- Yakini jika disana ada kesempatan yang sama. Banyak orang yang menganggap perusahaan, managemen dan atasannya tidak adil dan pilih kasih. Promosi hanya didasari oleh rasa suka atau tidak suka. Yakinlah bahwa di perusahaan tempat Kita bekerja berlaku azas kesempatan yang sama. Bagaimana jika di kantor Kita benar-benar tidak terdapat kesetaraan kesempatan itu? Jangan terus menumpang hidup disitu dong. Juallah diri Kita ke perusahaan yang menganut prinsip ‘Equal Employment Opportunity’. Apakah ada perusahaan seperti itu? Tentu saja.
- Perlihatkan kapasitas diri Kita. Cara paling ampuh untuk dipromosi adalah dengan menunjukkan bahwa kapasitas diri Kita memang tinggi sekali sehinga sudah selayaknya mendapatkan tanggungjawab yang lebih besar. Jangan menunggu dipromosi jadi Manager dulu untuk menunjukkan Kita mampu menjadi seorang manager. Tunjukkan bahwa Kita mampu bekerja sekualitas Direktur, sebelum Kita menjadi direktur. Jika Kita bisa begitu, maka jabatan itu tidak akan lari kemana-mana; pasti Kita duluan yang mendapatkan kesempatan. Kitalah yang kemudian menentukan, mau mengambil kesempatan itu atau tidak.
- Bangun hubungan yang sehat dengan atasan dan orang lain. Banyak orang yang kemampuan teknisnya sangat tinggi namun tidak bisa dipromosi karena tidak memiliki people skill yang memadai. Ingatlah bahwa promosi bukan sekedar urusan teknis sehingga hanya mengandalkan faktor teknis saja sering membuat orang kecewa. Jadi, belajarlah membangun hubungan yang baik dengan orang-orang di kantor, karena itu adalah salah satu faktor yang sangat penting bagi karir Kita.
- Lapang dada jika kolega Kita yang dipilih. Proses seleksi promosi itu nyaris seperti sebuah pertandingan. Ada kalah, ada menang. Ada gagal, ada berhasil. Banyak orang yang mau bertanding tapi tidak mau menerima kekalahan. Ketika orang lain yang dipromosi, mereka mutung lalu membuat masalah. Sungguh, sikap seperti itu hanya merugikan dirinya sendiri. Jika Kita berani mengikuti proses seleksi promosi, siapkan mental untuk menang atau kalah. Jika menang Kita siap mengemban tugas. Jika kalah juga Kita siap untuk menerimanya dengan lapang dada.
- Tetaplah berpikir dan bersikap positif. Pikiran dan sikap positif memberikan dampak positif bagi diri sendiri dan orang lain. Kita akan tetap sehat, dan terus berkembang. Seperti magnet, kedua hal positif itu juga menarik respon positif dari lingkungan atau orang-orang disekitar Kita. Sebaliknya, jika Kita memenuhi diri dengan pikiran dan sikap negatif, maka Kita sendiri yang rugi. Orang lain pun tidak akan menaruh simpati sama sekali, sehingga Kita akan semakin dijauhi. Jadi, berpikir dan bersikaplah secara positif.
Apakah Anda Lembek dan Tidak Memiliki Daya Saing ???
Lebih dekat dengan GIS

Data realita di permukaan bumi akan dipetakan ke dalam beberapa layer dengan setiap layernya merupakan representasi kumpulan benda (feature) yang mempunyai kesamaan, contohnya layer jalan, layer bangunan, dan layer customer. Layer-layer ini kemudian disatukan dengan disesuaikan urutannya.
Setiap data pada setiap layer dapat dicari, seperti halnya melakukan query terhadap database, untuk kemudian dilihat letaknya dalam keseluruhan peta.
Kemampuan ini memungkinkan seseorang untuk mencari dimana letak suatu daerah, benda, atau lainnya di permukaan bumi. Fungsi ini dapat digunakan seperti untuk mencari lokasi rumah, mencari rute jalan, mencari tempat-tempat penting dan lainnya yang ada di peta.
Orang sering memetakan kuantitas, yaitu sesuatu yang berhubungan dengan jumlah, seperti dimana yang paling banyak atau dimana yang paling sedikit. Dengan melihat penyebaran kuantitas tersebut dapat mencari tempat-tempat yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan dan digunakan untuk pengambilan keputusan, ataupun juga untuk mencari hubungan dari masing-masing tempat tersebut.
Pemetaan ini akan lebih memudahkan pengamatan terhadap data statistik dibanding database biasa. Sebagai contoh, sebuah perusahaan pakaian anak yang akan menyebarkan brosurnya akan terbantu dengan mengetahui daerah-daerah mana yang punya banyak keluarga dengan anak kecil dan mempunyai pendapatan yang tinggi. GIS juga dapat memetakan jumlah penderita cancer misalnya, di teluk Cod, yang direlasikan dengan penggunaan lahan. Pemetaan ini digunakan untuk menganalisa apakah penggunaan pestisida dan bahan kimia lainnya berpengaruh terhadap kasus-kasus kanker yang terjadi.
Sewaktu orang melihat konsentasi dari penyebaran lokasi dari feature-feature, di wilayah yang mengandung banyak feature mungkin akan mendapat kesulitan untuk melihat wilayah mana yang mempunyai konsentrasi lebih tinggi dari wilayah lainnya. Peta kerapatan dapat mengubah bentuk konsentrasi kedalam unit-unit yang lebih mudah untuk dipahami dan seragam, misal membagi dalam kotak-kotak selebar 10 km2, dengan menggunakan perbedaan warna untuk menandai tiap-tiap kelas kerapatan.
Pemetaan kerapatan sangat berguna untuk data-data yang berjumlah besar seperti sensus atau data statistik daerah. Dalam data sensus seperti gambar 3 misalnya, sebuah unit sensus yang mempunyai jumlah keluarga diatas 40 diberi warna hijau, 30-40 hijau muda dan seterusnya. Dengan cara ini orang akan lebih mudah melihat daerah mana yang kepadatan penduduknya tinggi dan mana yang kepadatan penduduknya rendah.
Dengan memasukkan variabel waktu, GIS dapat dibuat untuk peta historikal. Histori ini dapat
digunakan untuk memprediksi keadaan yang akan datang dan dapat pula digunakan untuk evaluasi kebijaksanaan. Pemetaan jalur yang dilalui badai, misalnya, dapat digunakan untuk memprediksi kemana nantinya arah badai tersebut.
Seorang manajer pemasaran dapat melihat perbandingan peta penjualan sebelum dan sesudah dilakukannya promosi untuk melihat efektivitas dari promosinya.
GIS digunakan juga untuk memonitor apa yang terjadi dan keputusan apa yang akan diambil dengan memetakan apa yang ada pada suatu area dan apa yang ada diluar area. Sebagai contohnya adalah peta sekolah, jalan, sirene dan lainnya dalam jarak radius 10 mil dari pembangkit listrik tenaga nuklir Palo Verde. Peta ini digunakan untuk dasar rencana apabila terjadi keadaan darurat. Adakalanya perlu untuk menentukan daerah yang diluar kriteria, misalnya untuk menentukan lokasi pabrik dilakukan di daerah dalam radius lebih dari 1 km.

- Legenda
Legenda (legend) adalah keterangan tentang obyek-obyek yang ada di peta, seperti warna hijau adalah hutan, garis merah adalah jalan, simbol buku adalah universitas, dan sebagianya. - Skala
Skala adalah keterangan perbandingan ukuran di layar dengan ukuran sebenarnya. - Zoom in / out
Peta di layar dapat diperbesar dengan zoom in dan diperkecil dengan zoom out. - Pan
Dengan fasilitas pan peta dapat digeser-geser untuk melihat daerah yang dikehendaki. - Searching
Fasilitas ini digunakan untuk mencari dimana letak suatu feature. Bisa dilakukan dengan meng-inputkan nama atau keterangan dari feature tersebut. - Pengukuran
Fasilitas ini dapat mengukur jarak antar titik, jarak rute, atau luas suatu wilayah secara interaktif data nama jalan tersebut, tipe jalan, desa-desa yang menjadi ujung jalan, dan jalan-jalan lain yang berhubungan dengan jalan itu. - Link
Selain informasi dari database, GIS memungkinkan pula meghubungkan data feature pada peta dengan data dalam bentuk lain seperti gambar, video, ataupun web. Misalnya, adalah contoh link dari peta tentang probolingo yang jika di klik di bagian gunung Bromo akan memunculkan video, gambar-gambar, dan web tentang gunung Bromo.
Aplikasi GIS dapat memvisualkan secara 2 dimensi ataupun 3 dimensi dan dapat berjalan di desktop ataupun di web.
Pemanfaatan dan pembangunan lahan yang dimiliki oleh pemerintah daerah perlu dilakukan dengan penuh pertimbangan dari berbagai segi. Wilayah pembangunan di kota biasanya dibagi menjadi daerah pemukiman, industri, perdagangan, perkantoran, fasilitas umum dan jalur hijau. GIS dapat membantu pembuatan perencanaan masing-masing wilayah tersebut dan hasilnya dapat digunakan sebagai acuan untuk pembagunan utilitas-utilitas yang diperlukan.
Lokasi dari utilitas-utilitas yang akan dibangun didaerah perkotaan (urban) perlu dipertimbangkan agar efektif dan tidak melanggar kriteria-kriteria tertentu yang bisa menyebabkan ketidakselarasan. Contohnya pembangunan tempat sampah. Kriteria-kriteria yang bisa dijadikan parameter antara lain: diluar area pemukiman, berada dalam radius 10 meter dari genangan air, berjarak 5 meter dari jalan raya, dan sebagainya. D
Dengan kemampuan GIS yang bisa memetakan apa yang ada diluar dan didalam suatu area, kriteria-kriteria ini nanti akan digabungkan sehingga memunculkan irisan daerah yang tidak sesuai, agak sesuai, dan sangat sesuai dengan seluruh kriteria.
Untuk pembangunan pos polisi peta penyebaran penduduk, histori kecelakaan dan pelanggaran lalu-lintas, histori kejahatan dan perampokan, peta penyebaran pertokoan dan bank, bisa dijadikan dasar penentuan lokasi. Contoh lain misalnya lokasi pompa air untuk menyedot air sewaktu banjir, lokasi pembangunan pabrik, pasar, fasilitas-fasilitas umum, lokasi jaringan-jaringan listrik, telpon, air dan saluran pembuangan.
Setelah lokasi yang sesuai didapatkan, desain pembangunan utilitas tersebut dapat digabungkan dengan GIS untuk mendapatkan perspektif yang lebih riil.
Didaerah pedesaan (rural) manajemen tataguna lahan lebih banyak mengarah ke sektor pertanian. Dengan terpetakannya curah hujan, iklim, kondisi tanah, ketinggian, dan keadaan alam, akan membantu penentuan lokasi tanaman , pupuk yang dipakai, dan bagaimana proses pengolahan lahannya. Pembangunan saluran irigasi agar dapat merata dan minimal biayanya dapat dibantu dengan peta sawah ladang, peta pemukiman penduduk, ketinggian masing-masing tempat dan peta kondisi tanah. Penentuan lokasi gudang dan pemasaran hasil pertanian juga dapat terbantu dengan memanfaatkan peta produksi pangan, penyebaran konsumen, dan peta jaringan transportasi.

Sebelum aplikasi GIS digunakan untuk pembantu pengambilan keputusan, tugas dari daerah terlebih dahulu memasukkan informasi sebanyak-banyaknya tentang kondisi dan potensi daerahnya. Data-data yang perlu disiapkan antara lain data peta, data statistik daerah, dan. Data peta dapat menggunakan data yang sudah ada yang disediakan oleh Bakosurtanal atau instansi lain. Jika data belum ada atau ingin membuat data yang lebih baru, daerah bisa membuat peta baru berdasar foto satelit atau foto udara. Sedangkan data statistik diambil dari sensus, data daerah dalam angka, dan hasil pendataan lainnya.
eGovernance, Knowledge Management and eLearning

Modern ICT offers a whole range of opportunities and, at the same, imposes all kind of challenges to be faced by professional communities such as the surveyors. This relates especially to areas such e-Governance, Knowledge Management, and e-Learning. These areas interact and respond mutually. Developments move fast and it is not easy to catch up. The focus of this joint commission workshop is therefore very timely.
- Sustainability: balancing social, economic and environmental needs while being responsive to the present and future needs of society.
- Subsidiarity: allocation of authority at the closest appropriate level consistent with efficient and cost-effective services
- Equity of access: Women and men must participate as equals in all decision making, priority setting, and resource allocation processes
- Efficiency: Public services and local economic development must be financially sound and cost-effective.
- Transparency and Accountability: Decisions taken and their enforcement follows rules and regulations. Information must be freely available and directly accessible.
- Civic Engagement and Citizenship: Citizens must be empowered to participate effectively in decision-making processes.
- Security: All stakeholders must strive for prevention of crime and disasters. Security also implies freedom from persecution, forced evictions and provision of land tenure security.

Since 1990, land administration in modern democracies emerged from a technical focus aiming at serving professionals, institutions, and governments to a wider scope of serving citizens and businesses. This requires an understanding of how spatial enabling works.
- Maintenance and sharing of the core information layer – once created it is used many times – already used in thousands of applications
- Attachment of information to images of parcel and property configurations
- Accurate identification about the place or location of one activity in relation to other places in ways that are understandable by ordinary and non-technical people
- Capacity of businesses and citizens to understand, interrogate and manipulate information in the computer
- Inclusion of layers of geo-referenced information in the computer systems, despite their distinct sources, systems and owners, and achieve interoperability between the layers
- Integration of government information systems and provision of seamless information to institutions and government
- Incorporation of a spatial and relative information into maps permitting the location of that information to be realised and visualised
- Ultimately managing information through spatially enabled systems, rather than databases.
The Land administration function of land registration and tenure, valuation and taxation, planning and regulation, and development, are the institutional core of modern economies. These functions will, however, undergo changes as they adapt to the new policies of sustainable development, demand driven processes, acceleration in take-up of spatially enabled systems, and the historical and cultural realities. How a particular jurisdiction responds will depend on the understanding of the vision be its leaders.

The idea is that spatial enabling of land administration systems managing tenure, valuation, planning, and development will allow the information generated by these activities to be much more useful.
Firstly, the achievement of sustainable development goals will be easier to evaluate since adaptability and useability of modern spatial systems will encourage much more information to be collected and made available. For governments, building a suitable land policy framework will be assisted by better information chains. Secondly, the services available to private and public sectors and to community organisations should commensurably improve.
Ideally these processes are dual: with modern information and communication technology, the engagement of users in design of suitable services, and the adaptability of new applications should increase and mutually influence. The global initiatives are the starting point, but in a national case, modifications to suit the particular context will be built. The new land administration systems of the future will be local, regional and global in their capacity.
The concept of Knowledge Management is about optimizing the use of the basic asset of any organisation namely knowledge. Knowledge Management is basically an integrated approach to managing the information assets of an organisation/enterprise. These information assets may include databases, documents, policies, procedures, or just knowledge stored in the individual’s heads. (Markus, 2005). Knowledge Management, this way, is just common sense. However, in reality, the state of knowing or having access to the right knowledge at the right time is a real and important business advantage.
Knowledge management in e-Government
Knowledge management is about organising and sharing of knowledge just like spatial information management is about organising and sharing of spatial data. This is of course a simplification since knowledge management is a broader concept. However, in relation to e-Government knowledge management is then basically about designing and implementing suitable spatial data infrastructures or, more particularly, it is about designing and implementing a suitable IT-architecture for organising spatial information that can improve the communication between administrative systems and also establish more reliable data due to the use the original data instead of copies. In here, such governmental guidelines for service-oriented architecture e-government are recently adopted.

The key elements are: (i) Flexibility and accessibility which facilitates decision-making at all levels, (ii) Quality, authenticity and actuality due to direct access for reading and updating in the basic databases, and (iii) Standardisation through homogeneously selection of communications and exchange standards such as XML etc. This is currently being applied in the area of land administration through close cooperation between the agencies and stakeholders involved.
Knowledge management in e-Learning
The School of Surveying and Planning must established a system of on-line management of the study environment. This means that all information and communication is managed through the web. Home pages and email addresses are available at all levels including each student, each group of students, and each semester.
To improve implementation of IT in all aspects of the learning environment the School has established a Spatial Data Library to serve the educational process. The Spatial Data Library contains all relevant spatial data (registers and maps) within the region of Indonesian regions. The students project work, this way, is based on the actual data and the work is undertaken at the same level of IT as in professional practice. The library also enables the lecturing to be on-line when teaching theories and applications. A full-time librarian is responsible for maintaining the data sets and for developing relevant applications.
The School must has also established a one-year Master course in Geographic Information Management. The course was developed in co-operation with the surveying industry and the Indonesian Association of Chartered Surveyors. The course is offered as a one-year part time study lasting for two years, and it is organised as distance learning using an electronic classroom for teaching and communication. Researchers from other regions in the world such as University of Melbourne and ESRI in California can be lecturing on-line in this course. The course combines lecture courses (distance learning) with supervised project work (distance communication) based on professional problems identified by the practitioners within their respective employment areas. The students take part in four weekend seminars organised each year on campus to have introductory classroom lecture courses and to discuss and develop their project work. In general, the concept provides an innovative interaction between university and industry and it provides valuable feed-back to be integrated in the full time graduate program. These experiences in knowledge management are further developed in the concept of Learning Lab Geomatics that is presented in more details below.
EVOLUTION OF E-LEARNING CONCEPTS
Developments in the communication technology have had a huge effect on the learning environments at universities all over the world. From focusing on the local learning environment and its available learning tools, the universities are now facing a situation, where the students just under their fingertips – and with the same speed as their own thinking and capacity for formulating questions – have access to the pool of knowledge throughout the world. Consequently, not only the role of the professor is changing, but also the whole university institution and the principles of learning in relation to both methodology and pedagogy. The role of the universities will have to be reengineered based on this new paradigm of knowledge sharing.
The surveying community around the world is a combination of academia and practice. The profile of the community is changing rapidly due to the global drivers such technology development and globalization. For the two partners – the academic world and the world of professional practice – one possible way forward is to foster a cross-functional and cross-sectoral collaboration through setting up virtual learning organizations and facilities which can benefit both partners. Learning Lab Geomatics can be seen as such an organization
Learning Lab Geomatics
Learning Lab Geomatics is a strategy for implementing the concept of e-Learning in area of educating surveyors. The strategy includes a number of elements such as reengineering the learning process through web-based lecture materials; pedagogical innovation in the learning process; and internationalization of the total study environment.
The learning environment could be based on a project-organized approach. “Project-organized” means that the curriculum is taught through project work assisted by lecture courses instead of teaching theoretical courses assisted by practical labs. The learning process will be improved to reflect the opportunities provided through the modern information and communication technology. Lecture course material will be designed and prepared in hypertext and made available on the web as a basis for more intensive preparation and self-studies to be undertaken by the students. Traditional classroom lecturing will increasingly be replaced by web based self-studies followed by tutorials. The student’s project work will be developed on web-sites and the resulting final report will be made available as a source of knowledge to be used by incoming students. The outcome of the learning process will be improved by not only enhancing the competence of the graduates but also by improving the accessibility to knowledge.
The changing role of the universities should include that the lecture course materials, research results, and professional journals be made available on the web and packed in way tailored for use in different areas of professional practice. The graduates will then have access to the newest knowledge throughout their professional life.
Educational Innovation
Learning Lab Geomatics is designed to provide a new and flexible learning environment based on knowledge management. It is, however, not fully implemented. The concept will, in turn, provide educational innovation through a more focused self-learning perspective, and it aims to provide an efficient interaction between education, research and professional practice at national as well as international level.

When the lecture material is available on the web in a special designed version it will be possible to change the performance of the lecture courses in an innovative way. More time may be allocated to self-studies based on the web-based material, and sessions of traditional lecturing may be replaced by seminar discussions to facilitate the learning process. This should encourage the students to take responsibility for their own learning. The lecture material should also be peer reviewed and achieve a status comparable to journal articles.
On-campus courses and distant learning courses will be integrated even if the delivery may be shaped in different ways. Existing lecture courses should always be available on the Web. Existing knowledge and research results should also be available, and packed in a way tailored for use in different areas of professional practice. All graduates will then have access to the newest knowledge throughout their professional life.
FINAL REMARKS
Information and communication technologies are essential but the developments in this area are difficult to cope with in government, businesses, and at the universities. ICT developments provide huge opportunities but also threats in terms of demands for keeping up.
The three areas of e-Governance, Knowledge Management, and e-Learning are interdependent and constitute the key challenge of the future: “the e-Future Challenge”. Schools should develop ways and means to face this challenge.
REFERENCES
- Enemark, S., Williamson, I., and Wallace, J.(2005): Building Modern Land Administration Systems in Developed Economies. Journal of Spatial Science, Perth, Australia, Vol. 50, No. 2, December 2005, pp 51-68.
- Markus, B. (2005): Learning Pyramids. Proceedings of FIG Working Weeks, Cairo, Egypt, 16-21 April 2005.
- Wallace, J., Williamson, I.; Enemark, S., (2006): Building a National Vision for Soatially Enabled Land Administration in Australia. In: Sustainability and Land Administration Systems. Proceedings of the Expert Group Meeting, Melbourne, Australia, 9-11 November 2005, pp 237- 250..
- Williamson, I.; Enemark, S., Wallace, J. eds. (2006): Sustainability and Land Administration Systems. Proceedings of the Expert Group Meeting, Melbourne, 9-11 November 2005, 253 p.
So, When RI 1 accomplish this mission and develop a better country from now ?
We will heard you soon....
Tuhan itu Tidak Ada !!
Hawking menyebutkan, pada dasarnya surga dan kehidupan setelah kematian merupakan karangan bohong dari orang-orang yang sebenarnya takut mati. Merujuk ilmu pasti yang dimilikinya, Hawking menyatakan, otak berhenti bekerja ketika mati.
“Otak seperti komputer, komputer berhenti jika komponennya rusak,” ujarnya.
"Tak ada surga atau kehidupan setelah kematian bagi komputer-komputer rusak itu, lanjutnya. Surga hanyalah cerita bohong orang yang takut kegelapan," lanjutnya lagi.
Hawking menyakan, hal ini makin memperkuat teorinya mengenai semesta dibuat tanpa campur tangan Tuhan. Menurutnya seperti dikutip Guardian, alam semesta sudah ada sejak dulu dan berjalan dengan sendirinya.
Sebelumnya, Hawking sangat yakin, di masa depan, manusia bisa dengan mudah pergi dari masa lalu ke masa depan atau sebaliknya menggunakan mesin waktu yang akan segera tercipta.
Baiklah...
Mari kita lihat:
Pertama
ulama menyetujui tantangan dari atheis ini. kemudian mereka menentukan tempat dan waktunya..

hari yg ditentukan untuk mengadakan debat terbuka tentang eksistensi Tuhan telah datang.. dengan persiapan yg sangat yakin si atheis telah dulu datang di tempat yg telah ditentukan.. namun si atheis ini dibuat kesal oleh ulama karena hampir satu jam lebih dari waktu yg telah ditentukan sang ulama belum juga datang..
si atheis berkata kepada para audience “lihat! Seorg yg mempercayai adanya Tuhan tdk konsisten kepada janjinya?! mungkin dia menyerah dan yakin kalau Tuhan memang tdk ada! Makanya dia tdk berani datang!”..
hampir beberapa saat lagi debat dibatalkan karena sang ulama belum juga datang, akhirnya dia terlihat datang menghadiri debat terbuka itu.. si atheis menegur denga suara dikeraskan agar terdengar juga kepada para audience..
atheis : “wah-wah…bagaimana anda ini? bukanya anda seorg yg percaya adanya tuhan, kenapa anda tdk konsisten sama janji anda? bukanya anda percaya akan ada tuhan yg menghukum org-org yg tdk tepat janji? atau anda berniat membatalkan debat ini karena anda sendiri mulai ragu terhadap keyakinan anda?”
ulama : “mohon maaf sy datang terlambat.. sy tdk berniat membatalkan debat ini.. sy tadi terlambat karena sy mendapat halangan dijalan..”
sang ulama menjelaskan sebab keterlambatanya.. “tadi sewaktu sy mau melewati sebuah jembatan tiba2 air sungai meluap, terus menyeret jembatan yg mau sy lewati.. sy bingung harus lewat jalan mana lagi? karena jalan ini satu2nya yg sy tau.. tapi untug saja di saat sy bingung harus melakukan apa? tiba2 dikejauhan sy melihat pohon besar roboh kesungai karena tanahnya terkikis arus.. lalu setiba dihadapan sy pohon itu tiba2 bergerak-gerak merubah dirinya menjadi sebuah perahu yg lengkap keadaanya.. bahkan ada nahkodanya.. akhirnya sy menaiki perahu itu untuk menyebrang sungai..”
belum selesai ulama menjelaskan, atheis menimpali sambil tertawa terbahak bahak..
atheis : “hahahaa…cukup,cukup.. tdk usah diteruskan kekonyolan anda.. sepertinya anda sudah mulai gila.. sy dan para audience di sini masih waras.. anda pikir kami akan peracaya cerita anda tadi? sepertinya sy salah org untuk mengajak anda berdebat dalam masalah ini, karena sy pikir anda sudah gila!.. mana mungkin ada sebuah pohon roboh terseret arus sungai, lalu tiba2 didepan anda pohon itu berubah menjadi sebuah perahu bahkan ada nahkodanya pula, lalu menyeberangkan anda dari sungai?!”..
atheis lalu bertanya kepada para audience..
atheis : “bagaimana, apa masih pantas debat ini dilanjutakan? atau ada yg bisa menjadi lawan debat sy yg menjelaskan eksistensi?”
audience tdk ada yg menjawab..lalu ulama tadi berkata kepada atheis..
ulama : “sebenarnya aneh sekali jika sampai sekarang anda masih tdk percaya adanya tuhan.. bukankah anda tdk percaya dengan cerita sy bahwa sebongkah pohon dapat merubah bentuk menjadi perahu dan terdapat nahkoda didalamnya? dan menganggap sy org yg tdk waras?.. lalu bagaimana anda bisa percaya bahwa alam semesta ini.. dengan segala isinya tercipta karena alam ini bisa membuat dirinya sendiri tanpa ada yg menciptakan?..apa bukan berarti anda lebih tdk waras dari sy?..”
si atheis diam tdk bisa berkata apa2 lagi...akhirnya debat yg akan diperkirakan menjadi debat panjang bersejarah membahas eksistensi tuhan..berakhir dalam beberapa dialog saja..

Yang Diharapkan Oleh Bawahan Dari Atasannya !!!

- Keteladanan. Tidak ada perintah yang lebih ampuh dari keteladanan. Dengan keteladanan bahkan seorang atasan tidak perlu berkata-kata lagi untuk mendorong anak buahnya melakukan sesuatu. Sebaliknya, tanpa keteladanan; perintah kita hanya akan diikuti dengan gerutuan bawahan. Misalnya, Kita berkata; ‘Jangan datang terlambat ke kantor!”. Jika kita sendiri sering terlambat, maka bawahan kita hanya akan menganggap perintah kita sebagai lelucon belaka. Namun, jika kita sendiri tepat waktu, maka bawahan kita akan belajar untuk berdisiplin. Misalnya, memperpanjang libur atau cuti boleh, asal sesuai dengan kinerja yang dipenuhi dan pelayanan terhadap klient (massa) tidak diabaikan, terutama yang katanya abdi negara.

- Bersikap adil. Setiap orang sangat ingin diperlakukan secara adil. Dengan keadilan, maka atasan memberi teguran atau sanksi yang pantas kepada bawahan yang berbuat kesalahan, dan memberi pujian atau reward yang patut kepada mereka yang telah menunjukkan kesungguhan. Keputusan dibuat bukan berdasarkan kedekatan atau hubungan primordial belaka, melainkan karena kompetensi, profesionalisme, dan kontribusi masing-masing. Meskipun ada saja bawahan yang mungkin tidak puas, tetapi kepada atasan yang adil; mereka tetap menaruh respek yang tinggi. Gaji tinggi pun akan diberikan namun kredibilitas dan kinerjanya harus sesuai, jika tidak gajinya harus di-Nol-kan, apalagi cuman NATO (Not Action Talk Only) atau NASO (Not Action Sleep Only).

- Penilaian yang objektif. Atasan memiliki kekuasaan untuk memberikan penilaian. Setidak-tidaknya, sekali dalam setahun melalui performance appraisal process. Dalam keseharian, penilaian juga dilakukan terhadap kualitas kerja dan kedisiplinan bawahan. Hampir tidak ada kontrol terhadap kualitas penilaian atasan, sehingga faktor subyektivitas kadang-kadang mempengaruhi penilaian. Tetaplah bersikap objektif, karena dengan sikap objektif itu kita bisa memberikan penilaian yang benar-benar fair dan dapat dipertanggungjawabkan. Bawahan kita juga akan belajar untuk semakin memperbaiki perilaku dan kinerjanya, karena mereka tahu bahwa faktor kedekatan atau basa-basi tidak akan bisa mempengaruhi penilaian kita.

- Memberi kesempatan untuk berkembang. Seperti halnya kita yang menginginkan perkembangan karir dan pendapatan, bawahan kita juga sama. Para bawahan sangat mengharapkan atasan yang senantiasa bersedia untuk memberi ruang kepada perkembangan pribadinya. Apakah kita melakukannya dengan mengirimkan mereka pada sebuah pelatihan, memanggilkan trainer dari luar, atau boleh jadi sekedar membangun lingkungan kondusif yang memungkinkan terjadinya pertukaran ilmu, pengetahuan, dan keterampilan sesama mereka. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan, bahkan tanpa biaya sekalipun. Namun, kesempatan yang diberikan sebaiknya juga dikontrol, misalnya, apakah free wifi dan tabletPC yang gratis diakses untuk kebutuhan mesum saat sidang pariporno?!

- Memperhatikan masa depannya. Pertanyaan yang selalu ada dalam benak setiap bawahan adalah; akan menjadi seperti apakah masa depan saya? Sebagian dari mereka bahkan berdebar-debar dengan status kontraknya, apakah akan diperpanjang atau tidak. Sebagai atasan, kita bertanggungjawab untuk memastikan bahwa masa depan mereka akan baik-baik saja. Ajaklah mereka untuk berkontribusi semaksimal mungkin, agar semakin memudahkan kita dalam memperjuangkan nasib mereka. Dengan demikian; Anda mendapatkan komitmen kinerja bawahan, sedangkan bawahan mendapatkan komitmen dari Anda untuk berupaya semaksimal mungkin memperhatikan masa depan karir mereka.
