Membuat Sebuah System Di Unit Kerja (Saat Ini)

Ijinkan saya melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang system kerja di perusahaan kita. Memang ada perbedaan arti dari istilah ‘system’ dalam terminologi teknik, biology, dan management. Tetapi dalam pengelolaan perusahaan atau unit kerja, menggunakan sudut pandang management tentunya jauh lebih relevan. Komputer itu hanyalah salah satu alat untuk meningkatkan efisiensi dan utilisasi system yang kita rancang. Dan sebagai alat, komputer bukanlah segalanya. Jadi, janganlah terlalu berkecil hati jika perusahaan kita belum memiliki ‘system yang terkomputerisasi’. Tentu bagus jika sanggup menyediakan ‘alat’ itu. Tetapi jikapun belum; kita masih bisa membangun ‘system’ yang handal di unit kerja kita .
Kita sudah tahu tentang pentingnya (1) memahami proses bisnis atau alur kerja yang berlaku di unit kerja kita saat ini dan (2) menentukan alur kerja yang diperlukan. Dengan membandingkan temuan pada kedua langkah itu kita akan menemukan ‘gap’ atau selisihnya. Selisih itu bisa besar, bisa kecil bergantung kepada cakupan system yang sudah ada itu terhadap tuntutan kerja. Jika system itu benar-benar ‘belum ada’ berarti gapnya 100%. Bagi kita yang tertarik untuk belajar membuat system di unit kerjanya masing-masing, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:


1. Kumpulkan informasi yang diperlukan.
Sangat penting untuk memperoleh informasi secara internal dalam unit kerja kita agar bisa memastikan system yang kita bangun nanti benar-benar sesuai dengan kebutuhan kerja mereka. Namun, informasi eksternal pun tidak kalah pentingnya. Informasi eksternal dari unit kerja yang lain mungkin hanya digunakan untuk benchmark, tetapi pemahaman kita terhadap system yang berlaku di level korporasi sangat berarti untuk memastikan bahwa system yang kita buat sejalan dengan system yang lebih besar.


2. Buatlah draft system kerja yang hendak kita terapkan.
Sebagai unit Manager atau Supervisor kita tidak bisa menunggu orang lain membuatkan suatu system kerja yang dibutuhkan oleh unit kerja kita . Jadi, mulailah membuat draftnya dengan berbekal pemahaman kita terhadap proses bisnis, kebutuhan aktual dan informasi internal-external yang kita peroleh. Mungkin tidak sempurna, namun itu merupakan langkah yang sangat menentukan apakah unit kerja kita akan memiliki system yang baik atau tidak. Jika kita diam saja, belum tentu seratus tahun lagi ada orang yang peduli. Jadi, buatlah draftnya sekarang juga.


3. Diskusikan draft awal kita dengan orang-orang yang berkepentingan.
kita tentu mengharapkan agar semua orang dalam unit kerja kita bekerja sesuai dengan system yang kita buat. Maka sangat penting bagi kita untuk mendengarkan pandangan mereka. Tidak semua anak buah kita harus diminta pendapatnya. Pilihlah mereka yang selalu kritis namun positif dan konstruktif. Mereka yang pasif, sinis, dan selalu bersikap negatif hanya akan menghambat pembuatan system kita . Selain bawahan, kita juga patut meminta pandangan dari atasan karena system kita erat kaitannya dengan kinerja atasan. Rekan sejawat kita di unit kerja yang lain juga bisa diminta pendapatnya, terutama mereka yang mempunyai keterkaitan kinerja.


4. Uji cobalah system baru kita dan revisi lagi sesuai hasil evaluasi.
Uji coba memberi kita peluang untuk memeriksa kembali apakah system yang kita bangun itu benar-benar handal atau tidak. Ini memperkecil resiko yang bisa ditimbulkan dari kesalahan yang mungkin terjadi. Jauh lebih baik melakukan revisi pada saat uji coba daripada membongkar ulang setelah system itu diterapkan secara keseluruhan. Pada tahap ini juga kita bisa menemukan hal-hal yang tidak dijelaskan didalam text book. Faktanya, perhitungan diatas kertas tidak selalu cocok dengan kenyataan di lapangan. Bergantung kompleksitas system kita , uji coba bisa dilakukan selama beberapa hari hingga beberapa bulan.


5. Latihlah semua orang dalam unit kerja kita .
Salah satu penyebab utama kegagalan penerapan system di banyak perusahaan adalah kurangnya keterampilan karyawan dalam menggunakannya. Tidak peduli sehebat dan sekeren apapun system yang kita bangun, jika orang-orang dalam unit kerja kita tidak mengerti dan tidak terampil untuk menerapkannya; pasti akan menjadi sia-sia saja. Sudah banyak system yang terbengkalai, padahal dibuat dengan biaya yang sangat mahal. Janganlah ikut menambah jumlahnya dengan system kita yang menganggur. Jadi, latihlah mereka sampai benar-benar terampil menjalankannya.


Jika kita mempunyai budget yang cukup untuk membuat otomasi system baru kita itu dengan seperangkat komputer, silakan kita lakukan. Jika budget kita terbatas, maka kita bisa menggunakan program sederhana semisal microsoft excel atau microsoft access. Jika untuk itu pun belum memungkinkan, maka kita bisa menerapkan system baru kita secara manual saja. Ingatlah, bahwa ‘system kerja’ kita adalah nyawanya, sedangkan system komputer hanyalah alat penunjangnya. Memang bagus jika kita bisa memiliki keduanya. Tetapi jika harus memilih salah satunya; maka lupakanlah system komputer, dan berfokuslah kepada system kerjanya.
Tidak ada yang lebih berkepentingan terhadap kehandalan system di unit kerja kita selain diri kita sendiri.
God Bless Us.....;)




Terminal Joyoboyo Surabaya, Lebih Dekat....

Terminal Joyoboyo ini terletak di sebelah Surabaya Selatan. Terminal Joyoboyo merupakan terminal tipe B dengan luas lahan 11.134 m2 , dimana melayani angkutan Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP), dan angkutan kota. Jaringan trayek angkutan kota yang dilayani Terminal Joyoboyo ini yakni bus kota, dan angkutan kota (lyn).


Sekarang ini kendaraan umum AKDP yang masuk Joyoboyo hanya bus jurusan Surabaya-Mojokerto saja. Hanya dari Mojokerto saja yang masih eksis di terminal itu. UNIT pelaksana teknis daerah (UPTD) terminal di Surabaya ditangani Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya. Ada pembagian terminal menurut tipe. Yaitu tipe A, B, dan C. Masing-masing memiliki kapasitas dan fungsi. Selain tipe itu tidak bisa disebut terminal, tetapi lebih tepatnya pangkalan. Data di Dishub Kota Surabaya menerangkan, tipe A adalah terminal paling besar. Di Surabaya ada dua terminal tipe A, yakni Terminal Purabaya dan Osowilangun. Sedangkan tipe B adalah terminal sedang, seperti Terminal Joyoboyo.

Di sekitar Terminal Joyoboyo, tepat nya di sebelah kiri Terminal Joyoboyo terdapat 1 tempat wisata, yakni Kebun Binatang Surabaya ( KBS ). Bila anda mau brkunjung ke KBS, Anda bisa berjalan kaki dalam wktu 15 menit saja untuk sampai di loket KBS. Bila Anda capek, Anda bisa naik angkutan umum atau Bus. Yakni naik Bus Mini warna Hijau. Atau juga bisa naik angkutan umum jurusan Sidoarjo – Surabaya yang berwarna kuning.



Nama: Terminal Joyoboyo
Tipe: B
Alamat: Jl. Joyoboyo, Sawunggaling
Telp: 031 5678957
Layanan: AKDP – Dalam Kota
Fasilitas: Shelter/Ruang Tunggu, Kios, Mushola, Toilet, Kantin, area parkir
Luas Lahan: 10.000 m2
Diperoleh: Tahun 1969
Status Tanah:Tanah Negara SK Walikota No. 243 / K tanggal 8 April 1969
Fungsi: Sebagai Terminal Angkutan Kota dan Bis Kota


Info lebih lanjut dapat menghubungi:
Dinas Perhubungan - Pemerintah Kota Surabaya
Jl. Dukuh Menanggal No.1. Surabaya - I N D O N E S I A
TLP. (031) 8295332, 8295324, FAX. 8288315
info@dishubsurabaya.org






Antara Lidah, Perkataan, Dan Perbuatan


Berbicara.
Sungguh sebuah kosa kata yang sederhana.
Setiap hari kita mengucapkan kata-kata, sehingga sama sekali tidak ada hal yang menarik untuk dibahas.
Tetapi, mengapa ada orang yang dibayar hingga puluhan juta rupiah untuk berbicara selama satu atau dua jam saja?
Ada orang yang dicintai karena perkataan-perkataannya.
Dan ada orang yang dibenci karena ucapan-ucapannya.
Oleh sebab itu, kesederhanaan dibalik makna ‘berbicara’ pastilah memiliki keistimewaan yang layak untuk kita renungkan.
Berbicara bukanlah sekedar keterampilan memainkan lidah untuk berkomunikasi dengan orang lain. Melainkan juga menjadi salah satu sarana untuk menyampaikan gagasan, bertukar pikiran, juga mempengaruhi orang lain. Bagi kita yang tertarik untuk belajar berbicara secara efektif, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:


1. Berbicaralah yang baik, atau diam saja.
Sungguh beruntung orang-orang yang dapat menjaga lidahnya untuk tetap diam, daripada mereka yang rajin mengucapkan perkataan yang tidak memiliki manfaat apa-apa. Resiko tertinggi orang yang diam adalah ‘disebut orang pasif’. Sedangkan resiko terrendah bagi orang yang banyak bicara adalah disebut ‘orang yang banyak omong’. Manfaat terbesar bagi orang yang diam adalah ‘tidak dibenci oleh orang lain’. Sedangkan manfaat terbesar bagi orang yang berbicara adalah; ‘pahala yang mengalir atas kata-katanya yang baik’. Maka berbicaralah yang baik-baik karena pahala kebaikannya sangat besar. Atau kalau tidak bisa mengucapkan perkataan yang baik, maka sebaiknya ya diam saja.


2. Selaraskanlah antara perkataan dengan perbuatan.
Perhatikan orang-orang yang tidak selaras antara perkataannya dengan perbuatannya. Betapa banyak contoh orang seperti itu dihadapan kita . Dan kita tahu betul bahwa orang lain sudah tidak lagi mempercayai mereka. Ketika seseorang mengatakan pesan-pesan kebaikan kepada orang lain, namun dirinya sendiri berperilaku sebaliknya; maka orang tidak lagi mempercayai kata-katanya. Karena ketidakselarasan menyebabkan hilangnya kepercayaan. Jagalah keselarasan antara perkataan dan perbuatan, maka kita akan mendapatkan kepercayaan dari orang-orang disekitar kita .


3. Gunakanlah perkataan untuk mengajari diri sendiri.
Orang-orang yang terlalu banyak berbicara – saya, misalnya – memiliki kecendrungan untuk mengajari atau mengajak orang lain melalui perkataan yang yang diucapkannya. Sayangnya sering lupa untuk mengajari diri sendiri. “Jujurlah!” katanya. Tetapi dia sendiri tidak jujur. Ini menandakan bahwa dia gagal mengajari dirinya sendiri. Motivasi saya saat mengatakan sesuatu adalah mengajari diri sendiri. Ternyata sangat berat untuk belajar sendirian, makanya saya membagi pelajaran bersama orang-orang yang saya cintai. Itulah sebabnya sambil mengajari diri sendiri, saya berbagi pelajaran itu dengan kita .


4. Tebuslah perkataan dengan pendengaran.
Ada ruginya juga memposisikan diri sebagai orang yang paling banyak berbicara. Kita sering tidak sempat mendengar perkataan orang lain. Boleh jadi perkataan kita bukanlah hal terbaik dalam satu urusan tertentu. Namun karena kita tidak bersedia mendengarkan perkataan orang lain; maka kita kehilangan pelajaran berharga. Sungguh beruntunglah orang yang selain berbicara, dia juga bersedia mendengar. Selain ilmunya bisa memberi manfaat kepada orang lain, dia sendiri bisa menarik manfaat dari pelajaran yang ditebarkan oleh orang lain.


5. Yakinlah jika setiap perkataan harus dipertanggungjawabkan.
Kita sering mengira bahwa kata-kata yang keluar dari mulut kita akan menguap begitu saja. Kenyataannya perkataan yang kita ucapkan beberapa tahun lalu, masih diingat oleh orang lain. Sungguh beruntung jika kata-kata itu baik. Namun sungguh rugi kita jika kata-kata itu buruk. Setiap kata yang baik, menghasilkan pahala yang baik. Namun, setiap perkataan buruk pasti akan dibalas dengan imbalan yang juga buruk. Bahkan, guru spiritual saya mengatakan; “Betapa besarnya murka Tuhan kepada orang yang mengatakan sesuatu yang bertolak belakang dengan perbuatannya.” Maka yakinlah, setiap perkataan harus dipertanggungjawabkan.

Keterampilan berbicara bukanlah monopoli mereka yang berprofesi sebagai pembicara publik. Setiap orang patut memiliki keterampilan berbicara yang baik.

Satu hal yang perlu diingat adalah; berbicara tidak selalu berarti mengucapkan sesuatu dengan lidah kita. Melainkan juga menunjukkan tindakan nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Mungkin kita bisa berbicara dengan nyaring, namun perbuatan kita berbicara lebih nyaring dari kata-kata yang diolah oleh lidah kita.


Keterampilan berbicara akan semakin efektif jika diimbangi dengan kesediaan untuk mendengar pelajaran-pelajaran berharga dari orang lain.


Good Bless Us....;)



Apakah Kita pernah merasa dikecewakan oleh orang lain?

Apakah Kita pernah merasa dikecewakan oleh orang lain?
Pasti tidak enak ya, apalagi jika yang mengecewakan itu adalah orang yang kita percayai.
Lalu Menjaga Perasaan Tidak Kecewakan Karena Orang Lain ....?


Orang yang dikira baik ternyata dibelakang tidak seperti yang kita kira.
Pertanyaannya sekarang adalah; apakah kita benar-benar ‘dikecewakan’ ataukah kita hanya ‘merasa’ dikecewakan oleh orang itu?
Jangan-jangan sebenarnya mereka tidak mengecewakan kita, tetapi kitalah yang merespon apa yang mereka lakukan itu sebagai suatu kekecewaan, lho.
Jika Kita pernah kecewa, tentu Kita tahu betapa melelahkannya perasaan itu.
Kebahagiaan kita terrenggut, waktu tidur kita berkurang, air mata kita terkuras.
Perasaan hati kita juga menjadi gundah dan gelisah.

Maka dari itu, jangan terlalu lama membiarkan kekecewaan menguasai diri kita.

Untuk itu, saya ingin mengajak Kita semua untuk sama-sama menyimak 5 hal yang bisa membantu memerdekakan jiwa kita dari kekecewaan. Berikut ini uraiannya:


1. Mengakui bahwa diri kita tidak sempurna.
Apabila orang lain berkomentar negatif tentang diri Kita, atau menggunjingkan kekurangan-kekurangan diri Kita, maka Kitatidak perlu kecewa. Terima saja, meskipun belum tentu yang mereka gunjingkan itu benar. Bersyukurlah jika ada orang yang bersedia menunjukkan ketidaksempurnaan Kita. Jika mereka salah, maka itu akan menjadi tambahan pahala bagi Kita. Tapi jika mereka benar, maka itu merupakan proses penyadaran untuk memperbaiki ketidaksempurnaan yang ada pada diri Kita. Semoga dengan begitu kita bisa terus memperbaiki diri. Meski tidak mudah, Insya Allah ada jalan untuk perbaikan selama kita berusaha.


2. Menyadari bahwa orang lain juga tidak sempurna.
Rasa kecewa sering kali disebabkan oleh penilaian yang terlalu tinggi kepada seseorang. “Kalau orang lain yang melakukannya aku masih bisa ngerti. Tapi, kok bisa-bisanya sih dia melakukan itu?” Begitu kan kita sering berkata saat kecewa? Siapapun dia hanyalah manusia biasa yang bisa berbuat salah atau dosa. Jika kita tidak sempurna, dia juga sama. Jadi sudah, relakan saja. Dia hanyalah manusia biasa yang tidak sempurna. Wajar jika dia melakukan sesuatu yang mengecewakan. Tidak usah diperpanjang karena kita sudah tahu betapa tidak sempurnanya dia.


3. Menerima kenyataan bahwa lidah tidak selalu sejalan dengan hati.
Banyak orang yang kecewa kepada orang lain karena dia mengira bahwa apa yang dikatakan orang itu pastinya sama dengan apa yang ada dalam hatinya. Padahal, tidak semua orang mengucapkan kata-kata yang sejalan dengan isi hatinya. Jika Kita sudah menyadari hal itu, maka Kita tidak akan terlalu kecewa saat mendapati perilaku seseorang yang bertolak belakang dengan ucapannya. Kita juga tidak akan terlalu kecewa kalau ada yang memuji Kita didepan, tetapi menjelek-jelekkan Kita dibelakang. Jika ada yang menjanjikan sesuatu kepada Kita tapi tidak kunjung diwujudkan; Kita juga tidak akan kecewa. Mengapa? Karena Kita sudah tahu bahwa lidah tidak selalu sejalan dengan hati. Jadi, tidak perlu heran. Enjoy aja….


4. Ingatlah bahwa Kita adalah pengendali diri Kita sendiri.
Jika orang lain berusaha mengecewakan Kita, tetapi Kita sendiri tidak merasa kecewa; kira-kira dia berhasil membuat Kita kecewa atau tidak? Jelas sekali ya, bahwa yang menentukan apakah kita kecewa atau tidak itu bukan perlakuan orang lain kepada kita. Melainkan sikap yang kita ambil sendiri. Jika ada orang yang berusaha mengecewakan kita, biarkan saja. Sebab selama kita memilih tidak kecewa, maka kita akan baik-baik saja. Bersyukurlah karena Tuhan telah memberi kita kekuatan untuk mengambil kendali kepada diri kita sendiri. Selama Kita memegang kendali itu, tidak seorang pun bisa menjatuhkan jiwa Kita.



5. Meyakini bahwa segala sesuatunya tertera dalam catatan Tuhan.
Selama Kita masih punya keyakinan kepada Tuhan, percaya deh semuanya akan baik-baik saja. Perkataan orang yang menjatuhkan Kita. Perbuatan orang yang merugikan Kita. Fitnahan, gunjingan, dan berita yang mengada-ada tercatat lengkap dalam buku yang dipegang terus oleh malaikat di kiri dan kanan. Kita tidak perlu ambil pusing soal semua itu, apalagi harus membalas dendam. Percayalah, bahwa Gusti Allah ora sare. Tuhan tidak pernah lengah.


Sudahlah, tidak usah kecewa lagi.
Sayang energy kita terbuang percuma.
Mendingan berserah diri saja kepada yang Maha Kuasa dengan keikhlasan dalam menerimanya.
Siapa tahu dengan begitu kita semakin disayang oleh Tuhan.


Jangan terlalu terpukau oleh tulisan dan perkataan saya.
Jika Kita tahu siapa kita yang sebenarnya, mungkin Kita pun akan merasa kecewa juga.


Good Bless Us....;)

”Pahamilah dokumen JobDesc Kita, lalu segeralah lupakan!” Lho, mengapa harus melupakan JobDesc?

Saya memahami bahwa setiap karyawan berkewajiban untuk tunduk kepada Job Description (JobDesc) yang sudah ditentukan oleh perusahaan. Bukan hanya di perusahaan yang sudah memiliki JobDesc. Bahkan perusahaan yang belum punya pun berlomba mempekerjakan konsultan HRD untuk membuat JobDesc. Nasihat terbaik saya kepada kita soal ini adalah;”Pahamilah dokumen JobDesc kita, lalu segeralah lupakan dia!” Lho, mengapa harus melupakan JobDesc itu?

Selama bekerja sebagai seorang profesional di beberapa perusahaan dan lembaga non profit, saya telah menangani berbagai macam posisi. Selama itu pula saya langsung melupakan JobDesc jabatan saya sesaat setelah saya memahaminya. Tetapi, saya perlu sampaikan bahwa justru dengan cara seperti itu saya mendapatkan karir yang relatif lebih baik dibandingkan rata-rata orang lain yang memulai karir seperti saya. Itulah sebabnya, mengapa saya sangat percaya diri untuk menyampaikan nasihat itu kepada kita semua. Untuk membantu kita memahaminya, ijinkan saya menjelaskan 5 fakta tidak terbantahkan tentang JobDesc.

Berikut ini uraiannya.


1. JobDesc itu dibuat dalam ukuran rata-rata.
Setiap JobDesc dibuat untuk mengakomodasi aspek-aspek pekerjaan yang harus ditangani oleh seseorang yang memegang jabatan tertentu. Tidak peduli siapa orang yang memegang jabatan itu, maka dia harus memenuhi tuntutan JobDesc itu. Supaya semua pemegang jabatan mampu memenuhinya, maka JobDesc harus dibuat sedemikian rupa sehingga semua orang dapat memenuhinya. Artinya, JobDesc dibangun dengan standard rata-rata manusia. Percayakah jika saya katakan bahwa kita adalah seorang pribadi unggul yang melebihi rata-rata manusia? Jika kita percaya, maka kita harus bekerja melampaui JobDesc itu; karena dia dibuat sekedar untuk mewakili manusia rata-rata.


2. JobDesc menjebak Kita dalam standard yang rendah.
Segala sesuatu yang dibuat dengan ukuran rata-rata selalu memiliki standar yang rendah. Itu sudah pasti bagi mereka yang memiliki standard tinggi. Sekarang coba perhatikan, bagaimana akhir kehidupan orang-orang yang bermain dengan standar yang rendah? Pencapaian dalam hidupnya juga rendah, bukan? Saya tidak yakin jika kita hanya ingin membuat pencapaian yang rendah dalam hidup kita. Jadi, lupakan JobDesc kita yang berstandard rendah itu, dan berusahalah untuk melampauinya.


3. JobDesc meninabobokan Kita dalam kata ‘selesai’.
Coba perhatikan, setiap kali kita berhasil menyelesaikan semua tugas yang tertera dalam JobDesc. KIta mengatakan kepada diri sendiri dan atasan Kita; “Saya sudah selesai, Pak.” Lalu kita benar-benar selesai. Padahal, kita memiliki kapasitas diri yang masih belum terdayagunakan. Semua kapasitas tinggi itu tidak dipakai karena kita merasa semuanya sudah selesai. Jadi, segeralah lupakan JobDesc kita, karena secara pelan-pelan dia membunuh potensi diri kita.


4. Kita berambisi untuk meraih karir yang lebih tinggi.
Setiap jabatan yang lebih tinggi, pasti tuntutan JobDescnya juga lebih tinggi. Agar kita dinilai layak menduduki jabatan tinggi, maka kita harus terlebih dahulu menunjukkan bahwa kita memang mampu menangani tugas dan tanggungjawab yang lebih tinggi. Jika kita terus menerus bermain dalam JobDesc sekarang yang rendah itu, maka kita tidak akan mampu menunjukkan kemampuan kita yang sesungguhnya. Maka akan sangat sulit bagi kita untuk mendapatkan karir yang lebih tinggi. Sebaliknya, jika kita lupakan JobDesc kita dengan melampui kinerja yang dituntutnya, maka akan sangat mudah untuk melihat bahwa kita pantasnya bukan di posisi itu, melainkan di tempat yang lebih tinggi.


5. JobDesc sudah sejak lama ditinggalkan para pesaing tangguh.
Tahukah kita mengapa ada orang-orang yang sedemikian cepatnya melesat dalam jalur cepat perjalanan karir mereka? Benar! Karena para pesaing tangguh itu sudah sejak lama meninggalkan JobDesc mereka dan melaju dengan standard pribadi mereka yang sangat tinggi. Ketika kebanyakan orang bermain dalam kubik kecil ruang kerja mereka, para pesaing tangguh itu menerapkan standard kelas dunia. Makanya, tidak heran jika mereka sangat sulit untuk dikejar kebanyakan orang.



Menjadi professional yang unggul itu bukan berarti menjadi seseorang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Kita pribadi pun melakukan banyak kesalahan. Sampai hari ini, kesalahan demi kesalahan kita buat; lalu belajar dari kesalahan itu. Selama proses itu berlangsung terus, maka kita yakin jika dari hari ke hari; kita meningkatkan patokan standard yang kita tetapkan.


Mereka yang bekerja sekedar untuk memenuhi tuntutan Job Desc belaka, hanya akan sampai kepada pencapaian rata-rata tanpa keunggulan apa-apa.