Dilema Miss Word 2013 di Indonesia
Notes:
***Content dewasa untuk pembelajaran dan pengetahuan***
Latar Belakang
Miss World adalah kontes kecantikan internasional yang diprakarsai oleh Eric Morley pada tahun 1951 dan pertama kali diadakan di Inggris.
Pada awalnya hanya diikuti oleh enam negara yakni Inggris, Denmark, Swedia, Belanda, Amerika Serikat dan Prancis dengan jumlah contestant yang ikut mencapai 26 orang. Hal ini dikarenakan 21 orang di antaranya berasal dari negara tuan rumah. Saat itu, Miss World pertama diselenggarakan di Lyceum Theatre, London, Inggris pada 29 Juli 1951. Wakil dari Swedia, Kerstin "Kiki" HÃ¥kansson yang akhirnya berhasil menjadi pemenangnya.
Kondisi 5.000 lebih warga Desa Negeri Lima memprihatinkan.
Negeri Lima adalah desa di kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Indonesia.
5.000 warga tersebut merupakan pengungsi korban jebolnya Bendungan Wae Ela. Sebagian rumah di desa itu hilang disapu terjangan air bendungan yang mengarah ke laut.
Bendunga Wai Ela yang berjarak sekitar 2 kilometer dari Desa Negeri Lima jebol sekitar pukul 10.30 WIT dan langsung meluluhlantahkan sebagian besar rumah – rumah warga desa Negeri Lima. Bendungan Wae Ela jebol setelah wilayah ini diguyur hujan lebat dalam dua pekan terkahir. Akibatnya volume air di bendungan meningkat dan ketinggian air mencapai 200 meter melebihi ambang batas maksimal.
Bagaimana cara mengobati mimisan?

Epistaksis atau hidung berdarah dan biasa umumnya kita sebut dengan mimisan adalah keluarnya darah dari lubang hidung akibat adanya pendarahan pada hidung.
Penyebab mimisan bisa karena beberapa hal, bisa disebabkan karena benturan keras pada hidung.
Atau kebiasaan memasukkan jari ke lubang hidung, mengoreknya dengan keras, ini menyebabkan luka.
Bisa juga karena peradangan pada daerah hidung dan sinusitis.
Selain itu, mimisan juga bisa disebabkan karena adanya penyakit lain seperti adanya tumor di hidung, hipertensi, cikungunya, demam berdarah.
Penyebab mimisan juga bisa karena adanya penyakit kelainan pada darah, misalnya leukemia dan hemofila.
Keluar darah dari hidung ini disebabkan oleh adanya pembuluh darah yang berada di selaput lendir hidung pecah. Pecahnya pembuluh darah tersebut menyebabkan darah keluar secara terus-menerus dari hidung. Keluar darahnya bisa banyak, bisa juga sedikit, tergantung besar kecilnya pembuluh darah yang pecah tersebut.
Balada Banjir Raya, Jakarta Januari 2013
Selasa, 14 Januari 2013
Tidak seperti biasanya, hari Selasa ini, Jakarta sejak tengah malam diguyur hujan disertai gemuruh dan petir hingga pagi hari.
Hari ini, sebenarnya saya ada jadwal ke Jakarta Barat, namun tidak menggunakan mobil dinas. Saya berencana menggunakan transportasi umum, yaitu TransJakarta (Busway). Hujan mulai reda sekitar pukul 07.00 BBWI dan saya pun segera berangkat. Sejak berangkat hingga berpindah 3 kali corridor sampai di Grogol, hujan gerimis dan kadang deras mengiringi perjalanan TransJakarta.
Tidak seperti biasanya pula, antrian di corridor arah ke Kalideres sangat panjang, hingga sampai ke atas jembatan penyeberangan. Karena, sudah hampir 15 menit tidak ada Bus yang melintas, saya pun bertanya pada seseorang di depan saya, ”Ibu, maaf, sudah menunggu berapa lama?”.
“Saya sudah setengah jam yang lalu mas tapi bus-nya belum lewat dari tadi”, kata ibu itu. Merasa ada yang tidak beres, saya kemudian melanjutkan pertanyaan ke bapak sebelahnya, ”Kalau bapak sudah berapa lama menunggu?”, tanya saya. Bapak ini berkata, ”Sudah satu jam lebih mas. Tidak ada bus yang lewat juga”.
Tidak masuk akal, bagaimana mungkin sampai satu jam bus tidak ada yang melintas, dan pastinya bapak dan ibu di depannya juga menunggu lebih lama dari satu jam. Akhirnya, saya memutuskan untuk memanggil penjaga gerbang TransJakarta, dan dia pun menghampiri, ”Ya, ada apa mas”, tanya dia. “Mbak, Ini busway ke Kalideres kenapa ya, kok sudah satu jam tidak ada yang lewat?”, tanya saya. Sambil memandang aneh, kemudian dia menuju pintu gerbang, dan berkata, “Bapak dan Ibu, Busway ke Kalideres tutup. Tidak ada yang melintas. Mohon menggunakan kendaraan lainnya”, katanya sambil membalikkan papan pengumuman yang bertuliskan, “Busway Kalideres Tutup”, yang dari tadi tergeletak di lantai.
Tidak seperti biasanya, hari Selasa ini, Jakarta sejak tengah malam diguyur hujan disertai gemuruh dan petir hingga pagi hari.
Hari ini, sebenarnya saya ada jadwal ke Jakarta Barat, namun tidak menggunakan mobil dinas. Saya berencana menggunakan transportasi umum, yaitu TransJakarta (Busway). Hujan mulai reda sekitar pukul 07.00 BBWI dan saya pun segera berangkat. Sejak berangkat hingga berpindah 3 kali corridor sampai di Grogol, hujan gerimis dan kadang deras mengiringi perjalanan TransJakarta.
Tidak seperti biasanya pula, antrian di corridor arah ke Kalideres sangat panjang, hingga sampai ke atas jembatan penyeberangan. Karena, sudah hampir 15 menit tidak ada Bus yang melintas, saya pun bertanya pada seseorang di depan saya, ”Ibu, maaf, sudah menunggu berapa lama?”.
“Saya sudah setengah jam yang lalu mas tapi bus-nya belum lewat dari tadi”, kata ibu itu. Merasa ada yang tidak beres, saya kemudian melanjutkan pertanyaan ke bapak sebelahnya, ”Kalau bapak sudah berapa lama menunggu?”, tanya saya. Bapak ini berkata, ”Sudah satu jam lebih mas. Tidak ada bus yang lewat juga”.
Gambar 1. Antrian Panjang TransJakarta Jurusan Kalidere
Tidak masuk akal, bagaimana mungkin sampai satu jam bus tidak ada yang melintas, dan pastinya bapak dan ibu di depannya juga menunggu lebih lama dari satu jam. Akhirnya, saya memutuskan untuk memanggil penjaga gerbang TransJakarta, dan dia pun menghampiri, ”Ya, ada apa mas”, tanya dia. “Mbak, Ini busway ke Kalideres kenapa ya, kok sudah satu jam tidak ada yang lewat?”, tanya saya. Sambil memandang aneh, kemudian dia menuju pintu gerbang, dan berkata, “Bapak dan Ibu, Busway ke Kalideres tutup. Tidak ada yang melintas. Mohon menggunakan kendaraan lainnya”, katanya sambil membalikkan papan pengumuman yang bertuliskan, “Busway Kalideres Tutup”, yang dari tadi tergeletak di lantai.
ENHAnce Indonesia - Expanding National Humanitarian Ability
When a humanitarian
emergency strikes, national staff are essential to implement a quick and
appropriate response. Many of these
staff will have little or no humanitarian training or experience
and so they might not
be able to transfer their skills to the emergency context effectively.
ENHAnce aims to:
1.
Develop core humanitarian skills and leadership
competencies of existing staff at national level
2.
Build a network of humanitarians who can work
effectively together to improve overall speed and quality of response for
disaster affected people.
Two separate programmes are being run :
1.
Management & Leadership Skills Development
Programme
A Nine-month on-the-job programme for national staff who
are currently mid-level managers or team leaders. It examines key aspects of
management and leadership in emergency situations.
2.
Core Skills
Development Programme
A Six-month on-the job programme for national staff introducing the key
concepts and skills of humanitarian programming
How ENHAnce benefits everyone:
1.
Participant,
a. Develop
new skills and behaviors,
b. Leading
to increased competence and confidence, opportunity to take on and succeed in new
roles in emergencies,
c. Benefit
from workshops led by expert facilitators, 1-to-1 sessions with trained coaches
and setting and achieving own learning goals
d. Building
a network of humanitarian contacts which can be drawn upon for coordination
during emergencies and other collaboration
2.
Line Manager of Participant,
a. The
skills, behavior and self awareness gained will benefit the participant in
their current job, not just in an emergency deployment
b. Participants
are encouraged to share their learning with their team, creating wider benefit
c. ENHAnce
is an opportunity to fulfill the responsibility for the development of the
staff they manage
d. Support
the Organization to meet its humanitarian goals and aspirations
3.
Country Director,
a. Organization
responds more effectively to emergencies in-country
b. Support
improved coordination in responses to disasters in-country
c. Opportunity
to demonstrate responsibility and accountability for staff development
d. Show
strategic and reputational commitment to the wider humanitarian network
4.
Organization,
a. Improve
Organization’s global effectiveness and reputation in emergency response
b. ENHAnce
is a flagship programme in humanitarian staff development – strong engagement
with it shows that the Organization is a champion of good practice
c. Opportunity
to advance strategic goal of humanitarian capacity development
d. Contribute
to improving the performance of global humanitarianism as a whole.
5.
People affected by disaster, which needs are met
by humanitarian workers who are better able to implement timely, high quality
and accountable interventions.
Both of the ENHAnce programmes have been designed
based on the Core Humanitarian Competencies
Framework,
which was agreed by 15 international agencies. The Framework defines core behaviors
under each of the headings shown in the graphic opposite.
What makes ENHAnce uniquely effective?
1.
People in Aid an NGO specializing in
organizational effectiveness, has led the design and piloting of the programme,
with input from senior staff from a number of organizations.
2.
The programmes have been built using the best of
existing staff development materials sourced from across organizations, and
good practice from beyond the humanitarian sector.
3.
The ENHAnce Programmes build upon the experience
and learning of the CBHA pilot programmes that have run in four locations –
Horn of Africa, Bangladesh, Bolivia and Indonesia.
4.
They have been tailored to the specific local
context, taking into account the local disaster context, competency base and
suitable learning methodologies, amongst other factors.
“When I went back to
my work [after the first workshop] I started to realize how relevant and useful
the knowledge and tools are.”, Participant in the CBHA Pilot Programme.
Core Skills Development Programme
Programme overview
ENHAnce is an ECB
initiative to build the humanitarian capacity of national staff. The Core
Skills Development Programme is a 6-month on-the job programme introducing the
key concepts and skills of humanitarian programming. There are a total of 20
participant places on the Core Skills Development Programme in Indonesia.
Programme Objectives
On successful
completion, participants will be able to demonstrate:
1. Knowledge
and understanding of the humanitarian system and standards
2. Confidence
and ability to apply humanitarian principles and standards to the country
context in which you work
3. A
range of practical skills to deliver timely and quality humanitarian programmes
4. Ability
to manage yourself in a highly pressured and changing environment
5. A
tangible plan for your ongoing development and contribution to overall team
approach, and a commitment to continuous learning.
Who is the programme for?
1. Eligible
organizations
A wide range of organizations are being asked to nominate
candidates, including the ECB agencies, other international organizations,
local organizations and government. International organizations are encouraged
to nominate staff from key partner organizations, as well as their own staff.
2. Participant
criteria
The Core Skills Development Programme has been specifically
designed for the particular profile of participant described here. The
experience of the CBHA Pilot Programme has shown all candidates must match this
profile well to ensure that each candidate benefits personally and that the
group learning atmosphere is as positive as possible.
Criteria for participants in this programme:
1. National
staff (i.e. not on international contract)
2. Working
in any programme area or support function
3. No/limited
humanitarian experience and limited
humanitarian training
4. Able
to use English, which will be the working language for the programme
5. Personal
commitment to take on role in a humanitarian response
6. Expected
by their organization to play a key role in a future humanitarian response
7. Willingness
to learn new knowledge and skills and to develop potential to take on a new
humanitarian role
8. Commitment
to attend all modules and engage fully in the process
9. Current
contract lasting at least the full duration of the programme (until the end of
2012) and their organization is keen to keep and develop them
10. The
Core Skills Development Programme is for staff who are not currently managers
or team leaders – staff who do manage
people in their current role should not apply for this programme and should
instead apply for the Management & Leadership Skills Development Programme.
11. Please
note also that selection will consider the practicality of the applicant’s
current location for participation in residential events
Subscribe to:
Posts (Atom)









