Mengembalikan Makna dan Semangat Kartini Sebenarnya


Kulihat ibu Pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intannya terkenang
Hutan, gunung, sawah, lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa.

(Lagu Ibu Pertiwi)

Syair lagu Ibu Pertiwi, apabila diresapi kata-katanya, menyentuh, terutama di hari Kartini. Pasti, ibu Kartini, juga ibu Pertiwi, akan menangis atas ulah anaknya yang tidak hanya bandel, tapi juga bebal. Walaupun setiap 21 April, warga negara Indonesia, khususnya perempuan, selalu merayakan hari Kartini, dari tahun ke tahun, namun sejauh ini, setiap hari Kartini, selalu ada kewajiban untuk memakai pakaian adat tanah air atau kegiatan yang berkaitan dengan kewanitaan. Peringatan hari Kartini pun telah direduksi, dengan parade pakaian adat, dan emansipasi disempitkan pada perluasan peran perempuan melalui dichotomy lelaki dengan melupakan nasib perempuan itu sendiri.

Kartini sangat memperhatikan, tidak hanya emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum, perjuangan perempuan agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum serta perempuan bisa sekolah setinggi-tingginya agar mendapatkan hak yang sama dengan kaum pria. Dalam suratnya kepada Estelle "Stella" Zeehandelaar di Belanda, Kartini menggagas emansipasi seluruh rakyat Indonesia melawan penindasan, semangat emansipasi manusia Indonesia dengan manusia lain tanpa ada penindasan struktural.

Pandangannya kritis terhadap agama, Kartini mempersoalkan mengapa kitab suci hanya dilafalkan dan dihafalkan tanpa mewajibkan dipahami. Ia juga berpandangan bahwa, "... Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu ...”

Perjuangan Kartini, kini membuahkan hasil, perempuan bebas memilih keinginannya, menjadi ibu rumah tangga, perempuan karir, perempuan pelajar, bergelar, perempuan pekerja sekaligus ibu rumah tangga dan sebagainya. Bahkan pemerintah Belanda mensejajarkan Kartini dengan tokoh wanita Anne Frank, Mathilde Wibaut, Rosa Luxemburg, Nilda Pinto dan Isabella Richaards, serta namanya diabadikan sebagai nama jalan, Kartinistraat, salah satu jalan utama Di Utrecht.

Ironisnya, setelah sekian lama, kondisi perempuan saat ini masih jauh dari harapan. Ada yang mandiri seolah bisa hidup tanpa pria, perempuan tidak mau mengandung dan punya anak, melupakan kodratnya sebagai ibu atau isteri, perempuan bangga menjadi budak di negeri orang, menjadi subyek atau obyek tindak kekerasan dan menjadi bahan pelecehan seksual serta diperjualbelikan. Banyak juga perempuan tua renta yang menjadi tulang punggung keluarga, bekerja sebagai kuli panggul, pemulung, pengemis, penjual seks karena tiada keahlian atau kemampuan. Di lingkungan keluarga, pekerjaan, masyarakat, masih banyak ketidakadilan yang diterima oleh perempuan, tidak dapat memanfaatkan haknya dengan baik, atau bahkan lupa pada kewajibannya, yang seharusnya tidak lepas dari tanggung jawab terhadap kodratnya sebagai perempuan di mata Tuhan, keluarga, pekerjaan dan masyarakat serta menjadi panutan yang baik.

Peringatan hari Kartini juga menjadi perenungan apa makna emansipasi terhadap lingkungan. Bencana dan tragedi telah memberi peringatan bahwa selama ini kita tidak sungguh-sungguh peduli, baik pemerintah dan masyarakatnya, berlomba mengekspolitasi atas nama pembangunan, sembarangan dan serakah, tanpa memanfaatkannya dengan arif dan penuh kasih sayang.

Sebagai seorang warga negara yang mencintai negaranya, seharusnya menghargai perjuangan pahlawan bangsanya, Kartini. Bentuk perjuangan yang dilakukan oleh Kartini secara garis besar adalah memperjuangkan keadilan. Keadilan yang mencirikan adanya hukum, dengan tujuan mendapatkan keadilan, kepastian dan ketertiban. Asas persamaan dalam hukum hendaknya dilaksanakan dengan benar, tanpa penyimpangan, misalnya perlakuan hukum terhadap perempuan yang satu dengan perempuan yang lainnya. Contoh, ketika seorang perempuan bernama Nunung Nurbaiti dalam kasus korupsi travel check mengenai pemilihan Gubernur Deputi Bank Indonesia telah dipanggil secara patut sebanyak tiga kali dan tidak memenuhi panggilan karena dikatakan sedang sakit, maka dimaklumi ketidakhadirannya oleh penegak hukum, dan diperbolehkan. Namun, ketika seorang nenek tua renta yang bernama Nenek Inah yang jauh lebih lemah kondisinya, langsung diproses tanpa ada kelonggaran. Apabila kita bandingkan dan telaah, seharusnya Nenek Inah-lah yang mendapat kelonggaran. Ini, potret hukum, persamaan dalam hukum harus diperhatikan kembali, dalam satu gender saja sudah ada ketidaksamaan perlakuan dari penegak hukum. Hal ini seharusnya membuat kita berfikir akan makna dari emansipasi wanita, emansipasi wanita dari kalangan mana yang sebenarnya diakui saat ini.

Semoga makna Kartini di tahun ini dan juga tahun mendatang bukan sekedar memperingati dengan kegiatan-kegiatan, tapi muncul Kartini-Kartini baru yang melegenda seperti Ibu Kartini. Hendaknya juga menjadi perenungan generasi penerus agar mengartikan perjuangan Kartini secara menyeluruh. Sebuah bangsa akan maju jika kualitas perempuan terjamin oleh negara dalam hal kesetaraan, saling menghormati, saling mendukung, dan saling menjaga kebebasan secara manusiawi karena dibalik suksesnya sebuah keluarga, ada seorang perempuan, yang hebat, dan tabah mengemban kepercayaan sebagai seorang isteri, seorang ibu, dan seorang anggota masyarakat yang berkepribadian. Dan situasi kesetaraan yang sedemikian massive dan progressive, jangan sampai membuat perempuan terjangkit syndrome euphoria hingga melupakan dan mengabaikan sentuhan kelembutan, perhatian, dan kasih sayang dalam lingkup domestik. Betapa pun suksesnya perempuan menggapai karir, secara kodrati, kehidupan rumah tangga amat membutuhkan kiprah perempuan sebagai pencerah peradaban, dan diharapkan melahirkan generasi masa depan yang lebih cerdas, santun, dan berakal budi. Perlu disadari bahwa Kartini hanya membuka jalan, selebihnya harus ada upaya serius untuk melanjutkan rintisan jalan Ibu Kartini. Selamat Hari Kartini.

Kegagalan: Bangsa yang tidak pernah mau belajar dan preventive !?


Topik Aphir Pekan kali ini, seperti minggu2 sebelumnya mendikusikan hal-hal ”from greater view” dari berbagai masalah yang kita temukan sehari-hari.

Idenya dapat datang dari mana saja, misal group BBM atau obrolan pulang kerja di Starbuck Setiabudi atau diskusi serius diruang kuliah. Tetapi tak perlu terlalu akademis atau serius, cukup yang ringan, populer dan mudah dicerna...(paradoks memang, greater view tapi mudah dicerna)....

Tulisan dibawah, saya copaskan dari koran Bisnis Indonesia sangat2 menarik. Intinya sih bahwa bangsa dan negara ini selalu ketinggalan...dan selalu cuma jadi pasar. Ketika orang lain begitu hebat menyelenggarakan acara perkawinan (yang ditonton 2 milyar orang live atau tidak), sampai diplomat-diplomat negara lain yang smart, bukan pada politik antar negera justru pada politik dagang.....bahkan kepiawaian pemerintahan negara membuat peluang. Kita (industri kita) terseok2 mengahadap ACFTA...sedangkan China dan Singapura mendapatkan advantage yang luar biasa.

Banyak hal penyebabnya, mulai leadership, culture, behavior...you name it, we have that problem. Lucunya we know the problem, we know how to solve it…tapi kenapa kita tidak pernah bisa mengerjakannya dengan baik?

Bangsa ini bangsa yang pintar sebenarnya. Sering sekali anak-anak dan adik-adik kita, yang SMP dan SMA di Binjai, Papua, Surabaya dan Bali menjadi juara olimpiade Fisika, Kimia, Robotik dimana-mana diseluruh dunia…kurang pintar apa kita? Banyak MBA dan PhD lulusan universitas bergengsi didunia berseliweran di Universitas dan birokasi kita. Tetapi apakah kepandaian, kepintaran (dan pengalaman) itu bisa dishare, diakses, diolah, diberdayakan, ditingkatkan sehingga bermanfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia?

Sering pula kita membaca bahwa orang Indonesia ini paling jago membuat konsep…tetapi ketika implementasi, selalu terjadi gap. Selain itu implementasi yang sudah baik selalu tidak bisa continue. Pejabat lama tidak meninggalkan apapun kepada pejabat baru, sehingga pejabat baru memulai dari nol? Knapa..knapa…”knapa” yang akan semakin panjang .....

Bangsa kita memiliki sejarah yang panjang. Seharusnya banyak hal dapat dipelajari...justru itulah ketika banyak hal yang dapat dipelajari, tetapi tidak berhasil menjadi wisdom untuk kemasalahan banyak orang, yang patut kita pertanyakan....seorang Profesor disekolah binsis ternama, pernah bilang, akar masalahnya terletak pada belum dewasanya masyarakat kita. Ketidakdewasaan yang memerlukan seorang pemimpin yang ”ing ngarso sung tulodo”, kepemimpinan transaksional (pursues a cost benefit, economic exchange to met subordinates current material and psychic needs in return for “contracted” services rendered by the subordinate …. Bass) alias ”carrot and stick” type of leadership...

Sedangkan ketidakmampuan kita belajar karena social knowledge management kita yang lemah. Tentu ada argument, bagaimana mau menegakkan knowledge management jika urusan perut saja masih bermasalah?

Wah kalo gitu urutan analisis saya diatas keliru.....mestinya akar masalah bangsa ini terletak pada kemiskinan dan lapangan pekerjaan. Tugas pemerintah (dan rakyat) menekan kemiskinan dan menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak mungkin. Kalo gitu kita bisa paham, kenapa Pemerintah ngotot dengan subsidi BBM, karena jika dikurangi atau dicabut, kemiskinan akan bertambah....as simple as that....

Sedangkan mengenai penambahan lapangan kerja, saya kok belum melihat....saat ini nampaknya pemerintah hanya mengejar target pertumbuhan ....yang berbeda dg dulu ketika 1% ekonomi tumbuh maka 1 juta lapangan kerja terbuka...sedangkan saat ini !% ekonomi tumbuh paling2 hanya 600 ribu orang ......

Kembali ke teori saya diatas bahwa ini masalah Leadership....dia yang seharusnya punya view....ngak usah muluk2 dalam mengendalikan negara ini semasa masih banyak rakyat miskin dan tidak punya pekerjaan yang layak

Sebagai catatan tambahan: ”kemiskinan” harus menggunakan indikator yang layak ya...bukannya pakai ”indikator” ala Indonesia yang cuma dihitung dari pendapatan 8000 perak perhari ...sama juga yang disebut punya pekerjaan adalah punya pekerjaan yang layak bukannya dihitung cuma rata-rata 2 jam sehari dalam seminggu terakhir...yang artinya pengemis dan pengamen jalanan barangkali tidak termasuk orang miskin dan tidak termasuk pengangguran.

Anda tentu tahu, setelah meninggalnya Lady Di, istri Pangeran Charles, yang begitu sohor sebagai anggota kerajaan Inggris pada abad lalu, kini Kerajaan Inggris kembali menggelar pesta pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton, perempuan biasa yang kini menjadi buah bibir di Inggris.

Ketika ingin tahu seberapa populer nama itu, hanya dalam 0,04 detik, mesin pencari Google mem berikan 190.000.000 hasil ketika saya mencoba mengetik nama “William Kate”, sekitar pukul 20.00 WIB tadi malam. Ya, tentu si empunya nama William dan Kate begitu banyak, sehingga besar kemungkinan hasil pencarian itu bias.

Maka saya mencoba mengetik de ngan lebih spesifik, yakni “pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton”, hanya dalam 0,08 detik Google memberi hasil 639.000. Artinya, pesta pernikahan yang disebut Royal Wedding itu memang banyak dibincangkan orang dan “menjadi berita”.

Televisi BBC menyiarkan pesta itu ke seluruh penjuru dunia, dan sedikitnya setengah juta warga Inggris memenuhi area pesta. Perkiraan kasar menyebutkan sekitar 2 miliar penonton televisi di seluruh dunia menyaksikan pesta pernikahan paling akbar pada awal abad ini.

Anda boleh berdecak dengan rangkaian peranti pesta serba mewah, termasuk rangkaian mobil kerajaan serba hitam serta kuda-kuda gagah yang benar-benar “real black”, yang membuat teman saya terkagum-kagum.

Tentu, informasi itu dapat kita nikmati berkat kemajuan teknologi yang dahsyat akhir-akhir ini, memungkinkan setiap peristiwa dapat direkam dan disiarkan secara “real time”. Ini adalah istilah yang kerap dipakai untuk mengatakan bahwa kejadian kapan saja dan di mana saja dapat disaksikan seketika tanpa jeda waktu dan sekat bukit, gunung, benua maupun samudra.

Mediumnya pun banyak sekali, mulai dari radio, televisi, hingga Internet yang saat ini sudah sedemikian pesat dalam menyajikan peristiwa bergerak secara seketika.

Bahkan kini menjadi kekhawatiran, peristiwa di kamar tidur Anda pun dapat dilihat dari kamar tidur tetangga sebelah yang sedang mengakses kecanggihan teknologi yang dikembangkan Google melalui Google Earth.

Kekhawatiran itu mulai muncul, lantaran teknologi yang dikembangkan Google begitu cepat bermodifikasi bahkan dengan fitur street view yang sangat detail.

Tetapi nggak usah khawatir berlebihan. Pasalnya, kekhawatiran malah membuat Anda ketakutan dan tak dapat menjalani hidup dengan tenang. Yang pasti, setiap teknologi selalu membawa manfaat, meskipun tentu tidak sedikit pula akibat negatif yang mungkin dihasil kan.

Bagi Anda pengguna gadget yang dilengkapi fitur online atau aplikasi messenger, tentu seringkali men da patkan kiriman gambar maupun video apa pun, mulai dari yang ber sifat jenaka, inspiratif hingga gambar atau video porno, entah yang asli, setengah asli atau bahkan modifikasi maupun rekayasa. Jangan-jangan kita malah “frigid” alias tidak ngaruh, karena saking seringnya mendapatkan gambar-gambar yang mampir ke peranti Anda itu.

Bagi yang mampu melihat dari sisi lain, perkembangan teknologi telah menciptakan peluang bisnis baru. Siapa nyangka, sebelum berkembang teknologi Internet seperti saat ini, jagoan teknologi semacam Bill Gates, pemilik Microsoft, atau Steve Jobs, arsitek Apple, dapat mengeruk duit besar dari jualan aplikasi murah yang bisa diunduh berbayar dari perangkat komputer kita?

Bahkan komputer pun sudah mengalami evolusi dari komputer desktop atau komputer jinjing (laptop) ke komputer tablet seperti iPad, hingga telepon pintar macam BlackBerry, Iphone, Samsung, dan Nokia, untuk sekadar menyebut beberapa merek.

Meski banyak yang mengeluh komputer tablet iPad tak mampu mengerjakan proses komputasi multitasking, toh kekayaan Mr Job semakin tambun berkat inovasinya sebagai the first mover itu. Pengekor iPad seperti Samsung Galaxy Pad, maupun BlackBerry PlayBook, tetap saja menjadi yang kedua.

Kolega Budiono Darsono, pendiri Detikcom, sering menyebut istilah multitasking sebenarnya terdengar gagah saja, padahal maksudnya tak lain dan tak bukan pengganti kata “serabutan”. Gambarannya begini: jika Anda pengguna komputer desktop, akan mudah mengoperasikan bermacam aplikasi secara bersamaan tanpa harus menghentikan salah satu aplikasi yang sedang berjalan. Itu artinya, komputer meja, atau laptop, bisa bekerja serbutan. Sebaliknya, komputer tablet tertentu termasuk iPad tak mampu menjalankan fungsi itu, karena harus menu tup satu aplikasi untuk mengoperasikan aplikasi lainnya.

Maka, saya jadi tertarik untuk menganalogikan fungsi serabutan itu dengan situasi dunia saat ini, termasuk hubungan antar negara dan strategi negara-negara ketika menghadapi dinamika ekonomi global yang begitu berubah dalam dekade terakhir ini.

Contohnya adalah begitu banyak nya kesepakatan perdagangan bebas yang dijalin antarnegara maupun antarkawasan dan antara negara dengan kawasan. Saya sengaja meng ambil contoh ini, berhubung negeri kita tengah menerima tamu kehormatan Perdana Menteri China Wen Jiabao. Kunjungan yang sarat momentum, setelah setahun lebih kesepakatan perdagangan bebas Asean dan China diterapkan.

Apalagi, China menjadi negara yang begitu dominan dalam perekonomian Asia dan dunia saat ini. Mengapa China unggul? Tentu itu pertanyaan yang kerap masuk ke telinga saya. “Strategi multitasking.” Itu jawaban untuk sekadar menebak saja.

Anda tentu sulit membayangkan China mampu bersaing secara global dengan beban penduduk yang begitu besar, jika tidak memiliki strategi yang pintar. Anda tentu tahu, betapa gigihnya Beijing menentang Washington untuk sebuah tekanan terha dap perubahan kebijakan domestik, misalnya soal mata uang yuan, yang bagi pemerintah lain seperti Jakarta akan mudah menyerah begitu saja ketika Amerika berbicara?

Sebaliknya, apakah Anda pernah membayangkan, China akan membeli Standar Nasional Indonesia untuk memuluskan barang-barangnya masuk Indonesia?

Negara lain, termasuk negara kita, mungkin akan selalu mengatakan kita perlu perbaiki daya saing, dan atau renegosiasi tarif, agar mampu penetrasi pasar dan sekaligus bertahan dengan tarif yang lebih besar untuk mengurangi daya saing (setidaknya dari sisi harga) produk negara
lain.

Tak pernah kita pikirkan, bagaimana mampu memasuki pasar negara lain dengan memanfaatkan instrumen perdagangan atau proteksi nontarif yang disiapkan negara lain. Dan, China melakukan itu dengan pintar ketika membeli ratusan SNI kita! Dalam sepakbola, China dengan tim yang bahu membahu dan “serabutan” berusaha merangsek masuk ke jantung pertahanan lawan ketika harus men cetak gol, bukan sekadar bermain bertahan.

Singapura contoh lainnya lagi. Meski sudah tergabung dengan Asean dalam kerangka ACFTA, ternyata Singapura justru menjalin kesepakatan FTA sendiri dengan China. Dan Negeri Singa punya cara yang pintar pula dalam memaksa pejabat kementeriannya menjalankan tugas multitasking itu.

Contohnya adalah pos kementerian luar negeri. Pola yang dilakukan Singapura, pejabat kementerian luar negeri terlebih dahulu menjabat kementerian teknis lainnya, termasuk kementerian perdagangan internasional, agar mampu bekerja “serabutan” ketika menjadi menteri luar negeri.

Jelasnya, diplomasi internasional yang dijalankan Singapura melalui kementerian luar negerinya bukanlah diplomasi politik, melainkan diplomasi ekonomi, bahkan diplomasi bisnis dan diplomasi dagang. Dahsyat, bukan?

Maka tak heran jika negeri sekecil itu menjadi salah satu pengekspor besar di dunia, karena banyak komoditas ekspor yang sebenarnya berasal dari Indonesia (dan barangkali China).

Kita, akhir-akhir ini, tampaknya harus mengakui belum punya kebiasaan bekerja “multitasking” semacam itu. Kalau tidak narrow minded atau berpikiran sempit, kita lebih suka bersikap “konsisten” alias kacamata kuda.

Maka jangan salahkan China kalau kita kalah. Salahkan kita sendiri yang kurang melihat berbagai peluang dan kemungkinan, untuk bisa menang. Padahal, diplomasi dagang bukan semata urusan menang dan kalah, melainkan lebih luas lagi: urusan untung dan rugi.

Nah, sekarang, bagaimana dengan anda; Masihkah kita akan memilih pejabat negeri yang tidak bisa multitasking dan memakan uang rakyat tanpa mengedepankan kehidupan bangsanya? Masihkah kita berkaca mata kuda dan takut akan perubahan? Apakah memang kita bangsa yang tidak pernah belajar? It's your choice !

Proses Menuju Kesempurnaan Diri

Sudah Jumat, besok weekend, bagi yang weekend...
Yang Lembur, jalan terus...;)

Katanya, manusia itu mahluk sempurna ya? Apakah kesempurnaan itu sudah kita warisi sejak lahir atau baru sekedar ‘potensi’ untuk sempurna? Faktanya, tidak ada manusia yang langsung hebat begitu dia lahir. Jadi, pastilah kesempurnaan manusia itu harus diperjuangkan. Begantung nilai perjuangannya; ada manusia yang semakin mendekati kesempurnaan diri, dan ada juga yang begitu-begitu saja. Lantas, bagaimana caranya supaya kita bisa semakin dekat kepada kesempurnaan itu?

Kesempurnaan itu dibangun dari elemen-elemen kecil berupa kualitas pribadi kita. Semakin banyak elemen yang bisa kita perbaiki, semakin dekat kita kepada kesempurnaan diri. Saya merangkum 5 cara yang bisa Anda tempuh untuk memperindah elemen-elemen diri itu. Berikut ini ulasannya.

  1. Adu kualitas kerja dengan kualitas diri. Kualitas kerja seseorang mewakili kualitas pribadinya. Cek apakah kualitas kerja Anda sudah sama dengan kualitas pribadi Anda. Jika sudah sama; maka Anda sudah mencapai setengah jalan menuju diri Anda yang sesungguhnya. Setengahnya lagi apa? Belajar lagi sesuatu untuk meningkatkan kualitas diri Anda sedikit lagi. Lalu, adu lagi hasil kerja Anda, dan seterusnya.
  2. Adu jumlah waktu tersia-siakan dengan waktu produktif. Waktu Anda hari ini, berbeda dengan waktu yang sudah berlalu. Sedangkan waktu yang disia-siakan sama sekali tidak meningkatkan nilai diri Anda. Coba periksa kembali, mana yang lebih banyak; waktu produktif Anda atau waktu yang Anda sia-siakan. Pastikan, bahwa waktu yang berharga itu mendukung proses penyempurnaan kapasitas diri Anda.
  3. Adu gengsi dengan mawas diri. Gengsi ditandai dengan keengganan untuk mengakui kelemahan yang kita memiliki. Tersinggung jika ada orang yang menunjukkan kelemahan itu. Membela diri atau mencari pembenaran, meskipun hati kecil mengakuinya. Jika Anda selalu mawas diri, terbuka terhadap kritikan dan masukan, lalu melakukan perbaikan demi perbaikan; maka semakin hari, Anda menjadi semakin baik.
  4. Adu kesombongan dengan kerendahan hati. Orang yang sombong itu tidak mau belajar dari orang lain yang derajatnya dinilai lebih rendah. Sekalipun orang yang dipandang rendah itu memiliki keluasan ilmu dan hikmah, jika Anda sombong tidak bisa mengambil pelajaran apapun. Sebaliknya kerendahan hati menuntun Anda untuk belajar dari siapapun sehingga semakin hari, pengetahuan dan keterampilan Anda menjadi semakin tinggi. Selalu ada peluang untuk meningkatkan kapasitas diri bagi mereka yang rendah hati.
  5. Adu kebatilan dengan ketakwaan. Ingatlah bahwa tujuan akhir dari kehidupan kita adalah kembali kepada Tuhan. Sempurna atau tidaknya seseorang pada akhirnya akan ditentukan oleh penilaian yang Tuhan berikan. Sedangkan dimata Tuhan, manusia itu sama kecuali nilai takwanya. Artinya, seberapa patuh dia kepada perintah Tuhannya. Apakah perintah Tuhan itu? Menghindari perbuatan buruk, dan mengerjakan amal saleh. Jika manusia sudah mampu memenuhi perintah Tuhan itu, maka dia telah berhasil mencapai kesempurnaan dirinya.
Kesempurnaan bukan berarti tidak memiliki kelemahan. Namun, dengan mempraktekkan ke-5 hal diatas, saya yakin kita akan bisa mengimbangi kelemahan yang kita miliki dengan keunggulan yang mumpuni. Dengan begitu, kita akan semakin dekat dengan kesempurnaan insani.

Kesempurnaan manusia adalah proses, bukan keadaan. Makanya, meskipun manusia itu mahluk sempurna, tapi tidak ada manusia yang sempurna.

Nah, tulisan ini ditujukan kepada pejabat, dewan dan semua abdi negara; jadi mawas dirilah, karena kalian digaji dari uang hasil kerja keras rakyat; Ingat-ingat nanti kalo mati, ditanyain.....

Selamat berusaha...;)

Update data dari 2 Tabel yang berbeda


Rekan eri mulyana pernah bertanya: "Kepada rekan2, bagaimana caranya meng-update field dari suatu tabel dengan field dari tabel lain. Saya sudah mencoba dengan perintah SQL, tetapi hasilnya bernilai salah"

Adakalanya kita ingin mengupdate isi suatu field di dalam tabel dengan isi field di tabel lain. Sebenarnya ini tidak terlalu sulit, logikanya sama dengan SELECT menggunakan lebih dari satu tabel.

Pada contoh berikut ini kita mempunyai tabel tabel1 dan tabel tabel2.
Kita akan mengupdate field1 dari tabel1 dengan value field5 dari tabel2 dengan syarat value dari field1 di tabel1 sama dengan value field1 di tabel2. Berikut ini adalah perintahnya :

UPDATE tabel1, tabel2
SET tabel1.field2 = tabel2.field5
WHERE tabel1.field1 = tabel2.field2

Contoh Hasil penggabungan:
select
tbl_prc_permintaandtl.kditem, tbl_prc_item.description,
tbl_prc_permintaandtl.kdunit, tbl_prc_item.kdakhir_sat as itemunit,
tbl_prc_item_unit.singkat
from
tbl_prc_permintaandtl
inner join tbl_prc_item
on tbl_prc_item.kditem = tbl_prc_permintaandtl.kditem
inner join tbl_prc_item_unit
on tbl_prc_item_unit.kdunit = tbl_prc_item.kdakhir_sat


Ini adalah hasil dari SQL update, sebagaimana berikut:
update
tbl_prc_item, tbl_prc_permintaandtl
set
tbl_prc_item.kdakhir_sat = tbl_prc_permintaandtl.kdunit
where
tbl_prc_item.kditem = tbl_prc_permintaandtl.kditem

Tidak sulit kan?

Dari contoh diatas bisa anda kembangkan lagi untuk mengupdate tabel dengan menggunakan lebih dari dua tabel.

Lima Faktor Penghambat Karir

Setiap orang yang hidupnya bergantung kepada gaji adalah seorang buruh; sekalipun pangkatnya direktur utama. Mengapa para direktur tidak ikut-ikutan demonstrasi untuk memperingati tanggal 1 Mei sebagai hari buruh? Karena, orang yang karirnya bagus tidak lagi disebut buruh. Sedangkan mereka yang karirnya buruk, biasanya memang disebut sebagai buruh. Jika Anda seorang karyawan; maka pastikanlah bahwa Anda memang layak untuk tidak menyandang gelar sebagai buruh. Bagaimana caranya?

Sederhana saja; bangunlah karir Anda sampai ke titik dimana Anda layak dihormati dan dihargai tinggi. Agar bisa membangun karir dengan baik, maka Anda harus membuang jauh-jauh mental ‘b-u-r-u-h’. Mengapa demikian? Karena mental b-u-r-u-h itu menyimpan 5 faktor penghambat karir yang sangat mematikan. Apa sajakah kelima faktor itu? Berikut ini uraiannya.

  1. B=Bersembunyi dibalik topeng ‘nasib’. Baik atau buruknya karir seseorang sama sekali tidak ada hubungannya dengan nasib. Perhatikan para pekerja gagal. Mereka menganggap bahwa mandeknya karir dan bayaran mereka sudah menjadi nasib sehingga tidak terdorong untuk menggeliat bangkit dari posisi rendahnya. Walhasil, dari tahun ke tahun tidak ada perbaikan jabatan dan pendapatan signifikan yang mereka dapatkan. Jadilah karyawan yang berani berjuang untuk memperbaiki karir sendiri karena nasib selalu mengikuti ikhtiar yang Anda lakukan.
  2. U=Ulet hanya ketika diawasi oleh atasan. Sudah bukan rahasia lagi jika banyak sekali karyawan yang ulet, gigih, dan giat hanya ketika ada atasannya saja. Tapi saat atasannya tidak ada; mereka berleha-leha atau mengerjakan sesuatu yang tidak produktif pada jam kerja. Para pegawai berdasi pun banyak yang memiliki perilaku seperti ini. Padahal, sikap seperti ini jelas sekali menunjukkan jika mereka tidak layak untuk mendapatkan tanggungjawab yang lebih besar. Jadilah karyawan yang bisa diandalkan, baik ada atau tidaknya atasan; karena kualitas seseorang dinilai dari tanggungjawab pribadinya ketika dia sedang sendirian.
  3. R=Rendah diri. Kita sering keliru menempatkan kerendahan hati dengan sifat rendah diri. Ketika berhadapan dengan senior atau orang yang pendidikannya lebih tinggi, kita merasa kecil sekali. Padahal sebagian besar manager atau direktur pada mulanya adalah orang-orang yang menduduki posisi rendah seperti kebanyakan karyawan lainnya. Sifat rendah diri mengungkung orang dalam kotak inferioritas sehingga kapasitas dirinya tidak terdaya gunakan. Jadilah karyawan yang rendah hati, karena mereka yang rendah hati memiliki kualitas diri yang tinggi, namun tetap bersikap arif, positif dan konstruktif.
  4. U=Unjuk rasa melampaui unjuk prestasi. Unjuk rasa tidak selalu harus turun ke jalan. Protes soal kenaikan gaji adalah contoh nyata unjuk rasa yang sering terjadi di kantor-kantor. Menggunjingkan atasan dan managemen di kantin atau toilet juga merupakan bentuk unjuk rasa yang tidak sehat. Perhatikan para karyawan yang tidak puas dengan kebijakan perusahaan. Mereka berkasak-kusuk sambil mengkorupsi jam kerja. Padahal, itu semakin menunjukkan kualitas buruk mereka. Jadilah karyawan yang rajin unjuk prestasi, karena prestasi membuka peluang untuk mendapatkan kesempatan dan pendapatan yang lebih besar.
  5. H=Hitung-hitungan soal pekerjaan dan imbalan. Banyak sekali karyawan potensial yang akhirnya gagal membangun karirnya hanya karena merasa tidak dibayar dengan pantas. “Kalau gua digaji cuma segini, ngapain mesti kerja keras?’ begitu katanya. Padahal, sikap seperti itu tidak merugikan perusahaan lebih dari kerugian yang dialami oleh orang itu sendiri. Mereka membuang peluang untuk mengkonversi potensi dirinya menjadi karir yang cemerlang. Jadilah karyawan yang berfokus kepada kontribusi yang tinggi, karena bayaran atau imbalan akan mengikutinya kemudian.
Jika Anda mampu membuang mental ‘b-u-r-u-h’ yang sudah dijelaskan diatas, maka Anda tidak akan menjadi buruh rendahan. Sebaliknya, Anda akan menjadi karyawan yang ketika pensiun nanti; memiliki sesuatu yang layak untuk dibanggakan.

Mari Berbagi Semangat!
Setiap orang yang memilih untuk menjadi karyawan harus menentukan; apakah dia ingin menjadi karyawan dengan pencapaian yang layak dibanggakan, atau sekedar menjadi buruh yang direndahkan.