bayi usia 2 tahun (atau balita ingin disapih sendiri).



IMD adalah mulai menyusu secepatnya seorang bayi yang baru saja lahir 0 jam (setelah lahir dini) dengan cara (setelah lahir), ditengkurapkan bayi di atas dada ibunya, baik dia lahir normal maupun caesar, sehingga kulit ibu dan bayi melekat, kemudian membiarkan mereka minimal 1 jam atau lebih sampai dengan saat menyusu awal selesai dengan sendirinya, dengan ditandainya oleh bayi yang melepas puting susu dan kemudian tertidur pulas.

Bayi pada usia beberapa menit selepas lahir dapat merayap ke payudara ibunya untuk menyusu sendiri. IMD telah menurunkan 22% kematian bayi baru lahir dan menurunkan angka kematian ibu akibat pendarahan setelah melahirkan. Hal ini dikarenakan sang bayi mengalami penyesuaian suhu badannya di dalam ketuban dan pada saat lahir akan dinormalkan pada saat pelekatan IMD, minimal 1 jam atau sehingga bayi tertidur pulas, serta merangkaknya sang bayi di atas perut ibu, akan dengan alami dan normal membersihkan sisa-sisa bekas darah dan saripati makanan sang bayi. Penelitian ini di negara Eropa membuktikan akan mengurangi kematian bayi selepas lahir dan kematian ibu sesaat setelah melahirkan bayinya.

Setelah bayi berusia 6 bulan, diberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang dapat berupa makanan keluarga yang dibuat sendiri serta bukan dari makanan buatan pabrik yang memiliki kandungan zat pengawet berbahaya serta belum pasti terjaga kebersihan, kesehatan dalam makanan dan kemasannya, bagi bayi.

Bayi yang mendapat ASI sangat sedikit dan tidak menderita penyakit kanker anak (leukemia),tiga kali lebih terhindar dari risiko dirawat dengan sakit saluran pernapasan dibanding anak susu formula, 16,7 kali lebih tidak mengalami Pneumonia, 47% lebih tidak pernah menderita diare, menghindarkan bayi dari status kurang gizi dan vitamin, lebih banyak tidak pernah terkena obesities atau kegemukan, dan mengurangi risiko diabetes mellitus.


Selain hak untuk mendapat makanan, anak berhak mempunyai daya tumbuh kembang yang baik. Dalam jangka panjang, menyusui mengurangi kelainan mental pada anak. Semakin lama anak menyusui, maka anak semakin berkurang kemungkinan kelainan mental anak dan remaja. Anak ASI terhindar dari masalah internal dan eksternal, sehingga memiliki jiwa yang sehat. Anak ASI memiliki hubungan emosional kemanusiaan yang lebih baik dan terikat tunduk patuh dan lebih sayang terhadap orang tuanya dibandingkan dengan anak yang disusui dengan susu formula (yang berasal dari hewan atau tanaman). Anak yang jiwanya sehat, lebih mudah mendapat pendidikan yang baik. Kekurangan gizi berat banyak melanda anak yang tidak mendapat ASI, dan anak lebih banyak hipper-aktif serta over-acting, akibat dari rusak dan/atau berkurangnya sel otak anak.

Berdasarkan penelitian Richards tahun 2002 di Inggris, dari 1.736 anak-anak yang dilakukan ujian, ditemukan anak ASI secara bermakna menunjukkan hasil pendidikan lebih tinggi. Penelitian di Jerman juga ditemukan lamanya masa menyusui mempengaruhi IQ seorang anak, anak yang menyusu ASI lebih dari 6 bulan memiliki IQ lebih tinggi dibanding anak yang menyusu kurang dari 1 bulan karena ASI meningkatkan kepandaian. Selain tumbuh kembang dan pendidikan, anak juga berhak berpartisipasi dan mandiri. Seorang anak yang sudah memulai berpartisipasi sejak dilakukan IMD yaitu saat mencari puting ibunya sendiri dan menyusu semaunya bayi akan memiliki rasa kejiwaan yang kuat terhadap partisipasi dan kemandirian dalam hidupnya dibandingkan dengan anak yang tidak ASI. Begitu juga hak persamaan hak, bayi perempuan juga mempunyai hak yang sama dengan laki-laki untuk disusui, sehingga tidak ada perbedaan atau bahkan pemilihan payudara ibu. Puting susu ibu yang ada dua, adalah sama untuk anak-anaknya, termasuk anak kembar, sehingga dapat disusui bersama keduanya di kanan dan di kiri. 


Begitu banyak manfaat ASI dan keuntungannya, yaitu antara lain mengurangi kemiskinan karena dengan memberikan ASI, maka tidak perlu mengeluarkan biaya untuk susu kaleng yang harganya setiap saat melambung tinggi dan tidak terjangkau. Tidak benar bahwa susu formula yang harganya tinggi dan import lebih baik dari susu formula lokal yang murah, karena keduanya diproses di dalam pabrik yang tidak diketahui kondisi kesehatan susu, penggunaan zat pengawet dan terlebih asal susu adalah dari hewan dan tanaman yang dapat membahayakan bagi kesehatan jiwa dan raga serta sisi kemanusiaan dan masa depan anak-anak. Dengan menggunakan ASI maka akan sangat lebih ekonomis dan alami untuk bayi baru lahir hingga sampai dengan usia 2 tahun. 



Menyusui juga menguntungkan bagi ibu karena mencegah dari risiko pendarahan dan anemia setelah melahirkan, mencegah kematian ibu melahirkan, terhindar dari risiko kanker payudara, kanker indung telur, kanker rahim, osteoporosis, serta merupakan metode KB paling aman, mengurangi risiko berat badan berlebih, mengurangi maternal diabetes, dan mempercepat bentuk rahim kembali ke keadaan sebelum hamil. 

Sebagaimana pengakuan dari tindakan terpuji Nola AB3 yang merasa kelebihan ASI, sehingga penyanyi ini mendonorkan ASI-nya pada bayi yang kekurangan air susu ibu. Kegiatan mendonorkan ASI sudah dilakukannya sejak mempunyai anak pertama, Naura yang saat ini usianya sudah lebih dari 4 tahun. Nola mengungkapkan, dirinya sering mendonorkan ASI ke rumah sakit untuk pasien anak yang premature. “Dua kali sehari, aku pompa ASI. Terus aku bungkusin pakai plastik es mambo, dan ditaruh di kulkas. Sekali kirim aku pakai box gede,” katanya.

Karena terlalu banyak dan kebanjiran ASI, bukan hanya untuk orang lain saja yang dapat bagian ASI miliknya, namun juga keponakannya juga sering meminum ASI dari ibu tiga anak ini, Naura, Bevan dan Neona ini.

“Biasanya kalau keponakanku datang ke rumah, dia langsung buka kulkas dan ngambil ASI-ku yang sudah dibungkus plastik es mambo itu,” ungkapnya.

Selain bisa membantu orang lain, Nola mengaku mendapat berkah tersendiri, sehingga, berat badan Nola kini menjadi proportional. Dulu, sebelum mendonorkan ASI, Nola mengaku kelebihan berat 20 Kg.

“Sekarang tinggal mengurangi 8 kg lagi supaya ideal. Selain memompa ASI, aku juga olah raga dan makan makanan yang sehat. Ya, untuk menyeimbangkan asupan ASI juga,” tutup cewek berbobot 58 kg ini.

Memangnya berapa sih banyak ASI-nya Nola?

“Banyak banget. Sekali pompa aja, bisa sampai 500 ml. Maksimalnya aku bisa keluarkan 800 ml ASI,” terangnya.


Keberhasilan pemberian ASI juga didukung oleh partisipasi ayah/suami. Beberapa penelitian menemukan keberhasilan menyusui pada kelompok ayah yang tak mengerti ASI hanya 26,9%, sedangkan kelompok ayah yang mengerti ASI 98,1%. Selain keluarga dan kerabat, pemerintah pun bertanggung jawab dalam pemberian ASI Eksklusif. Bentuk tanggung jawab dan perhatian pemerintah terhadap ASI yaitu dikeluarkannya melalui Undang-undang No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 128, 129, 200 dan 201 berisi tentang ASI Eksklusif. Semua ketentuan seperti memfasilitasi pemberian ASI, baik tempat atau waktu bagi ibu bekerja, sampai ketentuan pidana apabila ada yang sengaja menghalangi pemberian ASI, termasuk orang tua, mertua atau pun keluarga dan lingkungan serta siapa pun dapat dikenakan pasal berlapis ini.


Untuk memaksimalkan hak anak dan ibu dalam pemberian ASI serta pengetahuan yang lebih banyak lagi tentang ibu sejak hamil sampai dengan memiliki balita, maka beberapa Pemerintah Kabupaten/Kota melaksanakan Program Kelompok Pendukung (KP) Ibu. Salah satunya adalah Pemerintah Kabupaten Bantul, Kota Surakarta, Kota Administrasi Jakarta Utara, Kota Administrasi Jakarta Barat, Kabupaten Brebes dan Kabupaten Buru bersama dengan Mercy Corps Indonesia dan Kementerian Kesehatan RI serta Dinas Kesehatan terkait.

Sebagai contoh adalah, hasil penelitian di Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul, yang merupakan percontohan pertama kali diterapkan KP-Ibu, mampu mendorong peningkatan cakupan ASI Eksklusif sebanyak 8% dalam 1 tahun. Peningkatan cakupan ASI Eksklusif juga secara significant meningkat di Kabupaten Bantul yaitu dari kisaran 30% pada 2009 menjadi 50% pada akhir tahun 2010.  



KP Ibu telah terbukti efektif bisa meningkatkan cakupan ASI Eksklusif, sehingga perlu untuk melakukan replikasi program Kelompok Pendukung Ibu ini di semua kota/kabupaten di Indonesia. Tujuan dari replikasi program ini adalah untuk meningkatkan cakupan pemberian ASI Eksklusif, serta meningkatkan pelaksanaan IMD, serta lebih banyak lagi untuk kesehatan ibu dan anak di wilayah.

Dari hasil evaluasi, cukup banyak pembelajaran dan tantangan.  Untuk  itulah  diperlukan terobosan  dan  inovasi  strategi di pemerintah kota/kabupaten,  yaitu:  

(1) Memasukkan  bahwa  program  KP  Ibu  ini menjadi agenda  unggulan,  yang dapat dituangkan dalam Dokumen Perencanaan Strategis Dinas Kesehatan atau Surat Ketetapan Bupati/Walikota. 

(2) Mengintegrasikan Program KP Ibu dengan program lain  yang  saling mendukung. Strategi ini dapat diterapkan  dalam  program  kelas  hamil,  untuk  menekan  tingginya  angka kematian  ibu.  Program  kelas  hamil  ini dilaksanakan  di  setiap  puskesmas,  yang  diikuti oleh ibu-ibu hamil wilayah puskesmas. Untuk itu, pemerintah dapat mengintegrasikan program KP  Ibu  ini  dengan  kelas  hamil. Pengintegrasian dilakukan dengan memasukkan materi- materi KP Ibu menyusui dalam kelas hamil. 

(3)  Mengembangkan forum  multi-stakeholders  untuk  keberlanjutan program , yang terdiri  dari instansi  pemerintah,  LSM,  organisasi masyarakat, sehingga diharapkan  akan  ada  pemahaman  bahwa
program ASI Eksklusif dan  Inisiasi Menyusu Dini tidak semata-mata kewenangan dan tugas Dinas Kesehatan  namun  merupakan tanggung jawab  bersama  dari  banyak  sektor dalam upaya perlindungan anak. Dari  forum multi stakeholders  ini,  dapat dicapai  beberapa kesepakatan dan  juga pembagian  tugas, sesuai dengan  peran  masing-masing.  Khususnya  untuk Program Kelompok Pendukung  Ibu  (KP  Ibu)  ini, PKK dapat disepakati  sebagai  leading sector.  Hal  ini  untuk  menjamin  berjalannya kegiatan  KP  Ibu  di  masyarakat,  karena kelembagaan PKK  sudah melembaga  di  tingkat masyarakat.  Sedangkan  untuk  memperbanyak dan  menjamin  kualitas  dari  para  motivator, adalah menjadi tugas dari Dinas Kesehatan. 

(4) Membangun kemandirian dana.  Kemandirian dana  yang  dimaksud  adalah,  sebuah  upaya dimana  kegiatan  KP  Ibu  bisa  memperoleh alokasi dana, sehingga bisa dijalankan. Saat  ini, kemandirian  dana  untuk  pelaksanaan  KP  Ibu dapat diperoleh dari: 
(a) Stimulasi dana kegiatan dari PKK.  Dana  ini  diperoleh  dari  APBD, 
(b) Dana  penyelenggaraan  pelatihan  motivator dari Dinas  Kesehatan,
(c) Partisipasi masyarakat, berbentuk  dukungan  tempat  dan  konsumsi di setiap  pertemuan  KP  Ibu, 
(d) Dan  dari pemerintah kelurahan, sebagai dana pendukung kegiatan KP Ibu.

Terobosan dan  inovasi  tersebut pada akhirnya akan membuahkan hasil seperti: 
(1)  Meningkatnya jumlah KP Ibu, seperti yang terjadi di Kota Surakarta, dari 4 KP  Ibu menjadi  34  KP  Ibu  (tahun 2010  oleh  Dinas  Kesehatan  Kota  Surakarta) dan saat ini (2011 – 2012) ada 67 KP Ibu,
(2)  Meningkatnya  cakupan  ASI  Eksklusif  yang significant
(3)  Meningkatnya  pihak  yang  berperan  dalam  KP Ibu.    Pihak  yang  kini  berperan  dalam  KP  Ibu adalah  Baparmas,  PKK,  Puskesmas,  Bapeda, Pemerintah  Kelurahan  dan  individu.  
(4)  Adanya  kemandirian  dana.  Kemandirian  dana ini  adalah,  upaya  agar  kegiatan  KP  Ibu  bisa memperoleh  alokasi  dana/dukungan  dari berbagai sumber. Kini program KP Ibu menjadi salah satu  program  unggulan  di bidang Kesehatan  Ibu  dan  Anak.  Pihak  yang  paling memperoleh  manfaat  dari  program  ini  adalah penerima  manfaat  langsung,  yaitu  anak-anak baru  lahir  dan  para  ibu. Sedangkan  penerima manfaat  tidak  langsung,  yaitu  keluarga, masyarakat  umum  dan  pemerintah Kabupaten/Kota.

Sebenarnya, Program  KP  Ibu  adalah  sebuah  program  untuk menciptakan  kondisi  lingkungan  sosial  yang mendukung    ibu  untuk  praktek  IMD  dan  dapat menyusui  secara  eksklusif.  Dengan  adanya lingkungan  sosial  yang  mendukung,  IMD  dan pemberian  ASI  Eksklusif  akan  bisa  dilakukan dengan  baik.  Pengkondisian  lingkungan  sosial  ini, dilakukan dengan membangun kelompok-kelompok yang disebut Kelompok Pendukung Ibu (KP Ibu). KP Ibu ini adalah suatu kegiatan berbasis masyarakat, yang  terdiri dari   8 – 10 orang  ibu hamil dan  ibu yang memiliki  bayi  0-6  bulan. Mereka  berkumpul secara  rutin  2  minggu  sekali  untuk  berbagi pengalaman, ide, dan informasi  berkaitan dengan kehamilan,  melahirkan  dan  menyusui. 

Suasana yang diciptakan adalah suasana saling mendukung dan saling  percaya yang dipandu oleh motivator.  Replikasi  program  KP  Ibu  dapat  menggunakan dana Bantuan Operasional Kesehatan  (BOK) untuk melaksanakan  kegiatan  : 
(1)  Sosialisasi  KP-Ibu  tingkat Kelurahan, 
(2)  Seleksi  motivator, 
(3)  Pelatihan motivator,
(4) Operasional KP-Ibu dan
(5) Mentoring motivator.



Untuk  menjaga  kualitas  dan  untuk  mengetahui perkembangan serta hambatan dari Program KP Ibu ini,  maka  dibangun  mekanisme  monitoring  dan evaluasi. Monitoring dan evaluasi  ini dilakukan oleh Pembina KP Ibu, baik Pembina KP Ibu yang berasal dari unsur Dinas Kesehatan atau Pembina KP Ibu dari unsur puskesmas maupun Pembina KP Ibu dari unsur LSM. Monitoring dalam  kegiatan KP  Ibu ini menjadi  satu  bagian  dalam  kegiatan mentoring. Kegiatan  mentoring  adalah  sebuah  kegiatan  yang dilakukan  oleh Pembina KP  Ibu  untuk memberikan input  terhadap  proses  yang  sedang  berjalan, termasuk  menggali  kendala-kendala  apa  yang dihadapi  sekaligus  memfasilitasi  pemecahannya. Pembina  KP  Ibu  adalah  counselor  laktasi/petugas kesehatan  setempat  yang  sudah  terlatih  untuk membina KP Ibu, yang dapat terdiri dari staff  Dinas  Kesehatan,  bidan puskesmas, Ikatan Bidan/Dokter Indonesia  dan  counselor  menyusui  serta dari  LSM kesehatan.

Dalam melakukan mentoring  ini, para Pembina KP Ibu, melakukan kunjungan pada saat pertemuan KP Ibu berlangsung  dan dilakukan pula secara berkala, yaitu 1 atau 2  kali dalam sebulan.  Sedangkan  kegiatan evaluasi  dilakukan  setiap  6 bulan atau 1  tahun  sekali.  Dinas Kesehatan  adalah  pihak  yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan evaluasi  ini.  


Sebagai contoh yang sudah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Surakarta, ada banyak daerah, baik dari kabupaten lain di  Jawa  mau pun  luar  Jawa,  yang  melakukan kunjungan  belajar  ke  Surakarta. Selain  itu,  Kepala Dinas  Kesehatan  Kota  sering  memperoleh undangan  menjadi  nara sumber  untuk  bercerita tentang  cerita  sukses  di Kota Surakarta. Beberapa wilayah  yang  pernah melakukan  kunjungan  belajar di  Kota  Surakarta  adalah  : 
(1) Pemerintah Kota Depok,
(2) Pemerintah Kota Ambon,
(3) Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, 
(4) Pemerintah Kota Brebes,
(5) Negara Australia.

Pengalaman  Kota  Surakarta  menunjukkan  bahwa dalam melakukan  replikasi  program pun  dibutuhkan inovasi.  Inovasi  dilakukan  agar  program  bisa dijalankan  dan mencapai  tujuan.  Praktek  baik  dari Kota Surakarta dalam Inovasi Strategi Pelaksanaan KP Ibu, bisa di replikasi di daerah  lain.  Pemerintah Daerah dari beberapa wilayah di  Indonesia pernah belajar  langsung  ke  Kota  Surakarta.  Mereka mengamati  proses  kegiatan  KP  Ibu,  sekaligus belajar  tentang  bagaimana  Pemerintah  Kota Surakarta membuat strategi. 

Dan dengan latar belakang bahwa Indonesia adalah merupakan salah satu negara dengan beban ganda malnutrition, diantaranya adalah obesities dan kekurangan gizi, termasuk kekurangan gizi kronis yang membebani indeks pembangunan manusia, serta dalam hitungan hari Ini, rata-rata 4 dari setiap 10 anak di negeri ini adalah “stunted”, maka dampak kekurangan gizi selama 1000 hari pertama kehidupan sejak pembuahan, saat anak masih dalam kandungan ibu hamilnya, hingga ia berusia 2 tahun terjadi. Akibatnya tidak hanya tinggi badan bayi dan anak-anak di bawah rata-rata sebayanya, anak-anak stunted ini juga kehilangan peluang pertumbuhan pesat dari sel-sel otak di masa-masa penting tersebut. Dalam kurun waktu keemasan yang singkat, masa depan generasi penerus Indonesia, dari suku bangsa apa pun dan dari belahan Nusantara mana pun sangat ditentukan oleh waktu standar emas.


Memperhatikan semua penjelasan yang telah dijabarkan panjang dan lebar di atas, hal tersebut dapat diatasi dengan intervensi dan inovasi yang sangat mudah dan murah, sebagaimana yang sudah dilakukan di kota Surakarta dan Kabupaten Bantul serta beberapa daerah dampingan sebelumnya, yaitu melalui upaya yang mendukung kesehatan & gizi ibu dan wanita usia reproductive lainnya, mengawal pemberian ASI eksklusif 6 bulan, dan pola makan dan asuh yang tepat sesuai usia anak.

Hal ini telah dilansir oleh Lancet sejak awal tahun 2000-an. Seluruh dunia telah melakukan perubahan yang sangat luar biasa, yaitu kembali ke alam dan kehidupan alami, termasuk diantaranya adalah menghilangkan kebiasaan menggunakan susu formula dan kembali ke ASI serta mengkonsumsi makanan alami non-pabrik, sebagaimana yang dilakukan di negara-negara Eropa, Amerika serta Asia-Afrika.

Banyak pembelajaran di dunia yang menunjukkan bahwa perubahan berkesinambungan tersebut telah dicetuskan, dilaksanakan, dan dimiliki oleh kelompok yang memerlukan perubahan itu sendiri dengan dukungan sosial terdekat maupun tata pemerintahan. Kelompok Pendukung Ibu (KP Ibu) sebagaimana yang dijelaskan di atas, telah diakui oleh banyak pihak di seluruh dunia serta menjadi model yang sangat berperan penting dalam pemberdayaan keluarga, yaitu wanita dan pria di masyarakat dalam memahami, mengusung, serta mendampingi isu kesehatan, gizi ibu dan anak. KP Ibu menyentuh semua aspek moral, dan pembangunan sosial kemasyarakatan serta akuntabilitas sumber daya untuk kesehatan.


Saat ini model Kelompok Pendukung Ibu yang telah dikembangkan bersama dengan kami di Indonesia telah diadopsi oleh semakin banyaknya tempat di RW dan kelurahan di pedesaan dan perkotaan. KP Ibu adalah sarana berbagi pengalaman, perasaan, dan informasi di antara para ibu untuk menciptakan suasana saling mendukung dalam menerapkan perilaku yang bermanfaat untuk kesehatan & gizi diri serta keluarga dengan prinsip pembelajaran orang dewasa lewat mekanisme kelompok sebaya.

Permintaan organisasi masyarakat sipil, pemerintah kota/kabupaten di Indonesia kepada  Mercy Corps Indonesia untuk membantu implementasi model KP Ibu pun terus mengalir; sementara sebagai organisasi yang berprinsip kemitraan dengan sumber dana hibah dan shared value dari swasta, kami selalu berupaya untuk berperan sebagai katalisator, artinya model yang ditinggalkan tidak hilang, collapse sepeninggal pendampingan peningkatan kapasitas mitra dari kami.

Dengan pengalaman dan pembelajaran KP Ibu selama ini serta kecepatan perkembangan pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan seorang Motivator maupun Pembina KP Ibu, kami merasa sudah saatnya living document KP Ibu dibuat menjadi mobile-app. Dengan adanya aplikasi tersebut, dinas-dinas kesehatan, motivator, pembina KP Ibu, atau pun peminat model ini, dapat mengunduh, belajar mandiri, dan teknik dasar praktis, pesan-pesan kunci, dan menilik contoh-contoh yang dibutuhkan untuk: mengajak, memotivasi, mengakses pesan kunci; mencatat kegiatan; melaporkan kegiatan (printable/email); mengunduh/memutakhirkan konten-konten; serta ketersediaannya dalam bahasa daerah.

Memperhatikan semua aspek yang telah dijelaskan di atas dan guna  mendukung  wilayah  lain  dalam  melakukan replikasi KP Ibu, sebagaimana yang telah dilakukan dari inisiatif pemerintah Kota Surakarta, maka kami ingin melakukan replikasi Kesehatan Ibu dan Anak tersebut di seluruh kota/kabupaten di Indonesia, dengan melibatkan semua pihak, termasuk Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten dan Kota, Praktisi Kesehatan serta Masyarakat.


Bentuk kegiatannya adalah mKPI (mobile KP Ibu), dimana targetnya adalah pengguna dan penerima manfaat, seperti komunitas, organisasi masyarakat sipil, pemerintah, organisasi profesi, ibu hamil, ibu menyusui, anak dan balita, serta pasangan usia subur, termasuk juga wanita usia reproductive yang berumur 16-45 tahun di Indonesia. Kegiatan ini termasuk juga di dalamnya adalah penyediaan sarana aplikasi komprehensif yang tersedia dalam Bahasa Indonesia dan beberapa bahasa daerah, dengan muatan pesan kunci, tips, teknik, panduan praktis fasilitasi pertemuan, termasuk teknik bermain, termasuk di antaranya: – Kehamilan yang menyenangkan – Gizi Ibu – Kebersihan diri dan cuci tangan pakai sabun – Inisiasi Menyusu Dini (IMD) – ASI saja 6 bulan (ASI Ekslusif) – Mitos dan kiat sukses – Memerah dan menyimpan ASI perah – Mengenal Payudara dan Produksi ASI – Deteksi dan pertolongan pertama: Tanda bahaya pada kehamilan, persalinan, dan masa nifas; bayi baru lahir; dan balita sakit; – Petunjuk belajar mandiri bekal menjadi fasilitator, penyuluh, motivator. – e-record ringkasan kegiatan yang dapat dilaporkan via email, dan masih banyak lagi di dalamnya.

Termasuk juga dengan memaksimalkan penggunaan media sosial seperti twitter, facebook, lintas mobile messaging apps dengan komunitas, kabupaten, kecamatan, kelurahan, RW dan RT, dan melakukan kampanye Kesehatan, serta aktif dalam mengikuti pameran serta melaksanakan peluncuran massal replikasi mKP-Ibu dalam rangka memperingati hari Ibu (22 Desember), hari kesehatan nasional (12 November), pekan ASI sedunia (1-7 Agustus), dan/atau Hari Wanita sedunia (8 Maret), dan sebagainya.


Dalam mengembangkan Model dan Modul peningkatan wawasan dan ketrampilan, Mercy Corps Indonesia akan senantiasa bekerja sama dengan semua pihak dan berkolaborasi dalam menggabungkan semua konsep, penyusunan dan uji coba dengan melibatkan semua mitra dan kelompok sasaran, sehingga muatan selalu dapat disesuaikan dengan konteks setempat serta dapat dengan mudah digunakan, menjadi rujukan, dan disebarluaskan.

Untuk itu kami membutuhkan dukungan bapak/ibu dan saudara, agar kegiatan ini dapat dilakukan dan berhasil dengan baik dengan cara membagikan informasi ini sebagai bentuk dukungan kepada KP Ibu dan Kesehatan Ibu dan Anak di seluruh Indonesia.

Bentuk dukungan tersebut dapat tertuang melalui: 


 
Mengirimkan SMS ke nomor 0877-8880-2262, dengan tarif SMS normal sesuai yang diberlakukan oleh operator masing-masing. Format SMS dukungan adalah 088DUKUNG
Contoh: 088 DUKUNG

Dan/atau;

Membagikan pesan ini serta dukungannya terhadap kegiatan KP Ibu ke Twitter (dua kali re-tweet, yaitu untuk dukungan dana dan dukungan artikel ini), dengan cara klik gambar di bawah ini:

"Dukung Kesehatan Ibu dan Anak melalui mobile KP Ibu"

Dan/atau;

Membagikan pesan ini dan kegiatan KP Ibu ke dalam Facebook (dua kali share, untuk artikel dan permohonan dana hibah kegiatan nantinya), dengan cara klik gambar di bawah ini::

"Dukung Kesehatan Ibu dan Anak melalui mobile KP Ibu"



Bentuk dan dukungan ini dapat bapak/ibu/saudara lakukan lebih dari satu kali, misal SMS, twitter dan Facebook, SMS dan Twitter, SMS dan Facebook, dan seterusnya. Sampaikan kepada semua sanak keluarga dan handaitolan untuk mendukung kegiatan kesehatan ibu dan anak. Bentuk dukungan akan menjadikan dasar dan pedoman bagi kami untuk memetakan, dan mengurutkan berdasarkan dukungan yang ada, daerah mana yang akan menjadi prioritas dan non prioritas lokasi replikasi mKPI (mobile KP Ibu), di bulan Agustus 2014 ini. Atas dukungannya kami mengucapkan banyak terima kasih.


Referensi
1.       Newsletter MercyCorps Indonesia bulan Februari 2014
2.       Jurnal MediaKom, Kementerian Kesehatan RI, Edisi XXV, Agustus 2010
3.       Panduan  Dasar  Pembina  Motivator  Menyusui, Mercy Corps, Edisi 1, Oktober 2008
4.       Kelompok  Pendukung  Ibu  Surakarta  (Slide Presentasi),  Dinas Kesehatan Kota Surakarta, 2011
5.       Proposal  Kerjasama;  “Membangun  Kelompok Pendukung  Ibu  sebagai  Sebuah  Pendekatan dalam Meningkatkan Pemberian Makanan yang Terbaik  buat  Anak”  ;  Mercy Corps; 2009.
6.       Notulensi Koordinasi Program KP  Ibu, Yayasan KAKAK, 2010
7.       Laporan  Kegiatan  KP  Ibu  di  Surakarta;  Dinas Kesehatan Kota Surakarta; 2010
8.       Laporan  Kegiatan  KP  Ibu  di  Surakarta; Puskesmas Pucangsawit; 2011
9.       Laporan  Kegiatan  KP  Ibu  di  tingkat  kelurahan; KP Ibu Jagalan RW VII; 2011
10.   Dokumen  Perencanaan  Strategis  Dinas Kesehatan Kota Surakarta; 2010
11.   Sosialisasi  KP  Ibu,  Blog  Puskesmas  Nusukan, Puskesmasofnusukan,blogspot.com,  Oktober 2010
12.   Liputan Media Cetak;  “Angka Kematian Bayi Di Solo  Tinggi”;  Harian  Joglosemar;  28  Januari 2011

No comments:

Post a Comment