
Nancy Halpern:
Silakan pilih salah satu dari tipe-tipe bos anda berikut ini:
a--Monster
b--Penjajah
c--Hitler
d--Semuanya
Apakah hal ini terdengar akrab di telinga anda? Apakah anda menghadapinya setiap hari? Apakah anda menganggap ada yang keliru dalam hidup anda sehingga harus keluar dari kemelut ini? Jangan putus asa. Sekarang atau kelak kita semua pasti pernah berhadapan dengan tipe-tipe bos seperti ini.
Terlalu banyak orang tidak menyadari bahwa "memanajemi bos" tidaklah sama dengan "menjilat bos". Memanajemeni bos adalah bagian dari tugas anda dan merupakan kunci indikator keberhasilan. Dalam memanajemeni bos, anda belajar untuk menguasai banyak hal, misal, manajemen itu sendiri, perilaku manusia, dan kemampuan menghindari situasi penuh tekanan. Ketrampilan-ketrampilan ini dapat anda gunakan sebagai strategi untuk bertahan, bahkan sukses.
BAGAIMANA ORANG SEBAIK ANDA BISA TERJERUMUS DALAM SITUASI BURUK INI?
Bagaimana anda bisa terjerumus dalam situasi ini? Mungkin anda diterima bekerja pada sebuah perusahaan, dan bos anda tampaknya sangat, sangat baik.
Namun ketika deadline pertama tiba, ia berubah menjadi monster yang berteriak-teriak menakutkan. Atau, mungkin bos anda yang lama keluar dan manajemen memutuskan untuk menggantikannya dengan bos baru yang mengerikan.
Atau, mungkin juga anda mendapat kenaikan pangkat, dipindah ke bagian lain dan bertemu dengan bos yang sulit. Atau, hubungan anda dengan bos sebenarnya baik-baik, namun tiba-tiba menjadi pahit dan semakin buruk sehingga sulit bagi anda untuk memperbaikinya. Kebanyakan orang tak mau bekerja untuk bos-bos bertipe sulit. Mereka lebih suka menghindarinya jauh-jauh. Hanya sedikit sekali orang yang mampu melihatnya sebagai sebuah tantangan untuk maju.
PILIHLAH SEORANG BOS, SEMBARANG BOS
Mari kita lihat apakah kita bisa keluar dari situasi horor ini. Coba anda
pelajari bagaimana tipe bos anda sebenarnya. Berikut ini ada beberapa tipe
bos yang dibenci. Apakah anda menemukan bos anda termasuk dalam daftar ini?
1--Arogan.
Bos tipe ini percaya bahwa memotivasi karyawan hanya dapat dilakukan dengan cara intimidasi, kekerasan dan menebarkan ketakutan. Mereka senang sekali melihat bawahannya merunduk-runduk dan menyembah-nyembah padanya. Bos ini mustahil mau bersikap manis pada bawahannya.
2--Idiot.
Bos ini benar-benar bodoh. Tak peduli berapa kali anda berusaha menjelaskannya pada mereka, tapi mereka tetap saja membuat anda menggeleng-gelengkan kepala. Ajukan pada mereka sebuah strategi konyol, mereka pasti akan menyetujuinya. Anda tentu heran bagaimana mereka bisa sampai pada kedudukan ini, bahkan terus mendapatkan promosi. Mengapa? Karena mereka selalu berusaha menyenangkan atasan mereka.
3--Politisi.
Bos tipe ini berusaha memanipulasi orang lain sedemikian rupa sehingga setiap orang akan mengatakan apa yang ingin mereka dengar. Selama berminggu-minggu, berbulan-bulan dan bertahun-tahun, mereka terus menyebarkan kebohongan. Sebenarnya mereka ini adalah orang yang lihai memutarbalikkan kenyataan sesuai kemauan mereka. Perhatian mereka tak pernah tertuju pada apa yang baik bagi perusahaan, namun apa yang baik bagi diri mereka sendiri.
4--Ular.
Bos tipe ini suka sekali berkata, "Saya benar-benar mengusahakannya untuk anda." sambil tersenyum manis padahal mereka sama sekali tidak tulus. Mereka pandai sekali memadukan kelicikan seekor ular dengan kemampuan akting aktor peraih Oscar. Ucapan mereka tak bisa dipercaya.
5--Workaholic.
Bos tipe ini tidak mempunyai kehidupan. Mereka hidup untuk bekerja. Bahkan bekerja adalah hidup itu sendiri. Bagi mereka, foto keluarga di meja kerja sudah cukup untuk menunjukkan perhatian pada anak-anak dan keluarganya. Mereka suka menentukan deadline yang tidak realitis, menelepon anda di rumah, mengadakan perjalanan dinas di akhir pekan. Memang itulah teknik-teknik mereka. Sebagian besar bawahan bekerja melebihi jam kerja normal hingga larut malam tanpa adanya pengakuan atau imbalan yang memadai.
Kenyataannya semakin banyak pekerjaan yang menjadi tanggung jawab mereka, semakin banyak imbalan yang diberikan pada mereka, namun tak sepeser atau sedikitpun penghargaan diberikan pada bawahannya.
BERHARAP SAKIT HATI
Kita semua tahu, tak mudah hidup bersama bos sulit. Anda mungkin telah berusaha berbagai macam cara dan tidak juga berhasil. Lalu apakah anda akan keluar begitu saja? Apakah anda menerima kjeadaan sebagai sebuah hukuman atas karma anda? Tenang saja, berikut ada beberapa tips untuk menghadapi bos sulit. Jika tidak berhasil, setidaknya membuat hidup anda lebih nyaman.
Cobalah beberapa ide berikut ini.
1--Jangan membangkitkan singa yang sedang tidur.
Ketahui apa yang membuat mereka jengkel, marah-marah, dan tertekan? Catat semuanya. Lalu tuliskan pada lembar yang sama apa-apa yang menjadi kebalikan hal tersebut. Tempelkan daftar ini agar mudah anda baca setiap waktu. Jangan lupa untuk memperhatikan hal-hal kecil. Hal-hal kecil ini sama pentingnya dengan yang besar-besar. Misal: anda mungkin tak mempersoalkan bila anda lima menit terlambat datang dalam rapat. Namun, bila hal ini seringkali anda lakukan, bos akan menganggap anda malas, tak pandai mengatur waktu dan tidak menghargainya. Ingat, yang perlu anda perlu ketahui adalah titik-titik sensitivitas bos anda, bukan anda.
2--Kenali metode komunikasi yang disukai bos.
Apakah bos lebih menyukai komunikasi melalui email, telepon atau memo tertulis? Apakah mereka hanya menggunakan satu cara untuk mereka sendiri dan cara lain untuk bawahannya? Kenali dan terapkan! Ini akan membuat mereka lebih nyaman berkomunikasi dengan anda. Bahkan mereka mungkin percaya bahwa anda sama seperti mereka. Karenanya anda harus sangat, sangat cerdik.
3--Kenali gaya komunikasi mereka.
Apakah gaya komunikasi mereka formal atau informal? Anda tak harus benar-benar menyamai mereka; namun gunakan sebagai panduan umum dalam berkomunikasi. Misal, jika bos sering menggunakan kata-kata vulgar, bukan berarti anda juga harus meniru mereka. Bersikap terkejut karena kekasaran mereka tidak akan menolong anda. Anggap saja bahwa ini adalah suatu bentuk informalitas, atau taktik untuk membuat anda jengkel, jadi jangan berreaksi apa-apa. Hal yang sama berlaku pada bagaimana gaya mereka berpakaian. Jangan meniru begitu saja, namun gunakan untuk mengetahui siapa dan bagaimana mereka sesungguhnya.
4--Anggap ini sebagai bagian dari kesuksesan anda.
Saya tahu ini sulit dan menyakitkan, namun lakukan! Pelajari orang-orang yang berhasil mengatasi bos macam begini. Lihat siapa yang berhasil mendapatkan promosi? Perilaku dan perlakuan apa yang mereka gunakan untuk menghadapi bos mereka? Lupakan sifat-sifat anda sendiri, cobalah untuk bersikap obyektif. Ini bukan berarti anda harus meniru mereka begitu saja, namun anggap saja ini sebagai petunjuk untuk mengetahui apa-apa yang disukai oleh bos anda. Anda bisa memutuskan kemudian, apakah anda perlu menyamai kolega anda yang berhasil tadi atau tidak, namun untuk kali ini anda perlu mengumpulkan data sebanyak-banyaknya.
5--Simpan semua ini untuk anda sendiri.
Katupkan bibir anda rapat-rapat. Jangan mengeluhkan bos anda di dalam kantor. Sudah terlalu banyak orang menyebarkan cerita-cerita buruk tentang bos mereka. Ingat, dinding-dinding kantor anda mempunyai telinga, bahkan mereka akan meneruskan keluhan anda kemana-mana, termasuk bos anda. Mungkin orang yang pertama kali anda ajak bicara tidak akan menyampaikannya pada bos anda, namun orang kedua atau ketiga yang akan melakukannya.
6--Lupakan bagian Human Resource
Ingat, divisi HR dibentuk untuk memenuhi kebutuhan perusahaan bukan kebutuhan anda pribadi. Kalau anda mengeluh tentang bos anda pada mereka, tak peduli seberapa pun benarnya, mereka akan langsung menyampaikannya pada bos anda. Dan ini kelak akan menyakitkan anda. Percayalah, tak peduli seberapa "bersahabatnya" sikap yang ditunjukkan oleh bagian HR, mereka bukanlah sahabat yang sejati.
7--Catat, catat, sekali lagi: catatlah.
Simpanlah setiap memo, catatlah setiap pernyataan yang menyakitkan, setiap janji yang tak ditepati, dan setiap perilaku yang di luar batas. Jangan lupa untuk mencatat juga tanggal, saksi-saksi, dan detil-detil yang bisa dipercaya. Simpan ini baik-baik. Siapa tahu anda kelak akan membutuhkannya... siapa tahu?
8--Susun strategi keluar dari kemelut.
Susun curriculum vitae tentang diri anda. Buat daftar headhunters yang bisa anda hubungi dan tiga atau empat nama orang yang bisa memberi anda referensi positif. Bila anda memutuskan untuk keluar, maka hal pertama yang harus anda lakukan adalah membuka dokumen ini. Anda akan benar-benar merasa tertolong.
9--Manajemeni bos anda.
Jadikan ini sebagai pekerjaan anda. Sadari bahwa anda perlu mempunyai strategi untuk memanajemeni bos anda. Bersikaplah penuh tanggung jawab pada mereka. Kenali apa yang menjadi kelemahan dan kekuatan bos anda. Kenali pula gaya kerja anda, dan rencanakan bagaimana anda bisa menyeimbangkan perbedaan di antara anda.
Cara Hadapi Bos yang Suka Mengancam
MENJALANI karir sebagai seorang karyawan tak bisa seenak hati layaknya menjalankan usaha sendiri. Sebab, setiap gerak langkah kita diikat aturan serta atasan sebagai pemimpin dan pengendali proses kerja untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam sebuah lingkungan kerja dengan beragam karakter orang, tak jarang orang yang menjadi atasan kita adalah pribadi yang unik. Salah satunya adalah tipe arogan dan tempramen yang gemar mengancam atau mengintimidasi bawahan bila tak mau menurut.
Berbekal "kekuasaan" yang dimilikinya, tak jarang dia akan menjadi "penguasa" kecil dalam lingkungan kerja. Sebagai bawahan tentu tak bisa memilih karakter orang yang menjadi atasan kita. Dan bila atasan kita adalah pribadi yang suka mengancam atau pemarah, yang kita butuhkan adalah bersabar."Mendapatkan atasan yang suka mengancam atau bahkan pemarah adalah sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Sehingga, untuk menghadapinya kita harus menerima dengan ikhlas,"terang S Susilowati, Senior HRD PT Batamindo Investment Cakrawala Batam.
Keiklasan merupakan kunci untuk bisa menikmati pekerjaan. Sebab, bila kita tidak ikhlas yang terjadi adalah siksaan psikologis. Setiap hari akan menjadi hari yang tidak menyenangkan, dan kerjasama tidak akan terjalin dengan baik. Akibatnya kinerja kita sendiri akan menjadi tidak optimal. Apa yang kita harapkan bila tidak menikmati sesuatu yang dikerjakan akibat tak bisa menerima atasan kita? "Menerima disini bukan berarti menerima perlakuannya. Ini berbeda. Apalagi kalau perlakuan atasan adalah perlakuan yang tidak menyenangkan. Misalnya mengancam atau mengintimidasi, menghina, dan sebagainya. Maka tindakan yang diambil bisa berhubungan dengan tindakan hukum,"terangnya.
Selain tindakan hukum, melaporkan kelakuan atasan pada atasan yang lebih tinggi juga bisa menjadi solusi untuk mengatasi tindakan tidak menyenangkan yang dilakukan pada kita. Pelaporan itu sendiri baik secara hukum maupun pada atasan tentu saja harus disertai bukti yang jelas. (*)
Jangan Membesar-besarkan Kekurangan Atasan
SIKAP arogan yang ditunjukkan seorang atasan pada bawahan bisa muncul sebagai sebuah sifat atau karakter. Jika sikap arogan tersebut adalah sebuah sifat, masih ada peluang untuk berubah. Berbeda bila sikap arogan tersebut muncul sebagai sebuah karakter. Karakter lebih susah diubah karena dibentuk sejak kecil.
"Sikap terbaik menghadapi atasan arogan adalah fokus pada bidang pekerjaan, bukan pada sifat atau pribadi orangnya. Sebab, orang arogan, belum tentu tidak bekerja dengan baik,"jelas S Susilowati. Sikap profesional serta tetap fokus pada pekerjaan dan memandang sisi baik atasan bisa dijadikan dasar menjalani pekerjaan. Sebab, setiap orang pasti ingin menikmati pekerjaan tanpa harus terganggu pikiran negatif.
"Jika kita ingin menikmati pekerjaan, maka kita harus fokus pada pekerjaan dan jangan membesar-besarkan kekurangan atasan. Bahkan, bila memungkinkan bantulah atasan dengan masukan-masukan agar atasan bisa berubah,"katanya. Selain fokus pada pekerjaannya, seorang pekerja hendaknya membekali dirinya dengan pengetahuan tentang aturan ketenagakerjaan. Baik saat bekerja tanpa masalah maupun ketika menghadapi atasan arogan. Sebab, dengan belajar undang-undang ketenagakerjaan, seorang pekerja dapat memahami dengan baik hak dan kewajibannya dan pengusaha. Pemahaman ini akan sangat membantu jika suatu saat mendapat masalah di tempat kerja.
Sebut saja jika kita dipecat. Saat kita mengetahui isi undang-undang ketenagakerjaan atau UU No 13 Tahun 2003, kita akan tahu bahwa atasan tak bisa seenaknya memecat orang. Meskipun secara pribadi yang bersangkutan tidak disenangi. "Pemecatan memang dapat dilakukan dengan tanpa didahului surat peringatan, tergantung berat ringannya tingkat kesalahan. Jika kesalahannya ringan, maka surat peringatan akan diberikan pada yang bersangkutan. Dan jika terus mengulang kesalahan yang sama, bisa berujung pada pemecatan,"katanya. (*)
Berpikir beda dan berpikir plusimac apple“Kalau saya sih beda! Menurut saya sebaiknya … bla.. bla.. bla….”
Pernahkah Anda bertemu orang yang selalu berpikir beda dengan Anda (juga hampir semua orang lainnya)? Mula-mula kita kagum, tapi lama-lama jengkel juga. Rasanya hanya pendapat dia itu yang benar, sementara pendapat orang lain itu tidak benar, atau paling tidak pasti ada cacatnya. Jadi, berpikir beda itu baik atau buruk?
Think different.
Itulah slogan perusahaan komputer Apple saat meluncurkan bentuk komputer yang beda di akhir tahun 90-an. Komputer yang lazim saat itu adalah sebuah kotak CPU (Computer Processing Unit) yang terpisah dari monitor tabung. Apple bikin yang beda, komputernya berupa sebuah monitor dengan bagian atas yang bening sehingga terlihat komponen di dalamnya. Mana kotak CPU nya? Nggak ada, karena ternyata CPUnya sudah ditempelkan di bagian bawah monitor tersebut, menyatu sehingga tidak terlihat. Komputer iMac ini laku keras luar biasa, dan membuat perusahaan Apple kembali diperhitungkan di pasar PC.
“Jadi berpikir beda itu perlu?” Tunggu dulu.
Apple berbeda dengan perusahaan lainnya. Namun andai Anda adalah karyawan Apple saat itu, bisakah Anda berpikir beda? Belum tentu. Paling tidak Anda harus ikut kemauan pimpinan di Apple yang waktu itu adalah Steve Jobs, seorang visioner yang juga otoriter dalam menerapkan visinya. Kalau Anda beda dengan dia, siap-siap saja untuk ditendang keluar. Apple itu berpikir beda dari perusahaan komputer lainnya, tapi berpikir sama di dalam perusahaannya.
“Jadi kapan kita perlu berpikir beda?” Nah, ini baru pertanyaan yang benar.
Kita perlu berpikir beda bila kita berada dalam suasana bebas sederajat, dimana semua perbedaan mendapat penghargaan sama. Biasanya suasana ini ada dalam proses kreatif (brainstorming misalnya), proses penciptaan. Selain itu : jangan berpikir beda!
Believe me, berpikir beda di suasana selain suasana kreatif ternyata berakibat tidak menguntungkan. Secara alami, tidak ada manusia yang menyukai perbedaan. Pepatah mengatakan, “Birds of a feather flock together.” Burung dengan bulu yang sama kumpul bersama. Kalau Anda sering beda dengan rekan-rekan Anda, pelan tapi pasti Anda akan disingkirkan. Dan itu yang saya lihat dari pengalaman selama ini. Apalagi, kalau Anda sering berbeda dengan atasan Anda terutama di rapat-rapat. Mungkin beliau hanya tersenyum pada Anda, dan besoknya Anda dipindahtugaskan. Kita bisa berbeda dengan kompetitor, tapi harus sama dengan grup kita.
Loh, bukannya buku-buku menyarankan agar kita berpikir beda? Bukankah guru-guru manajemen juga menyarankan agar perusahaan menumbuhsuburkan iklim beda pendapat? Justru itu. Karena beda pendapat itu bukan hal yang alami, maka guru-guru manajemen berteriak-teriak agar perusahaan menghargai perbedaan.
Berbeda itu tidak alami. Sayangnya persis sama juga tidak alami!
Semua yang persis sama tidaklah alami. Lihatlah diri kita, semua memiliki keunikan masing-masing. Kalau kita semua sama, maka kita justru menjadi lemah. Kalau semua daun warnanya sama, dunia akan membosankan.
Jadi bagaimana? Ini solusinya : kita menyukai yang sedikit berbeda!
Daun yang beragam namun memiliki kesamaan. Seni yang beda namun dalam kelompok jenis yang sama. Musik beda namun dalam genre yang sama. Praktisnya, yang suka musik rap tidak suka musik jazz, demikian pula sebaliknya. Namun yang suka rap mungkin masih bisa menerima pop, demikian pula yang suka jazz masih mentolerir pop. Karena musik pop seakan di tengah-tengah, menjembatani rap dan jazz yang ekstrim berseberangan.
Jadi, alih-alih kita berpikir beda, maka sebaiknya kita pakai ini saja : BERPIKIR PLUS. Sebuah cara berpikir lebih atau berpikir tambah.
Think Plus.
Berpikir tambah menuntut cara yang sama sulitnya dengan berpikir beda. Dalam berpikir plus mula-mula kita harus mampu melihat sisi positif dari pendapat orang lain, lalu kita tambah pendapat itu agar lebih sempurna. Tambahan ini bisa berupa sesuatu yang memperkuat efek positif dari pendapat orang lain itu, atau berupa sesuatu yang menutupi kelemahannya. Berpikir plus ini ibarat bermain catur dimana kita harus meneruskan langkah yang sudah diambil orang lain. Kita biarkan langkah yang sudah diambil (karena itu hak dia misalnya), kalau langkah itu bagus maka kita tambah dengan langkah yang lebih menajamkan untuk menyerang, namun bila langkah itu lemah maka kita tambah dengan langkah memperkuat posisi sebagai antisipasi. Berpikir plus adalah menambah dari sesuatu yang sudah ada agar menjadi semakin berkualitas.
Lihatlah kembali desain komputer Apple, sebenarnya tidak secara radikal berbeda dengan komputer lainnya. Masih terlihat komputer, bukan? Apple masih waras untuk menciptakan barang baru yang tidak terlalu aneh, karena aneh bisa berakibat ditolak pasar. Mobil juga ada berjenis-jenis, tapi masih punya karakteristik sama. Artinya, bahkan desain yang beda - dan terbukti diterima pasar - pun ternyata tidak bisa lepas dari kesamaan. Bayangkan kalau Anda bikin komputer dengan bentuk dinosaurus atau mobil dengan bentuk mentimun, mungkin hanya sedikit orang yang akan memakainya, alias Anda hanya akan diterima kalangan eksentrik. Saya jadi ingat kisah sepeda motor skuter (Scooter) Vespa. Itu adalah desain sepeda motor radikal oleh seorang desainer pesawat terbang. Walhasil, desain skuter mendahului jamannya. Selama 50 tahun dunia sepeda motor didominasi oleh jenis sepeda motor bebek. Pengguna skuter masuk kelompok eksentrik. Hingga akhir-akhir ini barulah desain skuter mulai mempengaruhi motor bebek yang kian lama kian menjadi desain bebek matic. Demikian pula dengan Anda di perusahaan, kalau Anda betul-betul radikal berbeda, maka Anda akan menjadi kelompok minoritas di pojok dan harus menunggu angin berubah agar muncul ke permukaan. Itupun syukur-syukur kalau arah angin memang akan berubah.
Berpikir plus. Tambahin pendapat orang lain agar menjadi lebih sempurna. Letak ‘berpikir beda’ kita tempatkan pada kemampuan menemukan hal yang dapat menambah kesempurnaan usul orang lain.
Saya kutip di sini sebuah cerita yang disampaikan Stephen Covey, penulis buku Seven Habits. Suatu ketika saat memberikan konsultasi, Covey melihat suatu kejadian di sebuah kantor dimana pimpinannya sangat otoriter. Banyak karyawannya tidak puas, dan kebanyakan membicarakan yang buruk tentang si bos itu. Namun ada seorang karyawan, katakanlah namanya Ben, mempunyai sikap berbeda dengan rekannya yang lain. Ben adalah orang yang pro aktif. Ketika rekan-rekannya menjauhi pimpinan tersebut, Ben justru berusaha mendukung dengan cara yang positif. Setiap tugas yang diberikan kepada Ben dikerjakan dengan baik. Lebih jauh dari itu Ben selalu ‘menambah’ dengan analisis tambahan yang ternyata memang diperlukan oleh pimpinan. Ben senantiasa berpikir plus, memberikan lebih dari yang diminta. Lama-kelamaan pimpinan tersebut makin percaya dan makin bergantung kepada Ben. Kalau biasanya dia memutuskan sendiri, maka kini dia meminta pertimbangan dari Ben. Beberapa tahun kemudian Ben menggantikan bos tersebut untuk memimpin perusahaan. Dalam cerita itu tampak bahwa walaupun mungkin Ben tidak setuju seperti rekan lainnya, namun dia bertindak pro aktif dan menggunakan cara berpikir plus untuk mendukung pimpinannya. Dengan menggunakan sikap pro aktif berarti dia memberdayakan kecerdasan emosinya (EQ), dengan berpikir plus berarti menggunakan kecerdasan intelektualnya (IQ), dan dengan tetap mendukung pimpinannya berarti dia menggunakan kecerdasan powernya (PQ).
Berpikir plus. Itulah usul saya bila Anda sekarang adalah bawahan yang masih senang di tempat Anda bekerja sekarang. Kalau Anda ternyata seorang bos yang tidak punya atasan? Ya bebas saja silahkan menurut Anda. Untuk level bos, Anda bebas untuk berpikir beda atau bahkan tidak berpikir sama sekali. :)
"Anda tak bisa mengubah orang lain. Anda hanya bisa mengubah diri anda
sendiri." H. H. Getter. Ingat, meski anda telah melakukan semua hal di atas
dengan baik, bos anda tetap saja "gombal". Tetapi anda harus anggap mereka
sebagai "gombal" yang bisa dimanaje. Atau mungkin anda bisa temukan sisi
baik dari bos anda yang selama ini salah dimengerti oleh mereka yang kecewa.
Namun, setidaknya anda bisa hidup lebih tenang. Bahkan, orang yang anda
keluhkan itu bisa hidup dengan anda lebih tenang lagi.
Semoga ini dapat membantu anda mengatasi bos anda, karena saya juga sedang berusaha untuk itu...
Semoga dapat hasil yang lebih baik setiap saatnya, Amin....





