Hubungan antara dunia
industri, pemerintah dan masyarakat kerap mengalami pasang surut, di tengah
globalisasi serta berbagai issue penting menjadi perhatian dunia, maka
corporate social responsibility, selayaknya diharapkan dapat menjadi jembatan
gap yang acap kali muncul. Pertanggungjawaban social perusahaan, sebenarnya
sudah ada dan berkembang sejak sebelum jaman kemerdekaan. Perusahaan-perusahaan
berupaya mensejahterakan masyarakat di sekitarnya melalui berbagai bentuk
bantuan serta berbagai program untuk meningkatkan perekonomian mereka. Upaya
itu kemudian semakin meningkat, setelah UU Nomor 40 tahun 2007 diberlakukan.
Issue yang menjadi
perhatian menjadi berkembang, tidak saja persoalan untuk meningkatkan ekonomi,
tetapi juga persoalan lingkungan, tata kelola pemerintahan yang baik,
kesehatan, dan lain-lain. Bahkan tuntutan untuk perilaku baik dalam berbisnis
juga merupakan bentuk pertanggungjawaban social perusahaan yang juga menjadi
perhatian bagi masyarakat. Ketika Gunung Merapi mengalami erupsi, berbagai
bantuan baik dalam bentuk material maupun non material berdatangan, hunian
sementara kemudian dibangun, shelter serta air bersih disiapkan, tanggapnya
dunia usaha dalam membantu, merupakan cerminan ringkasnya birokrasi yang
memungkinkan dunia usaha dapat bekerja dengan lincah, sehingga memungkinkan
untuk melakukan terobosan. Tetapi masih banyak upaya CSR hanya sekedar untuk
‘mendongkrak” upaya pemasaran produk-produk yang dihasilkan, bukan benar-benar
sebagai upaya untuk mengurangi beban pembangunan yang ada. Bahkan beberapa dijadikan salah
satu bentuk komunikasi pemasaran. Padahal CSR tidak identik dengan pemasaran. CSR
kini tidak hanya sekedar bantuan, tetapi juga menjadi bagian dalam pembangunan
nasional, beberapa hasil penelitian membuktikan, bahwa CSR mampu menjadi
stimulasi berkembangnya masyarakat di pedesaan. Bahkan melek terhadap perubahan
iklim juga banyak diperkenalkan CSR-CSR di kampung-kampung yang bakal terancam
akibat terjadinya anomaly iklim ini.
Relasi antara dunia industri dengan komunitas, sejak dulu seringkali mengalami pasang surut. Kadang diwarnai ketegangan social yang acap kali menimbulkan persoalan yang cukup pelik. Tanggung jawab social perusahaan atau biasa dikenal dengan Corporate Social Responsibility, kemudian dipandang sebagian kalangan menjadi jalan tengah untuk menjembatani hubungan antara masyarakat dengan dunia industri. Saat ini CSR berkembang dengan pesat, bahkan memberi warna baru bagi model-model pembangunan yang bertumpu pada bentuk-bentuk partisipasi masyarakat. Peran yang semakin strategis inilah yang kemudian ingin kami bahas dalam bentuk seminar setengah hari, sekaligus menandai diluncurkannya buku yang berjudul “CSR Indonesia, Sinergi Pemerintah, Perusahaan dan Publik”.
Pada bulan Januari
2012, Ratna Dumilah, masih bertugas di TV One dan meliput salah satu peristiwa di Lebak Banten
tentang jembatan yang sudah ambruk dan masih dilintasi oleh banyak siswa SD.
Foto dari rekan wartawan asal Antara ini akhirnya menyebar dan mendapat
perhatian seluruh dunia, sehingga menghasilkan banyak keinginan untuk membantu.
Gambar: Jembatan
“Indiana Jones” Lebak Banten
Pemerintah daerah saat
itu, menyampaikan bahwa mereka perlu melakukan peninjauan dan terhambat dengan
anggaran yang belum turun, sehingga tidak dapat dilakukan langkah cepat untuk
mengatasi masalah tersebut. Namun ada kegiatan di sekitar jembatan, dengan
melakukan pengukuran dan banyak hal. Mereka adalah dari PT. Krakatau Steel, dan
sebagai bentuk dari CSR mereka, sehingga akhirnya sampai selesai dan
mendapatkan peliputan berita dan peresmian oleh bupati dan anggota dewan.
Gambar: Jembatan
“Indiana Jones” Lebak Banten di bangun oleh PT Krakatau Steel 60 Hari
Gambaran ini
memberikan bahwa banyak peristiwa yang ternyata, jika mengandalkan dari sisi pemerintah
saja, maka bentuk penanganannya akan sangat lamban namun jika masyarakat peduli
dan perusahaan membantu akan dapat mengatasi masalah tersebut dengan cepat.
Terbukti dengan adanya kegiatan CSR dari PT. Krakatau Steel ini.
Namun pertanyaannya
adalah seberapa banyak perusahaan yang melakukan CSR dengan sepenuh hati yang ikhlas
dan tanpa pamrih, seberapa besar jumlah dana yang dapat dialokasikan, bagaimana
bentuk CSR yang dilakukan agar tidak tercampur dengan rencana promosi atau
kegiatan terselubung lainnya serta banyak lagi pertanyaan seputar CSR ini.
Untuk itu nantinya akan kita bahas pada sesi selanjutnya.... :)



No comments:
Post a Comment