Modernisasi dan Banjir




Modernisasi merupakan proses yang tidak dapat kita hindarkan. Dewasa ini, di semua aspek kehidupan telah terjadi perubahan karena adanya arus modernisasi, Modernisasi terkadang diartikan sebagai peradaban canggih dalam kehidupan manusia, di mana kemudahan transportasi, komunikasi dan informasi, serta semakin berkembangnya bidang teknologi, menjadi ciri khas kehadirannya. Proses berkembangnya teknologi, pembangunan dan peningkatan populasi penduduk selama beberapa waktu terakhir mengakibatkan aktivitas manusia semakin berlipat dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya. Aktivitas manusia merupakan sumber pencemaran yang sangat potensial.

Modernisasi dapat diartikan sebagai proses perubahan dari kehidupan masyarakat yang tradisional menjadi modern, terutama berkaitan dengan teknologi dan organisasi sosial. Teori modernisasi dibangun di atas asumsi dan konsep-konsep evolusi bahwa perubahan sosial merupakan gerakan searah (linier), progressive dan berlangsung perlahan-lahan, yang membawa masyarakat dari tahapan yang primitif kepada keadaan yang lebih maju. Modernisasi mempengaruhi kepribadian manusianya juga. Pengaruh modernisasi terhadap manusia tercermin dari adanya urbanisasi, industrialisasi, mobilitas dan komunikasi massa. Ada pula kecenderungan kepribadian yang menjadi syarat perkembangan modernitas. Untuk efektifnya fungsi sebuah masyarakat modern, warganya perlu mempunyai kualitas sikap, nilai, kebiasaan dan kecenderungan tertentu. Jadi, ada pengaruh timbal balik antara tingkat kelembagaan dan organisasi di satu sisi serta tingkat kepribadian di sisi lain.

Masyarakat modern, terutama, memusatkan perhatian pada produksi, distribusi, konsumsi barang dan jasa serta uang sebagai ukuran umum dan alat tukar. Modernitas cenderung memperluas jangkauannya terutama ruangnya. Modernitas juga berkembang makin mendalam, menjangkau bidang kehidupan sehari-hari yang paling pribadi sifatnya seperti keyakinan, perilaku seksual, selera konsumsi, pola hiburan dan lain sebagainya. Di kehidupan sehari-hari juga terlihat beberapa fenomena antara lain perluasan bidang pekerjaan dan pemisahannya dari kehidupan keluarga, pertumbuhan kemandirian keluarga dan pemisahannya dari kontrol sosial komunitas atau masyarakat yang lebih luas, pemisahan antara waktu untuk bekerja dan waktu untuk santai, kehidupan sehari-hari tertuju pada pendapatan dan konsumsi barang yang dianggap sebagai simbol peran yang penting (konsumsi mencolok, berbelanja sebagai aktivitas memuaskan diri sendiri terlepas dari kebutuhan nyata untuk membeli).

Proses modernisasi sampai sekarang masih dimonopoli oleh masyarakat perkotaan terutama di kota-kota negara yang sedang berkembang, seperti di Indonesia. Kota-kota ini menjadi pusat modernisasi yang dicirikan oleh berbagai bentuk kegiatan pembangunan. Pembangunan berkembang dengan cepat. Pusat-pusat perkantoran dengan gedung-gedung yang megah dibangun di perkotaan. Kota diidentikkan dengan kemajuan, kesenangan dan daya tarik sebagai pusat pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, hiburan, kesehatan serta masih banyak yang lainnya. Hal ini menjadikan daerah perkotaan sebagai daerah yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi penduduk pedesaan. Kehidupan yang lebih baik inilah yang menjadi pendorong bagi penduduk pedesaan untuk mendatangi setiap tempat daerah perkotaan, dalam suatu proses sosial yang disebut urbanisasi. Adanya perkembangan pembangunan perkotaan yang tidak seimbang dengan perkembangan pembangunan di pedesaan menimbulkan arus urbanisasi dari desa ke kota. Fenomena seperti ini, menjadi salah satu sumber permasalahan dalam upaya penataan ruang dan kehidupan masyarakat perkotaan. Sampai sekarang ini masalah perkotaan ini masih ruwet dan kompleks. Selain urbanisasi, faktor yang menjadi permasalahan di perkotaan adalah banjir. Sekarang ini banjir sudah menjadi berita yang biasa di

Indonesia. Setiap hujan datang, banjir pun melanda.
Pembangunan yang dilakukan di perkotaan terkadang tidak memperdulikan lingkungan dan daya dukung lingkungannya. Tempat-tempat yang seharusnya menjadi ruang terbuka tempat serapan air, dijadikan bangunan mall atau perumahan elit. Semakin lama, semakin berkurang ruang terbuka di perkotaan, sehingga air hujan yang harusnya terserap ke dalam tanah, menjadi meluber ke jalanan dan semakin lama semakin tidak tertampung sehingga menimbulkan banjir. Perilaku membuang sampah yang sembarangan juga menambah kerusakan lingkungan yang mendukung timbulnya banjir.

Banjir adalah sebuah fenomena, dimana penyebab banjir tidak dapat dilihat dari satu sisi saja, tetapi banyak faktor penyebab yang ada di belakangnya. Penyebab banjir tidak hanya berasal dari perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan, tetapi juga semakin modernnya pranata ekonomi yang ada sekarang ini. Dewasa ini, penggunaan plastik yang sangat sulit untuk di daur ulang sangat banyak. Setiap berbelanja, berapa banyak tas plastik yang digunakan untuk membungkus belanjaan. Barang-barang yang digunakan oleh manusia juga banyak yang terbuat dari plastik. Plastik tidak bisa membusuk seperti halnya daun yang digunakan sebagai pembungkus. Secara kultural banjir disebabkan oleh ketidakmampuan masyarakat mengimbangi modernisasi dengan perilaku budaya yang seimbang. Penggunaan plastik yang pada hakikatnya adalah sebuah pembaruan budaya, tidak diimbangi dengan pembaruan perilaku dalam memperlakukan sampah plastik. Sampah plastik harusnya diolah kembali agar tidak semakin menumpuk. Sampah-sampah yang lain juga semakin banyak menjejali sungai-sungai kita. Semakin banyak orang tidak disiplin memperlakukan sampah, semakin banyak sampah menjejali selokan dan sungai yang ada di Indonesia. Hal inilah sesungguhnya yang memancing banjir di musim hujan.

Namun sebenarnya bukan itu saja yang memicu terjadinya banjir. Kerusakan hutan yang timbul akibat industrialisasi yang dipicu oleh adanya modernisasi juga menjadi penyebab terjadinya banjir. Penggundulan hutan di daerah hulu tanpa disertai penanaman kembali menyebabkan banjir dan tanah longsor. Sekarang pun banyak pedesaaan dan sawah yang terendm banjir. Tak hanya itu, di daerah kota pun terkadang terkena banjir, yang dikenal dengan istilah banjir kiriman.

Dewasa ini, melestarikan lingkungan tak dapat hanya dilakukan dengan kearifan tradisional saja namun hukum dari pemerintah juga sebaiknya berperan lebih banyak. Larangan membuang sampah di sungai harus diikuti dengan sanksi tegas bagi siapa saja yang melanggarnya, begitu juga dengan larangan membuang limbah di sungai. Mendirikan rumah di bantaran sungai harus dilarang, dan menindak siapapun yang melanggarnya. Demikian juga pengusaha yang mendirikan apartemen di bantaran sungai, harus mendapat tindakan tegas, bukan malah mendapat ijin. Perubahan perilaku manusia yang dulunya memperhatikan lingkungan dengan kearifan tradisional, dengan hukum-hukum adatnya telah bergeser menjadi perilaku modern yang tak lagi memperhatikan alam dan juga kearifan tradisionalnya. Modernisasi telah membuat manusia lupa hubungannya dengan alam. Modernisasi mendorong manusia untuk melupakan nilai-nilai adat yang dulu ada untuk menjaga lingkungannya.

Seharusnya, sebagai masyarakat modern, manusia mampu untuk menerima dan menghasilkan teknologi baru, bersama-sama membangun kekuatan dan terus meningkatkan kemampuannya untuk memecahkan masalah sosial yang dihadapi. Modernisasi harusnya diimbangi dengan kemampuan manusia itu sendiri untuk menciptakan teknologi-teknologi baru yang mampu memecahkan masalah yang timbul belakangan ini. Selain itu juga, modernisasi harusnya diimbangi juga dengan keinginan manusianya untuk berubah menjadi modern juga dalam bertindak dan berbuat dan semakin mencintai lingkungannya.

Di negara lain, perkembangan teknologi juga membawa dampak positif bagi sungai di daerahnya. Sungai yang airnya telah kotor, keruh dan berbau dengan teknologi yang maju, dapat diubah menjadi sungai yang airnya jernih dan tidak lagi berbau. Kemauan masyarakatnya untuk membuat sungai kembali menjadi bersih selayaknya kita tiru. Suatu hari nanti, di negara kita pasti dapat menciptakan teknologi yang mampu mengendalikan banjir, teknologi yang dapat mengolah sampah yang dihasilkan, atau bahkan menciptakan teknologi yang dapat menghasilkan air bersih dari air banjir yang menggenangi daerah-daerah yang terkena banjir. Dengan demikian, pada saat banjir, kita tidak lagi kesulitan mencari air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Atau mungkin juga ada inovasi teknologi untuk memperbarui air bawah tanah yang saat ini sudah semakin habis karena industrialisasi air mineral.

Apabila arus modernisasi telah melanda dan tidak dapat ditolak kehadirannya, yang diperlukan adalah kesiapan kita untuk bersikap adaptif dan lentur agar tidak membuat kita menjadi asing di tengah modernisasi itu sendiri. Semoga dengan adanya modernisasi bukan hanya dampak negatif yang dapat kita rasakan, namun dampak positif juga dapat kita rasakan pula, demi perbaikan hidup kita maupun generasi yang akan datang.




No comments:

Post a Comment