Apakah Anda Lembek dan Tidak Memiliki Daya Saing ???


Persaingan ada di mana-mana, termasuk di kantor. Para staf bersaing untuk dipromosi menjadi supervisor, para supervisor bersaing untuk menjadi manager, dan para manager bersaing meraih kursi direktur. Cita-cita, ambisi, dan tekad yang membara berseliweran dimana-mana. Salah? Bergantung bagaimana cara bersaingnya. Jika persaingan itu diwarnai oleh sikap dan tindakan yang tidak berkehormatan, maka dampaknya sangat buruk. Tetapi jika persaingan itu dilakukan secara sehat, maka efeknya sangat konstruktif.

Kita hanya akan bisa bersaing secara sehat jika berfokus kepada pembentukan kompetensi, sehingga setiap orang saling berlomba menunjukkan kemampuannya dalam berkontribusi. Untuk Kita, saya ingin menghadiahkan 5 cara yang sangat efektif dalam menghadapi persaingan di kantor, sehingga kompetensi Kita meningkat, dan kontribusi Kita juga bertambah. Berikut ini adalah uraiannya.
  1. Yakini jika disana ada kesempatan yang sama. Banyak orang yang menganggap perusahaan, managemen dan atasannya tidak adil dan pilih kasih. Promosi hanya didasari oleh rasa suka atau tidak suka. Yakinlah bahwa di perusahaan tempat Kita bekerja berlaku azas kesempatan yang sama. Bagaimana jika di kantor Kita benar-benar tidak terdapat kesetaraan kesempatan itu? Jangan terus menumpang hidup disitu dong. Juallah diri Kita ke perusahaan yang menganut prinsip ‘Equal Employment Opportunity’. Apakah ada perusahaan seperti itu? Tentu saja.
  2. Perlihatkan kapasitas diri Kita. Cara paling ampuh untuk dipromosi adalah dengan menunjukkan bahwa kapasitas diri Kita memang tinggi sekali sehinga sudah selayaknya mendapatkan tanggungjawab yang lebih besar. Jangan menunggu dipromosi jadi Manager dulu untuk menunjukkan Kita mampu menjadi seorang manager. Tunjukkan bahwa Kita mampu bekerja sekualitas Direktur, sebelum Kita menjadi direktur. Jika Kita bisa begitu, maka jabatan itu tidak akan lari kemana-mana; pasti Kita duluan yang mendapatkan kesempatan. Kitalah yang kemudian menentukan, mau mengambil kesempatan itu atau tidak.
  3. Bangun hubungan yang sehat dengan atasan dan orang lain. Banyak orang yang kemampuan teknisnya sangat tinggi namun tidak bisa dipromosi karena tidak memiliki people skill yang memadai. Ingatlah bahwa promosi bukan sekedar urusan teknis sehingga hanya mengandalkan faktor teknis saja sering membuat orang kecewa. Jadi, belajarlah membangun hubungan yang baik dengan orang-orang di kantor, karena itu adalah salah satu faktor yang sangat penting bagi karir Kita.
  4. Lapang dada jika kolega Kita yang dipilih. Proses seleksi promosi itu nyaris seperti sebuah pertandingan. Ada kalah, ada menang. Ada gagal, ada berhasil. Banyak orang yang mau bertanding tapi tidak mau menerima kekalahan. Ketika orang lain yang dipromosi, mereka mutung lalu membuat masalah. Sungguh, sikap seperti itu hanya merugikan dirinya sendiri. Jika Kita berani mengikuti proses seleksi promosi, siapkan mental untuk menang atau kalah. Jika menang Kita siap mengemban tugas. Jika kalah juga Kita siap untuk menerimanya dengan lapang dada.
  5. Tetaplah berpikir dan bersikap positif. Pikiran dan sikap positif memberikan dampak positif bagi diri sendiri dan orang lain. Kita akan tetap sehat, dan terus berkembang. Seperti magnet, kedua hal positif itu juga menarik respon positif dari lingkungan atau orang-orang disekitar Kita. Sebaliknya, jika Kita memenuhi diri dengan pikiran dan sikap negatif, maka Kita sendiri yang rugi. Orang lain pun tidak akan menaruh simpati sama sekali, sehingga Kita akan semakin dijauhi. Jadi, berpikir dan bersikaplah secara positif.
Hasil dari sebuah persaingan bukanlah akhir dari perjalanan karir Kita.

Jika Kita memenangkan persaingan itu, maka Kita harus menunjukkan bahwa memang Kita pantas mendapatkan promosi itu.

Jika tidak, maka Kita akan diremehkan. Jika Kita kalah bersaing? Perjalanan masih panjang, jadi tenang saja. Siapkan diri untuk fase persaingan berikutnya.

Orang-orang yang berfokus kepada kualitas pribadi tidak mudah terpengaruh oleh keadaan di luar dirinya. Dipromosi atau tidak, dia terus saja menempa diri.


Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow on Twitter @irwantoko ;)



Lebih dekat dengan GIS



Geographic Information System (GIS) adalah sistem yang men-capture, mengecek, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisa, dan menampilkan data yang secara spatial mereferensikan kepada kondisi bumi. Teknologi GIS mengintegrasikan operasi-operasi umum database, seperti query dan analisa statistik, dengan kemampuan visualisasi dan analisa yang unik yang dimiliki oleh pemetaan. Kemampuan inilah yang membedakan GIS dengan Sistem Informasi lainnya yang membuatnya menjadi berguna untuk berbagai kalangan untuk menjelaskan kejadian, merencanakan strategi, dan memprediksi apa yang akan terjadi.

Data realita di permukaan bumi akan dipetakan ke dalam beberapa layer dengan setiap layernya merupakan representasi kumpulan benda (feature) yang mempunyai kesamaan, contohnya layer jalan, layer bangunan, dan layer customer. Layer-layer ini kemudian disatukan dengan disesuaikan urutannya.

Setiap data pada setiap layer dapat dicari, seperti halnya melakukan query terhadap database, untuk kemudian dilihat letaknya dalam keseluruhan peta.

Kemampuan ini memungkinkan seseorang untuk mencari dimana letak suatu daerah, benda, atau lainnya di permukaan bumi. Fungsi ini dapat digunakan seperti untuk mencari lokasi rumah, mencari rute jalan, mencari tempat-tempat penting dan lainnya yang ada di peta.

Orang dapat pula melihat pola-pola yang mungkin akan muncul dengan melihat penyebaran letak-letak feature, misalnya sekolah, pelanggan, daerah miskin dan sebagainya.

Orang sering memetakan kuantitas, yaitu sesuatu yang berhubungan dengan jumlah, seperti dimana yang paling banyak atau dimana yang paling sedikit. Dengan melihat penyebaran kuantitas tersebut dapat mencari tempat-tempat yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan dan digunakan untuk pengambilan keputusan, ataupun juga untuk mencari hubungan dari masing-masing tempat tersebut.

Pemetaan ini akan lebih memudahkan pengamatan terhadap data statistik dibanding database biasa. Sebagai contoh, sebuah perusahaan pakaian anak yang akan menyebarkan brosurnya akan terbantu dengan mengetahui daerah-daerah mana yang punya banyak keluarga dengan anak kecil dan mempunyai pendapatan yang tinggi. GIS juga dapat memetakan jumlah penderita cancer misalnya, di teluk Cod, yang direlasikan dengan penggunaan lahan. Pemetaan ini digunakan untuk menganalisa apakah penggunaan pestisida dan bahan kimia lainnya berpengaruh terhadap kasus-kasus kanker yang terjadi.

Sewaktu orang melihat konsentasi dari penyebaran lokasi dari feature-feature, di wilayah yang mengandung banyak feature mungkin akan mendapat kesulitan untuk melihat wilayah mana yang mempunyai konsentrasi lebih tinggi dari wilayah lainnya. Peta kerapatan dapat mengubah bentuk konsentrasi kedalam unit-unit yang lebih mudah untuk dipahami dan seragam, misal membagi dalam kotak-kotak selebar 10 km2, dengan menggunakan perbedaan warna untuk menandai tiap-tiap kelas kerapatan.

Pemetaan kerapatan sangat berguna untuk data-data yang berjumlah besar seperti sensus atau data statistik daerah. Dalam data sensus seperti gambar 3 misalnya, sebuah unit sensus yang mempunyai jumlah keluarga diatas 40 diberi warna hijau, 30-40 hijau muda dan seterusnya. Dengan cara ini orang akan lebih mudah melihat daerah mana yang kepadatan penduduknya tinggi dan mana yang kepadatan penduduknya rendah.

Dengan memasukkan variabel waktu, GIS dapat dibuat untuk peta historikal. Histori ini dapat
digunakan untuk memprediksi keadaan yang akan datang dan dapat pula digunakan untuk evaluasi kebijaksanaan. Pemetaan jalur yang dilalui badai, misalnya, dapat digunakan untuk memprediksi kemana nantinya arah badai tersebut.

Seorang manajer pemasaran dapat melihat perbandingan peta penjualan sebelum dan sesudah dilakukannya promosi untuk melihat efektivitas dari promosinya.

GIS digunakan juga untuk memonitor apa yang terjadi dan keputusan apa yang akan diambil dengan memetakan apa yang ada pada suatu area dan apa yang ada diluar area. Sebagai contohnya adalah peta sekolah, jalan, sirene dan lainnya dalam jarak radius 10 mil dari pembangkit listrik tenaga nuklir Palo Verde. Peta ini digunakan untuk dasar rencana apabila terjadi keadaan darurat. Adakalanya perlu untuk menentukan daerah yang diluar kriteria, misalnya untuk menentukan lokasi pabrik dilakukan di daerah dalam radius lebih dari 1 km.



Pada sebuah aplikasi GIS, terdapat beberapa fasilitas yang merupakan standar untuk melengkapi peta yang tampil di layar monitor. antara lain :
  1. Legenda
    Legenda (legend) adalah keterangan tentang obyek-obyek yang ada di peta, seperti warna hijau adalah hutan, garis merah adalah jalan, simbol buku adalah universitas, dan sebagianya.
  2. Skala
    Skala adalah keterangan perbandingan ukuran di layar dengan ukuran sebenarnya.
  3. Zoom in / out
    Peta di layar dapat diperbesar dengan zoom in dan diperkecil dengan zoom out.
  4. Pan
    Dengan fasilitas pan peta dapat digeser-geser untuk melihat daerah yang dikehendaki.
  5. Searching
    Fasilitas ini digunakan untuk mencari dimana letak suatu feature. Bisa dilakukan dengan meng-inputkan nama atau keterangan dari feature tersebut.
  6. Pengukuran
    Fasilitas ini dapat mengukur jarak antar titik, jarak rute, atau luas suatu wilayah secara interaktif data nama jalan tersebut, tipe jalan, desa-desa yang menjadi ujung jalan, dan jalan-jalan lain yang berhubungan dengan jalan itu.
  7. Link
    Selain informasi dari database, GIS memungkinkan pula meghubungkan data feature pada peta dengan data dalam bentuk lain seperti gambar, video, ataupun web. Misalnya, adalah contoh link dari peta tentang probolingo yang jika di klik di bagian gunung Bromo akan memunculkan video, gambar-gambar, dan web tentang gunung Bromo.

Aplikasi GIS dapat memvisualkan secara 2 dimensi ataupun 3 dimensi dan dapat berjalan di desktop ataupun di web.

Pemanfaatan dan pembangunan lahan yang dimiliki oleh pemerintah daerah perlu dilakukan dengan penuh pertimbangan dari berbagai segi. Wilayah pembangunan di kota biasanya dibagi menjadi daerah pemukiman, industri, perdagangan, perkantoran, fasilitas umum dan jalur hijau. GIS dapat membantu pembuatan perencanaan masing-masing wilayah tersebut dan hasilnya dapat digunakan sebagai acuan untuk pembagunan utilitas-utilitas yang diperlukan.

Lokasi dari utilitas-utilitas yang akan dibangun didaerah perkotaan (urban) perlu dipertimbangkan agar efektif dan tidak melanggar kriteria-kriteria tertentu yang bisa menyebabkan ketidakselarasan. Contohnya pembangunan tempat sampah. Kriteria-kriteria yang bisa dijadikan parameter antara lain: diluar area pemukiman, berada dalam radius 10 meter dari genangan air, berjarak 5 meter dari jalan raya, dan sebagainya. D

Dengan kemampuan GIS yang bisa memetakan apa yang ada diluar dan didalam suatu area, kriteria-kriteria ini nanti akan digabungkan sehingga memunculkan irisan daerah yang tidak sesuai, agak sesuai, dan sangat sesuai dengan seluruh kriteria.

Untuk pembangunan pos polisi peta penyebaran penduduk, histori kecelakaan dan pelanggaran lalu-lintas, histori kejahatan dan perampokan, peta penyebaran pertokoan dan bank, bisa dijadikan dasar penentuan lokasi. Contoh lain misalnya lokasi pompa air untuk menyedot air sewaktu banjir, lokasi pembangunan pabrik, pasar, fasilitas-fasilitas umum, lokasi jaringan-jaringan listrik, telpon, air dan saluran pembuangan.

Setelah lokasi yang sesuai didapatkan, desain pembangunan utilitas tersebut dapat digabungkan dengan GIS untuk mendapatkan perspektif yang lebih riil.

Didaerah pedesaan (rural) manajemen tataguna lahan lebih banyak mengarah ke sektor pertanian. Dengan terpetakannya curah hujan, iklim, kondisi tanah, ketinggian, dan keadaan alam, akan membantu penentuan lokasi tanaman , pupuk yang dipakai, dan bagaimana proses pengolahan lahannya. Pembangunan saluran irigasi agar dapat merata dan minimal biayanya dapat dibantu dengan peta sawah ladang, peta pemukiman penduduk, ketinggian masing-masing tempat dan peta kondisi tanah. Penentuan lokasi gudang dan pemasaran hasil pertanian juga dapat terbantu dengan memanfaatkan peta produksi pangan, penyebaran konsumen, dan peta jaringan transportasi.



Sebelum aplikasi GIS digunakan untuk pembantu pengambilan keputusan, tugas dari daerah terlebih dahulu memasukkan informasi sebanyak-banyaknya tentang kondisi dan potensi daerahnya. Data-data yang perlu disiapkan antara lain data peta, data statistik daerah, dan. Data peta dapat menggunakan data yang sudah ada yang disediakan oleh Bakosurtanal atau instansi lain. Jika data belum ada atau ingin membuat data yang lebih baru, daerah bisa membuat peta baru berdasar foto satelit atau foto udara. Sedangkan data statistik diambil dari sensus, data daerah dalam angka, dan hasil pendataan lainnya.









eGovernance, Knowledge Management and eLearning



Modern ICT offers a whole range of opportunities and, at the same, imposes all kind of challenges to be faced by professional communities such as the surveyors. This relates especially to areas such e-Governance, Knowledge Management, and e-Learning. These areas interact and respond mutually. Developments move fast and it is not easy to catch up. The focus of this joint commission workshop is therefore very timely.

Governance refers to the manner in which power is exercised by governments in managing a country’s social, economic, and spatial recourses. It simply means: the process of decision-making and the process by which decisions are implemented. This indicates that government is just one of the actors in governance. The concept of governance includes formal as well as informal actors involved in decision-making and implementation of decisions made, and the formal and informal structures that have been set in place to arrive at and implement the decision.

Good governance is a qualitative term or an ideal which may be difficult to achieve. The term includes a number of characteristics e.g. as identified in the UN-Habitat Global Campaign on Urban Governance. The characteristics or norms are as follows (adapted from UN-Habitat, 2002):

  1. Sustainability: balancing social, economic and environmental needs while being responsive to the present and future needs of society.
  2. Subsidiarity: allocation of authority at the closest appropriate level consistent with efficient and cost-effective services
  3. Equity of access: Women and men must participate as equals in all decision making, priority setting, and resource allocation processes
  4. Efficiency: Public services and local economic development must be financially sound and cost-effective.
  5. Transparency and Accountability: Decisions taken and their enforcement follows rules and regulations. Information must be freely available and directly accessible.
  6. Civic Engagement and Citizenship: Citizens must be empowered to participate effectively in decision-making processes.
  7. Security: All stakeholders must strive for prevention of crime and disasters. Security also implies freedom from persecution, forced evictions and provision of land tenure security.
Once the adjective “good” is added, a normative debate begins. Different people, organizations, and government authorities will define “good governance” according to their own experience and interests. E.g. it may be argued that issues such as rule of law, responsiveness, and consensus orientation should be added to list above. The term good governance can also be viewed in several contexts such as corporate, institutional, national,and local governance. In any case, almost all kind of government includes a spatial component. In other words: Good governance and sustainable development is not attainable without sound land administration or – more broadly – sound land management.

Land management is the process by which the resources of land are put into good effect (UN-ECE 1996). Land management encompasses all activities associated with the management of land and natural resources that are required to achieve sustainable development. The concept of land includes properties and natural resources and thereby encompasses the total natural and build environment. Land administration is an area dealing with rights, restrictions and responsibilities in land. This relates to the interaction of the three areas of land tenure, land value and land use. By including land development these four areas are called the Land Administration Functions. These functions are based on policies determining the overall objectives and they are managed on the basis of appropriate land information infrastructures providing complete and up to date in formation on the natural and built environment. This all sits within a country/state context of institutional arrangements that may change over time.



Fig. 1. The Land Management Paradigm


triple bottom line of economic, social and environmental sustainability – through public participation and informed and accountable government decision-making in relation to theLand management in developed economies should facilitate sustainable development – the built and natural environments. The interface between the land administration infrastructure and professions and the public will increasingly be serviced by information communication technologies designed to implement e-government and e-citizenship. These processes will be used to link systems and information to people who would then be involved in delivering sustainable development at the local level. E-citizenship is mobilisation of society to engage in planning, use and allocation of resources, using technology to facilitate participatory democracy. E-government involves a government putting government information and processes on-line, and using digital systems to assist public access. E-governance is e-democracy – helping to govern society through the use of the Web.

Since 1990, land administration in modern democracies emerged from a technical focus aiming at serving professionals, institutions, and governments to a wider scope of serving citizens and businesses. This requires an understanding of how spatial enabling works.

On one standard, spatial enabling is just one form of interoperability (capacity for a computer to identify “where” something is). It is, however, far more energetic and offers opportunities for visualisation, scalability, and user functionality. The capacity of computers to place information in on-screen maps and to allow users to make their own enquires has raised the profile of spatial enablement. Thousands of new applications of this technology (mobile phones, vehicle tracking, digital cameras, and intelligent systems in asset management) are developing annually. These rely on the underpinning of spatial information i. information in cadastre, land administration, and large scale topographic maps. The benefits of spatial enablement of the core cadastral layer are (Wallace et. Al. 2006):

  1. Maintenance and sharing of the core information layer – once created it is used many times – already used in thousands of applications
  2. Attachment of information to images of parcel and property configurations
  3. Accurate identification about the place or location of one activity in relation to other places in ways that are understandable by ordinary and non-technical people
  4. Capacity of businesses and citizens to understand, interrogate and manipulate information in the computer
  5. Inclusion of layers of geo-referenced information in the computer systems, despite their distinct sources, systems and owners, and achieve interoperability between the layers
  6. Integration of government information systems and provision of seamless information to institutions and government
  7. Incorporation of a spatial and relative information into maps permitting the location of that information to be realised and visualised
  8. Ultimately managing information through spatially enabled systems, rather than databases.
Spatial enablement offers land administration a revolution equivalent to the conversion of paper files to digital systems of twenty years ago. However this is not the end of the story – researchers, practitioners, big business and government are now seeing the huge potential from linking “location” or the “where” to most activities, polices and strategies, just over the horizon. Companies like Google and Microsoft are actively negotiating to gain access to the world’s large scale built and natural environmental data bases.

The Land administration function of land registration and tenure, valuation and taxation, planning and regulation, and development, are the institutional core of modern economies. These functions will, however, undergo changes as they adapt to the new policies of sustainable development, demand driven processes, acceleration in take-up of spatially enabled systems, and the historical and cultural realities. How a particular jurisdiction responds will depend on the understanding of the vision be its leaders.


Fig. 2. A Land Management Vision


The idea is that spatial enabling of land administration systems managing tenure, valuation, planning, and development will allow the information generated by these activities to be much more useful.

Firstly, the achievement of sustainable development goals will be easier to evaluate since adaptability and useability of modern spatial systems will encourage much more information to be collected and made available. For governments, building a suitable land policy framework will be assisted by better information chains. Secondly, the services available to private and public sectors and to community organisations should commensurably improve.

Ideally these processes are dual: with modern information and communication technology, the engagement of users in design of suitable services, and the adaptability of new applications should increase and mutually influence. The global initiatives are the starting point, but in a national case, modifications to suit the particular context will be built. The new land administration systems of the future will be local, regional and global in their capacity.

The concept of Knowledge Management is about optimizing the use of the basic asset of any organisation namely knowledge. Knowledge Management is basically an integrated approach to managing the information assets of an organisation/enterprise. These information assets may include databases, documents, policies, procedures, or just knowledge stored in the individual’s heads. (Markus, 2005). Knowledge Management, this way, is just common sense. However, in reality, the state of knowing or having access to the right knowledge at the right time is a real and important business advantage.

Knowledge management in e-Government
Knowledge management is about organising and sharing of knowledge just like spatial information management is about organising and sharing of spatial data. This is of course a simplification since knowledge management is a broader concept. However, in relation to e-Government knowledge management is then basically about designing and implementing suitable spatial data infrastructures or, more particularly, it is about designing and implementing a suitable IT-architecture for organising spatial information that can improve the communication between administrative systems and also establish more reliable data due to the use the original data instead of copies. In here, such governmental guidelines for service-oriented architecture e-government are recently adopted.


Fig. 3. The concept for service-oriented IT-architecture.


The key elements are: (i) Flexibility and accessibility which facilitates decision-making at all levels, (ii) Quality, authenticity and actuality due to direct access for reading and updating in the basic databases, and (iii) Standardisation through homogeneously selection of communications and exchange standards such as XML etc. This is currently being applied in the area of land administration through close cooperation between the agencies and stakeholders involved.

Knowledge management in e-Learning
The School of Surveying and Planning must established a system of on-line management of the study environment. This means that all information and communication is managed through the web. Home pages and email addresses are available at all levels including each student, each group of students, and each semester.

To improve implementation of IT in all aspects of the learning environment the School has established a Spatial Data Library to serve the educational process. The Spatial Data Library contains all relevant spatial data (registers and maps) within the region of Indonesian regions. The students project work, this way, is based on the actual data and the work is undertaken at the same level of IT as in professional practice. The library also enables the lecturing to be on-line when teaching theories and applications. A full-time librarian is responsible for maintaining the data sets and for developing relevant applications.

The School must has also established a one-year Master course in Geographic Information Management. The course was developed in co-operation with the surveying industry and the Indonesian Association of Chartered Surveyors. The course is offered as a one-year part time study lasting for two years, and it is organised as distance learning using an electronic classroom for teaching and communication. Researchers from other regions in the world such as University of Melbourne and ESRI in California can be lecturing on-line in this course. The course combines lecture courses (distance learning) with supervised project work (distance communication) based on professional problems identified by the practitioners within their respective employment areas. The students take part in four weekend seminars organised each year on campus to have introductory classroom lecture courses and to discuss and develop their project work. In general, the concept provides an innovative interaction between university and industry and it provides valuable feed-back to be integrated in the full time graduate program. These experiences in knowledge management are further developed in the concept of Learning Lab Geomatics that is presented in more details below.

EVOLUTION OF E-LEARNING CONCEPTS
Developments in the communication technology have had a huge effect on the learning environments at universities all over the world. From focusing on the local learning environment and its available learning tools, the universities are now facing a situation, where the students just under their fingertips – and with the same speed as their own thinking and capacity for formulating questions – have access to the pool of knowledge throughout the world. Consequently, not only the role of the professor is changing, but also the whole university institution and the principles of learning in relation to both methodology and pedagogy. The role of the universities will have to be reengineered based on this new paradigm of knowledge sharing.

The surveying community around the world is a combination of academia and practice. The profile of the community is changing rapidly due to the global drivers such technology development and globalization. For the two partners – the academic world and the world of professional practice – one possible way forward is to foster a cross-functional and cross-sectoral collaboration through setting up virtual learning organizations and facilities which can benefit both partners. Learning Lab Geomatics can be seen as such an organization

Learning Lab Geomatics
Learning Lab Geomatics is a strategy for implementing the concept of e-Learning in area of educating surveyors. The strategy includes a number of elements such as reengineering the learning process through web-based lecture materials; pedagogical innovation in the learning process; and internationalization of the total study environment.

The learning environment could be based on a project-organized approach. “Project-organized” means that the curriculum is taught through project work assisted by lecture courses instead of teaching theoretical courses assisted by practical labs. The learning process will be improved to reflect the opportunities provided through the modern information and communication technology. Lecture course material will be designed and prepared in hypertext and made available on the web as a basis for more intensive preparation and self-studies to be undertaken by the students. Traditional classroom lecturing will increasingly be replaced by web based self-studies followed by tutorials. The student’s project work will be developed on web-sites and the resulting final report will be made available as a source of knowledge to be used by incoming students. The outcome of the learning process will be improved by not only enhancing the competence of the graduates but also by improving the accessibility to knowledge.

The changing role of the universities should include that the lecture course materials, research results, and professional journals be made available on the web and packed in way tailored for use in different areas of professional practice. The graduates will then have access to the newest knowledge throughout their professional life.

Educational Innovation
Learning Lab Geomatics is designed to provide a new and flexible learning environment based on knowledge management. It is, however, not fully implemented. The concept will, in turn, provide educational innovation through a more focused self-learning perspective, and it aims to provide an efficient interaction between education, research and professional practice at national as well as international level.


Fig. 4. The Professional Competence Model.


When the lecture material is available on the web in a special designed version it will be possible to change the performance of the lecture courses in an innovative way. More time may be allocated to self-studies based on the web-based material, and sessions of traditional lecturing may be replaced by seminar discussions to facilitate the learning process. This should encourage the students to take responsibility for their own learning. The lecture material should also be peer reviewed and achieve a status comparable to journal articles.

On-campus courses and distant learning courses will be integrated even if the delivery may be shaped in different ways. Existing lecture courses should always be available on the Web. Existing knowledge and research results should also be available, and packed in a way tailored for use in different areas of professional practice. All graduates will then have access to the newest knowledge throughout their professional life.


FINAL REMARKS
Information and communication technologies are essential but the developments in this area are difficult to cope with in government, businesses, and at the universities. ICT developments provide huge opportunities but also threats in terms of demands for keeping up.

The three areas of e-Governance, Knowledge Management, and e-Learning are interdependent and constitute the key challenge of the future: “the e-Future Challenge”. Schools should develop ways and means to face this challenge.

REFERENCES
  1. Enemark, S., Williamson, I., and Wallace, J.(2005): Building Modern Land Administration Systems in Developed Economies. Journal of Spatial Science, Perth, Australia, Vol. 50, No. 2, December 2005, pp 51-68.
  2. Markus, B. (2005): Learning Pyramids. Proceedings of FIG Working Weeks, Cairo, Egypt, 16-21 April 2005.
  3. Wallace, J., Williamson, I.; Enemark, S., (2006): Building a National Vision for Soatially Enabled Land Administration in Australia. In: Sustainability and Land Administration Systems. Proceedings of the Expert Group Meeting, Melbourne, Australia, 9-11 November 2005, pp 237- 250..
  4. Williamson, I.; Enemark, S., Wallace, J. eds. (2006): Sustainability and Land Administration Systems. Proceedings of the Expert Group Meeting, Melbourne, 9-11 November 2005, 253 p.

So, When RI 1 accomplish this mission and develop a better country from now ?
We will heard you soon....

**Thank You**

Tuhan itu Tidak Ada !!


Ilmuwan nyentrik Stephen Hawking yang terkenal karena pernyataan pro dan kontranya mengklaim surga hanyalah dongeng dan tak pernah ada. Seperti apa?

Hawking menyebutkan, pada dasarnya surga dan kehidupan setelah kematian merupakan karangan bohong dari orang-orang yang sebenarnya takut mati. Merujuk ilmu pasti yang dimilikinya, Hawking menyatakan, otak berhenti bekerja ketika mati.

“Otak seperti komputer, komputer berhenti jika komponennya rusak,” ujarnya.

"Tak ada surga atau kehidupan setelah kematian bagi komputer-komputer rusak itu, lanjutnya. Surga hanyalah cerita bohong orang yang takut kegelapan," lanjutnya lagi.

Hawking menyakan, hal ini makin memperkuat teorinya mengenai semesta dibuat tanpa campur tangan Tuhan. Menurutnya seperti dikutip Guardian, alam semesta sudah ada sejak dulu dan berjalan dengan sendirinya.

Sebelumnya, Hawking sangat yakin, di masa depan, manusia bisa dengan mudah pergi dari masa lalu ke masa depan atau sebaliknya menggunakan mesin waktu yang akan segera tercipta.

Baiklah...

Mari kita lihat:

Pertama

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini.

PROFESOR :"Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".

"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi.

"Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab,
"Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.

Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Apakah kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab,
"Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja gelap itu ada."

Mahasiswa itu menjawab,
"Sekali lagi anda salah, Pak.Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak."

"Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna."

"Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab,
"Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,
"Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan."

"Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam.

Dan mahasiswa itu adalah.......Albert Einstein.




Jadi, meniadakan kehadiran tuhan akan menimbulkan kejahatan, dekatkanlah diri kita dengan tuhan..untuk jauh dari kejahatan.

Kedua:
Memepertanyakan keberadaan surga ataupun neraka sama halnya mempertanyakan eksistensi Tuhan. karena dalam hal ini tuhan-lah yg menciptakan dua tempat tersebut.. berikut ada sebuah hikayat..

ada seorg ulama ditantang oleh seorg atheis untuk menjawab eksistensi Tuhan.
si atheis berkata kepada ulama “Sy tdk percaya adanya tuhan! alam raya ini tercipta dengan hukumnya sendiri..hanya org-org gila saja yg percaya kalau alam raya sebesar ini ada yg menciptakan... kita adakan debat terbuka untuk menjelasakan kepada semua org mana diantara pendapat kita yg paling benar”..

ulama menyetujui tantangan dari atheis ini. kemudian mereka menentukan tempat dan waktunya..



hari yg ditentukan untuk mengadakan debat terbuka tentang eksistensi Tuhan telah datang.. dengan persiapan yg sangat yakin si atheis telah dulu datang di tempat yg telah ditentukan.. namun si atheis ini dibuat kesal oleh ulama karena hampir satu jam lebih dari waktu yg telah ditentukan sang ulama belum juga datang..

si atheis berkata kepada para audience “lihat! Seorg yg mempercayai adanya Tuhan tdk konsisten kepada janjinya?! mungkin dia menyerah dan yakin kalau Tuhan memang tdk ada! Makanya dia tdk berani datang!”..

hampir beberapa saat lagi debat dibatalkan karena sang ulama belum juga datang, akhirnya dia terlihat datang menghadiri debat terbuka itu.. si atheis menegur denga suara dikeraskan agar terdengar juga kepada para audience..

atheis : “wah-wah…bagaimana anda ini? bukanya anda seorg yg percaya adanya tuhan, kenapa anda tdk konsisten sama janji anda? bukanya anda percaya akan ada tuhan yg menghukum org-org yg tdk tepat janji? atau anda berniat membatalkan debat ini karena anda sendiri mulai ragu terhadap keyakinan anda?”

ulama : “mohon maaf sy datang terlambat.. sy tdk berniat membatalkan debat ini.. sy tadi terlambat karena sy mendapat halangan dijalan..”

sang ulama menjelaskan sebab keterlambatanya.. “tadi sewaktu sy mau melewati sebuah jembatan tiba2 air sungai meluap, terus menyeret jembatan yg mau sy lewati.. sy bingung harus lewat jalan mana lagi? karena jalan ini satu2nya yg sy tau.. tapi untug saja di saat sy bingung harus melakukan apa? tiba2 dikejauhan sy melihat pohon besar roboh kesungai karena tanahnya terkikis arus.. lalu setiba dihadapan sy pohon itu tiba2 bergerak-gerak merubah dirinya menjadi sebuah perahu yg lengkap keadaanya.. bahkan ada nahkodanya.. akhirnya sy menaiki perahu itu untuk menyebrang sungai..”

belum selesai ulama menjelaskan, atheis menimpali sambil tertawa terbahak bahak..
atheis : “hahahaa…cukup,cukup.. tdk usah diteruskan kekonyolan anda.. sepertinya anda sudah mulai gila.. sy dan para audience di sini masih waras.. anda pikir kami akan peracaya cerita anda tadi? sepertinya sy salah org untuk mengajak anda berdebat dalam masalah ini, karena sy pikir anda sudah gila!.. mana mungkin ada sebuah pohon roboh terseret arus sungai, lalu tiba2 didepan anda pohon itu berubah menjadi sebuah perahu bahkan ada nahkodanya pula, lalu menyeberangkan anda dari sungai?!”..

atheis lalu bertanya kepada para audience..
atheis : “bagaimana, apa masih pantas debat ini dilanjutakan? atau ada yg bisa menjadi lawan debat sy yg menjelaskan eksistensi?”
audience tdk ada yg menjawab..lalu ulama tadi berkata kepada atheis..

ulama : “sebenarnya aneh sekali jika sampai sekarang anda masih tdk percaya adanya tuhan.. bukankah anda tdk percaya dengan cerita sy bahwa sebongkah pohon dapat merubah bentuk menjadi perahu dan terdapat nahkoda didalamnya? dan menganggap sy org yg tdk waras?.. lalu bagaimana anda bisa percaya bahwa alam semesta ini.. dengan segala isinya tercipta karena alam ini bisa membuat dirinya sendiri tanpa ada yg menciptakan?..apa bukan berarti anda lebih tdk waras dari sy?..”

si atheis diam tdk bisa berkata apa2 lagi...akhirnya debat yg akan diperkirakan menjadi debat panjang bersejarah membahas eksistensi tuhan..berakhir dalam beberapa dialog saja..

Nah, sekarang.... Bagaimana dengan Anda....?!





Yang Diharapkan Oleh Bawahan Dari Atasannya !!!



Menjadi seorang atasan adalah impian setiap karyawan. Tentu karena itu identik dengan jabatan yang lebih tinggi, pendapatan yang lebih banyak, dan kebanggaan yang lebih besar. Makanya setiap orang berlomba-lomba untuk menjadi atasan. Lantas apabila sudah menjadi atasan, apakah semuanya selesai sampai disana?

Kita, tentu ingin menjadi atasan yang memiliki kebanggaan. Apa gunanya menjadi atasan jika disepelekan oleh bawahan, atau hanya sekedar menjadi boneka yang tidak memiliki karisma.

Menjadi atasan bukan sekedar soal kedudukan, penghasilan, atau kebanggaan. Menjadi atasan adalah soal memimpin secara de facto dan memberi pengaruh positif kepada unit kerja yang kita pimpin.


Untuk bisa memenuhi fungsi itu, maka seorang atasan harus memahami apa yang diharapkan oleh bawahannya. Saya merangkum 5 hal yang diharapkan oleh bawahan dari atasannya sebagai berikut.
  • Keteladanan. Tidak ada perintah yang lebih ampuh dari keteladanan. Dengan keteladanan bahkan seorang atasan tidak perlu berkata-kata lagi untuk mendorong anak buahnya melakukan sesuatu. Sebaliknya, tanpa keteladanan; perintah kita hanya akan diikuti dengan gerutuan bawahan. Misalnya, Kita berkata; ‘Jangan datang terlambat ke kantor!”. Jika kita sendiri sering terlambat, maka bawahan kita hanya akan menganggap perintah kita sebagai lelucon belaka. Namun, jika kita sendiri tepat waktu, maka bawahan kita akan belajar untuk berdisiplin. Misalnya, memperpanjang libur atau cuti boleh, asal sesuai dengan kinerja yang dipenuhi dan pelayanan terhadap klient (massa) tidak diabaikan, terutama yang katanya abdi negara.

  • Bersikap adil. Setiap orang sangat ingin diperlakukan secara adil. Dengan keadilan, maka atasan memberi teguran atau sanksi yang pantas kepada bawahan yang berbuat kesalahan, dan memberi pujian atau reward yang patut kepada mereka yang telah menunjukkan kesungguhan. Keputusan dibuat bukan berdasarkan kedekatan atau hubungan primordial belaka, melainkan karena kompetensi, profesionalisme, dan kontribusi masing-masing. Meskipun ada saja bawahan yang mungkin tidak puas, tetapi kepada atasan yang adil; mereka tetap menaruh respek yang tinggi. Gaji tinggi pun akan diberikan namun kredibilitas dan kinerjanya harus sesuai, jika tidak gajinya harus di-Nol-kan, apalagi cuman NATO (Not Action Talk Only) atau NASO (Not Action Sleep Only).

  • Penilaian yang objektif. Atasan memiliki kekuasaan untuk memberikan penilaian. Setidak-tidaknya, sekali dalam setahun melalui performance appraisal process. Dalam keseharian, penilaian juga dilakukan terhadap kualitas kerja dan kedisiplinan bawahan. Hampir tidak ada kontrol terhadap kualitas penilaian atasan, sehingga faktor subyektivitas kadang-kadang mempengaruhi penilaian. Tetaplah bersikap objektif, karena dengan sikap objektif itu kita bisa memberikan penilaian yang benar-benar fair dan dapat dipertanggungjawabkan. Bawahan kita juga akan belajar untuk semakin memperbaiki perilaku dan kinerjanya, karena mereka tahu bahwa faktor kedekatan atau basa-basi tidak akan bisa mempengaruhi penilaian kita.

  • Memberi kesempatan untuk berkembang. Seperti halnya kita yang menginginkan perkembangan karir dan pendapatan, bawahan kita juga sama. Para bawahan sangat mengharapkan atasan yang senantiasa bersedia untuk memberi ruang kepada perkembangan pribadinya. Apakah kita melakukannya dengan mengirimkan mereka pada sebuah pelatihan, memanggilkan trainer dari luar, atau boleh jadi sekedar membangun lingkungan kondusif yang memungkinkan terjadinya pertukaran ilmu, pengetahuan, dan keterampilan sesama mereka. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan, bahkan tanpa biaya sekalipun. Namun, kesempatan yang diberikan sebaiknya juga dikontrol, misalnya, apakah free wifi dan tabletPC yang gratis diakses untuk kebutuhan mesum saat sidang pariporno?!

  • Memperhatikan masa depannya. Pertanyaan yang selalu ada dalam benak setiap bawahan adalah; akan menjadi seperti apakah masa depan saya? Sebagian dari mereka bahkan berdebar-debar dengan status kontraknya, apakah akan diperpanjang atau tidak. Sebagai atasan, kita bertanggungjawab untuk memastikan bahwa masa depan mereka akan baik-baik saja. Ajaklah mereka untuk berkontribusi semaksimal mungkin, agar semakin memudahkan kita dalam memperjuangkan nasib mereka. Dengan demikian; Anda mendapatkan komitmen kinerja bawahan, sedangkan bawahan mendapatkan komitmen dari Anda untuk berupaya semaksimal mungkin memperhatikan masa depan karir mereka.


Tidak ada atasan yang sempurna. Namun, ada diantara atasan yang benar-benar menggunakan kedudukannya untuk menyokong kebutuhan dan harapan-harapan bawahannya. Meskipun tidak mungkin untuk memuaskan semua orang, tetapi selama kita mampu memenuhi ke-5 harapan diatas, yakinlah; kita bisa menjadi atasan yang layak untuk dibanggakan.

Menjadi atasan itu adalah amanah kepemimpinan. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.