Dukung Replikasi KP Ibu melalui mKPI (mobile KP Ibu)



Masih teringat dalam ingatan kita bahwa hampir berhari-hari dalam dua bulan Januari dan Februari di awal tahun 2014, ibu kota negara tercinta ini diguyur hujan deras, sehingga di layar TV kita pun ditutupi dengan berita tentang “Banjir Ibu kota Jakarta”. Tidak hanya ibu kota yang terkena bencana tapi juga daerah lainnya, seperti air bah di Menado, letusan Gunung Sinabung, letusan Gunung Kelud, dan banyak lagi di tahun 2014 ini maupun sebelumnya. Sebagai warga yang tidak terkena bencana tentunya kita tidak tahu pasti keadaan dan perasaan mereka yang membutuhkan pertolongan, kecuali kita hanya bisa berdoa dan membantu segenap daya dan upaya.

PELATIHAN “GENDER” DI KANTOR JAKARTA 2013





LATAR BELAKANG

Topik Gender bukan lagi merupakan hal yang baru bagi kalangan feminis, peneliti,  akademisi,  organisasi  kemasyarakatan,  pejabat  pemerintahan maupun  kalangan  umum  lainnya  di masyarakat.  Berbagai  studi  telah dilakukan untuk melihat hubungan yang kompleks antara Gender dengan isu-isu  penting  seperti  politik,  pendidikan,  kesehatan,  pengelolaan sumber daya  alam, dan  lain  sebagainya. Berbagai  institusi dan  lembaga baik dari sektor formal pemerintahan, LSM, lembaga penelitian, dan lain sebagainya beramai-ramai mengadakan  training, kampanye, penelitian, survei  dan  berbagai  program  kegiatan  lainnya  yang  berkaitan  dengan Gender.

Pertanyaannya  adalah  sejauh  mana  inisiatif-inisiatif  tersebut  efektif mendukung  upaya  penguatan  kapasitas  perempuan  di  akar  rumput? Apakah  posisi  dan  peran  Gender  dalam  masyarakat  mengindikasikan adanya  perubahan?  Bagaimana  posisi  perempuan  di  dalam  keluarga? Apakah  perempuan  mulai  ikut  terlibat  secara  aktif  dalam  proses pengambilan keputusan di institusi atau lembaga lokal?

Kebanyakan  dari  kita  sering  menolak  kenyataan  bahwa  ‘penerima manfaat program’, yaitu perempuan-perempuan yang bergabung dalam kelompok  yang  difasilitasi  (kelompok  dampingan),  selama  ini  masih berada pada tataran ‘objek’ penelitian, kelompok  ‘sasaran’ atau pengikut setia  dari  kegiatan-kegiatan  yang  berkaitan  dengan  pemberdayaan perempuan. Hal ini seringkali terjadi karena program dan kegiatan yang ditawarkan (atau dipaksakan) pada kelompok dampingan tersebut lebih banyak diinisiasi oleh pihak luar, bukan berdasarkan ide yang digali dari komunitas itu sendiri). Dengan demikian, kelompok perempuan hanya mengikuti apa yang  sudah  tertulis dalam agenda  si pemberi  ide,  tanpa mempunyai  peluang  untuk  berpikir  apakah  kegiatan  tersebut  sesuai atau  bertentangan  dengan  kepentingan mereka  atau malah membuat masalah  dengan  kondisi  lokal  yang  ada  di  sekitar mereka.  Sayangnya, jika program kegiatan tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan, kita serta merta ‘menghakimi’ bahwa program tersebut gagal, komunitas lokal tidak co-operative dalam berproses, kondisi lokal tidak mendukung atau  bahkan menyalahkan  fasilitator  yang  tidak  bisa  ‘mendorong’  kelompok dampingannya  untuk  berkembang  sesuai  dengan  tujuan  program.

Pernahkah terpikir oleh kita bahwa mungkin ‘kegagalan’ dalam berproses tersebut  kemungkinan  adalah  bentuk  keberhasilan  sistem  lokal?  Atau bahkan  kegagalan  tersebut  memunculkan  ide-ide  brilliant  di  dalam komunitas yang luput dari perhatian kita?

Pelatihan ini tidak mendiskusikan apa yang benar atau salah dalam perspektif Gender menurut pandangan lokal dan dunia luar. Gender dipandang sebagai opsi terbuka, yang bisa sangat berbeda perspektif dan implementasinya tergantung dari kondisi dan realitas lokal yang ada di lapangan.

Saya secara pribadi mengucapkan banyak terima kasih kepada fasilitator dan pelatih serta semua rekan peserta bersama dengan banyaknya rekan yang tidak dapat disebutkan namanya, dalam pelatihan Gender yang  jerih payah dan partisipasinya dalam kegiatan ini  telah memberikan  inspirasi bagi  saya untuk menuangkan ide dan pemikiran dalam lembaran-lembaran ini.

Pada akhirnya, semoga lembaran ini dapat membantu praktisi dan fasilitator di  lapangan  untuk  mengenal  lebih  jauh  mengenai  Gender  dari  segi praktis,  terlepas  dari  perdebatan mengenai  konsep,  teori  dan  definisi, sehingga dapat membantu kelompok dampingannya mengenali  aspek-aspek ketimpangan Gender yang ada di lingkungan sekitarnya.

Jerawat, apa sih sebenarnya jerawat itu ?

Apa saja macam / jenis jerawat yang ada ?

Jerawat memang menjadi masalah utama dalam penampilan. Tidak seorang pun yang menginginkan wajahnya dipenuhi dengan jerawat ataupun komedo. Namun yang menjadi permasalahan adalah bagaimana cara menghilangkan atau mengobati wajah dari gangguan jerawat yang aman serta tidak menimbulkan efek samping ?

Makin marak obat-obatan untuk penanganan atau menghilangkan jerawat, namun apakah anda tahu efek samping yang akan ditimbulkan dari obat-obatan tersebut ?

Sebelumnya kita perlu tahu tentang beberapa pertanyaaan yang ada di benak kita tentang jerawat....

Sebenarnya penyakit jerawat ini terjadi karena pori-pori kulit kita tersumbat oleh kotoran, sehingga minyak atau sebum yang dihasilkan oleh kelenjar di bawah kulit kita, yang biasa disebut dengan kelenjar sebasea, beserta dengan sel kulit mati, dan kadang juga disertai bakteri tersebut, terjebak di bawah lapisan kulit luar dan tak bisa keluar secara lancar, sehingga berakibat terjadinya iritasi atau peradangan di area tersebut.



Pada umumnya, jerawat ini mulai muncul di usia puber dan akan berhenti dengan sendirinya pada usia dewasa sekitar 25 tahun ke atas namun tidak jarang juga masih berlanjut walaupun sudah melewati usia tersebut.

Dilema Miss Word 2013 di Indonesia


Notes:
***Content dewasa untuk pembelajaran dan pengetahuan***

Latar Belakang
Miss World adalah kontes kecantikan internasional yang diprakarsai oleh Eric Morley pada tahun 1951 dan pertama kali diadakan di Inggris.













Pada awalnya hanya diikuti oleh enam negara yakni Inggris, Denmark, Swedia, Belanda, Amerika Serikat dan Prancis dengan jumlah contestant yang ikut mencapai 26 orang. Hal ini dikarenakan 21 orang di antaranya berasal dari negara tuan rumah. Saat itu, Miss World pertama diselenggarakan di Lyceum Theatre, London, Inggris pada 29 Juli 1951. Wakil dari Swedia, Kerstin "Kiki" Håkansson yang akhirnya berhasil menjadi pemenangnya.

Kondisi 5.000 lebih warga Desa Negeri Lima memprihatinkan.



Negeri Lima adalah desa di kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Indonesia.



5.000 warga tersebut merupakan pengungsi korban jebolnya Bendungan Wae Ela. Sebagian rumah di desa itu hilang disapu terjangan air bendungan yang mengarah ke laut.

Bendunga Wai Ela yang berjarak sekitar 2 kilometer dari Desa Negeri Lima jebol sekitar pukul 10.30 WIT dan langsung meluluhlantahkan sebagian besar rumah – rumah warga desa Negeri Lima. Bendungan Wae Ela jebol setelah wilayah ini diguyur hujan lebat dalam dua pekan terkahir. Akibatnya volume air di bendungan meningkat dan ketinggian air mencapai 200 meter melebihi ambang batas maksimal.