Pelatihan ToT Konselor Pemberian Makanan terhadap Bayi dan Balita (PMBA)




PEMBERIAN MAKAN PADA BAYI DAN ANAK (PMBA)

Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta beserta Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Barat dan Mercycorps Indonesia, telah melakukan pelatihan konselor dan pelatih konselor untuk PMBA. Pelatihan PMBA dirancang untuk membekali petugas kesehatan atau kader kesehatan di tingkat masyarakat dan kelurahan/desa hingga provinsi dalam membantu para ibu, ayah dan pengasuh agar dapat memberikan makanan kepada anaknya dengan optimal dan benar, disertai dengan pengetahuan teknis tentang cara pemberian makanan yang direkomendasikan untuk ibu hamil dan anak usia 0 hingga 24 bulan, meningkatkan ketrampilan konseling, pemecahan masalah dan negosiasi (mencapai kesepakatan) serta memanfaatkan alat bantu dan alat konseling secara efektif.

-- Persiapan yang dilakukan oleh Panitia dan Fasilitator ---


My Enhanced in 2011 - 2014 at MERCY CORPS

http://www.mercycorps.org
-- click to detail

MERCY CORPS SAVES AND IMPROVES LIVES IN THE WORLD'S TOUGHEST PLACES.

Poverty. Conflict. Disaster. These are the global challenges that we’ve been responding to since 1979, helping more than 170 million people survive emergencies and build back better.  When a natural disaster strikes, an economy collapses, or conflict erupts, Mercy Corps is there. We respond immediately to meet urgent needs for food, water and shelter, and stay beyond the emergency to partner with communities for their long-term recovery.

Our network of experienced professionals in more than 40 countries literally speaks the language — 93 percent of our field staff are from the country where they work — giving them unique insight into what will move communities from relief to recovery and ultimately toward resilience.  We believe even in the world’s most challenging places, people have the power to transform their own lives when they have the right resources. Growing more food, earning higher incomes, advocating for their needs — we leverage their local logic to pioneer innovative, sustainable solutions that build stronger communities. Now, and for the future.

http://www.mercycorps.org/indonesia

-- click to detail

Mercycorps in Indonesia has strategies, which to improve community infrastructure, health, resiliency and economic opportunities in Indonesia’s most challenging urban and coastal areas. About half of all Indonesians live on less than a dollar a day. Employment growth has been slower than population growth. Public services remain inadequate by middle-income standards, and health indicators are poor. Our work, in economic opportunity, we provide technical assistance, training and financial services to microfinance institutions throughout the country. In health sector, Mercycorps Indonesia raising awareness and supporting mothers to practice and promote exclusive breastfeeding, addressing childhood malnutrition through healthy, affordable food carts in every kind of place and improving sanitation and hygiene in crowded urban areas with a mobile sludge removal service. We also work in disaster preparedness, which is identifying and mapping areas at risk and helping those communities plan, train and practice how to respond when disasters occur, and maintaining a response team ready to quickly deploy and provide immediate relief to survivors during the critical first months after a disaster strikes. 
 


Since 2009, exclusive breastfeeding is an acknowledged and protected right of every mother and baby in Indonesia, but today still about 4 out of every 10 children under five years old are stunted, according to Basic Health Survey in 2013. In Jakarta Province (DKI Jakarta), which has 5 municipal city and 1 region, 1 of 3 in the same age group have grown up shorter than their peers. Despite the growing awareness that exclusive breastfeeding for six months continued with breastfeeding and adequate source food through the first two years of life would optimize growth and development of children to their full potential, based on Lancet 2006, the practice of exclusive breastfeeding (EBF) are shadowed by significant raise in infant formula milk factory marketing and bottle feeding over the years.

Dukung Replikasi KP Ibu melalui mKPI (mobile KP Ibu)



Masih teringat dalam ingatan kita bahwa hampir berhari-hari dalam dua bulan Januari dan Februari di awal tahun 2014, ibu kota negara tercinta ini diguyur hujan deras, sehingga di layar TV kita pun ditutupi dengan berita tentang “Banjir Ibu kota Jakarta”. Tidak hanya ibu kota yang terkena bencana tapi juga daerah lainnya, seperti air bah di Menado, letusan Gunung Sinabung, letusan Gunung Kelud, dan banyak lagi di tahun 2014 ini maupun sebelumnya. Sebagai warga yang tidak terkena bencana tentunya kita tidak tahu pasti keadaan dan perasaan mereka yang membutuhkan pertolongan, kecuali kita hanya bisa berdoa dan membantu segenap daya dan upaya.

PELATIHAN “GENDER” DI KANTOR JAKARTA 2013





LATAR BELAKANG

Topik Gender bukan lagi merupakan hal yang baru bagi kalangan feminis, peneliti,  akademisi,  organisasi  kemasyarakatan,  pejabat  pemerintahan maupun  kalangan  umum  lainnya  di masyarakat.  Berbagai  studi  telah dilakukan untuk melihat hubungan yang kompleks antara Gender dengan isu-isu  penting  seperti  politik,  pendidikan,  kesehatan,  pengelolaan sumber daya  alam, dan  lain  sebagainya. Berbagai  institusi dan  lembaga baik dari sektor formal pemerintahan, LSM, lembaga penelitian, dan lain sebagainya beramai-ramai mengadakan  training, kampanye, penelitian, survei  dan  berbagai  program  kegiatan  lainnya  yang  berkaitan  dengan Gender.

Pertanyaannya  adalah  sejauh  mana  inisiatif-inisiatif  tersebut  efektif mendukung  upaya  penguatan  kapasitas  perempuan  di  akar  rumput? Apakah  posisi  dan  peran  Gender  dalam  masyarakat  mengindikasikan adanya  perubahan?  Bagaimana  posisi  perempuan  di  dalam  keluarga? Apakah  perempuan  mulai  ikut  terlibat  secara  aktif  dalam  proses pengambilan keputusan di institusi atau lembaga lokal?

Kebanyakan  dari  kita  sering  menolak  kenyataan  bahwa  ‘penerima manfaat program’, yaitu perempuan-perempuan yang bergabung dalam kelompok  yang  difasilitasi  (kelompok  dampingan),  selama  ini  masih berada pada tataran ‘objek’ penelitian, kelompok  ‘sasaran’ atau pengikut setia  dari  kegiatan-kegiatan  yang  berkaitan  dengan  pemberdayaan perempuan. Hal ini seringkali terjadi karena program dan kegiatan yang ditawarkan (atau dipaksakan) pada kelompok dampingan tersebut lebih banyak diinisiasi oleh pihak luar, bukan berdasarkan ide yang digali dari komunitas itu sendiri). Dengan demikian, kelompok perempuan hanya mengikuti apa yang  sudah  tertulis dalam agenda  si pemberi  ide,  tanpa mempunyai  peluang  untuk  berpikir  apakah  kegiatan  tersebut  sesuai atau  bertentangan  dengan  kepentingan mereka  atau malah membuat masalah  dengan  kondisi  lokal  yang  ada  di  sekitar mereka.  Sayangnya, jika program kegiatan tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan, kita serta merta ‘menghakimi’ bahwa program tersebut gagal, komunitas lokal tidak co-operative dalam berproses, kondisi lokal tidak mendukung atau  bahkan menyalahkan  fasilitator  yang  tidak  bisa  ‘mendorong’  kelompok dampingannya  untuk  berkembang  sesuai  dengan  tujuan  program.

Pernahkah terpikir oleh kita bahwa mungkin ‘kegagalan’ dalam berproses tersebut  kemungkinan  adalah  bentuk  keberhasilan  sistem  lokal?  Atau bahkan  kegagalan  tersebut  memunculkan  ide-ide  brilliant  di  dalam komunitas yang luput dari perhatian kita?

Pelatihan ini tidak mendiskusikan apa yang benar atau salah dalam perspektif Gender menurut pandangan lokal dan dunia luar. Gender dipandang sebagai opsi terbuka, yang bisa sangat berbeda perspektif dan implementasinya tergantung dari kondisi dan realitas lokal yang ada di lapangan.

Saya secara pribadi mengucapkan banyak terima kasih kepada fasilitator dan pelatih serta semua rekan peserta bersama dengan banyaknya rekan yang tidak dapat disebutkan namanya, dalam pelatihan Gender yang  jerih payah dan partisipasinya dalam kegiatan ini  telah memberikan  inspirasi bagi  saya untuk menuangkan ide dan pemikiran dalam lembaran-lembaran ini.

Pada akhirnya, semoga lembaran ini dapat membantu praktisi dan fasilitator di  lapangan  untuk  mengenal  lebih  jauh  mengenai  Gender  dari  segi praktis,  terlepas  dari  perdebatan mengenai  konsep,  teori  dan  definisi, sehingga dapat membantu kelompok dampingannya mengenali  aspek-aspek ketimpangan Gender yang ada di lingkungan sekitarnya.

Jerawat, apa sih sebenarnya jerawat itu ?

Apa saja macam / jenis jerawat yang ada ?

Jerawat memang menjadi masalah utama dalam penampilan. Tidak seorang pun yang menginginkan wajahnya dipenuhi dengan jerawat ataupun komedo. Namun yang menjadi permasalahan adalah bagaimana cara menghilangkan atau mengobati wajah dari gangguan jerawat yang aman serta tidak menimbulkan efek samping ?

Makin marak obat-obatan untuk penanganan atau menghilangkan jerawat, namun apakah anda tahu efek samping yang akan ditimbulkan dari obat-obatan tersebut ?

Sebelumnya kita perlu tahu tentang beberapa pertanyaaan yang ada di benak kita tentang jerawat....

Sebenarnya penyakit jerawat ini terjadi karena pori-pori kulit kita tersumbat oleh kotoran, sehingga minyak atau sebum yang dihasilkan oleh kelenjar di bawah kulit kita, yang biasa disebut dengan kelenjar sebasea, beserta dengan sel kulit mati, dan kadang juga disertai bakteri tersebut, terjebak di bawah lapisan kulit luar dan tak bisa keluar secara lancar, sehingga berakibat terjadinya iritasi atau peradangan di area tersebut.



Pada umumnya, jerawat ini mulai muncul di usia puber dan akan berhenti dengan sendirinya pada usia dewasa sekitar 25 tahun ke atas namun tidak jarang juga masih berlanjut walaupun sudah melewati usia tersebut.